
Steven melepaskan Ruben, ia berjalan perlahan lalu menyingkap tirai pembatas, matanya membulat sempurna begitu melihat siapa yang berbaring disana
"Baby... mengapa kau disini?" tanya Steven bingung
"Huhuhu, mas Steven" tangis Davira pecah.
Steven langsung memeluk Davira, ia masih bingung dengan situasi saat ini.
Steven ingin bertanya, namun Ruben sudah meninggalkan ruangan itu, membiarkan Steven dengan Davira hanya berdua
Ruben menyerahkan semuanya pada Davira untuk menjelaskan.
Setengah jam kemudian, tangis Davira mereda, Steven menghapus air mata Davira, berkali-kali ia mengecup kening calon istrinya itu.
Steven melihat wajah Davira yang terlihat sangat pucat dan hanya beberapa hari tak bertemu wajah Davira terlihat lebih lurus, sepertinya gadis cantik itu kehilangan banyak bobot tubuhnya, apa Davira sakit???
Mengapa ia tak mengatakan apapun saat mereka bertelepon.
"apa kau sudah lebih baik sayang??"
Davira mengangguk, ia merasa sedikit lega, walau belum bis menghilangkan ke khawatiran di hatinya.
Setidaknya ia bisa tenang karena Steven disini
"Apa yang kmu lakukan disini hmm???
Mengapa tak mengabari aku??
Apa kau sakit?"
"Aku..."
Tok tok tok
Suara ketukan dari luar ruangan, seorang wanita paruh baya berpakaian dokter masuk
"Sore nyonya davira, saya akan memeriksa kondisi anda"ucap dokter wanita itu ramah.
Steven memilih menyingkir membiarkan Bu dokter memeriksa, ia juga terlihat menempelkan sebuah alat di perut Davira, lalu mencatatnya.
"Kondisi anda sudah membaik, tapi sebaiknya anda di rawat sehari dua hari.
__ADS_1
janin anda juga bagus.
Jangan terlalu stres, tidak baik untuk kandungan nda"
"Janin? Kandungan??"
"Owh ya anda suaminya ya??
Apa anda tidak tahu bahwa istri anda sedang hamil???" tanya dokter tersebut
"Ha... Ha..Hamil??"tanya Steven merasa lututnya lemas dan hampir jatuh,
"Ya Hamil, usia kandungannya baru lima enam Minggu, anda ini suami bagaimana, istri mengandung enggak tahu" ucap Bu dokter terlihat sedikit kesal
"Karena suami saya belum saya kasih tahu dok" ucap Davira bermaksud membela Steven.
"Baiklah, jangan lupa minum obat dan vitamin nya, kalau begitu saya permisi.
Oh ya tuan, tolong urus rawat inap istri anda"
Steven hanya mengangguk, ia benar-benar terkejut, senang, namun juga bingung harus bereaksi apa
Apa kau tak senang aku mengandung anakmu"tanya Davira sedih melihat reaksi Steven.
Sangat berbeda dari ekspektasi Davira.
Dal.bayangan Davira Steven akan terkejut, menangis atau bahkan meloncat kegirangan.
Tapi yang terjadi adalah Steven persis seperti sapi om ompong, bengong dengan wajah bodoh
Davira merasa kecewa
Apakah Kehamilannya membuat Steven kecewa???Apakah ia tak senang Davira hamil anaknya??
Apakah cinta yang Steven katakan adalah dusta??
"Baby, maafkan aku.
Aku hanya terkejut.
Bagaimana kau mengira aku tidak senang, aku bahagia, aku sangat bahagia", ucap steven memeluk Davira, Davira menangis kembali.
__ADS_1
Entah apa karena hormon kehamilannya membuat ia sangat sensitif
"Maafkan aku karena reaksiku membuatmu terluka.
Percayalah, aku hanya ingin kau yang menjadi ibu dari anak-anakku, hanya akan ada kau" ucapan Steven.
mereka lalu berciuman,
Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi bergairah.
Davira merasa ingin lagi dan lagi hingga akhirnya terjadi lah penyatuan di ruang tersebut, Steven melakukan dengan sangat hati-hati sebab kini dalam rahim kekasihnya ada anaknya.
Setelah membersihkan tubuh Davira, Terlihat Davira tertidur pulas, wajahnya yang pucat terlihat lebih baik
"Maafkan aku yang tidak ada saat kau butuh" ucap Steven mengecup kening Davira
Ia juga mengelus puncak kepala Davira penuh kasih sayang.
Steven harus menanyakan bagaimana Davira bisa ada di ruangan ini.
Steven lalu keluar mencari asistennya itu, terlihat Ruben duduk di depan bangku panjang sambil menyeruput kopi.
Wajahnya terlihat lelah karena berkali-kali ia memijit keningnya
"Ruben..."
"Ah loe udah selesai???."Steven tak menjawab, ia memilih duduk di samping Ruben.
Ruben menyerahkan segelas kopi. Keduanya lalu menyeruput kopi mereka masing-masing
"Bagaimana Davira bisa di sana.
Dia tadi menggumam sudah membunuh, takut, apa maksudnya???"
Ruben menoleh ke arah Steven, ia menghela nafas.
Sudah dia duga Davira tak bisa mengatakannya karena shock
"Dia tersangka kecelakaan Margaretha"
"Apaaaa????, bagaimana bisa???" tanya Steven terkejut sampai bangkit dari duduknya
__ADS_1