Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH23- Bobo bareng??


__ADS_3

Sudah hampir 5 bulan hidup Malik seperti ini.


Dulu, dia akan pulang sekolah bersama Indira dan Akbar. Tapi sekarang Malik


seperti sudah biasa pulang hanya dengan motornya. Tanpa ada yang menemani,


Indira lebih tepatnya.


Semenjak memiliki kekasih, Indira lebih sering


dijemput oleh kekasihnya. Mungkin dalam satu minggu hanya satu atau dua kali  Indira pulang bersamanya. Sementara Akbar,


selalu mengantar Anggi pulang lebih dulu. Malik merasa kesepian karena


sahabatnya sudah mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkin ini juga yang


akan terjadi di kehidupan dewasanya kelak.


Malam itu, setelah memasukkan motor sportnya ke


dalam garasi, Malik berjalan pelan memasuki rumah Pak Adi. Dia melihat


sekeliling. Ahhh, rumah ini juga sepi. Sama seperti hatinya. Hanya ada mbok


Lastri yang sedang melihat tv sembari mengelap meja. Harusnya, hari ini adalah


jadwal Malik untuk tidur di rumah Bu Mega. Tapi entah mengapa hari ini dia


tidak ingin bertemu dengan banyak orang dan lebih memilih untuk pulang ke rumah


papinya.


Malik duduk di samping mbok Lastri. Menanyakan


keberadaan papinya yang ternyata masih belum kembali dari perusahaan. Si mbok


menawarkan makan malam untuk Malik. Tapi sepertinya selera makan Malik sedang


buruk hari ini. Dia berpamitan kepada mbok Lastri dan memilih untuk masuk ke


kamarnya yang ada di lantai dua.


Kamar ini bersebelahan dengan kamar Akbar, namun


ukurannya sedikit lebih kecil . Nuansa kamar ini begitu


menenangkan. Dindingnya berwarna abu muda, dengan perabot berwarna putih dan


hitam, ada beberapa bingkai foto kecil yang dipajang diatas cabinet, dan satu


pigura besar berisi foto bersama kedua sahabatnya yang ia pasang diatas tv yang


menghadap ke arah ranjang.. Ruangan ini rapi, tidak ada debu, dan yang paling


penting harum. Kondisi ruangan ini seperti mengisyaratkan kepribadian sang


pemilik.


Ia merebahkan dirinya diatas kasur. Seragam


sekolah masih rapi membalut tubuhnya. Matanya menatap ke langit langit kamar,


menerawang. Ternyata meskipun sudah bermain basket seharian, dia masih tetap


merasa kesepian. Tidak ada Indira, tidak ada Akbar. Hanya dia sendiri. Ahh


begitu membosankan hidupnya. Apa dia juga harus mencari pacar? Tidak tidak.


Hatinya hanya untuk Indira. Berbagai macam pikiran berputar dalam kepalanya.


Tanpa disadari perlahan matanya mulai tertutup, dan mulai terbuai ke alam


mimpi.


Belum lama Malik tertidur, seperti sudah ada


suara khas yang sedang ia tunggu.


“Maaaallliiiikk saayyaaaaaanngggkuuuuuu” Dengan


malas, perlahan Malik mulai membuka salah satu matanya. Berusaha mengintip siapa


yang sedang berteriak. Ternyata benar, yang dinanti-nanti sudah datang. Indira.


Dengan santainya Indira berjalan dan ikut


merebahkan dirinya di samping Malik. Menggulingkan tubuhnya hingga tengkurap


dan tangannya mulai beraksi menjahili Malik yang sedang pura-pura tidur. Gadis

__ADS_1


itu mencubit pipi, menyentil kening, dan menggoyang-goyangkan wajah Malik. tapi


Malik tetap tidak mau membuka matanya. Hingga akhirnya, Indira menutup kedua


lubang hidung Malik menggunakan jari, membuatnya susah bernafas dan terpaksa


untuk bangun.


Malik mengangkat tubuhnya, duduk dan bersandar di


ranjang. Dia memasang wajahnya yang cemberut, berusaha membuat Indira mengerti


bahwa saat ini Malik sedang bad mood karena kesepian. Tapi sepertinya gadis itu


tidak peka. Dia malah memposisikan tubuhnya untuk tidur di samping Malik sambil


menggelungkan tangannya di pinggang Malik yang sedang duduk.


“ndi”


“hemm??”


“kamu ga takut?”


“apa?”


“aku cowok loh”


“yang bilang kamu cewek siapa”


“bukan ituuuu” Malik mengangkat tubuh Indira yang


menempel di sampingnya. Sedikit memaksa Indira untuk duduk.


“Ndi, biar gimanapun kita itu cowo sama cewe. Ga


baik kalo kamu ikutan tiduran kaya tadi. Bisa bahaya tau.”


“bahaya? Kenapa? Bukannya dari dulu kita bertiga


kaya gini ya??” Indira menjawab dengan polos, berusaha mencerna apa yang sedang


ingin dikatakan oleh Malik.


“Ah tau ah. Udah sana. Kamu ngapain dateng


kesini, mana pacar kamu” Malik mulai kesal melihat Indira yang benar-benar


Meluk pinggang lagi. Apa gadis itu pikir didalam jiwa Malik tidak ada yang


bergejolak ketika dia bertingkah seperti itu. Untung saja Malik bisa


menahannya, bayangkan jika tidak. Apa yang akan terjadi. Bayangkan jika


laki-laki itu bukan dirinya. Aaahh Malik menggeleng-gelengkan kepalanya,


mengusir pikiran kotor yang sedang masuk kedalam otaknya.


Indira kembali merebahkan dirinya diatas ranjang,


tersenyum dengan senangnya. Dia mulai bercerita kejadian apa saja yang dia


alami hari ini. Mulai dari dijemput sekolah oleh kekasihnya, makan siang di


cafe, pergi ke mall, nonton bioskop, melihat senja di taman, dan berbagai hal


kecil lainnya.


Mulutnya tidak henti berceloteh hingga membuat


Malik sedikit risih mendengarnya. Dia mulai memotong pembicaraan Indira, dengan


topik yang lain. Pada akhirnya, Malik mengusir Indira, menyuruh gadis itu untuk


mandi dan mengganti pakaiannya.


Cukup 10 menit bagi Indira untuk melakukan


hal-hal itu. Dia sudah berganti pakaian dengan kaos oblong milik Akbar dan


celana pendek milik Malik . Gadis itu kembali tidur diatas ranjang, disebelah


Malik. Berulang kali Malik mendorong Indira agar tidak berada disampingnya,


namun dia tetap berada pendiriannya.


Tidak berselang lama, mata Indira sudah terpejam.


Malik melihat wajah Indira dengan seksama. Mengelus kepalanya pelan. Bagaimana

__ADS_1


mungkin gadis ini begitu sembrono. Tidur dengan laki-laki. Meskipun lelaki


itu adalah dirinya. Tapi itu bukanlah hal baik yang bisa dengan mudahnya


dilakukan oleh Indira. Semoga saja Indira tidak berperilaku seperti ini di


depan laki-laki lain.


**


“Mau


mbok siapin makan a??”


“engga


mbok, barusan makan. Aa naik dulu ya”


Setelah


menyapa mbok Lastri, Akbar naik ke lantai dua. Ia ingin segera tidur di


ranjangnya yang nyaman. Berjalan dengan lemas melewati kamar Malik. Ketika sudah didepan


pintu kamarnya, Akbar memutuskan untuk mundur dan melihat ke arah kamar Malik.


Dia melihat pemandangan yang menyebalkan. Indira sedang tidur disamping Malik yang


sedang membaca komik. Kenapa mereka berdua seperti itu, selalu mengucilkan dirinya?? Dalam


hal apapun pasti Akbar ditinggal oleh Malik dan Indira.


Merasa


tidak terima, dia langsung melompat kearah ranjang, dan menindih kaki Malik


sekaligus badan Indira.


“aaaaaaakkkkhhh”


Indira langsung berteriak dan memukul bahu Akbar yang sedang ada diatasnya.


Indira menggoyangkann tubuhnya sekaligus menendang Akbar agar segera


menyingkir. Setelah berhasil mengusir Akbar, Indira duduk dan mulai menggerutu.


“mau tidur aja susah banget. Ada aja yang gangguin. Dasar nyebelin.”


“Kalian berdua itu yang nyebelin. Bisa-bisanya tidur ga ngajakin aku. Kalian berdua


pasti udah lupa sama aku ya”


“cihhh. Kamu sama Indira yang lupa sama aku. Mentang-mentang udah pada punya pacar”


Malik melempar komik yang sedang dia baca ke wajah Akbar dan melangkah pergi ke arah


sofa.


Akbar dan Indira saling berpandangan. Memikirkan perkataan Malik. Memang benar apa


yang Malik katakan, sekarang waktu berkumpul mereka sudah jauh berkurang.


Mungkin hanya satu minggu sekali mereka bisa duduk bersama. Itupun tidak lama.


Mereka merasa bersalah karena terlambat menyadari hal itu. Seharusnya mereka


meluangkan sedikit waktu untuk berkumpul lagi seperti dulu.


Indira menghambur ke arah Malik dan berusaha untuk memeluk pria itu. Namun Malik hanya


diam, tidak menunjukkan reaksi apapun. Tatapannya datar, membuat Indira dan


Akbar semakin merasa bersalah.


“maafin kita ya sayaaangg. Aku sama Akbar janji ga gitu lagi. Apa mau kita cariin pacar


buat kamu biar ga kesepian lagi??”


“gausah. Ini pada mau tidur disini apa gimana?”


Terlihat dari tatapan Malik bahwa kali ini dia benar-benar kesal dengan para sahabatnya.


Tapi tentu saja, kemarahan Malik tidak akan bertahan lama.


Indira menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia ingin menebus waktu-waktu yang telah mereka lewatkan.


Malam itu mereka memutuskan untuk menonton film horor di kamar Malik hingga tengah


Malam. Akbar dan Indira tidur di kasur sedangkan Malik memilih untuk tidur di

__ADS_1


sofa kamarnya


__ADS_2