Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Terpuruk


__ADS_3

Steven menangis melempar semua benda yang ada di dekatnya.


kenangan masa kecil membuatnya sangat terluka.


Egonya melarangnya memaafkan papanya,


namun perkataan Jhon membuat ia juga merasa bersalah.


Ada ketakutan tersendiri jika apa yang kakaknya itu katakan suatu saat akan menjadi kenyataan.


benci dan rindu menjadi satu.


Steven masih di balkon memandang keluar apartemennya menghembuskan rokok nya.


Steven lebih suka tinggal di apartemen ketimbang kediaman pribadinya, di apartemen ia bebas melakukan apapun yang ia mau tanda ada orang yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.


berpuluh-puluh kali telepon berdering, namuntak.bergeming, ia hanya melirik sekilas lalu mengabaikan nya, seolah bunyi panggilan masuk adalah musik yang menemani kesendiriannya saat ini.


Steven asik dengan dunianya sendiri, meratapi kesedihannya.


Pagi merambat siang, kini berganti malam.


dan pria itu masih di posisinya yang sama di temani ber gelas-gelas minuman keras hingga ia sendiri sudah tak mampu duduk dengan tegak, bersandar pada dinding dengan pandangan sayu


Sementara di tempat lain


Ruben Menggerutu sepanjang hari.


Ia sangat kesal hari ini karena Steven menghilang tanpa kabar. Jangankan memberi kabar, di hubungi saja tidak mengangkat membuat Ruben kocar-kacir menghandle semua pekerjaan Steven.


Sementara pekerjaannya sendiri juga menumpuk.


Siang itu Ruben harus mewakili Steven menghadiri dua meeting penting, satu meeting dengan Bulanan bersama para Staff


Entah sudah berapa puluh kali Ruben berusaha menghubungi bos nya itu, namun nihil.


Hingga pukul lima sore, waktu kantor habis, Steven masih tidak bisa di hubungi membuat Ruben sedikit khawatir.


Satu kemungkinan yang terpikir oleh Ruben, Steven sedang mengurung diri.


ini pernah terjadi sebelumnya dan ia ingat jika penyebabnya adalah kedatangan papa kandung Steven.


Akhirnya setelah menyelesaikan pekerjaan, Ruben langsung menuju apartemen Steven, ia mampir sebentar makan malam, stelah itu membeli dua porsi bento untuk Steven, karena Ruben yakin Steven belum makan, mungkin sejak pagi.


Setela itu ia mampir ke apotik, membelikan Steven obat maaf baru menuju ke apartemen Steven.


hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di apartemen tersebut, Ruben segera membuka pintu apartemen, sepi...


bahkan lampu masih belum menyala,

__ADS_1


"Kemana nih orang???


apa dia keluar kota?? atau???"


Ruben mengecek rekaman CCTV di apartemen itu melalui ponselnya, Seperti dugaannya, tuan Alexander papa dari Steven datang.


lalu kemana Steven???


"Ah sial, mengerjai ku saja" gerutu Ruben hendak berbalik pergi.m


Awalnya Ruben pikir Steven tidak di rumah namun ia ingin mematikan ponselnya ia mendengar suara tangisan Steve.


"Sial, merinding gue.


Setan apa manusia????" teriak Ruben merasa buluk kuduknya merinding.


Tak ada sahutan, sekalipun setan juga tak akan menyahut


"Kenapa gue jadi bego ya???


Kalau setan yang ada gue kabur hahaha" tawa Ruben menepuk keningnya menyadari kebodohannya


"Steve, bos steveeee" teriak Ruben mencari saklar lampu,


Klik


lampu apartemen menyala, ia melihat apartemen yang kacau seperti kapal pecah.


Praaaaakkkk


Bunyi gelas pecah, Ruben mengikuti suara tersebut dan melihat Steven yang terduduk tak berdaya di bersandar di tembok balkon dengan muka kusut dan rambut acak-acakan


"Astaga gembel dari mana ini??" ledek Ruben, namun Steven hanya diam


"Hei bos, aku kemari mengantarkan dokumen.


Ah ya ada dua bento, ayo kita makan"


"Aku tak lapar" ucap Steven lirih


Ruben tak berdebat, ia membuka box Bento tersebut di depan Steven, aroma beef teppanyaki memenuhi ruangan membuat Steven melirik.


Ruben tak memperdulikan Steven, ia makan dengan lahap


"Sial, sini...."Steven langsung merebut box Bento milik Ruben begitu juga box Bento yang memang jatahnya.


"Hai bro Kau punya bagianmu sendiri serakah sekali" protes Ruben, namun Steven tak perduli, ia langsung melahap habis dua box Bento tersebut hingga bersendawa tanda kenyang


"Dasar rakus"cibir Ruben pura-pura kesal.

__ADS_1


Namun tanpa Steven sadari senyum licik terlihat di wajah tampan Ruben , samar sehingga Steven tidak menyadarinya.


"Sebaiknya kau mandi dan membersihkan dirimu. Lihatlah kawan wajahmu sangat jelek.


Wanita mana yang mau dengan pria zombie sepertimu" cibir Ruben


"Diam kau Aku tak ingin bercanda" Dengus Steven mood nya masih buruk


"Tidak Aku mengatakan yang sebenarnya.


Bahkan wanita yang sedang kau dekati mungkin saja akan berlari setelah melihat wajahmu yang buruk itu" ucap Ruben membuat Steven mendengus


"Kucing liar itu????? Dia memang selalu berlari setiap melihatku. Dia menggemaskan bukan Ben???"


"Menurutku tidak.


Aku lebih menyukai wanita yang penurut" ucap Ruben jujur.


"Jangan samakan selera mu denganku, aku suka yang unik"


"Terserah kau saja bos, cepat mandi, bau mu busuk" ucap Ruben membuat Steven mengumpat kesal.


Ruben segera merapihkan ruang tamu yang pirak poranda akibat perbuatan Steven beberapa waktu lalu, sementara Steven segera mandi,.


Ruben menyiapkan obat maaf di atas meja setelah ruangan itu kembali Rapih


"Sepertinya kau bisa ku pekerjakan sebagai asisten rumah tangga juga"


"huh, lebih baik kau gantung aku" ucap Ruben menyodorkan obat ke arah Steven, dengan enggan Steven meminum obatnya.


"Dokumen yang perlu kau tanda tangani ada diatas meja kerja


Besok aku akan bawa, istirahatlah selama kau mau"


"Thanks bro"


"Saru lagi, sebenarnya tak pantas ku katakan, tapi sebagai sahabatmu juga akan ku katakan demi kebaikanmu.


berdamai lah dengan dirimu.


Setiap manusia pernah melakukan kesalahan.


beri beliau kesempatan, aku dengan beliau sudah sakit-sakitan.


Aku tahu kau membencinya juga merindunya, sedalam apapun luka masa lalu yang tergores, jika kau tak ikhlas dan berdamai pada dirinya sendiri, kau tak akan pernah mendapatkan kedamaian.


Maafkan beliau, jangan sampai kau hanya bisa memeluk baru nisan" ucap Ruben membuat Steven termenung diam


"pulang ah, cape .." ucapnya tanpa menunggu jawaban Steven Ruben sudah meninggalkan apartemen tersebut.

__ADS_1


"Berdamai pada diri sendiri ya??" gumam Steven tersenyum masam


__ADS_2