
Setelah acara hari ini berakhir, Indira dan Malik
segera melangkahkan kakinya ke tempat parkir. Menunggu Akbar yang sedang
berdiskusi dengan anggota OSIS lainnya.
Setelah berpamitan dengan Anggi, Akbar
segera melangkah menuju mobil. Menghampiri sahabatnya yang wajahnya mulai merah
padam karena terpanggang panasnya matahari.
Sesuai perjanjian, mereka bertiga tidak langsung
pulang. Akbar memarkirkan mobilnya di basement salah satu pusat perbelanjaan
ternama. Mereka segera turun setelah berhasil meletakkan mobilnya di antara barisan rapi
mobil para pengunjung Mall.
Akbar mampir ke ATM center yang terletak di
lantai 2. Seperti sudah bisa menebak, pasti banyak yang akan diminta Indira
selain dari bahan masakan. Entah itu es krim, camilan, kutek, jepitan rambut,
pasti akan memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya.
Dan benar saja, baru keluar dari ATM center,
Indira sudah berlari menghampiri counter asesoris. Matanya langsung tertuju
pada sebuah bandana berwarna pink yang tergantung disana. Dia langsung
mengambil dan menempel bandana itu ke kepalanya.
“gimana? Bagus ga??” Malik hanya menganggukan
kepalanya dan mengambil satu lembar uang dari sakunya.
“bagus. Nih bayar pake ini. Mau beli apa lagi?
Sekalian, biar nanti ga bolak-balik”
Indira langsung semangat memilih beberapa item
yang menurut dia menarik. Kalau kali ini Malik yang membayar, itu berarti di
tempat selanjutnya Akbar yang harus mengeluarkan uang.
Selama ini Malik dan Akbar memang membayar apapun
yang diinginkan Indira. Sebenarnya Indira selalu menolak, tapi apalah daya
ketika ia tau ternyata papi yang memerintah mereka untuk membayar apapun yang
dia beli.
Setelah puas berbelanja di toko asesoris,
perhatian Indira terpusat pada toko jaket. Saat akan melangkah, Akbar segera
menarik lengan Indira dan menghetikan dia
“Kita beli bahan makanan dulu. Baru nanti kesana”
Indira tersenyum malu dan menuruti kata-kata Akbar.
Mereka bertiga masuk kedalam super market dan
mengambil kereta dorong. Akbar mendorong kereta itu, sedangkan Malik dan Indira
berjalan disampingnya.
“Mau belanja apa sih? Aku lupa. Hehe” jawab
Indira
“aku minta dibuatin kwetiau, Akbar minta nasi
campur korea” Malik berkata singkat sambil melihat-lihat botol minyak yang
ternyata jenisnya sangat banyak.
“eeemmm, okay. Kalau gitu kita harus beli mie
__ADS_1
kwetiau, minyak wijen, sawi, sosis, udang, daging giling, jamur kuping, wortel,
tauge, paprika, zuchini, kimchi, danmuji, bayam, saus gochujang, biji wijen, emm sma apa
lagi yaa” Indira mulai menyebutkan bahan apa saja yang harus mereka beli. Langkah Malik
dan Akbar langsung terhenti mendengar penjabaran Indira. Otak mereka sebagai
laki-laki masih sulit untuk mencerna apa yang baru saja disebutkan oleh Indira.
Dari kecil, Indira memang sudah hobi memasak dan
membuat kue. Tentu saja Bu Sri yang menjadi gurunya. Semakin dewasa, jenis
masakan yang dibuat Indira pun semakin beragam. Tidak hanya masakan nusantara,
Indira juga menguasai beberapa menu asia. Terutama Korea, negara favoritnya.
Melihat sahabatnya yang mematung, Indira kembali
dan merangkul lengan kedua lelaki itu. “Udah kalian berdua ikut aja. Aku udah
ingat apa saja yang harus dibeli”
Mereka bertiga terlihat antusias ketika
berbelanja. Sesekali Indira duduk dibagian kolong kereta dan minta didorong
oleh Akbar. Bermain-main menggunakan sayuran, tertawa kesana-kemari. Sungguh
kisah persahabatan yang diinginkan oleh banyak orang.
Setelah dirasa semua bahan sudah lengkap, mereka
berjalan menuju kasir. Akbar mengeluarkan kartu ATM untuk membayar semua yang
telah mereka ambil.
“Bukannya tadi kamu ambil uang ya bar? Kok sekarang bayarnya pake kartu??”
Tanya Indira keheranan.
“Bukannya habis ini kamu mau balik ke toko jaket
yang tadi ya Indiraku tersayang??” Jawab Akbar sambil mencubit gemas pipi gadis
“Haha kok kamu tau sih. Tapi aku mau bayar
sendiri loh nanti kalo beli disana. jangan dibayarin”
“Bukannya mau beli hoodie yang warna navy ada
tulisan putih tadi ya. Pasti mau beli tiga buat couple-an sama kita.” Sahut
Malik sembari memindahkan belanjaan mereka ke meja kasir.
“bentar bentar. Kalian berdua bisa baca pikiran
aku ya??”
Akbar hanya tertawa mendengar Indira keheranan. Malik
mengusap pelan kepala Indira. Kepolosan Indira membuat Malik semakin menyayangi
gadis itu. Sementara petugas kasir tersenyum melihat kemesraan mereka bertiga.
Karena belanjaan mereka cukup banyak, mereka
memutuskan untuk tetap membawa kereta dorong itu selama berkeliling mall. Tidak
diragukan lagi, Indira mengajak Malik dan Akbar kembali untuk membeli hoodie
yang sudah dia incar.
Indira meminta bantuan kepada pegawai toko
mencarikan ukuran yang pas untuk mereka bertiga. Indira tidak pindah ke lain
hati meskipun pegawai disana sudah menawarkan beberapa warna hoodie yang lain.
Ia tetap pada pilihan pertamanya. Hoodie berwarna navy dengan sedikit tulisan
putih didepannya.
Malik dan Akbar hanya bisa menggelengkan kepala
__ADS_1
melihat tingkah Indira. Bukan membuat mereka kesal, tapi membuat mereka semakin
menyayangi satu-satunya wanita diantara mereka.
Belum selesai perjalanan mereka, Indira kembali
menarik dua lelaki itu untuk masuk ke sebuah studio foto. Atau mungkin photo
box lebih tepatnya. Indira memilih layout yang akan mereka gunakan. Setelah
lama memilih, Indira mengambil hoodie yang dia beli dan memakainya. Dia juga
memaksa Malik dan Akbar untuk memakai hoodie itu. Indira memilih beberapa paket
foto. 3 paket berisi 1 foto besar, dan 5 paket berisi 4 foto kecil. Berbagai
gaya ada dalam foto itu.
Setelah puas berkeliling dalam mall, mereka
kembali ke mobil dan segera pulang ke rumah. Karena Pak Adi belum pulang,
Indira langsung datang ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan
dimasak.
Sementara Malik dan Akbar masuk ke kamar
masing-masing untuk mengganti pakaiannya. Ketika turun, Malik melihat Indira
sudah menggunakan celemek dan mulai beraksi dengan lincahnya. Malik menghampiri
Indira, tersenyum dan mengusap kepala gadis itu.
Akbar yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari menuruni tangga dan memeluk Indira
dari belakang (lagi).
“uuhh kecayangan aku lagi masak yaaaa” Akbar
menggosok-gosok wajahnya ke bahu Indira. Seketika Indira menghentikan aktivitas
yang sedang dia lakukan. Meremas tangannya, bersiap untuk meraih rambut Akbar.
“Kamu mau aku jambak lagi? Lepasin ga??” Malik
tertawa melihat tingkah para sahabatnya. Sepertinya memang tidak akan ada
kedamaian disaat mereka berkumpul.
Mendengar ancaman dari Indira, Akbar segera
melepas pelukannya sambil tersenyum. Tangannya mencari-cari apakah yang bisa
dimakan saat ini.
Malik dan Akbar mulai membantu Indira untuk
memasak, meskipun hanya sekedar memotong sayuran atau mencuci peralatan yang
sudah tidak dipakai. Tidak perlu waktu lama bagi Indira untuk membuat dua jenis
hidangan ini..
KRIIINGG
Handphone Akbar berdering. Ada nama Anggi di
layar itu. Dengan segera Akbar menjawabnya.
Terdengar Akbar sedang melaporkan kegiatannya
kepada sang kekasih.
“Akbar aaaaaaaaa” setelah menyuapi Malik, Indira
beralih mengarahkan sendok ke mulut Akbar.
Meskipun sedang asyik dengan teleponnya, Akbar
tetap menuruti apa yang diperintahkan oleh Indira. Dia mengunyah dengan
semangat dan menganggukan kepalanya berulang kali. Menandakan rasa masakan
Indira sudah pas di lidah Akbar.
__ADS_1
Setelah masakan selesai, Indira dibantu Malik
menata makanan itu di meja makan.