Harga Diri Yang Terjual

Harga Diri Yang Terjual
Penolakan


__ADS_3

"Apa anda sudah rundingan dengan Davira atau nyonya Cynthia????" Tanya Frans dengan tatapan menyelidik. Pasalnya ia tau benar karakter Davira.


wanita cantik itu tak pernah mau berhutang apapun atau tergantung pada orang lain.


dan mengenai operasi Cynthia, Davira mengatakan sedang berusaha salah Frans tak yakin apakah wanita cantik itu sanggup mencari biaya yang jumlahnya fantastis itu.


"Dokter Frans, anda tentu tahu tabiat calon istri saya, dia ...


Dia wanita yang memiliki prinsip dan tidak mau menyusahkan orang lain.


Saya melakukan ini sembunyi-sembunyi, jika mereka tahu, mereka tak akan mau" ucap Steven tahu kemana arah pemikiran Frans.


beruntung Steven sudah bisa membaca karakter wanita incarannya.


Frans menatap Steven tanpa berkata apa-apa.


Dalam hatinya membenarkan perkataan pria di depannya.


"Tapi dokter tak bisa melarang saya untuk membiayai pengobatan calon mertua saya bukan????" tanya Steven melihat raut ketidaksukaan Frans.


Steven menduga jika dokter tampan itu menyukai Davira dari cara ia berbicara.


Steven langsung mengibarkan bendera perang


Frans adalah saingannya dalam mendapatkan Davira.


Steven melirik nama yang tertera di meja Frans, alisnya berkerut lalu senyum tipis terukir.


ia tahu siapa keluarga Frans.


Dokter tampan itu memiliki latar belakang yang luar biasa. Steven jadi ingat laporan Ben saat mereka mencari informasi tentang perusahaan keluarga Frans.


Anak orang kaya raya yang memilih menjadi dokter padahal kekayaan orangtuanya tak akan habis di makan tujuh keturunan tujuh tanjakan, tujuh tikungan.


Steven harus melancarkan gerakan cepat, ia takut dokter Frans akan menikungnya jika ia kalah cepat.


"Saya tidak akan melarang" ucap Frans berusaha menekan perasaannya.


Cemburu, kecewa yang kini ia rasakan.


Namun ada keraguan dengan perkataan Steven


Calon suami???


Baru menampakan diri sekarang????


Mencurigakan!!!!!!


"Terima kasih.


Asisten saya akan mengurus semua berkasnya, kalau begitu saya permisi" ucap Steven tersenyum lebar


ia menjabat tangan Frans


"Kalau begitu saya permisi" Frans hanya mengangguk.


Steven berbalik badan dan pergi, namun langkahnya terhenti dan menoleh


"Oh ya dokter Frans. Saya harap anda membuang perasaan anda jauh karena Davira milik saya" ucap Steven tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan ruangan dokter frans di ikuti Ruben.


Ruben langsung mengurus admistrasi operasi Chintya, lalu setelah itu mereka pergi


Suster Mila terlihat bersemangat mendatangi Davira yang baru sampai.


Senyum merekah di bibir suster cantik itu.


Ia tahu bagaimana perjuangan Davira untuk pengobatan mamanya, karena itu ia sangat prihatin pada Davira


"Davira...." Panggil suster Mila

__ADS_1


"suster Mila??? Udah mau pulang ya???" Tanya Davira akrab yang melihat suster Mila sudah memakai pakaian bebas


"iya, owh ya Vira, selamat ya.


Aku turut senang akhirnya operasi mamamu akan segera di jalankan


Semangat untuk kesembuhan beliau ya" ucap suster Mila ikut senang


"Maksud suster apa?? Operasi mama???" tanya Davira masih tak mengerti


"Iya mamamu. Ya ampun kok kamu gak tahu sih?? Jadi tadi siang, ada pria tampan yang mengaku calon suamimu membayar semua biaya operasi mamamu" cerocos suster Mila


"Ca...calon suami?????" tanya Vira makin bingung


"Iya calon suami, Ya Allah Vira, aku turut senang ya.


Pacar kamu itu....


Pantes saja kamu gak mau sama dokter Frans, tampan calon suami kamu" bisik suster Mila cengengesan membuat davira makin pusing di buatnya


"suster... Aku bingung deh.


Aku enggak punya pacar, apalagi calon suami.


Aku...."


"Enggak usah malu, please deh sama kak Mila pake nutupin segala.


Itu sudah jadi gosip satu rumah sakit.


Kamu pinter deh pilih pacar.


Udah baik, kaya dan tampan banget kaya model.


Aku yakin sekarang dokter Frans lagi parah hati" ucap Mila cekikikan


Steven.... Gerald klo gak salah" tambah suster Mila


Davira terlihat termenung.


Pasalnya ia tak kenal siapa Steven Gerald atau siapakah namanya.


Jika teman papanya, gak mungkin semuda itu.


Jika temannya....


Davira tak punya teman bernama.....


Ponsel Davira berbunyi, sebuah nomor asing menghubunginya


"sudah angkat tuh telepon.


Kak Mila mau pulang dulu ya.


Bye bye Vira" ucap suster Mila bergegas pergi.


Kini tinggal Davira yang menatap ponselnya tanpa mau mengangkatnya.


Suara dering panggilan masuk berkali-kali sangat menggangu hingga akhirnya Davira mengangkatnya


"Hallo...."


"Hai kucing liar ku, mengapa lama sekali mengangkatnya???" Tanya suara bas seorang pria. Davira menyipitkan matanya berusaha mengingat dimana ia pernah mendengar suara pria di ujung telepon itu


"siapa kau?????"


"Apa kau melupakan aku manis


Ya Tuhan sakit sekali hatiku.

__ADS_1


Kita baru bertemu dua hari lalu....."


"Dasar orang gila, dari mana kau memiliki nomer ponselku????" Bentak Davira tak sadar


"Ckckck galak tapi aku suka


Baby semoga oeprasi mamamu berhasil ya"


"operasi????" Davira teringat ucapan suster Mila, ia lngsung bisa menebak jika pria itu ada sangkut pautnya


"Apa kau bernama Steven???"


"Astaga baby, pria setampan diriku kau lupakan???" Steven merasa sedih juga senang, ternyata wajah tampannya seolah tak berpengaruh bagi Davira.


Wanita itu bahkan melupakannya semudah itu.


"temui aku sekarang" ucap Davira lalu memutuskan panggilan teleponnya.


Davira lalu mengetikkan alamat cafe di sebrang rumah sakit.


Davira sengaja memilih cafe yang berada di luar rumah sakit, karena ia tak ingin gosip tentangnya dan pria aneh itu makin menyebar


Tak perlu waktu lama, pria itu tiba kali ini ia sendirian.


Harus Davira akui, pria itu memiliki magnet tersendiri yang membuat ia menjadi pusat perhatian para wanita


"Malam kucing liar ku


"Apa yang kau mau dariku sebenarnya???" Tanya Davira to the point tanpa membalas sapaan Steven.


"Aku suka gadis yang terang-terangan" ucap Steven sambil menjilat bibirnya sendiri.


ia sungguh makin menyukai Davira.


Ia menyukai tantangan, dan itu ia dapat dari Davira.


selama ini semua wanita yang mengejarnya untuk naik ke atas ranjang demi kehidupan nyaman, namun Davira berbeda


"enggak usah banyak basa-basi, Apa tujuanmu membiayai operasi mamaku????


Apa kau bermaksud memberi kebebasanku????


Atau kau memiliki motif lain dibalik kebaikanmu yang palsu itu???? Tanya Davira sinis menatap ke arah Steven


"Apa kau tak pernah mendapatkan kebaikan dari orang lain sehingga kau selalu berburuk sangka pada kebaikan orang lain???? Come on kucing liar, Aku hanya ingin membantumu tak lebih"


Steven tak terlihat marah iya malah tertawa dan dalam hati kagum dengan pendirian yang dimiliki oleh davira.


Ia tak mengira bahwa di zaman seperti ini masih bisa menemukan wanita setegar davira.


Entah mengapa tujuannya yang ingin memang ingin membeli Davira secara tak terlihat kini motifnya terlihat dan iya berubah pikiran.


Steven merasa tertantang ingin menaklukkan Davira. Senyum licik tersemat di wajahnya yang tampan.


"Apapun motifnya jika aku mengatakan ingin membantumu Apa aku salah??????"tanya Steven dengan senyum tersungging di bibirnya


"Salah,


karena aku tak mengenalmu.


Dan kita bukan teman dekat"


"Bukankah kita sudah berteman dua hari lalu????"tanya Steven


"Dalam mimpimu.


Aku tak ingin berhubungan denganmu jadi tuan Steven Gerard yang terhormat..


"Apa alasannya apa Kau pikir aku bodoh???? Kau pria Flamboyan yang biasa menghamburkan uangmu untuk membeli seorang wanita. Dan harus kau tahu sekalipun aku tak memiliki uang spesial pun aku tak ingin mengemis di bawah kakimu. Aku masih bisa mencari uang dengan kakiku sendiri"ucap Devira menatap tajam ke arah Steven.

__ADS_1


__ADS_2