Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Terluka


__ADS_3

Plaaaakkk" sebuah tamparan mendarat di wajah steven


Davira melayangkan tamparan ke wajah Steve , ia sangat marah dan merasa terhina.


Davira lalu meninggalkan Steven bersama wanita itu, Steven mau menyusulnya, namun Margareth langsung memegangi perutnya dan meringis kesakitan


”Aduh mas sakit, perut aku mas” ucap Margareth meringis kesakitan .


Steve lalu membantu memapah Margareth duduk, ia hanya bisa menatap punggung Davira yang makin menjauh.


”Sial, pasti Davira salah paham, aku tak mungkin menjelaskan semuanya di depan Margareth. sial" umpat Steven dalam hati.


Tanpa Steven sadari senyum penuh kemenangan terukir di bibir Margaret.


"Huh jangan berfikir mengambil Steven dari ku.


lihat saja aku akan membuat kau membayar semuanya karena kau berani menyentuh kekasihku.


tak ada yang boleh memiliki Steven selain aku" gumam Margareth dalam hati.


Margaret akan melakukan apa saja asalkan Andrew hanya miliknya.


Dokter langsung memeriksa kondisi Margareth begitu suster membawanya masuk dengan kursi roda, wajah Margaret yang sebelumnya kesakitan kini sudah kembali biasa, dokter mengerutkan keningnya bingung, pasalnya ia tak menemukan kelainan


"Bagaimana dok istri saya?” tanya Steve panik, ia tak tahu anak di dalam kandungan Margaret anaknya atau bukan, namun sebelum itu terbukti Steven hanya bisa mentolerir semua perbuatan Margareth walau sejujurnya ia sungguh gerah dekat dengan wanita ini. ia harus memastikan semuanya sebelum bertindak.


Sang dokter terlihat berfikir sebentar, ia menatap Margareth dengan tatapan aneh lalu menghela nafas


Ia memahami jika seorang ibu muda akan selalu mencari cara agar suaminya lebih perhatian


mungkin saja pasien ini melakukanya demi mencuri perhatian suaminya, pikir sang dokter.


”Istri bapak hanya perlu banyak perhatian, kondisinya baik-baik saja. orang hamil akan mudah sensitif jadi saya mohon bapak bersabar” ucap dokter itu tersenyum lebar


"Terima kasih dok, kalau begitu saya permisi”ucap Steven lalu membantu Margareth berjalan.

__ADS_1


Margareth melemparkan senyum lebar pada sang dokter tanda berterima kasih


si dokter hanya menggeleng pelan.


"Silahkan”


Steven merasa kesal, walau dokter tersebut tak menjelaskan ia tahu maksud perkataan dokter itu jika kondisi Margaret baik saja,


Steven bukan orang bodoh yang bisa di bohongi oleh trik murahan itu, hanya saja ia sedikit trauma akan masa lalunya, Steven tahu margareth hanya ia mencari perhatiannya, lebih runyamnya lagi Davira melihat mereka dan salah paham.


Steven mengantar Margaret sampai apartemen mereka, ia lalu bergegas pergi, namun Margaret menahannya dengan alasan jika ia takut perutnya akan sakit lagi.


Steven memberi kode pada asisten rumah tangga yang bernama Mimi, Mimi ia percaya untuk melakukan hal yang biasa ia suruh jika Margaret sulit di tangani.


Mimi datang dengan membawa segelas susu , Steven mengambilnya dan menyodorkannya pada Margareth


"Ah aku sedang tidak ingin susu sayang, aku hanya butuh kamu, susu kadang membuatku mengantuk, apakah ini normal???” tanya Margareth merajuk pada Steven


"Wajar saja nyonya, orang hamil harus banyak istirahat karena kehamilan membuat bumil mudah lelah" jawab Mimi


Steven memberi kode pada Mimi untuk meninggalkan mereka berdua, karena Margareth bukan tipe yang mendengarkan orang lain, terutama yang ia rasa derajatnya lebih rendah dari dirinya.


"Kamu jangan seperti itu dong honey, Mimi kan cuma memberitahu kamu, dia perhatian sama kamu. Kamu gak boleh judes gitu, kalau aku keluar kota nanti setelah kita menikah , kamu akan di urus oleh Mimi jadi berbaik lah dengan dia ok???”


"Aku tak sabar menikah dengan kamu sayang, kapan kita menikah? apa kamu mau menunggu anak kita lahir???, Apa kata orang-orang jika tahu kita punya anak sebelum nikah????”rajuk Margareth manja


"Iya, iya aku akan menikahi kamu secepatnya, tapi kamu harus janji jadi gadis yang baik, penurut dan tidak lekas marah” rayu Steven menekan rasa jijiknya.


"Janji, demi cintaku padamu" ucap Margareth langsung melahap bibir Steven dengan rakus, tangannya mulai menggerayangi kemana-mana


mencoba merangsang Steven.


Steven yang tahu maksud wanita itu, mendorong lembut Margareth dan tersenyum


"Tolong minum susunya dulu, aku mau anak kita sehat dan sempurna, kamu mau kan melahirkan anak-anakku???” tanya steven lembut yang di balas anggukan Margareth

__ADS_1


”Aku mau, aku mau jadi istrimu dan ibu anak-anakmu mas" ucap Margareth langsung meneguk susu kehamilannya hingga habis.


Steven mencium kening Margareth dengan lembut membuat hati Margareth berbunga-bunga karena bahagia.


Margaret langsung memeluk erat tubuh Steve. , ia membenamkan wajahnya pada dada bidang Steven sambil memainkan tangannya di dada Steven


”Aku mau jadi istrimu karena kamu kaya mas, aku ingin menjadi nyonya Smith dan hidup bergelimang harta , bisa membeli apa yang aku suka tanpa khawatir dengan keuangan" gumam Margareth tersenyum licik


"Mengapa aku jadi sangat mengantuk ya? apa ini pengaruh dari hormon kehamilanku???" tanya Margareth dalam hati, ia merasa matanya sangat berat dan ingin tidurnya


Dalam hitungan menit Margareth sudah jatuh ke alam mimpi


Steven memanggil asisten pribadinya untuk memindahkan Margareth, ia langsung mencuci tangannya di wastafel , seolah ia habis menyentuh benda menjijikan.


tak lupa ia mencuci bibirnya berkali-kali.


Ingatannya kembali pada sosok Davira.


Steven langsung buru-buru berpakaian dan meluncur menuju apartemen Davira dan mamanya


Sementara di apartemen


Sejak kembali dari rumah sakit Davira mengurung diri di kamarnya, ia juga tidak keluar untuk makan malam, Cynthia yang melihat anaknya mengurung diri berusaha mencari tahu dan membujuknya makan malam karena Vira memiliki riwayat maag akut, Cynthia takut putrinya itu kambuh maag nya.


Namun Davira meyakinkan mamanya jika ia belum lapar dan sedang mengerjakan sesuatu di kamarnya, Sinta tidak ingin memaksa anaknya bercerita, sejak meninggalnya suaminya, putrinya yang riang menjadi pemurung dan menutup diri.


Davira sedang mengoles obat luka lebam di wajahnya setelah ia mengompresnya, beruntung mamanya tidak memaksa masuk, ia sengaja membuka pintu kamarnya sedikit agar mamanya tidak melihat jika wajahnya ada bekas tamparan dari kekasih Steven.


saat di rumah sakit, Davira segera memberi masker untuk menutupi wajah nya yang lembab agar Cynthia tak curiga, Davira beralasan flu.


"Kenapa sakit di wajahku tidak sesakit hatiku?? mengapa aku harus sakit hati begini mengetahui mas Steven sudah memiliki seorang kekasih dan sebentar lagi akan memiliki anak? apa hak ku padanya? aku hanya wanita yang membayar jasa atas uang yang telah ia berikan, wanita yang menjual diri demi uang" Isak Davira lirih


Karena kelelahan akhirnya ia tertidur sambil menangis, saat tidur pun ia masih mengigau sesenggukan menangis.


Apartemen sudah gelap saat Steven sampai di apartemen , ia langsung menuju kamar Davira karena sejak kejadian tadi, ia tak tenang, khawatir memikirkan perasaan wanita cantik itu.

__ADS_1


Beruntung pintu kamar Davira tidak di kunci, ia lalu masuk, berjalan perlahan agar tidak membangunkan Davira


__ADS_2