
Kondisi Dian sudah kembali baik, ia juga sudah kembali ke rumahnya dan menunggui ayahnya operasi.
Operasi berjalan lancar sehingga kondisi Suprapto berangsur-angsur pulih, steveb juga beberapa kali datang berkunjung walau mendapat sambutan sinis dari Dian, namun pria itu hanya menanggapi nya dengan tawa, karena baru kini ia mendapati gadis yang galak walau setelah ia memberikan miliknya yang berharga.
Sebulan sudah pasca operasi kondisi Suprapto bisa di katakan membaik, ia juga sudah di perbolehkan pulang. Steven meluangkan waktunya untuk mengantarkan mereka pulang dari rumah sakit.
"Mau apa kamu kesini? apa tidak ada kerjaan lain selain menggangguku? " cibir Dian dengan mata malas menatap Steven.
Ia jengah pria itu selalu berada di sekelilingnya.
Melihat Steven mengingatkan Dian akan dosanya.
"Aku sedang tidak mengganggumu, aku datang kesini karena menjenguk ayahmu" ucap Steven cuek
"Huh sok perhatian, aku mencium sesuatu yang mencurigakan disini" ucap Dian sinis
"Kalau memang benar, kamu bisa apa?
Atau memang kamu mau ya aku menjengukmu???
Kau rindu padaku baby" senyum jail menghiasi bibir steven
"Tuan steven yang terhormat, aku mohon, anda tahu batasan" ancam Dian sewot
"Aku? apa aku harus? bahkan tubuhmu saja aku sudah lihat, batasan seperti apa menurutmu? Sayang aku rindu kamu.
Apa kau tidak rindu tak ingin malam panas kita???" Tanya Steven makin berani membuat Dian merona merah membayangkan malam panas yang ia lewati bersama Steven
Kini pria itu menggodanya, ia jadi malu dan merutuki dirinya yang binal dan menggelikan malam itu. Dian merasa sangat guna karena nyatanya ia juga menikmati malam itu.
"Tutup mulut mu, aku mohon, ini rumahku, dan ayahku baru saja pulih dari sakitnya.
aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan, sesuai dengan apa yang aku dapatkan, jadi perjanjian kita lunas.
Aku tidak mau ada hubungan apapun lagi dengan bapak" tegas Dian melotot pada steven yang masih tersenyum mendengar perkataannya
"Well, kalau aku bilang, aku rindu kamu, dan aku berani membayar mahal untuk mengulang malam itu, sayang aku rindu desahanmu di bawah ku atau kelincahanmu menggaahiku, apa kamu bersedia sayang? " tanya Andre tersenyum lebar, ia memang merindukan gadis ini, entah mengapa ia merasa nyaman dekat dengan Dian, walau gadis ini terus saja bersikap ketus padanya.
"Dasar gila, psikopat, mending kamu pergi, saya gak berminat dengan uang mu
Dan jangan pernah muncul lagi di hadapan saya.
Saya melakukan itu terpaksa, tolong kamu jangan terus mengungkit hal itu." Dian marah, ia berusaha mengontrol emosi nya, masih dengan suara setengah berbisik agar ayahnya tidak tahu, namun ternyata Suprapto mendengar semua perbincangan putrinya dengan Steven, ia merasa kecewa, sedih, putus asa dan merasa bersalah
penyakitnya menjerumuskan putrinya yang patuh dan baik melakukan hal yang melanggar norma agama.
Suprapto merasa gagal, gagal sebagai ayah, gagal sebagai pemimpin dalam keluarga kecilnya dan sudah gagal memenuhi amanat mendiang sang istri.
Suprapto jatuh terduduk.
Air mata menetes di wajahnya yang sudah keriput. Hancur luluh hatinya mendengar obrolan mereka.
Ia tak menyangka putrinya menjual diri pada pria yang terlihat baik itu.
Suprapto merasa di tipu
__ADS_1
Ia juga merasa amat sangat bersalah
Suprapto memegang dadanya yang terasa sakit, ia merintih kesakitan, namun ia tak mau putrinya mendengar ia sedang kesakitan karena akan membuat putrinya melakukan hal yang salah lagi demi kesembuhannya
"Dian, maafkan bapak nak, bapak banyak salah padamu, lebih baik bapak sakit daripada melihatmu bergelimang dosa" ucap Suprapto lirih, hingga akhirnya matanya gelap dan ia tak sadarkan diri, serangan jantung membuat tak sadarkan diri
BRUGHHH
Klotakkkkk
Suparto jatuh dan menimpa meja di depannya hingga ia dari kepalanya keluar darah segar
Mendengar suara benda terjatuh keras, hati Dian tak enak.
Ia berlari sekencang-kencangnyake arah kamar ayahnya dan mendapati pria tuabitu sudah tergelatak di lantai dengan kepala mengeluarkan darah
"ayaaaaaaaaaahhhh,
Ayah bangun yaaaa....
Tolongggg..... Tolong" teriak Dian histeris sambil memegangi tubuh ayahnya yang terkulai lemas.
Mendengar suara Dian meminta tolong, Steven langsung berlari ke arah Dian dan ia terkejut, Steven langsung membopong Suprapto menuju mobilnya, Dian hanya mengikuti sambil menangis.
Sayang sampai di rumah sakit Suprapto menghembuskan nafas terakhirnya, ia tak mengatakan apapun selalu tatapn sedih dan putus asa
Dian histeris mengetahui ayahnya meninggal dunia.
ia menangis, meraung sambil memeluk jasad ayahnya hingga akhirnya ia pingsan dan Tan sadarkan diri
Dian sampai pingsan berkali-kali.
Ia sangat terguncang dengan kepergian ayahnya.
Hingga beberpan aktu kemudian ia tersadar dan langsung berteriak memanggil ayahnya.
Sorang dokter wanita menghampiri Dian dengan senyum prihatin
"Bu, ibu harus tenang, saya tahu ibu sangat terpukul dengan kepergian ayah anda, tapi ibu harus tenang. Stress yang berlebihan tak baik buat ibu dan juga kandungan ibu.
Kasihan anak dalam kandungan ibu jika ibu terus sedih" Dian terus Menangis, namun ia langsung terdiam menatap dokter wanita itu.
Begitu juga Steven yang melongo bingung
"A...aan..anak??'tanya Dian tergagap
"Iya anak, ibu sedang mengandung dan usia kandungan ibu menginjak empat Minggu
Ibu harus banyak-banyak istirahat.
Ikhlaskan, dengan ikhlas ibu bisa lebih tenang"
"Ba...bagaimana mungkin" ucap Dian mengelus perutnya tanpa sadar.
Di dalam rahimnya kini ada nyawa tak bersalah akibat kesalahannya.
__ADS_1
Anak hasil dari perbuatan dosanya.
Sementara Steven terdiam.
Ia bingung harus berekasi apa.
Saat itu ia tak memberikan Dian obat kontrasepsi karena Dian sakit, apa ini sebuah takdir???
Steven menatap wanita mungil dengan wajah cantik di depannya.
Wanita yang membuat Steven merindukannya.
Ia juga tidak tahu mengapa, ia hanya ingin selalu dekat dengan Dian.
"kalau begitu saya permisi, bapak, ibu.
Yang sabar ya Bu" ucap dokter wanita itu lalu pergi.
Dian tak mengatakan apapun
Tatapannya kosong
"Ayah...." Ucap Dian lirih
"Ayah, pulang, aku mau pulang" ucap Dian berulang-ulang
Ahirnya Steven membawa Dian pulang karena gadis itu terus merancau ingin pulang.
Sesampainya di depan rumah Dian, bendera kuning berkibar.
Para tetangga membantu prosesi pemakaman Suprapto.
Mereka merasa ibu melihat Dian yang kini sebatang kara.
Selama prosesi sampai selesai Dian hanya diam menatap kosong sambil sesekali menyeka air matanya yang terus menetes
Setelah pemakaman selesai, Dian terus mengurung diri di kamar.
Seteven tak tahu harus berbuat apa, ia tak memiliki pengalaman merayu wanita, yang ada wanita yang selalu merayunya.
Akhirnya ia berinisiatif mengantar makanan untuk Dian, setelah mengetuk cukup lama, Dian tidak juga menyahut, akhirnya Steven dan beberapa tetangga Dian membuka paksa kamar Dian dan betapa terkejutnya semua orang melihat Dian tergantung.
Steven langsung berlari masuk, menurunkan Dian dan langsung membawanya ke rumah sakit, namun sayang nyawa Dian sudah tidak tertolong
Dian memilih bunuh diri membawa serta anak di dalam kandungnya.
Steven sangat terpukul
Ia menangis berteriak dan terus menyalahi dirinya. Steven kembali jatuh ke jurang keputus asaan.
Ia menangis sambil memeluk tubuh tak bernyawa Dian.
Hingga akhirnya Bagas merayunya untuk meminta Steven mengiklaskan dan melakukan pemakaman yang layak untuk gadis malang itu.
Saat Steven mau berubah, cobaan kembali datang hingga membuat nya kian terpuruk dan kembali ke kebiasaan lamanya wanita dan mabuk-mabukan.
__ADS_1
#FLASH BACK OFF