
Indira, Malik dan Akbar berjalan menyusuri jalan
setapak menuju rumah Malik. Keheningan masih tercipta diantara mereka. Sudah
tidak ada tenaga yang tersisa. Terlalu banyak air mata yang terbuang hingga
membuat energi mereka terkuras habis.
Hanya satu keinginan mereka.. yaitu pulang..
Pulang ke rumah kecil yang dulu selalu dipenuhi oleh tawa dan kebahagiaan.
Rumah Malik.
Mereka bertiga berhenti dan berdiri dihalaman
rumah. Dari dalam tampak ada banyak pelayat yang masih menangisi kepergian Bu
Sri. Kaki mereka seakan berat untuk melangkah kedalam. Takut akan ada air mata
yang jatuh lagi.
Melihat anak-anaknya sudah sampai, Bu Mega yang
masih sibuk menemui para pelayat di dalam rumah langsung berdiri dan
menghampiri mereka.
“Nak, disini masih banyak orang. Biar mama, papa
sama papi kalian yang menemui mereka. Kalian pulang dan istirahat di rumah mama
ya. Nanti mama minta tolong orang buat anterin makan kalian.” Bu Mega memegang
bahu Malik, mengerti betapa berat beban yang sedang dia pikul.
Akbar menganggukan kepala dan menuntun yang lain
agar segera pulang ke rumah Indira, yang hanya berjarak 5 rumah dari sana.
Ketika sudah mulai melangkah, suara Bu Mega kembali terdengar dan membuat Akbar
melepaskan tangannya di bahu Malik. Berbalik menghampiri Bu Mega
“Akbar..”
“Iya mah..”
“Mama titip Malik sama Indira ya nak. Disini kamu
yang paling besar, kamu jaga mereka ya. Mama tau kamu juga pasti sedih, tapi
mama harap kamu bisa menghibur Malik dan Indi. Kamu jangan lupa makan ya
sayang”
Bu Mega mengusap pelan pipi Akbar. Meletakkan
harapan agar Akbar bisa menghibur sahabat-sahabatnya itu. Setelah menganggukkan
kepala, Akbar berlalu meninggalkan Bu Mega dan kembali menghampiri sahabatnya.
Mereka berjalan kearah rumah Indira dengan
lemas seperti tidak ada penyangga didalam tubuhnya. Sesampainya didepan pintu,
Indira menolehkan kepalanya pada Akbar. Menunjuk pot bunga yang ada disamping
pintu dengan kepalanya.
Akbar berjalan mendekati pot bunga, seakan
mengerti arti bahasa isyarat Indi. Dia meraba bagian dalam pot bunga, dan
berdiri setelah mendapat apa yang dia cari. Akbar langsung membuka pintu
menggunakan kunci yang didapat dari dalam pot bunga.
Mereka bertiga berjalan ke arah ruang tamu
menggunakan sedikit energi yang tersisa. Malik langsung merebahkan tubuhnya
diatas sofa. Sedangkan Indira memilih masuk kedalam kamar dan mengganti
__ADS_1
pakaiannya.
Belum lama berselang, ada suara dari depan pintu
rumah. Akbarpun langsung berdiri menghampiri sumber suara.
“Jang, ini makan siang kalian ya. Bu Mega minta
tolong saya buat nganter kesini. Di rumah Malik masih banyak orang, kalau butuh
apa-apa panggil mamang aja ya.”
Ternyata yang datang adalah tetangga Malik yang
membawakan 3 buah nasi kotak titipan Bu Mega. Akbar berterimakasih kepada orang yang sudah membawakan makan siang untuk mereka. Dia juga berpesan agar Bu Mega tidak perlu khawatir dengan kondisinya dan para sahabbatnya. setelah tamunya pergi, Akbar langsung membawa masuk dan
meletakkan kotak makan itu dihadapan Malik.
“Lik, makan dulu. Dari kemarin kita belum ada
yang makan”
Dengan telaten Akbar menyiapkan makan siang untuk
sahabat-sahabatnya. Dia hanya menyiapkan untuk Malik dan Indira, tapi dirinya sendiri tidak ada niat untuk menyentuh makanan itu.
Melihat temannya tidak berselera untuk makan, Indira yang
baru keluar dari kamar langsung duduk di samping Malik. Dia mengangkat kepala
Malik dan meletakkan diatas pangkuannya.
Tanpa basa-basi Indira mengambil nasi kotak yang
ada diddepan Akbar.
“Kamu mau makan sendiri apa aku suapin” Indira
mulai menyendokkan nasi ke mulut Malik yang masih terpejam di pangkuannya.
Malik hanya menggelengkan kepalanya pelan
“Kamu pikir, kalo kamu ga makan Ibuk bakalan
kehilangan?? Enggak lik. Aku sama Akbar juga sedih. Tapi kamu jangan
terus-terusan kaya gini. Kamu harus makan, kalo kamu sakit siapa yang mau
ngurusin hah??”
Mendengar suara Indira dengan nada yang sedikit
kesal, Malik mulai tersadar dan mencoba untuk duduk. Dia menatap Indira dan
Akbar bergantian.
“Maaf ya” Suara lirih Malik mulai terdengar.
“aaaa. Buka mulut kamu cepet” Indira menyendokkan
sesuap penuh ke mulut Malik, dan Malik pun menuruti apa kata Indira. Melihat
Malik sudah mulai makan, Akbarpun langsung mengambil nasi kotak lain dan mulai
makan. Sementara Indira makan dengan sendok yang sama dengan Malik.
“Kalian berdua harus makan yang banyak. Kalau ga
makan, mau dapat energi dari mana. Kita harus tetep kuat dong. Kalau kaya gini
terus, kasihan mama papa sama papi. Mereka pasti sedih ngeliat kita sedih. Ibuk
juga gaakan suka kalau kita begini.”
Akbar manggut-manggut mendengar ocehan Indira.
Sementara malik yang dimulutnya masih penuh oleh makanan tersenyum.
“Kamu kalau gini kaya ibu-ibu yang lagi marahin
anaknya ndi” Akhirnya Malik mengeluarkan suaranya dan menatap Indira dengan
sendu. Sepertinya omelan Indira berhasil membuatnya sedikit bangkit dari
__ADS_1
kesedihannya.
“haha, emang iya ya bar?? Gapapa sih dibilang
Ibu-ibu juga yang penting kamu makan. Ayo aaa lagi, buka mulutnya yang lebar”
Indira menyuapi Malik lagi.
Beberapa saat mereka makan sambil berbincang
sekedar menghilangkan kesunyian diantara mereka. Setelah makan usai, Indira
segera membereskan sampah-sampah sisa makanan dan kembali duduk disamping
Malik.
“Ndi, besok hari apa??” tanya Akbar
“Jumat. Kenapa?”
“besok kita bolos sekolah yuk. Sekalian, weekend
kan liburan juga. Gimana??” Akbar menawarkan sebuah ide cemerlang. Malik hanya
mengangguk pelan sebagai tanda persetujuannya.
“emang mau ngapain bar??” tanya Indira penasaran
“Kita ke lembang yuk.. ngademin jiwa dan raga
kita. Gimana??”
Indira langsung antusias mendengar tawaran dari
Akbar. Wajahnya langsung bersinar ketika mendengar kata Lembang.
Ya, Lembang menjadi tempat favorit bagi mereka,
terutama Indira. Bagi mereka villa di Lembang adalah tempat yang paling
menyenangkan bagi mereka. Udara sejuk, hamparan kebun teh yang luas, dan
tentunya teropong bintang yang tidak jauh dari lokasi villa milik Pak Adi.
“okedeh. Nanti aku bilang mama sama papa deh biar
ditemenin. Gimana??” tanya Indira
“Sekalian ajak papi juga ndi. Biar ramean. Kamu
mau kan lik??” Pertanyaan Akbar disambut dengan senyuman dan anggukan kepala
dari Malik.
Malik berpikir, mungkin dengan pergi ke villa
bisa menyegarkan pikirannya. Sekaligus bisa membantu hatinya agar bisa
mengikhlaskan kepergian Bu Sri.
“Lik..” Akbar mulai membuka percakapan lagi
‘hmm?”
“Kita selalu ada buat kamu. Orang tua kami itu
orang tua kamu juga. Jadi jangan pernah merasa sendiri ya”
Senyuman hangat yang diberikan oleh Akbar membuat
hati Malik sedikit terbuka. Dia menyadari, kepergian ibunya memanglah
menyakitkan, tapi itu buka akhir dari segalanya. Masih banyak orang yang dengan
tulus menyayanginya.
Mereka cukup lama berbincang diruang tamu.
Membicarakan hal-hal sederhana yang bisa membuat mereka lupa dengan kesedihan
yang sedang dialami. Setidaknya jika sedang bersama, beban yang mereka rasakan
sedikit lebih ringan.
__ADS_1