Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH1- Cita-cita


__ADS_3

Bandung 2000


“Malik, uang saku kamu apa masih ada?”


“ada seribu, kenapa? haus?” jawab malik sambil memberikan harta


terakhir ke gadis cantik berusia 8  tahun


yang berdiri disampingnya


“iya, aku mau beli es goyang, tapi uangku cuma lima ratus. Aku


ambil ya uangnya, ini yang lima ratus buat kamu” Indira menyerahkan uang koin


sebagai kembalian Malik


“mau beli dua?? Jangan minum es banyak-banyak. Nanti pileknya


tambah parah , pasti dimarahin mama sama papa”


Tanpa menghiraukan nasihat sahabatnya, Indira langsung menarik


tangan Malik dan membeli 2 buah es goyang. Seketika wajah Indira berbinar


ketika melihat dua potong es goyang ada digenggaman tangannya.


“ndi, kalau sudah pilek jangan minum es banyak-banyak, itu ingus


kamu ” tanpa ragu Malik mengusap hidung Indira menggunakan tissue yang dia


simpan di sakunya.


Malik dan Indira memang seumuran, mereka tinggal di kampung yang


sama dan bersekolah di tempat yang sama. Malik adalah anak laki-laki tampan


yang hidup hanya dengan Ibunya. Ibu Malik adalah seorang wanita tangguh yang


berusaha menghidupi putra semata wayang nya dengan layak, meskipun hanya


bekerja sebagai pembuat kue basah.


Sedangkan Indira adalah putri dari keluarga yang bisa dibilang


kecukupan. Ayahnya bekerja disebuah bank dan ibunya mengurus minimarket yang


didirikan sebelum Indira lahir. Karena kesibukan kedua orang tuanya, Indira


lebih sering menghabiskan harinya di rumah Malik. Sebagai rasa terimakasih


orang tua Indira, setiap hari libur tiba mereka akan membawa serta Malik untuk


berlibur bersama. Walau hanya sekedar berkeliling kota Bandung mengendarai


mobil.


Karena kedekatan Malik dengan keluarga Indira, orang tua Indira


sudah menganggap Malik sebagai anak sulung mereka. Begitu pula Indira, dia


merasa ibu Malik adalah ibu keduanya.


“Malik, yang satunya buat kamu. Ngapain aku minum es sampai dua.


Aku Cuma lagi kegerahan, jadi pengen beli es. Masa iya aku minum es, tapi kamu


lihat aja” Indira menyerahkan salah satu es itu dengan tatapan cerianya.


“oh, aku kira mau kamu makan semuanya. Hehe”


Mereka berdua menikmati es rasa kacang hijau itu sambil berjalan


menyusuri perumahan didekat kampung mereka.


“Malik, duduk disana yuk. Kalau dibuat jalan, es nya cepet cair”


Indira menunjuk pohon mangga yang ada di halaman salah satu rumah mewah di


komplek itu, dan segera duduk di bawah pohon rindang yang buahnya sudah mulai


bergantungan. Indira dan Malik langsung duduk dan menyenderkan punggung mereka


ke badan pohon tua itu.

__ADS_1


“Ndi”


“Apa?”  jawab Indira tanpa


menoleh


“Kalau besar, kamu mau jadi apa??”


“Jadi orang kaya lik. Hehe”


“Kenapa? Kan orang tua kamu sekarang kaya. Rumahmu tidak sekecil


rumahku, papa punya mobil, mama juga punya minimarket. Pengen kaya yang gimana


lagi? “ tanya Malik heran. Matanya tetap terpaku pada sahabatnya, sedangkan


Indira tetap menikmati es nya sambil menerawang ke langit.


“emmm Iya juga sih. Tapi masih kurang kaya lik. Buktinya mama


kalau ngasih uang saku aku masih sedikit. Kalau kaya kan uang sakuku pasti


banyak. Pokoknya nanti kalau besar, aku mau jadi orang kaya. Biar bisa beli


rumah besar kaya rumah dibelakang kita ini. Terus aku bisa beliin kamu jajan


yang banyak, bisa ajak kamu sama ibu jalan-jalan. Jadi kita bisa jalan-jalan


bareng. Mama, papa, aku, kamu, sama ibu. Pasti seru.” Meskipun menjawab dengan


asal, tapi Malik merasa senang dengan jawaban Indira.


“kalau kamu cita-citanya apa?”


“polisi”


“hahaha, badanmu itu kecil Malik, mana bisa jadi polisi. Kata


mama, polisi itu badannya harus besar, tinggi, tampan” ejek Indira sambil


menunjuk badan mungil Malik menggunakan es nya


“ya kan memang masih kecil. Nanti kan bisa jadi besar. Pokoknya


aku mau jadi polisi” dengan tatapan yakin Malik mengatakan cita-citanya


polisi yang harus kejar-kejaran sama maling”


“biar aku bisa nangkap orang yang menabrak bapak ndi. Lagian,


kalau aku jadi polisi kan aku bisa menjaga ibu dan kamu”


Jawaban Malik membuat Indira teringat mengenai kejadian tabrak


lari yang terjadi kepada Ayah Malik. Kejadian satu tahun yg lalu itu menyisakan


sedikit trauma pada dua bocah ini, karena mereka menyaksikan secara langsung


bagaimana menakutkannya ketika sebuah minibus menghantam tubuh Ayah Malik.


Sesaat Indira dan Malik terdiam seperti mereka ulang adegan mengerikan itu.


“Kamu harus jadi polisi. Indira gak mau tau pokoknya kamu harus


jadi polisi ya lik” dengan semangat membara Indira menepuk pundak sahabatnya.


Tapi Malik hanya tersenyum kecil seakan masih ingin berkutat dengan kenangan


buruknya.


Karena merasa kasihan dengan Malik, mulai muncul ide Indira untuk


menghiburnya.


“Malik, mau main tebak-tebakan ga??” tanya Indira sambil


mengerjapkan matanya


“hemm...”


“Kenapa motor berhenti kalau dilampu merah?”


“Ndi, kita kan udah kelas 3 sd. Masa pertanyaan kaya gitu kamu ga

__ADS_1


bisa” jawab Malik dengan sedikit malas.


“Ah yaudah deh gajadi. Kamu ga asik, ini kan tebak-tebakan bukan


pelajarannya Bu Indah. Tinggal jawab gitu aja susah banget” Indira


mengerucutkan bibirnya karena merasa usahanya untuk menghibur Malik telah gagal


“iya iya aku jawab. Ya kan lampunya merah ndi, makanya harus


berhenti. Kalau lampunya ijo, ya motornya jalan lagi dong”


“udah ah, kamu ga asik. Masa jawabnya ga pake dipikir dulu” keluh


Indira sambil menjilat tetesan terakhir es goyang ditangannya


“lah tadi katanya tinggal dijawab. Yaudah deh aku mikir dulu


sebentar” Malik mulai berpura-pura memikirkan jawabannya, meskipun dia tidak


tau apa yang sedang otaknya pikirkan.


“ ah gatau ah ndi, setau aku berhenti ya karena lampunya merah”


akhirnya Malik mulai menyerah dengan tebak-tebakan receh Indira.


“tetot. Jawabnya Ya soalnya di rem. Hahahahahahahaha” Indira


tertawa terbahak-bahak meskipun sebenarnya hal yang ia tertawakan tidak terlalu


lucu.


“apaan sih ndi. Pertanyaan kamu aneh” Merasa tidak terima dengan


tebakan Indira yang receh, Malik mulai berpikir untuk menyerang Indira dengan tebakan yang dia


miliki.


“ih lucu tau lik tebakan aku. Hahahaha” Indira masih terbahak


dengan hal yang menurut dia lucu


“gantian, sekarang aku yang kasih tebakan ya”


“okay. Apa tebakannya, yang agak susah dikit ya lik. Soalnya kan


tau sendiri aku anaknya pinter banget”


“hewan, hewan apa yang suka sama kebersihan?? coba tebak. Kalau


kamu bisa, besok aku minta ibu buat bekalin kamu makan” Dengan senyum


kepercayaan diri Malik mulai sedikit lupa dengan hal yang membuatnya sedih


beberapa saat yang lalu.


“emm apa ya. Kucing bukan??”


“bukan dong.”


“kelinci?”


“bukan”


“anjing, kuda, kambing, jerapah, burung, buaya, dinosaurus? Ah


gatau ah. Jawabnya apa??” Indira menyerah dengan tebakan sepele dari Malik


“jawabnya gajah” Senyum kemenangan mulai terulas di bibir mungil


Malik


“ah mana ada gajah. Gajah itu jorok, kalau eek sembarangan. ”


“GAJALAH KEBERSIHAN. HAHAHAHAHAHA” merasa bisa membalas


kekalahannya Malik tertawa dengan keras dan puas. Indira hanya menatap malik


dengan sendu. Ternyata ide konyolnya bermain tebak-tebakan bisa membuat Malik


kembali tersenyum dan melupakan kejadian menyedihkan yang menimpa keluarganya.


“apapun yang terjadi, kamu harus bisa menjadi polisi Malik.. Aku

__ADS_1


akan selalu mendukungmu”


Batin Indira


__ADS_2