
Setelah selesai makan siang, Malik mengikuti
Indira ke ruangannya. Mereka berdua begitu dihormati oleh karyawan karena
selain memiliki posisi tinggi, keduanya tergolong atasan yang cukup baik dan
tegas. Malik memang tidak setiap hari berada di perusahaan, karena dia
disibukkan dengan pekerjaan utamanya sebagai pengacara. Hanya seminggu sekali
Malik akan berkunjung ke perusahaan. Sekedar mengecek apakah ada permasalahan
di tempat itu.
Bagi Malik, menjadi pengacara sukses tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Setelah menempuh pendidikan universitasnya
yang 1 tahun lebih cepat, dia harus mengikuti pendidikan khusus profesi
advokat, ujian profesi, magang selama 2 tahun, bekerja di beberapa kantor lain
hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka kantor advokat atas namanya
sendiri.
Malik menggabungkan uang hasil rumahnya yang
sejak lama dikontrakkan dan upah kerjanya selama bekerja di perusahaan milik
Pak Adi. Tapi uang itu masih belum cukup sebagai modal usahanya. Hingga
akhirnya, dia memutuskan untuk menjual rumah peninggalan ibunya dan meggunakan
uang itu sebagai tambahan mendirikan kantor pribadinya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Malik untuk
menjadi pengacara terkenal. Malik yang cerdik sering kali memenangkan kasus
yang cukup besar. Hingga dengan cepat namanya bisa dikenal sebagai pengacara
yang handal.
“ahhhhhhh..” Malik merebahkan tubuhnya diatas
sofa. Memandang sketsa gaun pengantin yang terpampang didepannya.
“sesuka itu ndi kamu sama gaun ibuk??”
“iya. Aku mau pakai itu kalau nikah” jawab Indira
ikut duduk disofa. Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Malik. dan Malik
pun merentangkan tangannya agar bisa menjadi bantalan kepala Indira. Mungkin
orang yang melihat situasi seperti ini akan berpikir bahwa mereka adalah
sepasang kekasih. Tapi nyatanya, inilah yang akan mereka lakukan setiap kali
bertemu, meskipun status mereka tidak sejauh itu.
Cukup lama mereka di posisi seperti itu sembari
berbincang mengenai hal-hal yang Malik alami selama berada di luar kota. Sesekali
mereka tertawa dan saling memukul satu sama lain.
“Aku pulang dulu ya ndi. Kamu kan mau meeting”
“Yaah, kamu mau kemana sih?? Gamau gitu nemenin aku
kerja?? Kan aku masih kangen.” Indira mulai merengek
“Aku udah janjian mau nganterin mama belanja. Ini
udah jamnya. Kamu kerja aja yang rajin”
Malik mengangkat tangannya dan memakai kembali
jasnya. Sedikit merapikan rambutnya. Belum mulai melangkah, lengannya sudah
__ADS_1
tertahan oleh Indira. Wajahnya yang memelas membuat Malik tertawa gemas. Dia
tersenyum dan mengusap pelan kepala Indira.
Malik melangkah keluar dari ruangan Indira yang
ternyata diikuti oleh wanita manja itu. Malik berjalan kearah meja karyawan
divisi pemasaran dan berbicara dengan Siska. Sekretaris pribadi Indira.
“saya titip Indira ya. kayanya hari ini dia
bakalan marah-marah seharian”
“Hehe, iya siap Pak Malik”.
Malik kembali melihat ke arah Indira. Dia tau
pasti, saat ini Indira sedang kesal karena mendengar dia akan pergi berbelanja
dengan mamanya. Sedangkan Indira masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Wajah
cantik Indira terlipat kusut. Bibirnya semakin mengerucut saat Malik
melihatnya. Pada akhirnya Malik merentangkan kedua tangannya, dan tanpa
basa-basi Indira berlari menghambur memeluk Malik.
Mereka berdua berpelukan diantara banyak mata
yang sedang berada di ruangan itu. Seakan tidak peduli dengan apa yang
dipikirkan orang lain. Mereka berdua hanya saling melepas rindu setelah terpisah
selama 3 minggu. Cukup lama berpelukan, Malik mulai sadar dengan tingkahnya.
Dia segera melepas pelukannya, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Wajahnya memerah karena malu.
“Kamu ga adil. Jalan sama mama tapi ga ngajak
aku.”
Setelah mendapatkan ijin dari Indira, Malik segera meninggalkan ruangan itu.
Dia mengutuki dirinya sendiri atas tingkah bodoh yang baru saja dia lakukan.
Bagaimana mungkin dia berpelukan didepan banyak karyawan. Bisa-bisa citra yang
dia bangun sebagai atasan dingin dan tegas selama ini bisa hancur karena
kejadian itu.
Dengan cepat dia masuk kedalam lift dan turun ke
arah basement. Menaiki mobil putihnya yang terparkir rapi didalam gedung. Dia
mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Berjalan santai ditengah
kepadatan kota Bandung.
Terlihat Bu Mega sudah berdiri di depan pos
satpam supermarketnya (yang dulu minimarket). Malik tersenyum ketika melihat Bu
Mega melambaikan tangan ke arahnya. Begitu berhenti, Malik segera turun dan
memeluk Bu Mega dengan erat.
“Ma.. Malik kangen. Hehe”
“kamu ini, tambah dewasa kok tambah kaya anak
kecil. Dulu mana pernah kamu kaya gini sama mama?? ”
Bu Mega melepaskan pelukannya dan mulai menatap
Malik.
“masa sih ma??”
__ADS_1
“iya, dulu kan kamu cuek, jutek.” Mereka berjalan
ke arah mobil dan melanjutkan Kemesraan mereka
Sepanjang perjalanan mereka membicarakan kenangan
masa kecil Malik. sesekali Bu Mega mengelus kepala Malik dengan penuh kasih
sayang.
Di pusat perbelanjaan pun Malik mengijinkan Bu Mega
untuk membeli apapun yang diinginkan. Malik mengantarkan ke toko tas, sepatu,
pakaian, peralatan rumah tangga, asesoris, perhiasan, dan kacamata. Berharap
bisa sedikit membalas jasa budi Bu Mega yang sudah membantu merawat dan
menyayanginya selama ini.
Tapi sayangnya Bu Mega hanya memilih satu buah
hand bag dan sepasang sepatu sport untuk olahraga. Karena merasa usahanya untuk
menyenangkan hati mamanya sedikit gagal, Malik mengajak Bu Mega untuk makan
malam di salah satu restoran makanan jepang cukup mahal yang ada di mall
tersebut.
Mereka memilih restoran yang menyediakan
ruangan-ruangan khusus untuk setiap pengunjungnya. Malik mendapat ruangan yang
terletak di ujung koridor. Dengan cekatan seorang pelayan yang berpakaian ala wanita
Jepang datang membantu untuk mencatat pesanannya.
Malik memesan beberapa jenis sushi, sashimi
dan sukiyaki untuk mereka berdua. Malik juga memesan dua porsi udon dan mochi
sebagai dessert mereka. Tidak lama setelah memesan, dua orang pelayan datang
membawakan makanan yang sudah mereka pesan. Para pelayan segera meninggalkan
ibu dan anak itu setelah menyelesaikan tugas mereka.
“Mau kapan diungkapin??” Tanya Bu Mega membuka
percakapan.
“Apanya ma??” Malik segera meletakkan sumpitnya
dan menghadap wajah Bu Mega dengan sopan.
“Mama tau, dari dulu kamu suka sama anak mama.
Rasa sayang kamu ke Indi beda sama Akbar. Tapi kenapa diem aja? Kalo ga
cepet-cepet diungkapin, keburu diambil orang” Mata Malik terbelalak mendengar
ucapan Bu Mega. Seingatnya, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menyiratkan
bahwa dia memiliki rasa yang lain kepada Indira. Dengan berat hati Malik
mengungkapkan isi hatinya pada wanita paruh baya itu.
“Hehe, keliatan ya ma?? Rencananya nanti waktu
Indi ulang tahun ma. Emang mama ngijinin??”
“Hahahahaha. Ya setuju banget lah mama. Malah
dulu mama sama ibu kamu itu mau ngejodohin kalian. Udah langsung aja kamu
lamar, biar cepet kasih mama cucu” Tawa Bu Mega meledak ketika membayangkan
dirinya akan memiliki seorang cucu dari Indira dan Malik. Selama makan malam,
mereka berdua tidak henti-hentinya membicarakan kisah cinta Malik yang sudah
__ADS_1
terpendam selama belasan tahun.
“Mama mau ikut Malik ga habis ini??”