
Bau rumah sakit yang khas mulai menusuk penciuman
Indira. Dia menggandeng lengan Malik dan menemaninya duduk di ruang tunggu.
Sedangkan Bu Mega mendatangi resepsionis untuk mengkonfirmasi nomor antrian
Malik yang sudah dipesan sebelumnya.
Indira memijat pelan telapak tangan Malik.
Bayangan mobil hitam yang mampu melempar tubuh Malik masih tergambar jelas di
ingatannya. Ia menatap wajah Malik dan mengusap bulir-bulir keringat yang
muncul di pelipis Malik.
Ini adalah kali pertama Malik sakit parah
semenjak kecelakaan itu. Biasanya rasa nyeri di bahu dan betis Malik akan
segera hilang jika dikompres dengan air hangat. Tetapi sekarang, bahkan obat
penghilang rasa sakitpun tidak bereaksi apa-apa pada tubuh Malik. Ada sedikit
kebingungan dalam hati Indira. Yang Indira dengar, Malik mengeluhkan bahunya
terasa sakit. Tetapi semenjak dia melihatnya pagi ini, Malik sering meringkuk
dan mengusap perutnya. Apa sebenarnya yang sedang dirasakan oleh Malik?
Indira membantu Malik untuk berdiri ketika
melihat Mamanya memberi info bahwa saat ini adalah jadwal periksa Malik. Indira
tetap duduk di ruang tunggu, sedangkan Malik pergi ke ruangan dokter bersama
dengan mamanya.
Dalam hati dia berdoa agar tidak ada hal buruk
yang terjadi. Dia hanya ingin Malik kembali seperti semula. Melihat Malik yang
lemah dan tidak memiliki gairah seperti saat ini membuat hatinya cukup hancur.
Cukup lama Malik menjalani pemeriksaan, hingga
membuat Indira sedikit bosan. Untung saja, dia membawa ponsel pintarnya. Ia
memotret kakinya diantara deretan kursi rumah sakit dan mempostingnya di
stories sosial medianya, dengan caption “Get Well Soon”.
Biasanya memposting sesuatu dan mendapat komentar dukungan dari orang lain membuat moodnya membaik.
Tetapi kali ini, puluhan orang yang mengomentari postingannya semakin membuat
moodnya berantakan.
Sudah hampir 40 menit Indira menunggu, tetapi
batang hidung Malik belum juga terlihat. Sebenarnya pemeriksaan macam apa yang
dilakukan oleh dokter hingga memeriksa satu pasien saja memakan waktu yang
begitu lama.
Sembari menunggu Malik dan Mamanya, Indira
kembali memikirkan masa depannya dengan Akbar. Ada sedikit rasa penyesalan
dalam hatinya.
Seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk menolak lamaran
Akbar waktu itu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Keputusannya
tidak berdampak pada dirinya saja. Tetapi juga pada anggota keluarga yang lain.
Indira masih mengingat jelas bagaimana kebahagiaan yang terpancar di wajah
__ADS_1
Akbar, Papa dan Papinya.
Indira berjanji dalam hati, akan berusaha untuk menerima kenyataan, belajar untuk mulai
mencintai Akbar. Indira yakin kebahagiaan juga akan datang jika dia belajar
untuk tulus menyayangi Akbar. Dia tidak ingin menjadi wanita egois karena
menikah dengan Akbar tanpa ada rasa cinta dihatinya.
Indira yang tenggelam dalam lamunannya tidak
menyadari bahwa dua orang yang sangat Ia nanti sedang berada di hadapannya.
“Mikir apa neng??” Suara Bu Mega membuyarkan
lamunannya
“Kok lama sih. Apa kata dokter Ma??”
“Malik terlalu banyak aktivitas yang pakai otot,
jadi sendi yang ada di bekas lukanya terasa sakit. Tapi neng, ternyata bukan
itu yang bikin Malik jadi sakit kaya gini”
“hmm? Terus apa??” Tanya Indira kebingungan
“Ada peradangan di lambungnya. Emmm, nama
penyakitnya apa ya tadi. Pokoknya, itu karena Malik makan ga teratur, terlalu
banyak kafein sama stres. Jadinya kaya gitu deh”
Wajah Indira kembali berubah sendu setelah
mendengar penjelasan dari Mamanya. Ia kembali merasa bersalah, Ia berpikir
bahwa sakit yang dialami oleh Malik disebabkan karena Malik terlalu sibuk untuk
menyiapkan kejutan ulang tahunnya.
berjalan menuju apotek, sedangkan Bu Mega pergi ke tempat lain untuk
menyelesaikan administrasi. Indira
menyerahkan beberapa resep kepada perawat dan memilih agar pihak rumah sakit
yang mengantar obat ke rumahnya. Dia mengisi selembar formulir pengantaran
obat, dan menerima secarik kertas kecil yang harus diserahkan pada pengantar
obat nanti.
Usai menyelesaikan semua kegiatan di rumah sakit,
Indira memutuskan untuk pergi menemui Akbar. Sesuai janji pada dirinya sendiri,
Ia akan bersikap seperti calon istri Akbar. Indira mengemudikan mobilnya dengan
kecepatan sedang.
Cukup 25 menit bagi Indira untuk sampai di perusahaan. Dia memasang wjahnya secantik dan
seceria mungkin. Indira masih setia untuk menggandeng lengan Malik.
Banyak pasang mata yang memperhatikan dan tersenyum menyambut kedatangan mereka.
Memang tidak banyak orang yang mengenal Bu Mega, tapi siapapun yang berjalan
bersama dengan Indira atau Malik pasti bukanlah orang sembarangan.
Indira mengajak Malik dan Mamanya untuk menaiki lift yang sudah berisi beberapa orang.
Karyawan di dalam lift langsung menundukkan pandangannya ketika melihat ada
Indira dan Malik.
“Ke lantai 9 bu??” Tanya seorang karyawan bersiap membantu.
__ADS_1
“Saya ke lantai 11” Jawab Indira tegas. Tanpa butuh waktu lama Indira, Malik dan Bu
Mega sampai di lantai yang dituju.
Kembali mereka menjadi pusat perhatian diantara para karyawan yang ada di divisi atas.
Indira mengangguk ketika melihat para karyawan itu segera berdiri dan tersenyum
ketika melihat kedatangannya. Semua mata tertuju pada mereka, kecuali satu
orang yang sedang menyandarkan kepalanya diatas meja.
Indira memperhatikan gadis yang biasanya ceria dan semangat sekarang sedang
bermalas-malasan di tempat kerjanya. Tidak heran, mungkin Akbar baru saja
menyiksanya. Berulang kali Indira mengingatkan Akbar agar tidak terlalu keras
dengan Jessica. Tetapi Akbar selalu saja memiliki seribu alasan untuk
membantahnya.
Perlahan Indira mengetuk printer yang ada dihadapannya. Dia tersenyum tipis ketika
melihat reaksi terkejut gadis itu.
Alih-alih langsung masuk ke dalam ruangan, Indira lebih memilih mengikuti saran gadis itu
untuk duduk di ruang tamu depan. Indira paham betul mengenai kebiasaan Akbar
yang tidak suka kalau ada orang yang tiba-tiba masuk kedalam ruangannya, tidak
lain dan tidak bukan Akbar pasti akan menyalahkan Jessica. Indira merasa iba
jika mendengar Jessica yang terus menerus terkena omelan Akbar.
“Loh kok ga bilang kalau mau kesini?? Langsung masuk aja kenapa duduk disini” Suara
khas itu tiba-tiba terdengar.
Indira, Malik dan Bu Mega mengikuti Akbar untuk beristirahat di dalam ruangan.
Indira memperhatikan Jessica yang keluar masuk
ruangan untuk menjamu mereka. Bahkan sebelum Jessica keluar, Akbar juga masih
sempat memarahinya karena hal sepele. Merasa keberatan Indira menyampaikan isi
hatinya.
“Bar”
“Ya sayang??”
“Aku milih Jessica jadi sekretaris kamu, itu
karena dia cerdas, cekatan, dan terampil. Tugas dia disini untuk membantu dan
memudahkan semua pekerjaan kamu, dan aku rasa Jessica sudah melakukan
pekerjaannya dengan sangat baik. Tapi kamu tidak pernah memberikan dia reward,
malah selalu marah-marah. Setiap aku disini, pasti kamu ngomelin dia. Apa kamu
ga mikirin perasaan dia?? Ga resign aja udah untung. Cari karyawan kaya dia itu
susah bar.” Celoteh Indira.
Tetapi jawaban yang didapat hanya gelak tawa dari
Akbar.
“Hahahaha. Ndi, kamu kaya istri yang lagi
ngomelin suaminya tau ga”
“Ya kan emang calon istri kamu”
Jawaban Indira membuat semua orang dalam ruangan
__ADS_1
terhenyak. Tak terkecuali Akbar.