
Bandung 2000
“Malik, uang saku kamu apa masih ada?”
“ada seribu, kenapa? haus?” jawab malik sambil memberikan harta
terakhir ke gadis cantik berusia 8 tahun
yang berdiri disampingnya
“iya, aku mau beli es goyang, tapi uangku cuma lima ratus. Aku
ambil ya uangnya, ini yang lima ratus buat kamu” Indira menyerahkan uang koin
sebagai kembalian Malik
“mau beli dua?? Jangan minum es banyak-banyak. Nanti pileknya
tambah parah , pasti dimarahin mama sama papa”
Tanpa menghiraukan nasihat sahabatnya, Indira langsung menarik
tangan Malik dan membeli 2 buah es goyang. Seketika wajah Indira berbinar
ketika melihat dua potong es goyang ada digenggaman tangannya.
“ndi, kalau sudah pilek jangan minum es banyak-banyak, itu ingus
kamu ” tanpa ragu Malik mengusap hidung Indira menggunakan tissue yang dia
simpan di sakunya.
Malik dan Indira memang seumuran, mereka tinggal di kampung yang
sama dan bersekolah di tempat yang sama. Malik adalah anak laki-laki tampan
yang hidup hanya dengan Ibunya. Ibu Malik adalah seorang wanita tangguh yang
berusaha menghidupi putra semata wayang nya dengan layak, meskipun hanya
bekerja sebagai pembuat kue basah.
Sedangkan Indira adalah putri dari keluarga yang bisa dibilang
kecukupan. Ayahnya bekerja disebuah bank dan ibunya mengurus minimarket yang
didirikan sebelum Indira lahir. Karena kesibukan kedua orang tuanya, Indira
lebih sering menghabiskan harinya di rumah Malik. Sebagai rasa terimakasih
orang tua Indira, setiap hari libur tiba mereka akan membawa serta Malik untuk
berlibur bersama. Walau hanya sekedar berkeliling kota Bandung mengendarai
mobil.
Karena kedekatan Malik dengan keluarga Indira, orang tua Indira
sudah menganggap Malik sebagai anak sulung mereka. Begitu pula Indira, dia
merasa ibu Malik adalah ibu keduanya.
“Malik, yang satunya buat kamu. Ngapain aku minum es sampai dua.
Aku Cuma lagi kegerahan, jadi pengen beli es. Masa iya aku minum es, tapi kamu
lihat aja” Indira menyerahkan salah satu es itu dengan tatapan cerianya.
“oh, aku kira mau kamu makan semuanya. Hehe”
Mereka berdua menikmati es rasa kacang hijau itu sambil berjalan
menyusuri perumahan didekat kampung mereka.
“Malik, duduk disana yuk. Kalau dibuat jalan, es nya cepet cair”
Indira menunjuk pohon mangga yang ada di halaman salah satu rumah mewah di
komplek itu, dan segera duduk di bawah pohon rindang yang buahnya sudah mulai
bergantungan. Indira dan Malik langsung duduk dan menyenderkan punggung mereka
ke badan pohon tua itu.
__ADS_1
“Ndi”
“Apa?” jawab Indira tanpa
menoleh
“Kalau besar, kamu mau jadi apa??”
“Jadi orang kaya lik. Hehe”
“Kenapa? Kan orang tua kamu sekarang kaya. Rumahmu tidak sekecil
rumahku, papa punya mobil, mama juga punya minimarket. Pengen kaya yang gimana
lagi? “ tanya Malik heran. Matanya tetap terpaku pada sahabatnya, sedangkan
Indira tetap menikmati es nya sambil menerawang ke langit.
“emmm Iya juga sih. Tapi masih kurang kaya lik. Buktinya mama
kalau ngasih uang saku aku masih sedikit. Kalau kaya kan uang sakuku pasti
banyak. Pokoknya nanti kalau besar, aku mau jadi orang kaya. Biar bisa beli
rumah besar kaya rumah dibelakang kita ini. Terus aku bisa beliin kamu jajan
yang banyak, bisa ajak kamu sama ibu jalan-jalan. Jadi kita bisa jalan-jalan
bareng. Mama, papa, aku, kamu, sama ibu. Pasti seru.” Meskipun menjawab dengan
asal, tapi Malik merasa senang dengan jawaban Indira.
“kalau kamu cita-citanya apa?”
“polisi”
“hahaha, badanmu itu kecil Malik, mana bisa jadi polisi. Kata
mama, polisi itu badannya harus besar, tinggi, tampan” ejek Indira sambil
menunjuk badan mungil Malik menggunakan es nya
“ya kan memang masih kecil. Nanti kan bisa jadi besar. Pokoknya
aku mau jadi polisi” dengan tatapan yakin Malik mengatakan cita-citanya
polisi yang harus kejar-kejaran sama maling”
“biar aku bisa nangkap orang yang menabrak bapak ndi. Lagian,
kalau aku jadi polisi kan aku bisa menjaga ibu dan kamu”
Jawaban Malik membuat Indira teringat mengenai kejadian tabrak
lari yang terjadi kepada Ayah Malik. Kejadian satu tahun yg lalu itu menyisakan
sedikit trauma pada dua bocah ini, karena mereka menyaksikan secara langsung
bagaimana menakutkannya ketika sebuah minibus menghantam tubuh Ayah Malik.
Sesaat Indira dan Malik terdiam seperti mereka ulang adegan mengerikan itu.
“Kamu harus jadi polisi. Indira gak mau tau pokoknya kamu harus
jadi polisi ya lik” dengan semangat membara Indira menepuk pundak sahabatnya.
Tapi Malik hanya tersenyum kecil seakan masih ingin berkutat dengan kenangan
buruknya.
Karena merasa kasihan dengan Malik, mulai muncul ide Indira untuk
menghiburnya.
“Malik, mau main tebak-tebakan ga??” tanya Indira sambil
mengerjapkan matanya
“hemm...”
“Kenapa motor berhenti kalau dilampu merah?”
“Ndi, kita kan udah kelas 3 sd. Masa pertanyaan kaya gitu kamu ga
__ADS_1
bisa” jawab Malik dengan sedikit malas.
“Ah yaudah deh gajadi. Kamu ga asik, ini kan tebak-tebakan bukan
pelajarannya Bu Indah. Tinggal jawab gitu aja susah banget” Indira
mengerucutkan bibirnya karena merasa usahanya untuk menghibur Malik telah gagal
“iya iya aku jawab. Ya kan lampunya merah ndi, makanya harus
berhenti. Kalau lampunya ijo, ya motornya jalan lagi dong”
“udah ah, kamu ga asik. Masa jawabnya ga pake dipikir dulu” keluh
Indira sambil menjilat tetesan terakhir es goyang ditangannya
“lah tadi katanya tinggal dijawab. Yaudah deh aku mikir dulu
sebentar” Malik mulai berpura-pura memikirkan jawabannya, meskipun dia tidak
tau apa yang sedang otaknya pikirkan.
“ ah gatau ah ndi, setau aku berhenti ya karena lampunya merah”
akhirnya Malik mulai menyerah dengan tebak-tebakan receh Indira.
“tetot. Jawabnya Ya soalnya di rem. Hahahahahahahaha” Indira
tertawa terbahak-bahak meskipun sebenarnya hal yang ia tertawakan tidak terlalu
lucu.
“apaan sih ndi. Pertanyaan kamu aneh” Merasa tidak terima dengan
tebakan Indira yang receh, Malik mulai berpikir untuk menyerang Indira dengan tebakan yang dia
miliki.
“ih lucu tau lik tebakan aku. Hahahaha” Indira masih terbahak
dengan hal yang menurut dia lucu
“gantian, sekarang aku yang kasih tebakan ya”
“okay. Apa tebakannya, yang agak susah dikit ya lik. Soalnya kan
tau sendiri aku anaknya pinter banget”
“hewan, hewan apa yang suka sama kebersihan?? coba tebak. Kalau
kamu bisa, besok aku minta ibu buat bekalin kamu makan” Dengan senyum
kepercayaan diri Malik mulai sedikit lupa dengan hal yang membuatnya sedih
beberapa saat yang lalu.
“emm apa ya. Kucing bukan??”
“bukan dong.”
“kelinci?”
“bukan”
“anjing, kuda, kambing, jerapah, burung, buaya, dinosaurus? Ah
gatau ah. Jawabnya apa??” Indira menyerah dengan tebakan sepele dari Malik
“jawabnya gajah” Senyum kemenangan mulai terulas di bibir mungil
Malik
“ah mana ada gajah. Gajah itu jorok, kalau eek sembarangan. ”
“GAJALAH KEBERSIHAN. HAHAHAHAHAHA” merasa bisa membalas
kekalahannya Malik tertawa dengan keras dan puas. Indira hanya menatap malik
dengan sendu. Ternyata ide konyolnya bermain tebak-tebakan bisa membuat Malik
kembali tersenyum dan melupakan kejadian menyedihkan yang menimpa keluarganya.
“apapun yang terjadi, kamu harus bisa menjadi polisi Malik.. Aku
__ADS_1
akan selalu mendukungmu”
Batin Indira