Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH51- 6 Bulan Lagi


__ADS_3

Akbar memperhatikan tingkah Indira yang sedang


galau. Ia tahu betul dua hal yang sedang dihadapi Indira saat ini sangatlah


sensitif. Bagi Indira penampilan adalah yang utama. Tapi meeting yang akan dihadapi


hari ini juga tidak kalah penting.


Ia tersenyum melihat Indira yang bahkan tidak


menyadari bahwa mobil sudah berhenti.


“Ehemmm..”


“Ya? Kenapa?? Sorry ya Bar, Aku lagi sibuk. Kamu


hati-hati aja nyetirnya. Ga usah ngebut.” Jawab Indira tanpa memandang Akbar.


Akbar menyunggingkan bibirnya. Bagaimana mungkin


tunangannya tidak menyadari kalau mobil sudah berada di basement. Akbar meraih


kedua bahu Indira. Berusaha untuk membuat Indira memusatkan perhatian kepadanya.


Menatap Indira dalam-dalam.


“Ndi, Kamu itu sudah cantik. Mau


digimana-dimanain juga tetep cantik.”


“Iya aku tau. Kamu kalau mau ngegombal nanti aja.


Udah telat ini.”


“Ndi.. Kita udah sampai dari tadi. Kamu yang ga


sadar.”


“Ha?? Serius??” Indira menolehkan kepalanya ke


berbagai arah. Memastikan lokasi keberadaannya saat ini.


“Dengerin aku. Sekarang, kita naik ke atas. Kamu


baca materinya baik-baik. Jangan galau Cuma gara-gara kamu belum makeup. Polos


gini aja kamu udah cantik. Dan lagi, Aku ga mau kecantikan Kamu dinikmati sama


banyak orang.” Ucap Akbar sembari mempertahankan posisi tangannya di bahu


Indira.


Akbar tertawa puas melihat anggukan kepala


Indira. Ia tidak peduli dengan apa yang membuat Indira mengangguk. Entah karena


pujian kecantikannya, atau larangannya untuk menggunakan makeup. Yang jelas,


Akbar puas karena setidaknya Indira mau menuruti perkataannya.


Gosip sudah beredar luas di kalangan para


karyawan kantor sekaligus pabrik bahwa saat ini Akbar sudah bertunangan dengan


Indira. Hal ini membuat Akbar tidak sungkan-sungkan untuk memamerkan


kemesraannya di depan umum.


Ia merangkul pundak Indira yang masih sibuk


dengan kertas-kertas di tangannya. Akbar tersenyum ramah kepada setiap karyawan


yang menyapanya.


“Sayang, Kamu udah sampai.” Bisik Akbar saat lift


berhenti di lantai divisi Indira. Ia memelankan suaranya karena ada beberapa


karyawan lain yang ada di dalam lift tersebut.


“Oh Iya. Aku berangkat ya. Nanti makan siang aku


ke ruangan Kamu.” Ucap Indira tanpa menoleh.


Sementara Akbar tertawa geli melihat tingkah


Indira. Sudah lama Ia tidak melihat Indira seserius itu. Akbar berjalan santai


ke ruangannya. Mengangguk pelan saat karyawan divisi menyapanya.


Akbar yang menyadari Jessica berjalan

__ADS_1


dibelakangnya langsung berbicara.


“Saya akan menjalani semua agenda hari ini dengan


baik. Tapi tolong kosongkan jadwal makan siang ya.”


Sejurus kemudian Jessica membacakan rentetan


pekerjaan yang akan Ia kerjakan. Sementara Akbar memejamkan matanya dan


mengangguk. Sesungguhnya, Akbar tidak terlalu memperhatikan perkataan Jessica.


Toh nanti Jessica akan mendatanginya lagi saat jadwalnya berjalan.


Pikirannya melayang, memikirkan pernikahan yang


akan terjadi 6 bulan kedepan. Moodnya yang bagus membuat pekerjaannya berjalan


lancar dan lebih cepat dari yang seharusnya.


Bahkan agenda yang seharusnya berakhir usai makan


siang, telah Akbar selesaikan sebelum waktunya. Ia menyandarkan punggungnya


dengan santai. Memutar-mutarkan kursi kebesarannya sembari bermain ponsel


pintarnya.


Ia membuka profil sosial media milik Indira.


Menatap foto-foto yang terpampang di feed milik Indira. Wajahnya tersenyum puas


saat melihat ternyata ada banyak potret dirinya saat bersama dengan Indira. Ia


tidak terlalu menyadari kalau ternyata foto Indira bersama Malik lebih banyak


terpajang dibanding dengan dirinya.


“Ahh.. Cantik sekali dia..” Akbar tersenyum


sambil bergumam.


“Siapa yang cantik?? Oh kamu lagi suka sama orang


lain??”


Akbar sedikit terkejut ketika melihat Indira


kehadiran Indira di ruangannya.


Ia menyerahkan ponselnya yang masih membuka


halaman profil sosia medial Indira.


“Dia yang cantik”


Seketika wajah Indira tesenyum malu. Akbar


menarik lengan Indira dan mengajaknya untuk bersantai di sofa. Ia mengeluarkan


secarik kertas yang terlipat dari dalam saku jasnya.


Menyerahkan kertas itu ke tangan Indira dan


memintanya untuk membaca dengan seksama.


“Apa ini?? EO? Gedung? Catering? Kita mau ada


acara amal lagi Bar??”


Baru membuka mulut untuk menjawab pertanyaan


Indira, sudah ada Jessica yang datang sembari membawa 2 menu makan siang


untuknya dan Indira.


“Silahkan Pak, Bu. Kalau ada yang dibutuhkan lagi silahkan panggil Saya.” Jessica


tersenyum ramah.


Saat Jessica masih di ambang pintu, Akbar melanjutkan perkataannya yang belum sempat


terucap. Membuat Jessica berhenti sesaat sebelum melanjutkan langkahnya.


“Ini yang dibutuhkan untuk pernikahan kita 6 bulan lagi.”


“6 bulan lagi??”


“Iya. Loh kamu belum dikasih tau sama Papa?? Ini yang nentuin Papi, Papa sama Mama.


Bahkan mereka skip acara semacam lamaran, pertunangan dan serentetan acara yang

__ADS_1


lain. Yang paling penting kita sah. Tapi aku kemarin minta diadain resepsi.


Biar keluarga dan kolega kita tau kalau kita menikah.”


Indira menganggukan kepalanya seakan sedang mencerna perkataan Akbar.


“Bar, pensil” Ucap Indira sembari tangannya menengadah. Wajahnya masih terpaku dengan


huruf-huruf di kertas itu.


Seperti mendapat perintah, Akbar berdiri mengambil pensil yang ada di mejanya dan


menyerahkan kepada Indira. Memposisikan dirinya sedekat mungkin dengan


tunangannya.  Memperhatikan Indira yang


sedang mencoret beberapa item.


Wajahnya penuh dengan pertanyaan ketika melihat Indira mencoret hal-hal yang menurut


Akbar cukup penting untuk pernikahan. Akbar semakin terkejut ketika Indira


menyilang kata wedding dress.


“Sayang.. Kok di coret. Kan itu yang penting” Ucap Akbar sedikit kecewa.


Akbar merasa hangat saat tangan Indira mengusap pipinya pelan. Hatinya berdegub saat


gadis itu tersenyum di hadapan wajahnya.


“Aku kan sudah punya.”


“Apa?”


“Wedding dress. Aku belum cerita sama Kamu??”


“Belum. Dapat dari mana??”


“Malik. Kado ulang tahun aku.” Indira segera mengambil ponsel dari saku kulotnya.


Mencari-cari foto wedding dress impiannya.


Sesaat kemudian Akbar memeriksa layar ponsel Indira. Dan benar saja, wedding dress


impian Indira sudah menjelma menjadi nyata. Matanya berbinar saat melihat


keindahan gaun itu.


Hatinya tersentuh mendengar bahwa gaun itu adalah pemberian dari Malik yang bisa Indira


kenakan saat pernikahannya. Akbar menyadari betapa beruntungnya mereka memiliki


sahabat seperti Malik. Malik sampai memikirkan gaun pernikahan Indira yang


bahkan dirinya pun belum memiliki pemikiran untuk membuatnya.


Setelah terdiam beberapa saat, Akbar menatap wajah Indira sendu.


“Kamu kenapa Bar?? Kok jadi mellow??”


“Gapapa sayang. Aku cuma terharu. Ditengah kesibukan Malik, dia masih sempat memikirkan


wedding dress untuk pernikahan kita. Aku akan sangat berterimakasih padanya.”


Akbar merengkuh tubuh mungil Indira dan memeluknya.


Mereka kembali melanjutkan pembicaraan mereka tentang pernikahan sembari memakan makan


siangnya.


**


DEG


Jantung Jessica seakan berhenti berdetak saat mendengar suara Bosnya tentang pernikahan


yang akan dilangsungkan 6 bulan dari sekarang.


Jessica menggelengkan kepalanya pelan, mencari kesadarannya. Ia meneruskan langkahnya


untuk kembali ke kursi kebesarannya.


Segera Jessica merebahkan kepalanya diatas meja. Mengambil napas dalam-dalam dan


membuangnya. Seakan ingin membuang rasa sedih dihatinya.


Sejurus kemudian Ia duduk tegak dengan mata yang dibuka lebar. Tangannya menoyor


kepalanya berulang kali.


“Sadarlah Jessica. Bangun. Ingat Kamu siapa, Dia siapa. Dimana-mana kalau penggemar itu

__ADS_1


tidak boleh memiliki harapan lebih.. Ayo sadar”


__ADS_2