Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH40- Hadiah Indira


__ADS_3

Bu Mega menggenggam tangannya dengan erat. Tangan


yang biasanya hangat, kini dingin dan basah. Wajahnya yang pucat pasi


menggambarkan dengan jelas bagaimana suasana hatinya saat ini. Tidak hanya


mamanya, Malikpun juga merasakan hal yang sama.


Dunia Malik seakan runtuh saat mendengar lamaran


Akbar pada Indira. Semua hal yang sudah dipersiapkan sesempurna mungkin


sekarang tinggal bayangan. Akbar lebih dulu melamar Indira, dan gadis itupun


menerimanya.


Tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan


selain berbesar hati dan mengikhlaskan Indira. Mungkin ini adalah kesalahannya


sendiri karena terlalu lama mengulur waktu. Seandainya dia lebih cepat,


seandainya dia tidak terlalu lama berpikir, seandainya dia memiliki kesempatan


sekali lagi. Pasti hasilnya tidak akan seperti ini. Malik mengutuki dirinya


sendiri yang terlalu pengecut.


Dia melihat wajah Bu Mega dan tersenyum dengan


lembut. Tangannya mengusap pelan punggung Bu Mega seakan memberitahukan bahwa


dia sedang baik-baik saja.


Pandangannya beralih pada Indira yang sedang


terdiam melihat cicin yang melingkar di jari manisnya. Malik meraih bahu Indira


dan memeluknya dengan erat.


“Selamat ya ndi.. Aku akan selalu berdoa yang


terbaik buat kamu. Akbar adalah calon suami yang luar biasa”


Tanpa diduga, Indira membalas pelukannya dan


sedikit terisak. Mungkin gadis ini terlalu bahagia. Itulah yang ada di dalam


benak Malik.


Setelah makan malam usai, Malik lebih memilih


untuk membantu Bu Mega membersihkan taman dibandingkan berkumpul dengan para


pria yang lain. Ia melihat Bu Mega sedang berpelukan dengan Indira. Malik tahu


betul kekecewaan yang sedang dialami oleh mamanya.


Malik sengaja memberikan waktu untuk ibu dan anak


yang sedang bercengkrama itu. Dia mengambil piring-piring kotor dan pergi ke


dapur untuk segera mencucinya.


Tidak berselang lama Malik mendapat bantuan dari


Indira. Gadis itu membantunya tanpa bicara sepatah katapun.


“sayang..” Malik menghentikan kegiatannya dan


ikut melihat ke sumber suara. Secepat itukah Akbar mengubah panggilannya


terhadap Indira. Sebenarnya sejak kapan Akbar memiliki rasa kepada gadis itu.


Kenapa Akbar merahasiakan hal sepenting ini kepadanya. Ah tidak heran, dirinya


pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Apa itu?? Kenapa Akbar santai sekali mencium


kening Indira. Apa Akbar tidak melihat kehadiran dirinya diruangan itu??


Dadanya menjadi sesak, wajahnya panas, jantungnya berdegub kencang, tangannya


gemetar. Apa dia sedang cemburu?? Malik menggelengkan kepalanya pelan.


Setelah kepergian Akbar dan papinya, Malik


kembali fokus dengan piring-piring kotor dihadapannya. Dia hanya ingin segera


mengakhiri hari ini dan tidur di kamarnya yang nyaman. Malik tidak memiliki


tenaga jika harus pulang kerumah Pak Adi dan memutuskan untuk menginap di rumah


Pak Adrian.


Malik mengeringkan tangannya dan bersiap untuk


pergi ke kamar. Namun langkahnya terhenti karena Indira menahan lengannya.


“Mau kemana??”


“Mau tidur ndi. Kenapa??” Jawab Malik sembari


menghindari tatapan Indira.


“mau temenin aku ga?? Aku lagi butuh temen”


Sesaat Malik terdiam. Dia memikirkan berulang


kali benarkah apa yang akan dia lakukan saat ini. Matanya terpejam dan


menggenggam tangan Indira erat. Malik menunjukkan wajah tampannya seakan tidak


ada yang terjadi.


“ndi.. aku punya satu lagi kado buat kamu” Malik


tegak ditengah ruangan. Benda itu masih tetap seperti awal Malik melihatnya,


hanya semakin cantik dengan tambahan kalung permata dan mahkota kecil.


Malik memperhatikan wajah gadis itu berubah


menjadi sendu. Air matanya menggenang menghalangi pandangan. Genggaman


tangannya menjadi semakin erat.


“malik ini apa??” Suaranya terdengar lirih karena


beradu dengan air mata


“kado buat kamu. Bisa kamu pakai waktu resepsi


pernikahan kamu sama Akbar” Jawab Malik sembari menatap gaun itu. Sedikit penyesalan yang timbul


membuat pikirannya berlarian kesana kemari.


Karena tidak mendengar ada jawaban, Malik mengalihkan pandangannya kepada Indira. Dia


melihat wanita yang sangat ia sayang sedang menunduk. Wajahnya basah dengan air


mata. Gadis itu menangis tanpa suara.


Malik meraih kepalanya dan membenamkan wajah Indira dalam pelukannya. Entah apa yang


sedang ditangisi oleh Indira, yang jelas hati Malik terluka ketika ada air mata


yang keluar. Dia menepuk pelan punggung Indira.


“Ma.. makasih Malik.. makasih.. aku sayang kamu..” suara Indira mulai terdengar dari


dalam dada Malik


Malik hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Berharap pelukan ini akan menjadi

__ADS_1


hadiah terakhir dari Indira untuknya. Beberapa jam yang lalu, jantungnya


berdetak tak karuan karena ciuman dari Indira. Tapi sekarang, mungkin jantung


itu sudah berhenti berdetak karena harus merelakan wanita yang dia cintai untuk


sahabatnya sendiri. Sungguh kenyataan yang pahit.


Malik tetap memeluk Indira hingga air mata benar-benar tidak lagi keluar dan Indira bisa menenangkan dirinya. Setelah terdiam beberapa saat, Malik menyusul Indira yang duduk diatas ranjang, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Mereka berdua hanyut dalam keindahan wedding dress dihadapannya.


“Malik..”


“hmm??”


“aku sayang kamu..”


“iyaa aku juga.. ndi, tau ga udah berapa kali kamu bilang itu?? Nanti orang bakal


ngira kalo calon suami kamu itu aku, bukan Akbar”


“gitu juga gapapa sih hehe”


“apa?? Maksud kamu??”  Malik


mengalihkan pandangannya kepada Indira. Menatap gadis itu dengan ribuan


pertanyaan yang tergambar di wajahnya. Apa yang baru saja dia dengar seharusnya


menjadi berita bahagia untuknya. Tapi kenapa malah kekhawatiran yang tercipta.


Tetapi bukan jawaban yang Malik dapatkan,


melainkan genggaman tangan yang hangat dari Indira.


**


Berulang kali Bu Mega mengetuk pintu kamar Malik,


namun tidak ada jawaban yang terdengar. Apakah sudah sudah terlalu larut jika


ia mengunjungi Malik dini hari? Pada akhirnya Bu Mega mengurungkan niatnya


untuk berbicara dengan Malik. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar


rintihan dari dalam kamar Malik.


Tanpa berpikir panjang, Bu Mega segera masuk


kedalam dan memeriksa apa yang sedang terjadi. Ia melihat tubuh Malik yang


tertutup selimut, menyisakan wajahnya saja. Bu Mega mendekat dan memperhatikan


wajah Malik.


Wajah tampan putra angkatnya basah karena


keringat, bibirnya bergetar, dan dia tidak henti merintih. Karena khawatir, Bu


Mega meletakkan telapak tangannya di kening Malik. Ia sedikit terkejut karena


suhu tubuh Malik yang cukup tinggi.


Bu Mega segera pergi ke dapur, mengambil baskom


berisi air dingin dan handuk kencil untuk mengompres badan Malik.


Dengan sabar dan telaten Bu Mega merawat Malik


yang sedang sakit. Mengusap peluh yang menetes dari kening Malik, memijat


tangan dan kakinya. Bu Mega sedikit menyesal dengan apa yang sudah terjadi.


Meskipun ini bukan salahnya, tetap saja ia merasa sedikit kecewa dengan pilihan


Indira. Bukan karena Akbar tidak baik, tapi Bu Mega merasa bahwa Malik adalah


calon suami yang paling tepat untuk Indira.

__ADS_1


__ADS_2