
Setelah selesai makan malam, Pak Adi dan Pak
Adrian pergi ke taman depan untuk minum teh sambil merokok. Mereka berdua
melanjutkan pembicaraan mengenai Malik kedepannya.
Awalnya Pak Adi sedikit keberatan dengan
permintaan Malik dengan meminta untuk bekerja di perusahaannya. Pak Adi merasa
usianya masih terlalu dini untuk ikut bekerja. Pak Adi takut konsentrasi Malik
akan terbagi dan membuat kegiatan sekolahnya terganggu.
Tapi dengan sedikit bujukan Pak Adrian, akhirnya
Pak Adi menyetujui agar Malik bisa bekerja di Perusahaan. Dengan catatan dalam
satu hari Malik hanya diijinkan untuk bekerja selama 5 jam. Hari sabtu menjadi
helper di pabrik roti, dan hari minggu membantu kasir di outlet.
Pak Adrian hanya takut kalau mereka tidak
menuruti keinginan Malik, maka Malik akan serius untuk berhenti sekolah.
Setelah memutuskan untuk mempekerjakan Malik di
perusahaan, Pak Adi mulai menaruh sedikit harapan kepada Malik. Pak Adi
berharap, kelak Malik bisa membantu Akbar untuk menjalankan perusahaan ini.
Di lain tempat, sudah terdengar kehebohan dari
para remaja yang sedang bersiap untuk menonton film horor. Mereka mulai
menyiapkan beberapa camilan dan susu coklat untuk hidangan mereka sendiri. Bu
Mega juga tampak hadir dalam keriuhan itu.
Setelah semua persiapan selesai, mereka mulai
duduk di posisi masing-masing. Indira duduk di sofa atas bersama Bu Mega.
Mereka membentangkan selimut untuk menutupi kaki mereka. Sedangkan Malik dan
Akbar ada di atas kasur lipat yang mereka gelar di lantai.
Lampu dimatikan, agar mereka mendapat suasana
horor dari film yang akan mereka lihat.
“ini yakin mau lihat film horor neng??” Bu Mega
mulai tertawa melihat tingkah Indira. Baru saja opening film, tapi Indira sudah
menyembunyikan wajahnya di lengan Bu Mega. Tanpa mengeluarkan suara, Indira
menjawab dengan anggukan.
30 menit film sudah berlalu. Bu Mega, Malik dan
Akbar fokus melihat adegan demi adegan film itu. Lain halnya dengan Indira.
Wajahnya tertutup dengan telapak tangan. Hanya sedikit terbuka dibagian
matanya. Cemilan dan minuman yang mereka sediakan pun tergeletak percuma.
Karena sudah cukup larut, Bu Mega memilih untuk
meninggalkan para remaja itu.
“Mama ngantuk, bobo dulu ya. Kalian jangan
lama-lama nontonnya.”
“Kita mau begadang ma. Filmnya seru banget” Sahut
Indira tetap dengan menutupi wajahnya.
“uuuhhh. Orang ga liat sama sekali kok mau
begadang kamu itu. Udah ah, mama mau ke kamar dulu. Kalian jangan berisik loh
ya” Ucap Bu Mega sambil mengusap wajah
Indira gemas, kemudian berlalu meninggalkan anak-anak itu.
DAAAAAARRRRRR
“ahhhhh” Teriakan Indira terdengar ketika sosok
hantu muncul didepan layar.
__ADS_1
Dengan segera Malik menghentikan filmnya dan
langsung menoleh ke arah Indira.
“Ndi, aku ga kaget sama hantunya. Tapi kaget
suara kamu” Omel Malik
“tau nih Indi. Yang ngajak nonton horor siapa,
yang takut siapa. Lanjut ga nih nontonnya??” Akbarpun mulai protes
“Hehe, maaf. Kaget aku tadi. Lanjut dong
nontonnya. Nanggung, udah nyampe setengah.” Indira membela diri sambil
tersenyum lebar seperti biasanya.
“Yaudah kalo mau lanjut kamu diem.” Malik bersiap
menekan tombol di remot agar bisa melanjutkan filmnya.
“eh tapi...”
“tapi apa lagi ndi??”
“Kalian berdua naik kesini dong. Hehe, aku takut
kalo duduk diatas sendirian..”
Dengan terpaksa Malik dan Akbar duduk diatas
sofa. Menaikkan kakinya dan menutupnya menggunakan selimut. Seperti biasa,
Indira berada diantara kedua remaja itu. Sebuah adegan yang diimpikan oleh
banyak wanita. Duduk diantara dua lelaki tampan yang sangat menyayanginya.
Baru saja
menyalakan filmnya yang beberapa kali terhenti, Indira sudah kembali menutup
wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Melihat Indira yang seperti itu
membuat ide jahil muncul di otak Akbar.
Akbar berdiri dan menghampiri Malik. Berbisik
mengungkapkan ide jahilnya. Sementara Malik hanya tersenyum sambil mengangguk.
kembali ke posisi duduknya semula.
Akbar menyandarkan punggungnya ke sofa. Melihat ke
kanan dan kekiri sebelum dia mulai beraksi. Ketika dirasa sudah siap, Akbar dan
Malik langsung menarik kedua tangan Indira yang sedang menutupi wajahnya.
Malik dan Akbar menggeggam erat tangan Indira
sambil tersenyum jahil. Indira yang merasa kebingungan segera berusaha untuk
melepaskan tangannya.
Tapi ternyata tenaga Malik dan Akbar lebih besar
dari kekuatan Indira.
“Kalian ngapain ih pegangin tangan aku kaya gini.
Lepasin dong. Risih tauuuu” Indira mulai protes karena genggaman para lelaki
itu semakin kuat.
Sebelah tangan Malik meraih remot yang ada
disampingnya. Ia menghentikan film yang sedang mereka lihat.
Malik dan Akbar semakin mengencangkan
genggamannya sambil tertawa puas.
“aahh lepasin. Ini pada kenapa sihh kalian
berdua. Terus itu kenapa filmnya di pause??”
“hahahaha.. Ndi, mulai hari ini kalo kita nonton
film horor. Aku sama Malik bakalan pegang tangan kamu kaya gini. Hahahaha”
Akbar menunjuk tangannya yang menempel ditelapak tangan Indira
“Kenapa gitu? Kalian suka sama aku ya??” Kepedean
__ADS_1
Indira langsung meningkat sambil mengerjapkan mata bulatnya.
“haha, suka apaan. Kita pegang tangan kamu kaya
gini, biar tangan kamu ga nutupin muka. Mana ada nonton film horor tapi mukanya
ditutupin tangan terus. Sekalian ga nonton aja. Nah kalo dipegangin gini kan
pas hantunya keluar kamu gabakal bisa nutupin muka kamu. Hahaha” Akbar dan
Malik terbahak karena melihat Indira ternganga mendengar penjelasannya
“Ndi, asli. Muka kamu jelek banget pas lagi
takut. Apalagi pas kaget kaya tadi. Hahahaha”
Tawa Malik dan Akbar semakin menjadi karena
melihat Indira yang terdiam sambil mengerucutkan bibirnya.
Setelah
puas tertawa, Malik segera mengambil remot dan menyalakan kembali film yang
sudah setengah jalan.
Malik
dan Akbar serius melihat setiap adegan yang ditayangkan sembari menggenggam
tangan Indira. Sementara Indira yang tidak bisa bergerak karena tangannya
dikunci oleh sahabatnya terpaksa melihat dengan wajah terbuka.
Sesekali
Indira berteriak sambil memejamkan matanya. Terkadang dia menyembunyikan
wajahnya dibalik badan Malik atau Akbar.
Beberapa
saat kemudian Indira meminta Malik untuk menghentikan filmnya. Karena terlalu
lama melipat kakinya, dia merasa kakinya kesemutan dan susah untuk digerakkan. Gadis
itu mengajak Malik dan Akbar untuk duduk di kasur yang sudah mereka siapkan.
Tanpa
melepas tangannya, Malik dan Akbar menuruti kemauan Indira. Setelah duduk di
posisi masing-masing, Akbar membentangkan selimut menggunakan tangan kanannya
untuk menutupi kaki mereka.
Kembali
pada keseruan film itu, Indira masih beberapa kali menyembunyikan wajahnya.
Sesekali Malik dan Akbar tertawa melihat tingkah Indira.
Disaat
mendekati akhir film, suasana mulai sepi. Tidak ada teriakan lagi dari Indira.
Malik merasakan tangan Indira yang ia genggam sedikit melemah. Malikpun langsung
menoleh ke arah Indira.
Dia
melihat Indra sudah terlelap dengan kepala yang disembunyikan diantara punggung
Akbar dan kaki sofa.
“Bar,
dia tidur. Makanya sepi”
“Aaahh
pantesan berat. Tolong pindahin dong lik kepalanya. Itu bantalnya diatas”
Malik
mulai menyiapkan tempat untuk Indira. Menarik tubuhnya hingga terlentang nyaman
diatas kasur lipat yang sebenarnya disiapkan untuk Malik dan Akbar.
Setelah
memposisikan Indira, Malik dan Akbar memutuskan untuk lanjut menonton film lain
__ADS_1
bergenre thriller hingga dini hari.