Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH11- Pulang


__ADS_3

Indira, Malik dan Akbar berjalan menyusuri jalan


setapak menuju rumah Malik. Keheningan masih tercipta diantara mereka. Sudah


tidak ada tenaga yang tersisa. Terlalu banyak air mata yang terbuang hingga


membuat energi mereka terkuras habis.


Hanya satu keinginan mereka.. yaitu pulang..


Pulang ke rumah kecil yang dulu selalu dipenuhi oleh tawa dan kebahagiaan.


Rumah Malik.


Mereka bertiga berhenti dan berdiri dihalaman


rumah. Dari dalam tampak ada banyak pelayat yang masih menangisi kepergian Bu


Sri. Kaki mereka seakan berat untuk melangkah kedalam. Takut akan ada air mata


yang jatuh lagi.


Melihat anak-anaknya sudah sampai, Bu Mega yang


masih sibuk menemui para pelayat di dalam rumah langsung berdiri dan


menghampiri mereka.


“Nak, disini masih banyak orang. Biar mama, papa


sama papi kalian yang menemui mereka. Kalian pulang dan istirahat di rumah mama


ya. Nanti mama minta tolong orang buat anterin makan kalian.” Bu Mega memegang


bahu Malik, mengerti betapa berat beban yang sedang dia pikul.


Akbar menganggukan kepala dan menuntun yang lain


agar segera pulang ke rumah Indira, yang hanya berjarak 5 rumah dari sana.


Ketika sudah mulai melangkah, suara Bu Mega kembali terdengar dan membuat Akbar


melepaskan tangannya di bahu Malik. Berbalik menghampiri Bu Mega


“Akbar..”


“Iya mah..”


“Mama titip Malik sama Indira ya nak. Disini kamu


yang paling besar, kamu jaga mereka ya. Mama tau kamu juga pasti sedih, tapi


mama harap kamu bisa menghibur Malik dan Indi. Kamu jangan lupa makan ya


sayang”


Bu Mega mengusap pelan pipi Akbar. Meletakkan


harapan agar Akbar bisa menghibur sahabat-sahabatnya itu. Setelah menganggukkan


kepala, Akbar berlalu meninggalkan Bu Mega dan kembali menghampiri sahabatnya.


Mereka berjalan kearah rumah Indira dengan


lemas seperti tidak ada penyangga didalam tubuhnya. Sesampainya didepan pintu,


Indira menolehkan kepalanya pada Akbar. Menunjuk pot bunga yang ada disamping


pintu dengan kepalanya.


Akbar berjalan mendekati pot bunga, seakan


mengerti arti bahasa isyarat Indi. Dia meraba bagian dalam pot bunga, dan


berdiri setelah mendapat apa yang dia cari. Akbar langsung membuka pintu


menggunakan kunci yang didapat dari dalam pot bunga.


Mereka bertiga berjalan ke arah ruang tamu


menggunakan sedikit energi yang tersisa. Malik langsung merebahkan tubuhnya


diatas sofa. Sedangkan Indira memilih masuk kedalam kamar dan mengganti

__ADS_1


pakaiannya.


Belum lama berselang, ada suara dari depan pintu


rumah. Akbarpun langsung berdiri menghampiri sumber suara.


“Jang, ini makan siang kalian ya. Bu Mega minta


tolong saya buat nganter kesini. Di rumah Malik masih banyak orang, kalau butuh


apa-apa panggil mamang aja ya.”


Ternyata yang datang adalah tetangga Malik yang


membawakan 3 buah nasi kotak titipan Bu Mega. Akbar berterimakasih kepada orang yang sudah membawakan makan siang untuk mereka. Dia juga berpesan agar Bu Mega tidak perlu khawatir dengan kondisinya dan para sahabbatnya. setelah tamunya pergi, Akbar langsung membawa masuk dan


meletakkan kotak makan itu dihadapan Malik.


“Lik, makan dulu. Dari kemarin kita belum ada


yang makan”


Dengan telaten Akbar menyiapkan makan siang untuk


sahabat-sahabatnya. Dia hanya menyiapkan untuk Malik dan Indira, tapi dirinya sendiri tidak ada niat untuk menyentuh makanan itu.


Melihat temannya tidak berselera untuk makan, Indira yang


baru keluar dari kamar langsung duduk di samping Malik. Dia mengangkat kepala


Malik dan meletakkan diatas pangkuannya.


Tanpa basa-basi Indira mengambil nasi kotak yang


ada diddepan Akbar.


“Kamu mau makan sendiri apa aku suapin” Indira


mulai menyendokkan nasi ke mulut Malik yang masih terpejam di pangkuannya.


Malik hanya menggelengkan kepalanya pelan


“Kamu pikir, kalo kamu ga makan Ibuk bakalan


kehilangan?? Enggak lik. Aku sama Akbar juga sedih. Tapi kamu jangan


terus-terusan kaya gini. Kamu harus makan, kalo kamu sakit siapa yang mau


ngurusin hah??”


Mendengar suara Indira dengan nada yang sedikit


kesal, Malik mulai tersadar dan mencoba untuk duduk. Dia menatap Indira dan


Akbar bergantian.


“Maaf ya” Suara lirih Malik mulai terdengar.


“aaaa. Buka mulut kamu cepet” Indira menyendokkan


sesuap penuh ke mulut Malik, dan Malik pun menuruti apa kata Indira. Melihat


Malik sudah mulai makan, Akbarpun langsung mengambil nasi kotak lain dan mulai


makan. Sementara Indira makan dengan sendok yang sama dengan Malik.


“Kalian berdua harus makan yang banyak. Kalau ga


makan, mau dapat energi dari mana. Kita harus tetep kuat dong. Kalau kaya gini


terus, kasihan mama papa sama papi. Mereka pasti sedih ngeliat kita sedih. Ibuk


juga gaakan suka kalau kita begini.”


Akbar manggut-manggut mendengar ocehan Indira.


Sementara malik yang dimulutnya masih penuh oleh makanan tersenyum.


“Kamu kalau gini kaya ibu-ibu yang lagi marahin


anaknya ndi” Akhirnya Malik mengeluarkan suaranya dan menatap Indira dengan


sendu. Sepertinya omelan Indira berhasil membuatnya sedikit bangkit dari

__ADS_1


kesedihannya.


“haha, emang iya ya bar?? Gapapa sih dibilang


Ibu-ibu juga yang penting kamu makan. Ayo aaa lagi, buka mulutnya yang lebar”


Indira menyuapi Malik lagi.


Beberapa saat mereka makan sambil berbincang


sekedar menghilangkan kesunyian diantara mereka. Setelah makan usai, Indira


segera membereskan sampah-sampah sisa makanan dan kembali duduk disamping


Malik.


“Ndi, besok hari apa??” tanya Akbar


“Jumat. Kenapa?”


“besok kita bolos sekolah yuk. Sekalian, weekend


kan liburan juga. Gimana??” Akbar menawarkan sebuah ide cemerlang. Malik hanya


mengangguk pelan sebagai tanda persetujuannya.


“emang mau ngapain bar??” tanya Indira penasaran


“Kita ke lembang yuk.. ngademin jiwa dan raga


kita. Gimana??”


Indira langsung antusias mendengar tawaran dari


Akbar. Wajahnya langsung bersinar ketika mendengar kata Lembang.


Ya, Lembang menjadi tempat favorit bagi mereka,


terutama Indira. Bagi mereka villa di Lembang adalah tempat yang paling


menyenangkan bagi mereka. Udara sejuk, hamparan kebun teh yang luas, dan


tentunya teropong bintang yang tidak  jauh dari lokasi villa milik Pak Adi.


“okedeh. Nanti aku bilang mama sama papa deh biar


ditemenin. Gimana??” tanya Indira


“Sekalian ajak papi juga ndi. Biar ramean. Kamu


mau kan lik??” Pertanyaan Akbar disambut dengan senyuman dan anggukan kepala


dari Malik.


Malik berpikir, mungkin dengan pergi ke villa


bisa menyegarkan pikirannya. Sekaligus bisa membantu hatinya agar bisa


mengikhlaskan kepergian Bu Sri.


“Lik..” Akbar mulai membuka percakapan lagi


‘hmm?”


“Kita selalu ada buat kamu. Orang tua kami itu


orang tua kamu juga. Jadi jangan pernah merasa sendiri ya”


Senyuman hangat yang diberikan oleh Akbar membuat


hati Malik sedikit terbuka. Dia menyadari, kepergian ibunya memanglah


menyakitkan, tapi itu buka akhir dari segalanya. Masih banyak orang yang dengan


tulus menyayanginya.


Mereka cukup lama berbincang diruang tamu.


Membicarakan hal-hal sederhana yang bisa membuat mereka lupa dengan kesedihan


yang sedang dialami. Setidaknya jika sedang bersama, beban yang mereka rasakan


sedikit lebih ringan.

__ADS_1


__ADS_2