
Sudah hampir 5 bulan hidup Malik seperti ini.
Dulu, dia akan pulang sekolah bersama Indira dan Akbar. Tapi sekarang Malik
seperti sudah biasa pulang hanya dengan motornya. Tanpa ada yang menemani,
Indira lebih tepatnya.
Semenjak memiliki kekasih, Indira lebih sering
dijemput oleh kekasihnya. Mungkin dalam satu minggu hanya satu atau dua kali Indira pulang bersamanya. Sementara Akbar,
selalu mengantar Anggi pulang lebih dulu. Malik merasa kesepian karena
sahabatnya sudah mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin ini juga yang
akan terjadi di kehidupan dewasanya kelak.
Malam itu, setelah memasukkan motor sportnya ke
dalam garasi, Malik berjalan pelan memasuki rumah Pak Adi. Dia melihat
sekeliling. Ahhh, rumah ini juga sepi. Sama seperti hatinya. Hanya ada mbok
Lastri yang sedang melihat tv sembari mengelap meja. Harusnya, hari ini adalah
jadwal Malik untuk tidur di rumah Bu Mega. Tapi entah mengapa hari ini dia
tidak ingin bertemu dengan banyak orang dan lebih memilih untuk pulang ke rumah
papinya.
Malik duduk di samping mbok Lastri. Menanyakan
keberadaan papinya yang ternyata masih belum kembali dari perusahaan. Si mbok
menawarkan makan malam untuk Malik. Tapi sepertinya selera makan Malik sedang
buruk hari ini. Dia berpamitan kepada mbok Lastri dan memilih untuk masuk ke
kamarnya yang ada di lantai dua.
Kamar ini bersebelahan dengan kamar Akbar, namun
ukurannya sedikit lebih kecil . Nuansa kamar ini begitu
menenangkan. Dindingnya berwarna abu muda, dengan perabot berwarna putih dan
hitam, ada beberapa bingkai foto kecil yang dipajang diatas cabinet, dan satu
pigura besar berisi foto bersama kedua sahabatnya yang ia pasang diatas tv yang
menghadap ke arah ranjang.. Ruangan ini rapi, tidak ada debu, dan yang paling
penting harum. Kondisi ruangan ini seperti mengisyaratkan kepribadian sang
pemilik.
Ia merebahkan dirinya diatas kasur. Seragam
sekolah masih rapi membalut tubuhnya. Matanya menatap ke langit langit kamar,
menerawang. Ternyata meskipun sudah bermain basket seharian, dia masih tetap
merasa kesepian. Tidak ada Indira, tidak ada Akbar. Hanya dia sendiri. Ahh
begitu membosankan hidupnya. Apa dia juga harus mencari pacar? Tidak tidak.
Hatinya hanya untuk Indira. Berbagai macam pikiran berputar dalam kepalanya.
Tanpa disadari perlahan matanya mulai tertutup, dan mulai terbuai ke alam
mimpi.
Belum lama Malik tertidur, seperti sudah ada
suara khas yang sedang ia tunggu.
“Maaaallliiiikk saayyaaaaaanngggkuuuuuu” Dengan
malas, perlahan Malik mulai membuka salah satu matanya. Berusaha mengintip siapa
yang sedang berteriak. Ternyata benar, yang dinanti-nanti sudah datang. Indira.
Dengan santainya Indira berjalan dan ikut
merebahkan dirinya di samping Malik. Menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap
dan tangannya mulai beraksi menjahili Malik yang sedang pura-pura tidur. Gadis
__ADS_1
itu mencubit pipi, menyentil kening, dan menggoyang-goyangkan wajah Malik. tapi
Malik tetap tidak mau membuka matanya. Hingga akhirnya, Indira menutup kedua
lubang hidung Malik menggunakan jari, membuatnya susah bernafas dan terpaksa
untuk bangun.
Malik mengangkat tubuhnya, duduk dan bersandar di
ranjang. Dia memasang wajahnya yang cemberut, berusaha membuat Indira mengerti
bahwa saat ini Malik sedang bad mood karena kesepian. Tapi sepertinya gadis itu
tidak peka. Dia malah memposisikan tubuhnya untuk tidur di samping Malik sambil
menggelungkan tangannya di pinggang Malik yang sedang duduk.
“ndi”
“hemm??”
“kamu ga takut?”
“apa?”
“aku cowok loh”
“yang bilang kamu cewek siapa”
“bukan ituuuu” Malik mengangkat tubuh Indira yang
menempel di sampingnya. Sedikit memaksa Indira untuk duduk.
“Ndi, biar gimanapun kita itu cowo sama cewe. Ga
baik kalo kamu ikutan tiduran kaya tadi. Bisa bahaya tau.”
“bahaya? Kenapa? Bukannya dari dulu kita bertiga
kaya gini ya??” Indira menjawab dengan polos, berusaha mencerna apa yang sedang
ingin dikatakan oleh Malik.
“Ah tau ah. Udah sana. Kamu ngapain dateng
kesini, mana pacar kamu” Malik mulai kesal melihat Indira yang benar-benar
Meluk pinggang lagi. Apa gadis itu pikir didalam jiwa Malik tidak ada yang
bergejolak ketika dia bertingkah seperti itu. Untung saja Malik bisa
menahannya, bayangkan jika tidak. Apa yang akan terjadi. Bayangkan jika
laki-laki itu bukan dirinya. Aaahh Malik menggeleng-gelengkan kepalanya,
mengusir pikiran kotor yang sedang masuk kedalam otaknya.
Indira kembali merebahkan dirinya diatas ranjang,
tersenyum dengan senangnya. Dia mulai bercerita kejadian apa saja yang dia
alami hari ini. Mulai dari dijemput sekolah oleh kekasihnya, makan siang di
cafe, pergi ke mall, nonton bioskop, melihat senja di taman, dan berbagai hal
kecil lainnya.
Mulutnya tidak henti berceloteh hingga membuat
Malik sedikit risih mendengarnya. Dia mulai memotong pembicaraan Indira, dengan
topik yang lain. Pada akhirnya, Malik mengusir Indira, menyuruh gadis itu untuk
mandi dan mengganti pakaiannya.
Cukup 10 menit bagi Indira untuk melakukan
hal-hal itu. Dia sudah berganti pakaian dengan kaos oblong milik Akbar dan
celana pendek milik Malik . Gadis itu kembali tidur diatas ranjang, disebelah
Malik. Berulang kali Malik mendorong Indira agar tidak berada disampingnya,
namun dia tetap berada pendiriannya.
Tidak berselang lama, mata Indira sudah terpejam.
Malik melihat wajah Indira dengan seksama. Mengelus kepalanya pelan. Bagaimana
__ADS_1
mungkin gadis ini begitu sembrono. Tidur dengan laki-laki. Meskipun lelaki
itu adalah dirinya. Tapi itu bukanlah hal baik yang bisa dengan mudahnya
dilakukan oleh Indira. Semoga saja Indira tidak berperilaku seperti ini di
depan laki-laki lain.
**
“Mau
mbok siapin makan a??”
“engga
mbok, barusan makan. Aa naik dulu ya”
Setelah
menyapa mbok Lastri, Akbar naik ke lantai dua. Ia ingin segera tidur di
ranjangnya yang nyaman. Berjalan dengan lemas melewati kamar Malik. Ketika sudah didepan
pintu kamarnya, Akbar memutuskan untuk mundur dan melihat ke arah kamar Malik.
Dia melihat pemandangan yang menyebalkan. Indira sedang tidur disamping Malik yang
sedang membaca komik. Kenapa mereka berdua seperti itu, selalu mengucilkan dirinya?? Dalam
hal apapun pasti Akbar ditinggal oleh Malik dan Indira.
Merasa
tidak terima, dia langsung melompat kearah ranjang, dan menindih kaki Malik
sekaligus badan Indira.
“aaaaaaakkkkhhh”
Indira langsung berteriak dan memukul bahu Akbar yang sedang ada diatasnya.
Indira menggoyangkann tubuhnya sekaligus menendang Akbar agar segera
menyingkir. Setelah berhasil mengusir Akbar, Indira duduk dan mulai menggerutu.
“mau tidur aja susah banget. Ada aja yang gangguin. Dasar nyebelin.”
“Kalian berdua itu yang nyebelin. Bisa-bisanya tidur ga ngajakin aku. Kalian berdua
pasti udah lupa sama aku ya”
“cihhh. Kamu sama Indira yang lupa sama aku. Mentang-mentang udah pada punya pacar”
Malik melempar komik yang sedang dia baca ke wajah Akbar dan melangkah pergi ke arah
sofa.
Akbar dan Indira saling berpandangan. Memikirkan perkataan Malik. Memang benar apa
yang Malik katakan, sekarang waktu berkumpul mereka sudah jauh berkurang.
Mungkin hanya satu minggu sekali mereka bisa duduk bersama. Itupun tidak lama.
Mereka merasa bersalah karena terlambat menyadari hal itu. Seharusnya mereka
meluangkan sedikit waktu untuk berkumpul lagi seperti dulu.
Indira menghambur ke arah Malik dan berusaha untuk memeluk pria itu. Namun Malik hanya
diam, tidak menunjukkan reaksi apapun. Tatapannya datar, membuat Indira dan
Akbar semakin merasa bersalah.
“maafin kita ya sayaaangg. Aku sama Akbar janji ga gitu lagi. Apa mau kita cariin pacar
buat kamu biar ga kesepian lagi??”
“gausah. Ini pada mau tidur disini apa gimana?”
Terlihat dari tatapan Malik bahwa kali ini dia benar-benar kesal dengan para sahabatnya.
Tapi tentu saja, kemarahan Malik tidak akan bertahan lama.
Indira menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia ingin menebus waktu-waktu yang telah mereka lewatkan.
Malam itu mereka memutuskan untuk menonton film horor di kamar Malik hingga tengah
Malam. Akbar dan Indira tidur di kasur sedangkan Malik memilih untuk tidur di
__ADS_1
sofa kamarnya