Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH13- Nonton Film


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Pak Adi dan Pak


Adrian pergi ke taman depan untuk minum teh sambil merokok. Mereka berdua


melanjutkan pembicaraan mengenai Malik kedepannya.


Awalnya Pak Adi sedikit keberatan dengan


permintaan Malik dengan meminta untuk bekerja di perusahaannya. Pak Adi merasa


usianya masih terlalu dini untuk ikut bekerja. Pak Adi takut konsentrasi Malik


akan terbagi dan membuat kegiatan sekolahnya terganggu.


Tapi dengan sedikit bujukan Pak Adrian, akhirnya


Pak Adi menyetujui agar Malik bisa bekerja di Perusahaan. Dengan catatan dalam


satu hari Malik hanya diijinkan untuk bekerja selama 5 jam. Hari sabtu menjadi


helper di pabrik roti, dan hari minggu membantu kasir di outlet.


Pak Adrian hanya takut kalau mereka tidak


menuruti keinginan Malik, maka Malik akan serius untuk berhenti sekolah.


Setelah memutuskan untuk mempekerjakan Malik di


perusahaan, Pak Adi mulai menaruh sedikit harapan kepada Malik. Pak Adi


berharap, kelak Malik bisa membantu Akbar untuk menjalankan perusahaan ini.


Di lain tempat, sudah terdengar kehebohan dari


para remaja yang sedang bersiap untuk menonton film horor. Mereka mulai


menyiapkan beberapa camilan dan susu coklat untuk hidangan mereka sendiri. Bu


Mega juga tampak hadir dalam keriuhan itu.


Setelah semua persiapan selesai, mereka mulai


duduk di posisi masing-masing. Indira duduk di sofa atas bersama Bu Mega.


Mereka membentangkan selimut untuk menutupi kaki mereka. Sedangkan Malik dan


Akbar ada di atas kasur lipat yang mereka gelar di lantai.


Lampu dimatikan, agar mereka mendapat suasana


horor dari film yang akan mereka lihat.


“ini yakin mau lihat film horor neng??” Bu Mega


mulai tertawa melihat tingkah Indira. Baru saja opening film, tapi Indira sudah


menyembunyikan wajahnya di lengan Bu Mega. Tanpa mengeluarkan suara, Indira


menjawab dengan anggukan.


30 menit film sudah berlalu. Bu Mega, Malik dan


Akbar fokus melihat adegan demi adegan film itu. Lain halnya dengan Indira.


Wajahnya tertutup dengan telapak tangan. Hanya sedikit terbuka dibagian


matanya. Cemilan dan minuman yang mereka sediakan pun tergeletak percuma.


Karena sudah cukup larut, Bu Mega memilih untuk


meninggalkan para remaja itu.


“Mama ngantuk, bobo dulu ya. Kalian jangan


lama-lama nontonnya.”


“Kita mau begadang ma. Filmnya seru banget” Sahut


Indira tetap dengan menutupi wajahnya.


“uuuhhh. Orang ga liat sama sekali kok mau


begadang kamu itu. Udah ah, mama mau ke kamar dulu. Kalian jangan berisik loh


ya” Ucap  Bu Mega sambil mengusap wajah


Indira gemas, kemudian berlalu meninggalkan anak-anak itu.


DAAAAAARRRRRR


“ahhhhh” Teriakan Indira terdengar ketika sosok


hantu muncul didepan layar.

__ADS_1


Dengan segera Malik menghentikan filmnya dan


langsung menoleh ke arah Indira.


“Ndi, aku ga kaget sama hantunya. Tapi kaget


suara kamu” Omel Malik


“tau nih Indi. Yang ngajak nonton horor siapa,


yang takut siapa. Lanjut ga nih nontonnya??” Akbarpun mulai protes


“Hehe, maaf. Kaget aku tadi. Lanjut dong


nontonnya. Nanggung, udah nyampe setengah.” Indira membela diri sambil


tersenyum lebar seperti biasanya.


“Yaudah kalo mau lanjut kamu diem.” Malik bersiap


menekan tombol di remot agar bisa melanjutkan filmnya.


“eh tapi...”


“tapi apa lagi ndi??”


“Kalian berdua naik kesini dong. Hehe, aku takut


kalo duduk diatas sendirian..”


Dengan terpaksa Malik dan Akbar duduk diatas


sofa. Menaikkan kakinya dan menutupnya menggunakan selimut. Seperti biasa,


Indira berada diantara kedua remaja itu. Sebuah adegan yang diimpikan oleh


banyak wanita. Duduk diantara dua lelaki tampan yang sangat menyayanginya.


 Baru saja


menyalakan filmnya yang beberapa kali terhenti, Indira sudah kembali menutup


wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Melihat Indira yang seperti itu


membuat ide jahil muncul di otak Akbar.


Akbar berdiri dan menghampiri Malik. Berbisik


mengungkapkan ide jahilnya. Sementara Malik hanya tersenyum sambil mengangguk.


kembali ke posisi duduknya semula.


Akbar menyandarkan punggungnya ke sofa. Melihat ke


kanan dan kekiri sebelum dia mulai beraksi. Ketika dirasa sudah siap, Akbar dan


Malik langsung menarik kedua tangan Indira yang sedang menutupi wajahnya.


Malik dan Akbar menggeggam erat tangan Indira


sambil tersenyum jahil. Indira yang merasa kebingungan segera berusaha untuk


melepaskan tangannya.


Tapi ternyata tenaga Malik dan Akbar lebih besar


dari kekuatan Indira.


“Kalian ngapain ih pegangin tangan aku kaya gini.


Lepasin dong. Risih tauuuu” Indira mulai protes karena genggaman para lelaki


itu semakin kuat.


Sebelah tangan Malik meraih remot yang ada


disampingnya. Ia menghentikan film yang sedang mereka lihat.


Malik dan Akbar semakin mengencangkan


genggamannya sambil tertawa puas.


“aahh lepasin. Ini pada kenapa sihh kalian


berdua. Terus itu kenapa filmnya di pause??”


“hahahaha.. Ndi, mulai hari ini kalo kita nonton


film horor. Aku sama Malik bakalan pegang tangan kamu kaya gini. Hahahaha”


Akbar menunjuk tangannya yang menempel ditelapak tangan Indira


“Kenapa gitu? Kalian suka sama aku ya??” Kepedean

__ADS_1


Indira langsung meningkat sambil mengerjapkan mata bulatnya.


“haha, suka apaan. Kita pegang tangan kamu kaya


gini, biar tangan kamu ga nutupin muka. Mana ada nonton film horor tapi mukanya


ditutupin tangan terus. Sekalian ga nonton aja. Nah kalo dipegangin gini kan


pas hantunya keluar kamu gabakal bisa nutupin muka kamu. Hahaha” Akbar dan


Malik terbahak karena melihat Indira ternganga mendengar penjelasannya


“Ndi, asli. Muka kamu jelek banget pas lagi


takut. Apalagi pas kaget kaya tadi. Hahahaha”


Tawa Malik dan Akbar semakin menjadi karena


melihat Indira yang terdiam sambil mengerucutkan bibirnya.


Setelah


puas tertawa, Malik segera mengambil remot dan menyalakan kembali film yang


sudah setengah jalan.


Malik


dan Akbar serius melihat setiap adegan yang ditayangkan sembari menggenggam


tangan Indira. Sementara Indira yang tidak bisa bergerak karena tangannya


dikunci oleh sahabatnya terpaksa melihat dengan wajah terbuka.


Sesekali


Indira berteriak sambil memejamkan matanya. Terkadang dia menyembunyikan


wajahnya dibalik badan Malik atau Akbar.


Beberapa


saat kemudian Indira meminta Malik untuk menghentikan filmnya. Karena terlalu


lama melipat kakinya, dia merasa kakinya kesemutan dan susah untuk digerakkan. Gadis


itu mengajak Malik dan Akbar untuk duduk di kasur yang sudah mereka siapkan.


Tanpa


melepas tangannya, Malik dan Akbar menuruti kemauan Indira. Setelah duduk di


posisi masing-masing, Akbar membentangkan selimut menggunakan tangan kanannya


untuk menutupi kaki mereka.


Kembali


pada keseruan film itu, Indira masih beberapa kali menyembunyikan wajahnya.


Sesekali Malik dan Akbar tertawa melihat tingkah Indira.


Disaat


mendekati akhir film, suasana mulai sepi. Tidak ada teriakan lagi dari Indira.


Malik merasakan tangan Indira yang ia genggam sedikit melemah. Malikpun langsung


menoleh ke arah Indira.


Dia


melihat Indra sudah terlelap dengan kepala yang disembunyikan diantara punggung


Akbar dan kaki sofa.


“Bar,


dia tidur. Makanya sepi”


“Aaahh


pantesan berat. Tolong pindahin dong lik kepalanya. Itu bantalnya diatas”


Malik


mulai menyiapkan tempat untuk Indira. Menarik tubuhnya hingga terlentang nyaman


diatas kasur lipat yang sebenarnya disiapkan untuk Malik dan Akbar.


Setelah


memposisikan Indira, Malik dan Akbar memutuskan untuk lanjut menonton film lain

__ADS_1


bergenre thriller hingga dini hari.


__ADS_2