Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH18- BELANJA


__ADS_3

Setelah acara hari ini berakhir, Indira dan Malik


segera melangkahkan kakinya ke tempat parkir. Menunggu Akbar yang sedang


berdiskusi dengan anggota OSIS lainnya.


Setelah berpamitan dengan Anggi, Akbar


segera melangkah menuju mobil. Menghampiri sahabatnya yang wajahnya mulai merah


padam karena terpanggang panasnya matahari.


Sesuai perjanjian, mereka bertiga tidak langsung


pulang. Akbar memarkirkan mobilnya di basement salah satu pusat perbelanjaan


ternama. Mereka segera turun setelah berhasil  meletakkan mobilnya di antara barisan rapi


mobil para pengunjung Mall.


Akbar mampir ke ATM center yang terletak di


lantai 2. Seperti sudah bisa menebak, pasti banyak yang akan diminta Indira


selain dari bahan masakan. Entah itu es krim, camilan, kutek, jepitan rambut,


pasti akan memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya.


Dan benar saja, baru keluar dari ATM center,


Indira sudah berlari menghampiri counter asesoris. Matanya langsung tertuju


pada sebuah bandana berwarna pink yang tergantung disana. Dia langsung


mengambil dan menempel bandana itu ke kepalanya.


“gimana? Bagus ga??” Malik hanya menganggukan


kepalanya dan mengambil satu lembar uang dari sakunya.


“bagus. Nih bayar pake ini. Mau beli apa lagi?


Sekalian, biar nanti ga bolak-balik”


Indira langsung semangat memilih beberapa item


yang menurut dia menarik. Kalau kali ini Malik yang membayar, itu berarti di


tempat selanjutnya Akbar yang harus mengeluarkan uang.


Selama ini Malik dan Akbar memang membayar apapun


yang diinginkan Indira. Sebenarnya Indira selalu menolak, tapi apalah daya


ketika ia tau ternyata papi yang memerintah mereka untuk membayar apapun yang


dia beli.


Setelah puas berbelanja di toko asesoris,


perhatian Indira terpusat pada toko jaket. Saat akan melangkah, Akbar segera


menarik lengan Indira dan menghetikan dia


“Kita beli bahan makanan dulu. Baru nanti kesana”


Indira tersenyum malu dan menuruti kata-kata Akbar.


Mereka bertiga masuk kedalam super market dan


mengambil kereta dorong. Akbar mendorong kereta itu, sedangkan Malik dan Indira


berjalan disampingnya.


“Mau belanja apa sih? Aku lupa. Hehe” jawab


Indira


“aku minta dibuatin kwetiau, Akbar minta nasi


campur korea” Malik berkata singkat sambil melihat-lihat botol minyak yang


ternyata jenisnya sangat banyak.


“eeemmm, okay. Kalau gitu kita harus beli mie

__ADS_1


kwetiau, minyak wijen, sawi, sosis, udang, daging giling, jamur kuping, wortel,


tauge, paprika, zuchini, kimchi, danmuji,  bayam, saus gochujang, biji wijen, emm sma apa


lagi yaa” Indira mulai menyebutkan bahan apa saja yang harus mereka beli. Langkah Malik


dan Akbar langsung terhenti mendengar penjabaran Indira. Otak mereka sebagai


laki-laki masih sulit untuk mencerna apa yang baru saja disebutkan oleh Indira.


Dari kecil, Indira memang sudah hobi memasak dan


membuat kue. Tentu saja Bu Sri yang menjadi gurunya. Semakin dewasa, jenis


masakan yang dibuat Indira pun semakin beragam. Tidak hanya masakan nusantara,


Indira juga menguasai beberapa menu asia. Terutama Korea, negara favoritnya.


Melihat sahabatnya yang mematung, Indira kembali


dan merangkul lengan kedua lelaki itu. “Udah kalian berdua ikut aja. Aku udah


ingat apa saja yang harus dibeli”


Mereka bertiga terlihat antusias ketika


berbelanja. Sesekali Indira duduk dibagian kolong kereta dan minta didorong


oleh Akbar. Bermain-main menggunakan sayuran, tertawa kesana-kemari. Sungguh


kisah persahabatan yang diinginkan oleh banyak orang.


Setelah dirasa semua bahan sudah lengkap, mereka


berjalan menuju kasir. Akbar mengeluarkan kartu ATM untuk membayar semua yang


telah mereka ambil.


“Bukannya tadi kamu ambil uang  ya bar? Kok sekarang bayarnya pake kartu??”


Tanya Indira keheranan.


“Bukannya habis ini kamu mau balik ke toko jaket


yang tadi ya Indiraku tersayang??” Jawab Akbar sambil mencubit gemas pipi gadis


“Haha kok kamu tau sih. Tapi aku mau bayar


sendiri loh nanti kalo beli disana. jangan dibayarin”


“Bukannya mau beli hoodie yang warna navy ada


tulisan putih tadi ya. Pasti mau beli tiga buat couple-an sama kita.” Sahut


Malik sembari memindahkan belanjaan mereka ke meja kasir.


“bentar bentar. Kalian berdua bisa baca pikiran


aku ya??”


Akbar hanya tertawa mendengar Indira keheranan. Malik


mengusap pelan kepala Indira. Kepolosan Indira membuat Malik semakin menyayangi


gadis itu. Sementara petugas kasir tersenyum melihat kemesraan mereka bertiga.


Karena belanjaan mereka cukup banyak, mereka


memutuskan untuk tetap membawa kereta dorong itu selama berkeliling mall. Tidak


diragukan lagi, Indira mengajak Malik dan Akbar kembali untuk membeli hoodie


yang sudah dia incar.


Indira meminta bantuan kepada pegawai toko


mencarikan ukuran yang pas untuk mereka bertiga. Indira tidak pindah ke lain


hati meskipun pegawai disana sudah menawarkan beberapa warna hoodie yang lain.


Ia tetap pada pilihan pertamanya. Hoodie berwarna navy dengan sedikit tulisan


putih didepannya.


Malik dan Akbar hanya bisa menggelengkan kepala

__ADS_1


melihat tingkah Indira. Bukan membuat mereka kesal, tapi membuat mereka semakin


menyayangi satu-satunya wanita diantara mereka.


Belum selesai perjalanan mereka, Indira kembali


menarik dua lelaki itu untuk masuk ke sebuah studio foto. Atau mungkin photo


box lebih tepatnya. Indira memilih layout yang akan mereka gunakan. Setelah


lama memilih, Indira mengambil hoodie yang dia beli dan memakainya. Dia juga


memaksa Malik dan Akbar untuk memakai hoodie itu. Indira memilih beberapa paket


foto. 3 paket berisi 1 foto besar, dan 5 paket berisi 4 foto kecil. Berbagai


gaya ada dalam foto itu.


Setelah puas berkeliling dalam mall, mereka


kembali ke mobil dan segera pulang ke rumah. Karena Pak Adi belum pulang,


Indira langsung datang ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan


dimasak.


Sementara Malik dan Akbar masuk ke kamar


masing-masing untuk mengganti pakaiannya. Ketika turun, Malik melihat Indira


sudah menggunakan celemek dan mulai beraksi dengan lincahnya. Malik menghampiri


Indira, tersenyum dan mengusap kepala gadis itu.


 Akbar yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari menuruni tangga dan memeluk Indira


dari belakang (lagi).


“uuhh kecayangan aku lagi masak yaaaa” Akbar


menggosok-gosok wajahnya ke bahu Indira. Seketika Indira menghentikan aktivitas


yang sedang dia lakukan. Meremas tangannya, bersiap untuk meraih rambut Akbar.


“Kamu mau aku jambak lagi? Lepasin ga??” Malik


tertawa melihat tingkah para sahabatnya. Sepertinya memang tidak akan ada


kedamaian disaat mereka berkumpul.


Mendengar ancaman dari Indira, Akbar segera


melepas pelukannya sambil tersenyum. Tangannya mencari-cari apakah yang bisa


dimakan saat ini.


Malik dan Akbar mulai membantu Indira untuk


memasak, meskipun hanya sekedar memotong sayuran atau mencuci peralatan yang


sudah tidak dipakai. Tidak perlu waktu lama bagi Indira untuk membuat dua jenis


hidangan ini..


KRIIINGG


Handphone Akbar berdering. Ada nama Anggi di


layar itu. Dengan segera Akbar menjawabnya.


Terdengar Akbar sedang melaporkan kegiatannya


kepada sang kekasih.


“Akbar aaaaaaaaa” setelah menyuapi Malik, Indira


beralih mengarahkan sendok ke mulut Akbar.


Meskipun sedang asyik dengan teleponnya, Akbar


tetap menuruti apa yang diperintahkan oleh Indira. Dia mengunyah dengan


semangat dan menganggukan kepalanya berulang kali. Menandakan rasa masakan


Indira sudah pas di lidah Akbar.

__ADS_1


Setelah masakan selesai, Indira dibantu Malik


menata makanan itu di meja makan.


__ADS_2