Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Wanitaku Selamanya


__ADS_3

Steven meneruskan pencariannya, ia berlari di sekitar perusahaan


Ruben yang baru selesai meeting menghampiri atasannya itu


"Nina Davira kesini mengendarai motornya, dan motor itu masih berada di parkiran.


Saya baru selesai memeriksa CCTV dan memastikan jika nona davira tidak pergi jauh dari sini.


pikirkan tempat yang mungkin ia datangi saat pikiran seseorang kusut" ucap Ruben


"Diskotik, bar, mall"


"Itu pikiran anda dan nona Margaretha.


Nona davira wanita lugu yang simple.


Saya bahkan yakin dia tidak menyukai berada di bar dan diskotik.


kemungkinan besar dia berada di taman saat ini"


"Sial kau, bukan mengatakan dari tadi" omel Steven lalu berlari ke taman di sekitar perusahaanya, namun nihil.


hanya tinggal satu taman yang mungkin Davira datangi.


arah selatan, taman dimana ada danau buatan.


Ruben malah sudah menuju ke sana.


Ia mencari keberadaan Davira


di kejauhan ia melihat seorang wanita yang duduk sambil menatap lurus ke arah danau.


Jam makan siang sudah berlalu, taman ini sedikit sepi hanya beberapa pedagang dan pejalan kaki yang melintas


"Tuan , saya sudah menemukan nona Davira"


"Dimana kau?" tanya Steven tidak sabaran


"Taman danau"


"Dimana itu?" tanya Steve. kesal.


pasalnya ia tak pernah dengar taman danau


"astaga di sebrang perusahaan X, ada sebuah taman buatan di sanalah namanya taman danau.


apa loe enggak pernah tahu???


kemana aja loe??"ucap Ruben menghilangkan formalitasnya karena kesal.


sekalipun mereka.sahabat, saat berpakaian kantor, Ruben akan profesional dan bersikap sebagai bawahan pada atasnya.


Tutttttt


Steven langsung memutuskan panggilan telepon sepihak membuat Ruben mengomel di ujung telepon


"Dasar playboy cap ikan asin.


permisi kek kalau mau matiin telepon.kalau bukan bos gue pengen jitak loe" ucap Ruben memakai kecil pada.


beberapa orang yang melintas melihat Ruben dengan tatapan aneh membuat Rubin sadar bahwa kelakuannya seperti orang.


"semua gara-gara Steve sialan.


gue di kira gila jadinya" gerutunya


"Kapan gue bisa gak di buat susah sama tuh manusia


udah bagus gue bawa Davira ke ruanganya, biar dia bisa Deket.


eh malah ada rubah itu


ngapain juga dia kaga usir tuh rubah???


Salah sendiri.


jadi bukan salah gue kan kalau Davira salah paham???" gumam Ruben masih memerhatikan Davira di kejauhan.


ia tak mau mendekati Davira khawatir wanita cantik itu akan pergi melihatnya dan membuatnya pusing harus mencarinya lagi.


sepuluh menit kemudian, ponsel Ruben kembali berdering.


panggilan masuk dari Steven


"Dimana????"


Ruben langsung memutuskan panggilan telepon lalu mengirim lokasinya.


ia tertawa kecil menatap ponselnya

__ADS_1


"Emang loe doang yang bisa gitu??


hihi rasakan" ucap Ruben


Lima menit kemudian Steven datang dengan nafas ngos-ngosan


"Olah raga loe??


"Bawel loe, mana Davira???" tanya Steven masih mengatur nafas


"Noh, lagi merenung.


apakah mau nendang loe apa mau nusuk loe"


"Sial loe, dia bukan wanita seperti itu"


"Ya kalau loe tahu dia wanita yang baik, maka rubah kelakuan loe bro.


ini perkataan sahabat loe"


"Iya, iya.


bawel bener loe.


gue juga mau serius sama dia.


gue merasa nyaman dan merasakan memiliki keluarga bersamanya, hanya saja masalah Margareth masih belum selesai"


"Makanya lain kali tuh burung kerangkeng.


demen banget menebar benih sih"


"Cerewet, gue mau nyamperin Davira dulu.


oh ya perintahkan orang membawa motornya ke apartemen".


"Good luck, semoga enggak ada yang patah di tubuh loe karena di karate" ucap Ruben menakut-nakuti Steven


"Sahabat Dajjal, loe mau nakutin gue???" omel Steven mau tak mau ngeri juga.


"Gue cuma berdoa.


karena jika gue di posisi Davira gue mungkin akan kebiri tuh burung loe, biar enggak celamitan lagi"


"Ruben sialan" maki Steven kesal.


"Selamat berjuang" ucap Ruben berjalan pergi


ia melihat wanita itu menangis tanpa suara.


sesekali terlihat ia menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Steven merasa makin bersalah.


Ia kembali melukai perasaan Davira.


"Maafkan aku"


Davira menoleh, ia melihat Steven yang terlihat murung dengan wajah bersalah


Davira bangkit dan ingin pergi.


Steven segera menarik tangan Davira.


membawanya dalam pelukannya.


Davira menangis kencang.


ia memukuli tubuh Steven hingga setengah jam posisi mereka masih sama.


Steven tak menghiraukan beberapa orang yang melintas di depan mereka menatap mereka dengan penasaran.


"Maafkan aku, marahlah dan pukul aku jika itu bisa meringankan kemarahan mu" ucapan Steven lirih.


akhirnya Steven melepaskan pelukannya setelah melihat Davira tak memberontak


"Maafkan aku, aku tahu aku sudah membuatmu kecewa.


tapi aku bersumpah, aku tak melakukan apapun pada wanita itu.


Dia yang ingin menodai ku"


"Apa Kau berfikir aku percaya???


"Tidak, karena aku tahu di matamu aku pria brengsek.


aku terima semuanya.


tapi semenjak aku mengenalmu, aku hanya ingin berhubungan badan denganmu.

__ADS_1


bahkan jika.bisa sehari tiga kali"


"Kau pria gila dan mesum"


"Ya aku gila.


tergila-gila padamu.


tubuhmu, aromamu membuatku tergila-gila.


kau membuatku candu"


"Jangan bermulut manis padaku, aku tak akan percaya pada bulan manismu"


"Aku juga tahu, karena itu aku ingin kau menemaniku selamanya"


"Sebagai gundik mu??


aku tak Sudi.


aku akan mencari uang untuk membayar mu.


atau aku datang ke dokter....mppphhhmmmm" Steven membungkam mulut Davira dengan bibirnya.


ciumannya menuntut memaksa mulut Davira untuk terbuka lebar


Steven tahu kemana arah pembicaraan Davira.


dokter Frans???


ya pria itu mencintai Davira, dan tak akan segan merogoh kocek nya untuk membayar semua hutang Davira.


tapi Steven Tan akan Sudi.


selamanya Davira hanya akan menjadi


wanita nya


"Kau menjijikkan"


Tapi ku lihat kau menikmatinya bukan??"


"Kau sakit"


"Itu semua karena aku takut kehilanganmu.


kau boleh marah padaku, memukulku , memakiku.


Tapi jangan pernah berfikir meninggalkanku apalagi bertemu dengan dokter sialan itu"


"Kau tak punya hak mengatur ku!!!!"


"Aku punya hak itu, bahkan menunjukkan bahwa kau wanita ku, aku bisa"


"Dengan apa???


kau bahkan tak bisa....mppphhpppp"


kembali Steven ******* bibir davira melihat wanita itu mengomel sangat mengemaskan sehingga Steven tak tahan untuk **********


Kali ini ciuman Steven lebih lembut dan penuh perasaan.


mereka berciuman sangat lama.


bahkan tanpa sadar Davira mengalungkan tangannya di leher Steven


"Baby...


aku menyayangimu, jadilah wanitaku selamanya"


"Aku tak mau"


"Tapi kau juga menginginkanku bukan??" Davira merona merah.


ucapan dan tindakannya berbeda.


di bibir ia membenci Steven namun tubuhnya berkata lain.


"Kita pulang"


"Lepaskan"


"apaa kau mu kita tidak pulang dan menghabiskan waktu bersama???"


"Steven kau gila...


awwww lepas, turunkan aku...." teriak Davira terkejut Steven mengangkatnya


ia langsung membopong tubuh Davira menuju mobilnya.

__ADS_1


di sana Steven mengurung tubuh Davira , niatnya Ia hanya ingin mengancam ia malah terbakar hasrat dan mereka melakukanya di dalam mobil Steven.


beruntung jalan itu tak begitu ramai.


__ADS_2