Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH33- perasaan Malik


__ADS_3

Setelah selesai makan siang, Malik mengikuti


Indira ke ruangannya. Mereka berdua begitu dihormati oleh karyawan karena


selain memiliki posisi tinggi, keduanya tergolong atasan yang cukup baik dan


tegas. Malik memang tidak setiap hari berada di perusahaan, karena dia


disibukkan dengan pekerjaan utamanya sebagai pengacara. Hanya seminggu sekali


Malik akan berkunjung ke perusahaan. Sekedar mengecek apakah ada permasalahan


di tempat itu.


Bagi Malik, menjadi pengacara sukses tidak


semudah membalikkan telapak tangan. Setelah menempuh pendidikan universitasnya


yang 1 tahun lebih cepat, dia harus mengikuti pendidikan khusus profesi


advokat, ujian profesi, magang selama 2 tahun, bekerja di beberapa kantor lain


hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka kantor advokat atas namanya


sendiri.


Malik menggabungkan uang hasil rumahnya yang


sejak lama dikontrakkan dan upah kerjanya selama bekerja di perusahaan milik


Pak Adi. Tapi uang itu masih belum cukup sebagai modal usahanya. Hingga


akhirnya, dia memutuskan untuk menjual rumah peninggalan ibunya dan meggunakan


uang itu sebagai tambahan mendirikan kantor pribadinya.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Malik untuk


menjadi pengacara terkenal. Malik yang cerdik sering kali memenangkan kasus


yang cukup besar. Hingga dengan cepat namanya bisa dikenal sebagai pengacara


yang handal.


 “ahhhhhhh..” Malik merebahkan tubuhnya diatas


sofa. Memandang sketsa gaun pengantin yang terpampang didepannya.


“sesuka itu ndi kamu sama gaun ibuk??”


“iya. Aku mau pakai itu kalau nikah” jawab Indira


ikut duduk disofa. Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Malik. dan Malik


pun merentangkan tangannya agar bisa menjadi bantalan kepala Indira. Mungkin


orang yang melihat situasi seperti ini akan berpikir bahwa mereka adalah


sepasang kekasih. Tapi nyatanya, inilah yang akan mereka lakukan setiap kali


bertemu, meskipun status mereka tidak sejauh itu.


Cukup lama mereka di posisi seperti itu sembari


berbincang mengenai hal-hal yang Malik alami selama berada di luar kota. Sesekali


mereka tertawa dan saling memukul satu sama lain.


“Aku pulang dulu ya ndi. Kamu kan mau meeting”


“Yaah, kamu mau kemana sih?? Gamau gitu nemenin aku


kerja?? Kan aku masih kangen.” Indira mulai merengek


“Aku udah janjian mau nganterin mama belanja. Ini


udah jamnya. Kamu kerja aja yang rajin”


Malik mengangkat tangannya dan memakai kembali


jasnya. Sedikit merapikan rambutnya. Belum mulai melangkah, lengannya sudah

__ADS_1


tertahan oleh Indira. Wajahnya yang memelas membuat Malik tertawa gemas. Dia


tersenyum dan mengusap pelan kepala Indira.


Malik melangkah keluar dari ruangan Indira yang


ternyata diikuti oleh wanita manja itu. Malik berjalan kearah meja karyawan


divisi pemasaran dan berbicara dengan Siska. Sekretaris pribadi Indira.


“saya titip Indira ya. kayanya hari ini dia


bakalan marah-marah seharian”


“Hehe, iya siap Pak Malik”.


Malik kembali melihat ke arah Indira. Dia tau


pasti, saat ini Indira sedang kesal karena mendengar dia akan pergi berbelanja


dengan mamanya. Sedangkan Indira masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Wajah


cantik Indira terlipat kusut. Bibirnya semakin mengerucut saat Malik


melihatnya. Pada akhirnya Malik merentangkan kedua tangannya, dan tanpa


basa-basi Indira berlari menghambur memeluk Malik.


Mereka berdua berpelukan diantara banyak mata


yang sedang berada di ruangan itu. Seakan tidak peduli dengan apa yang


dipikirkan orang lain. Mereka berdua hanya saling melepas rindu setelah terpisah


selama 3 minggu. Cukup lama berpelukan, Malik mulai sadar dengan tingkahnya.


Dia segera melepas pelukannya, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Wajahnya memerah karena malu.


“Kamu ga adil. Jalan sama mama tapi ga ngajak


aku.”


Setelah mendapatkan ijin dari Indira, Malik segera meninggalkan ruangan itu.


Dia mengutuki dirinya sendiri atas tingkah bodoh yang baru saja dia lakukan.


Bagaimana mungkin dia berpelukan didepan banyak karyawan. Bisa-bisa citra yang


dia bangun sebagai atasan dingin dan tegas selama ini bisa hancur karena


kejadian itu.


Dengan cepat dia masuk kedalam lift dan turun ke


arah basement. Menaiki mobil putihnya yang terparkir rapi didalam gedung. Dia


mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Berjalan santai ditengah


kepadatan kota Bandung.


Terlihat Bu Mega sudah berdiri di depan pos


satpam supermarketnya (yang dulu minimarket). Malik tersenyum ketika melihat Bu


Mega melambaikan tangan ke arahnya. Begitu berhenti, Malik segera turun dan


memeluk Bu Mega dengan erat.


“Ma.. Malik kangen. Hehe”


“kamu ini, tambah dewasa kok tambah kaya anak


kecil. Dulu mana pernah kamu kaya gini sama mama?? ”


Bu Mega melepaskan pelukannya dan mulai menatap


Malik.


“masa sih ma??”

__ADS_1


“iya, dulu kan kamu cuek, jutek.” Mereka berjalan


ke arah mobil dan melanjutkan Kemesraan mereka


Sepanjang perjalanan mereka membicarakan kenangan


masa kecil Malik. sesekali Bu Mega mengelus kepala Malik dengan penuh kasih


sayang.


Di pusat perbelanjaan pun Malik mengijinkan Bu Mega


untuk membeli apapun yang diinginkan. Malik mengantarkan ke toko tas, sepatu,


pakaian, peralatan rumah tangga, asesoris, perhiasan, dan kacamata. Berharap


bisa sedikit membalas jasa budi Bu Mega yang sudah membantu merawat dan


menyayanginya selama ini.


Tapi sayangnya Bu Mega hanya memilih satu buah


hand bag dan sepasang sepatu sport untuk olahraga. Karena merasa usahanya untuk


menyenangkan hati mamanya sedikit gagal, Malik mengajak Bu Mega untuk makan


malam di salah satu restoran makanan jepang cukup mahal yang ada di mall


tersebut.


Mereka memilih restoran yang menyediakan


ruangan-ruangan khusus untuk setiap pengunjungnya. Malik mendapat ruangan yang


terletak di ujung koridor. Dengan cekatan seorang pelayan yang berpakaian ala wanita


Jepang datang membantu untuk mencatat pesanannya.


Malik memesan beberapa jenis sushi, sashimi


dan sukiyaki untuk mereka berdua. Malik juga memesan dua porsi udon dan mochi


sebagai dessert mereka. Tidak lama setelah memesan, dua orang pelayan datang


membawakan makanan yang sudah mereka pesan. Para pelayan segera meninggalkan


ibu dan anak itu setelah menyelesaikan tugas mereka.


“Mau kapan diungkapin??” Tanya Bu Mega membuka


percakapan.


“Apanya ma??” Malik segera meletakkan sumpitnya


dan menghadap wajah Bu Mega dengan sopan.


“Mama tau, dari dulu kamu suka sama anak mama.


Rasa sayang kamu ke Indi beda sama Akbar. Tapi kenapa diem aja? Kalo ga


cepet-cepet diungkapin, keburu diambil orang” Mata Malik terbelalak mendengar


ucapan Bu Mega. Seingatnya, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menyiratkan


bahwa dia memiliki rasa yang lain kepada Indira. Dengan berat hati Malik


mengungkapkan isi hatinya pada wanita paruh baya itu.


“Hehe, keliatan ya ma?? Rencananya nanti waktu


Indi ulang tahun ma. Emang mama ngijinin??”


“Hahahahaha. Ya setuju banget lah mama. Malah


dulu mama sama ibu kamu itu mau ngejodohin kalian. Udah langsung aja kamu


lamar, biar cepet kasih mama cucu” Tawa Bu Mega meledak ketika membayangkan


dirinya akan memiliki seorang cucu dari Indira dan Malik. Selama makan malam,


mereka berdua tidak henti-hentinya membicarakan kisah cinta Malik yang sudah

__ADS_1


terpendam selama belasan tahun.


“Mama mau ikut Malik ga habis ini??”


__ADS_2