
Bu Mega menggenggam tangannya dengan erat. Tangan
yang biasanya hangat, kini dingin dan basah. Wajahnya yang pucat pasi
menggambarkan dengan jelas bagaimana suasana hatinya saat ini. Tidak hanya
mamanya, Malikpun juga merasakan hal yang sama.
Dunia Malik seakan runtuh saat mendengar lamaran
Akbar pada Indira. Semua hal yang sudah dipersiapkan sesempurna mungkin
sekarang tinggal bayangan. Akbar lebih dulu melamar Indira, dan gadis itupun
menerimanya.
Tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan
selain berbesar hati dan mengikhlaskan Indira. Mungkin ini adalah kesalahannya
sendiri karena terlalu lama mengulur waktu. Seandainya dia lebih cepat,
seandainya dia tidak terlalu lama berpikir, seandainya dia memiliki kesempatan
sekali lagi. Pasti hasilnya tidak akan seperti ini. Malik mengutuki dirinya
sendiri yang terlalu pengecut.
Dia melihat wajah Bu Mega dan tersenyum dengan
lembut. Tangannya mengusap pelan punggung Bu Mega seakan memberitahukan bahwa
dia sedang baik-baik saja.
Pandangannya beralih pada Indira yang sedang
terdiam melihat cicin yang melingkar di jari manisnya. Malik meraih bahu Indira
dan memeluknya dengan erat.
“Selamat ya ndi.. Aku akan selalu berdoa yang
terbaik buat kamu. Akbar adalah calon suami yang luar biasa”
Tanpa diduga, Indira membalas pelukannya dan
sedikit terisak. Mungkin gadis ini terlalu bahagia. Itulah yang ada di dalam
benak Malik.
Setelah makan malam usai, Malik lebih memilih
untuk membantu Bu Mega membersihkan taman dibandingkan berkumpul dengan para
pria yang lain. Ia melihat Bu Mega sedang berpelukan dengan Indira. Malik tahu
betul kekecewaan yang sedang dialami oleh mamanya.
Malik sengaja memberikan waktu untuk ibu dan anak
yang sedang bercengkrama itu. Dia mengambil piring-piring kotor dan pergi ke
dapur untuk segera mencucinya.
Tidak berselang lama Malik mendapat bantuan dari
Indira. Gadis itu membantunya tanpa bicara sepatah katapun.
“sayang..” Malik menghentikan kegiatannya dan
ikut melihat ke sumber suara. Secepat itukah Akbar mengubah panggilannya
terhadap Indira. Sebenarnya sejak kapan Akbar memiliki rasa kepada gadis itu.
Kenapa Akbar merahasiakan hal sepenting ini kepadanya. Ah tidak heran, dirinya
pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Apa itu?? Kenapa Akbar santai sekali mencium
kening Indira. Apa Akbar tidak melihat kehadiran dirinya diruangan itu??
Dadanya menjadi sesak, wajahnya panas, jantungnya berdegub kencang, tangannya
gemetar. Apa dia sedang cemburu?? Malik menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah kepergian Akbar dan papinya, Malik
kembali fokus dengan piring-piring kotor dihadapannya. Dia hanya ingin segera
mengakhiri hari ini dan tidur di kamarnya yang nyaman. Malik tidak memiliki
tenaga jika harus pulang kerumah Pak Adi dan memutuskan untuk menginap di rumah
Pak Adrian.
Malik mengeringkan tangannya dan bersiap untuk
pergi ke kamar. Namun langkahnya terhenti karena Indira menahan lengannya.
“Mau kemana??”
“Mau tidur ndi. Kenapa??” Jawab Malik sembari
menghindari tatapan Indira.
“mau temenin aku ga?? Aku lagi butuh temen”
Sesaat Malik terdiam. Dia memikirkan berulang
kali benarkah apa yang akan dia lakukan saat ini. Matanya terpejam dan
menggenggam tangan Indira erat. Malik menunjukkan wajah tampannya seakan tidak
ada yang terjadi.
“ndi.. aku punya satu lagi kado buat kamu” Malik
tegak ditengah ruangan. Benda itu masih tetap seperti awal Malik melihatnya,
hanya semakin cantik dengan tambahan kalung permata dan mahkota kecil.
Malik memperhatikan wajah gadis itu berubah
menjadi sendu. Air matanya menggenang menghalangi pandangan. Genggaman
tangannya menjadi semakin erat.
“malik ini apa??” Suaranya terdengar lirih karena
beradu dengan air mata
“kado buat kamu. Bisa kamu pakai waktu resepsi
pernikahan kamu sama Akbar” Jawab Malik sembari menatap gaun itu. Sedikit penyesalan yang timbul
membuat pikirannya berlarian kesana kemari.
Karena tidak mendengar ada jawaban, Malik mengalihkan pandangannya kepada Indira. Dia
melihat wanita yang sangat ia sayang sedang menunduk. Wajahnya basah dengan air
mata. Gadis itu menangis tanpa suara.
Malik meraih kepalanya dan membenamkan wajah Indira dalam pelukannya. Entah apa yang
sedang ditangisi oleh Indira, yang jelas hati Malik terluka ketika ada air mata
yang keluar. Dia menepuk pelan punggung Indira.
“Ma.. makasih Malik.. makasih.. aku sayang kamu..” suara Indira mulai terdengar dari
dalam dada Malik
Malik hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Berharap pelukan ini akan menjadi
__ADS_1
hadiah terakhir dari Indira untuknya. Beberapa jam yang lalu, jantungnya
berdetak tak karuan karena ciuman dari Indira. Tapi sekarang, mungkin jantung
itu sudah berhenti berdetak karena harus merelakan wanita yang dia cintai untuk
sahabatnya sendiri. Sungguh kenyataan yang pahit.
Malik tetap memeluk Indira hingga air mata benar-benar tidak lagi keluar dan Indira bisa menenangkan dirinya. Setelah terdiam beberapa saat, Malik menyusul Indira yang duduk diatas ranjang, menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Mereka berdua hanyut dalam keindahan wedding dress dihadapannya.
“Malik..”
“hmm??”
“aku sayang kamu..”
“iyaa aku juga.. ndi, tau ga udah berapa kali kamu bilang itu?? Nanti orang bakal
ngira kalo calon suami kamu itu aku, bukan Akbar”
“gitu juga gapapa sih hehe”
“apa?? Maksud kamu??” Malik
mengalihkan pandangannya kepada Indira. Menatap gadis itu dengan ribuan
pertanyaan yang tergambar di wajahnya. Apa yang baru saja dia dengar seharusnya
menjadi berita bahagia untuknya. Tapi kenapa malah kekhawatiran yang tercipta.
Tetapi bukan jawaban yang Malik dapatkan,
melainkan genggaman tangan yang hangat dari Indira.
**
Berulang kali Bu Mega mengetuk pintu kamar Malik,
namun tidak ada jawaban yang terdengar. Apakah sudah sudah terlalu larut jika
ia mengunjungi Malik dini hari? Pada akhirnya Bu Mega mengurungkan niatnya
untuk berbicara dengan Malik. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar
rintihan dari dalam kamar Malik.
Tanpa berpikir panjang, Bu Mega segera masuk
kedalam dan memeriksa apa yang sedang terjadi. Ia melihat tubuh Malik yang
tertutup selimut, menyisakan wajahnya saja. Bu Mega mendekat dan memperhatikan
wajah Malik.
Wajah tampan putra angkatnya basah karena
keringat, bibirnya bergetar, dan dia tidak henti merintih. Karena khawatir, Bu
Mega meletakkan telapak tangannya di kening Malik. Ia sedikit terkejut karena
suhu tubuh Malik yang cukup tinggi.
Bu Mega segera pergi ke dapur, mengambil baskom
berisi air dingin dan handuk kencil untuk mengompres badan Malik.
Dengan sabar dan telaten Bu Mega merawat Malik
yang sedang sakit. Mengusap peluh yang menetes dari kening Malik, memijat
tangan dan kakinya. Bu Mega sedikit menyesal dengan apa yang sudah terjadi.
Meskipun ini bukan salahnya, tetap saja ia merasa sedikit kecewa dengan pilihan
Indira. Bukan karena Akbar tidak baik, tapi Bu Mega merasa bahwa Malik adalah
calon suami yang paling tepat untuk Indira.
__ADS_1