Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Terjatuh


__ADS_3

"Astaghfirullah kalau jalan lihat-lihat..."


"Kau, sialan kau pelakor, sedang apa kau disini???"teriak Margaretha melihat siapa yang dia tabrak


Davira juga sama terkejutnya, ia segera mundur dua langkah menjauhi Ari margaretha, Davira tak mau ambil resiko jika wanita ini akan main tangan padanya


"Kau tuli???, sedang apa kau di lantai ini???


Jangan bilang kau hamil dan ingin meminta pertanggung jawaban suamiku?"teriak Margaretha membuat semua orang yang mendengar perkataan Margareth langsung menoleh dan menatap Davira dengan pandangan merendahkan.


"Jangan fitnah, lagi pula kau belum menikah, suami???


Ku halusinasi" ucap Davira


"Kau, kau wanita sialan.


Kau mencoba merebut suamiku dan kini kau ingin menggunakan kehamilanmu untuk mengikat suamiku, Dasar wanita jahat"ucap Margareth menyerang Davira.


Davira mundur, ia kini tersudut. Di belakang nya sudah ada tangga, ia langsung menghindar kesamping sehingga Margareth memukul angin dan ia terjerembab jatuh, di depan nya tangga dan ia jatuh menggelinding seperti bola. Suara jatuhnya sangat kencang,


orang yang melihatnya berteriak kaget sekaligus ngeri.


darah menggenang, dia jatuh hingga tubuhnya berhenti setelah menabrak tembok. Darah keluar di sekitar Margareth, tubuhnya tak berkutik lagi.


Davira sampai ketakutan


ia merasa kakinya lemas. Davira jatuh terduduk sambil menangis, tubuhnya bergetar, ia sangat shock.


Petugas medis langsung memeriksa Margareth, mereka langsung membawa Margareth untuk di tangani, Davira melihat tangan Margaret terkulai lemas saat ia diangkat tadi.


seroang ibu mendekati Davira, menyodorkan sebotol air mineral


"Minumlah, kau pasti shock"


"Dia jatuh, aku tak mendorongnya.

__ADS_1


Aku membunuhnya huhuhu...


Ya Allah bagaimana ini" ucap Davira panik.


Davira melihat Steven yng keluar dari ruang dokter, ia melihat keramaian, Steve. Seperti mencari seseorang, apakah ia datang dengan Margareth???


Jadi dia tak bisa di hubungi karena bersama wanita itu????"


Davira ingin berteriak namun ia terlalu ketakutan hingg suaranya tak keluar.


Sementara itu i melihat Ruben berjalan kearahnya, Ruben melihat Davira, ia heran bagaimana Davira disana.


"Davira???"


"Ru...Ruben, aku membunuhnya.


kami tadi bertengkar, tapi aku bersumpah demi mamaku, aku tak mendorongnya"


"Siapa??? Siapa yang jatuh?"


"Margareth, dia ..dia..." Davira jatuh pingsan.


"Bu..bukan, saya temannya


Permisi" ucap Ruben mengangkat tubuh Davira


"Maaf pak, kamu perlu mengamankan wanita ini sebab di duga kecelakaan ini berkaitan dengannya" ucap seorang petugas


"Saya mengerti, tapi saya perlu membawa wanita ini di periksa dulu"ucap Ruben mengerti situasi saat ini sangat pelik, Davira menjadi tersangka.


Ruben merutuki dirinya yang teledor menjaga Margareth.


"Baik, mari" ucap petugas keamanan. Mereka membawa Davira ke ruangan dokter kandungan yang tadi memeriksa Davira.


Dokter itu terlihat mengerutkan alisnya lalu mendekati Ruben

__ADS_1


"Beruntung nyonya Davira dan bayinya tidak apa-apa. Beliau hanya shock. Biarkan..."


"Bayi???"


"Anda ini bagaimana??? Sudah tidak mengantar istri, istri hamil juga tak tahu. Dasar laki-laki tahunya cuma membuat saja" omel sang dokter membuat Ruben dengan sulit menelan salivanya .


Davira hamil????


Ini berita baik, tapi mereka belum bisa mendepak Margareth, oleh karena itu mereka datang kerumah sakit ini untuk melakukan test DNA.


Saat di bawa Margareth dalam keadaan sadar, lalu Steven memberikan obat bius sehingga margaretha tertidur dan menjalani test dna. Namun saat Steven sedang berbicara dengan dokter dan Ruben sedang menembus obat, Margareth hilang.


"Maaf dokter, saya bukan suaminya, saya temannya"


"Astaga, maaf pak.


Saya kira anda suaminya.


Kalau begitu biarkan nyonya davira istirahat di sini, jam praktek saya juga kebetulan sudah berakhir.


"Baik dokter, terima kasih"


dokter mengangguk dan membiarkan Ruben dan Sandra di ruangan tersebut.


"Aku membunuhnya...hik hik" Davira menangis dalam tidurnya. Dokter tadi memberinya obat tidur agar Davira relax.


Mau tak mau Ruben memilih tetap tinggal.


Ia seger menghubungi Steven , namun ponsel Steven Tak aktif.


"Sial kemana Steven???


Gue enggak bisa ninggalin Davira sendirian disini" ucap Ruben berulang kali menghubungi Steven hasilnya tetap sama tak aktif.


"Pak, saya perlu menahan ibu ini setelah nanti siuman"

__ADS_1


"Baik, perkenalkan nama saya Ruben, ini kartu nama saya.


Saya di sini mewakili ibu ini sebagai pengacaranya" ucap Ruben lugas. petugas keamanan membawa kartu nama Ruben lalu mengangguk.


__ADS_2