
Akbar memperhatikan tingkah Indira yang sedang
galau. Ia tahu betul dua hal yang sedang dihadapi Indira saat ini sangatlah
sensitif. Bagi Indira penampilan adalah yang utama. Tapi meeting yang akan dihadapi
hari ini juga tidak kalah penting.
Ia tersenyum melihat Indira yang bahkan tidak
menyadari bahwa mobil sudah berhenti.
“Ehemmm..”
“Ya? Kenapa?? Sorry ya Bar, Aku lagi sibuk. Kamu
hati-hati aja nyetirnya. Ga usah ngebut.” Jawab Indira tanpa memandang Akbar.
Akbar menyunggingkan bibirnya. Bagaimana mungkin
tunangannya tidak menyadari kalau mobil sudah berada di basement. Akbar meraih
kedua bahu Indira. Berusaha untuk membuat Indira memusatkan perhatian kepadanya.
Menatap Indira dalam-dalam.
“Ndi, Kamu itu sudah cantik. Mau
digimana-dimanain juga tetep cantik.”
“Iya aku tau. Kamu kalau mau ngegombal nanti aja.
Udah telat ini.”
“Ndi.. Kita udah sampai dari tadi. Kamu yang ga
sadar.”
“Ha?? Serius??” Indira menolehkan kepalanya ke
berbagai arah. Memastikan lokasi keberadaannya saat ini.
“Dengerin aku. Sekarang, kita naik ke atas. Kamu
baca materinya baik-baik. Jangan galau Cuma gara-gara kamu belum makeup. Polos
gini aja kamu udah cantik. Dan lagi, Aku ga mau kecantikan Kamu dinikmati sama
banyak orang.” Ucap Akbar sembari mempertahankan posisi tangannya di bahu
Indira.
Akbar tertawa puas melihat anggukan kepala
Indira. Ia tidak peduli dengan apa yang membuat Indira mengangguk. Entah karena
pujian kecantikannya, atau larangannya untuk menggunakan makeup. Yang jelas,
Akbar puas karena setidaknya Indira mau menuruti perkataannya.
Gosip sudah beredar luas di kalangan para
karyawan kantor sekaligus pabrik bahwa saat ini Akbar sudah bertunangan dengan
Indira. Hal ini membuat Akbar tidak sungkan-sungkan untuk memamerkan
kemesraannya di depan umum.
Ia merangkul pundak Indira yang masih sibuk
dengan kertas-kertas di tangannya. Akbar tersenyum ramah kepada setiap karyawan
yang menyapanya.
“Sayang, Kamu udah sampai.” Bisik Akbar saat lift
berhenti di lantai divisi Indira. Ia memelankan suaranya karena ada beberapa
karyawan lain yang ada di dalam lift tersebut.
“Oh Iya. Aku berangkat ya. Nanti makan siang aku
ke ruangan Kamu.” Ucap Indira tanpa menoleh.
Sementara Akbar tertawa geli melihat tingkah
Indira. Sudah lama Ia tidak melihat Indira seserius itu. Akbar berjalan santai
ke ruangannya. Mengangguk pelan saat karyawan divisi menyapanya.
Akbar yang menyadari Jessica berjalan
__ADS_1
dibelakangnya langsung berbicara.
“Saya akan menjalani semua agenda hari ini dengan
baik. Tapi tolong kosongkan jadwal makan siang ya.”
Sejurus kemudian Jessica membacakan rentetan
pekerjaan yang akan Ia kerjakan. Sementara Akbar memejamkan matanya dan
mengangguk. Sesungguhnya, Akbar tidak terlalu memperhatikan perkataan Jessica.
Toh nanti Jessica akan mendatanginya lagi saat jadwalnya berjalan.
Pikirannya melayang, memikirkan pernikahan yang
akan terjadi 6 bulan kedepan. Moodnya yang bagus membuat pekerjaannya berjalan
lancar dan lebih cepat dari yang seharusnya.
Bahkan agenda yang seharusnya berakhir usai makan
siang, telah Akbar selesaikan sebelum waktunya. Ia menyandarkan punggungnya
dengan santai. Memutar-mutarkan kursi kebesarannya sembari bermain ponsel
pintarnya.
Ia membuka profil sosial media milik Indira.
Menatap foto-foto yang terpampang di feed milik Indira. Wajahnya tersenyum puas
saat melihat ternyata ada banyak potret dirinya saat bersama dengan Indira. Ia
tidak terlalu menyadari kalau ternyata foto Indira bersama Malik lebih banyak
terpajang dibanding dengan dirinya.
“Ahh.. Cantik sekali dia..” Akbar tersenyum
sambil bergumam.
“Siapa yang cantik?? Oh kamu lagi suka sama orang
lain??”
Akbar sedikit terkejut ketika melihat Indira
kehadiran Indira di ruangannya.
Ia menyerahkan ponselnya yang masih membuka
halaman profil sosia medial Indira.
“Dia yang cantik”
Seketika wajah Indira tesenyum malu. Akbar
menarik lengan Indira dan mengajaknya untuk bersantai di sofa. Ia mengeluarkan
secarik kertas yang terlipat dari dalam saku jasnya.
Menyerahkan kertas itu ke tangan Indira dan
memintanya untuk membaca dengan seksama.
“Apa ini?? EO? Gedung? Catering? Kita mau ada
acara amal lagi Bar??”
Baru membuka mulut untuk menjawab pertanyaan
Indira, sudah ada Jessica yang datang sembari membawa 2 menu makan siang
untuknya dan Indira.
“Silahkan Pak, Bu. Kalau ada yang dibutuhkan lagi silahkan panggil Saya.” Jessica
tersenyum ramah.
Saat Jessica masih di ambang pintu, Akbar melanjutkan perkataannya yang belum sempat
terucap. Membuat Jessica berhenti sesaat sebelum melanjutkan langkahnya.
“Ini yang dibutuhkan untuk pernikahan kita 6 bulan lagi.”
“6 bulan lagi??”
“Iya. Loh kamu belum dikasih tau sama Papa?? Ini yang nentuin Papi, Papa sama Mama.
Bahkan mereka skip acara semacam lamaran, pertunangan dan serentetan acara yang
__ADS_1
lain. Yang paling penting kita sah. Tapi aku kemarin minta diadain resepsi.
Biar keluarga dan kolega kita tau kalau kita menikah.”
Indira menganggukan kepalanya seakan sedang mencerna perkataan Akbar.
“Bar, pensil” Ucap Indira sembari tangannya menengadah. Wajahnya masih terpaku dengan
huruf-huruf di kertas itu.
Seperti mendapat perintah, Akbar berdiri mengambil pensil yang ada di mejanya dan
menyerahkan kepada Indira. Memposisikan dirinya sedekat mungkin dengan
tunangannya. Memperhatikan Indira yang
sedang mencoret beberapa item.
Wajahnya penuh dengan pertanyaan ketika melihat Indira mencoret hal-hal yang menurut
Akbar cukup penting untuk pernikahan. Akbar semakin terkejut ketika Indira
menyilang kata wedding dress.
“Sayang.. Kok di coret. Kan itu yang penting” Ucap Akbar sedikit kecewa.
Akbar merasa hangat saat tangan Indira mengusap pipinya pelan. Hatinya berdegub saat
gadis itu tersenyum di hadapan wajahnya.
“Aku kan sudah punya.”
“Apa?”
“Wedding dress. Aku belum cerita sama Kamu??”
“Belum. Dapat dari mana??”
“Malik. Kado ulang tahun aku.” Indira segera mengambil ponsel dari saku kulotnya.
Mencari-cari foto wedding dress impiannya.
Sesaat kemudian Akbar memeriksa layar ponsel Indira. Dan benar saja, wedding dress
impian Indira sudah menjelma menjadi nyata. Matanya berbinar saat melihat
keindahan gaun itu.
Hatinya tersentuh mendengar bahwa gaun itu adalah pemberian dari Malik yang bisa Indira
kenakan saat pernikahannya. Akbar menyadari betapa beruntungnya mereka memiliki
sahabat seperti Malik. Malik sampai memikirkan gaun pernikahan Indira yang
bahkan dirinya pun belum memiliki pemikiran untuk membuatnya.
Setelah terdiam beberapa saat, Akbar menatap wajah Indira sendu.
“Kamu kenapa Bar?? Kok jadi mellow??”
“Gapapa sayang. Aku cuma terharu. Ditengah kesibukan Malik, dia masih sempat memikirkan
wedding dress untuk pernikahan kita. Aku akan sangat berterimakasih padanya.”
Akbar merengkuh tubuh mungil Indira dan memeluknya.
Mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka tentang pernikahan sembari memakan makan
siangnya.
**
DEG
Jantung Jessica seakan berhenti berdetak saat mendengar suara Bosnya tentang pernikahan
yang akan dilangsungkan 6 bulan dari sekarang.
Jessica menggelengkan kepalanya pelan, mencari kesadarannya. Ia meneruskan langkahnya
untuk kembali ke kursi kebesarannya.
Segera Jessica merebahkan kepalanya diatas meja. Mengambil napas dalam-dalam dan
membuangnya. Seakan ingin membuang rasa sedih dihatinya.
Sejurus kemudian Ia duduk tegak dengan mata yang dibuka lebar. Tangannya menoyor
kepalanya berulang kali.
“Sadarlah Jessica. Bangun. Ingat Kamu siapa, Dia siapa. Dimana-mana kalau penggemar itu
__ADS_1
tidak boleh memiliki harapan lebih.. Ayo sadar”