Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH41- Sakit


__ADS_3

Semalaman penuh Bu Mega merawat Malik dengan


penuh kasih sayang. Beribu kata maaf sudah terlontar dari bibirnya. Entah Malik


mendengarnya atau tidak, dia hanya ingin mengungkapkan rasa penyesalannya atas


keputusan Indira.


Waktu sudah menunjukkan pukul 04.05, tapi mata Bu


Mega belum terpejam sedikitpun. Dia hanya terfokus untuk merawat Malik yang


sedang terkulai lemah diatas ranjang. Perlahan Bu Mega memijat tangan Malik.


“Ma...” Suara lirih terdengar dari bibir Malik.


Sontak Bu Mega berdiri dan menatap Malik. mengangkat handuk kecil yang sedari


tadi tergeletak diatas kening.


“Malik.. nak, apanya yang sakit?? Mau dipijit


yang mana nak??” Tanya Bu Mega sembari memegang wajah Malik. Namun Malik hanya


menggeleng dan tersenyum.


“maafin mama ya. Mama gatau kalau akhirnya


seperti ini.. Mama pikir Indira akan menerima lamaran kamu. Mama gatau kalau


Akbar juga mau ngelamar Indi. Maafin mama ya.. mama menyesal” Bu Mega menciumi


tangan Malik dengan penyesalan yang teramat dalam.


Melihat Malik yang berusaha untuk duduk, Bu Mega


segera melepaskan tangannya dan membantu Malik. Dia menyandarkan badan Malik


diatas ranjang.


“kenapa mama minta maaf?? Itu bukan kesalahan mama.


Kalaupun harus ada yang disalahkan,, itu Malik ma. Malik yang terlalu mengulur


waktu. Malik yang terlalu pengecut. Apapun yang terjadi, Malik tetap menjadi


anak mama, dan Malik bakalan ngedukung apapun keputusan Indi ma. Entah dengan Akbar,


atau dengan yang lain. Selama itu baik untuk Indi, akan selalu Malik dukung.”


Bu Mega memeluk erat tubuh Malik, bersyukur


dengan kedewasaan yang dimiliki Malik. Rasa penyesalannyapun sedikit berkurang karena hiburan dari Malik.


Kembali wanita itu memijat tangan Malik.


Menanyakan apa yang sedang dirasakan oleh Malik hingga membuatnya jatuh sakit


dalam sekejap.


Bu Mega menawarkan untuk mengantar Malik ke rumah


sakit ketika mendengar bahwa sudah beberapa hari ini bekas operasinya beberapa


tahun yang lalu terasa sakit. Bu Mega mendengarkan setiap keluhan Malik tentang


rasa sakitnya.Dia menjanjikan akan membawa Malik ke rumah sakit jika mentari sudah meninggi.


Usai berbincang dengan Malik, Bu Mega memutuskan


untuk pergi ke dapur. Membuat sarapan untuk suami dan putrinya, sekaligus


membuat bubur untuk Malik. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Bu Mega untuk menyiapkan semuanya.


Karena masih terlalu dini untuk membangunkan anggota keluarga yang lain, Bu Mega


kembali ke kamar Malik dengan membawa semangkuk bubur.

__ADS_1


Bu Mega mulai mengaduk dan mengambil sesendok penuh. Meniupi perlahan mencari suhu


yang tepat sebelum akhirnya diberikan kepada Malik.


“Ma, Malik bisa makan sendiri..” Bu Mega menatap tajam Malik yang berusaha menutup


mulutnya menggunakan tangan. Tidak kalah cerdas, Bu Mega memasang wajah


memelasnya sambil meletakkan mangkok itu diatas meja, bersiap untuk pergi dari


kamar Malik.


Benar saja, Malik langsung menarik lengan Bu Mega dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Merasa rencananya berhasil, Bu Mega segera duduk ke tempatnya semula dan mulai


menyuapi Malik. Sebuah adegan yang sangat dirindukan oleh Bu Mega dan Malik.


***


“Pagi ma. Papa mana??” Akbar mencium punggung tangan Bu Sri yang sedang duduk diatas


sofa.


“Papa udah berangkat. Mau mama siapin sarapan??”


“Enggak ma, loh kamu ngapain disitu??” Tanya Akbar keheranan melihat Malik yang sedang


berbaring diatas pangkuan Bu Mega. Pria yang biasanya terlihat tampan, kini


terlihat menyedihkan dengan wajah pucatnya. Akbar mendekati Malik dan memegang


keningnya, memastikan apakah benar kondisi Malik seperti yang ia bayangkan.


Akbar ikut bergabung di ruang tamu ketika mendapat penjelasan dari Bu Mega bahwa


Malik sedang sakit. Dia menawarkan untuk mengantar Malik dan Bu Mega kerumah


sakit, tapi dengan segera ditolak oleh Bu Mega karena tidak ingin merepotkan.


Mega. Kenapa mamanya benar-benar tidak membahas acara lamaran yang kemarin ia


lakukan. Bu Mega hanya membicarakan kesehatan Malik yang sedang menurun.


Pada akhirnya, Akbar lah yang memutuskan untuk membahas acara itu. Dia meminta maaf


karena sudah cukup mengejutkan anggota keluarga yang lain dengan keputusannya


yang cukup tergesa-gesa. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak terlalu


menginginkan restu dari Bu Mega dan Pak Adrian. Baginya, orang-orang yang ia


anggap keluarga ini lebih penting. Kalaupun memang dia tidak mendapat restu,


dengan senang hati ia rela memutuskan Indira.


Akbar pergi kekamar Indira setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Bu Mega.


Berulang kali dia mengetuk pintu kamar tunangannya. Tapi sekalipun dia tidak


mendengar adanya jawaban dari Indira. Agak lama Akbar berpikir sebelum


memutuskan untuk masuk kedalam.


Dia melihat Indira sedang terlelap. Tubuhnya tidak tertutup sempurna oleh selimut.


Paha putih mulusnya terbuka dengan lebar. Perlahan Akbar menarik selimut dan


membentangkannya diatas tubuh Indira.


“Kenapa gadis ini sembrono sekali. Kalau posisinya begini, harusnya dia mengunci pintu”


Gumam Akbar.


Akbar duduk disamping Indira yang sedang terlelap diatas ranjang. Sekian lama bersama


dengan Indira, ini adalah kali pertama bagi Akbar memperhatikan wajah Indira

__ADS_1


yang sedang tidur. Dia baru menyadari bahwa gadis yang sekarang menjadi


tunangannya itu sungguh memiliki wajah yang nyaris sempurna. Cukup lama Akbar


memandang wajah gadis itu, hingga tidak menyadari bahwa mata Indira sudah


terbuka.


“Kamu ngapain disini?”


“Ha?? Oh. Emm. Bangunin kamu. Cepet mandi, udah hampir jam 7 kok kamu masih rebahan


aja” Jawab Akbar sedikit kebingungan


“Aku ijin ga masuk ya bar. Lagi ga enak badan nih”


“yaudah istirahat aja. Kok jadi sakit semua sih. Malik sakit, kamu sakit juga”


“Malik sakit??” Akbar hanya mengangguk pelan dan bersiap untuk meninggalkan Indira.


Dia mencium kening Indira sebelum akhirnya pergi.


Dengan berat hati Akbar harus melalui hari ini tanpa Indira. Meskipun sudah banyak hal


yang sebenarnya ingin dia lakukan bersama di kantor. Tapi apa boleh buat, tidak


mungkin juga dia memaksa Indira yang sedang tidak sehat untuk menemaninya ke


kantor.


Dia kembali duduk bersama dengan Bu Mega dan Malik yang masih tetap di posisi


semula. Akbar memejamkan matanya sesaat. Mengumpulkan nyawa dan kekuatannya


untuk pergi ke kantor. Dia berpesan kepada Bu Mega untuk membawa serta Indira


ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Akbar tidak ingin terjadi sesuatu


dengan Indira. Dia mencium punggung tangan Bu Mega dan segera pergi ke tempat


yang seharusnya.


Akbar mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat. Berharap ingin segera sampai di


ruangannya yang nyaman, mengerjakan tumpukan tugasnya dan melupakan


kekecewaannya pagi ini.


Akbar memasang wajah datarnya, dan hanya mengangguk saat beberapa karyawan


menyapanya. Bahkan dia juga tidak menyadari kalau sekretaris pribadinya sudah


ada dibelakangnya dengan tumpukan agenda yang harus dikerjakan oleh Akbar hari


ini.


“Kalau bapak kurang sehat, saya bisa menunda semua kegiatan hari ini” Tawar Jessica


sedikit cemas melihat kondisi bosnya yang tidak memiliki gairah. Namun Akbar


hanya menggeleng dan menjentikkan jarinya, meminta Jessica melanjutkan laporan


paginya.


DRRTTT


DRRRTTT


Seketika wajah Akbar berubah ceria ketika menatap layar ponselnya yang sedang menyala.


“Halo sayang… ini udah sampai.. ahh gapapa kok.. kamu gimana?? Udah ke rumah


sakit??.. Naik taksi online aja ya, kamu sama Malik kan lagi sakit. Apa mau aku


jemput?... oh gitu, yaudah ati-ati ya.. love you…”


Akbar menutup sambungan teleponnya dan beralih ke Jesssica yang memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2