
Semalaman penuh Bu Mega merawat Malik dengan
penuh kasih sayang. Beribu kata maaf sudah terlontar dari bibirnya. Entah Malik
mendengarnya atau tidak, dia hanya ingin mengungkapkan rasa penyesalannya atas
keputusan Indira.
Waktu sudah menunjukkan pukul 04.05, tapi mata Bu
Mega belum terpejam sedikitpun. Dia hanya terfokus untuk merawat Malik yang
sedang terkulai lemah diatas ranjang. Perlahan Bu Mega memijat tangan Malik.
“Ma...” Suara lirih terdengar dari bibir Malik.
Sontak Bu Mega berdiri dan menatap Malik. mengangkat handuk kecil yang sedari
tadi tergeletak diatas kening.
“Malik.. nak, apanya yang sakit?? Mau dipijit
yang mana nak??” Tanya Bu Mega sembari memegang wajah Malik. Namun Malik hanya
menggeleng dan tersenyum.
“maafin mama ya. Mama gatau kalau akhirnya
seperti ini.. Mama pikir Indira akan menerima lamaran kamu. Mama gatau kalau
Akbar juga mau ngelamar Indi. Maafin mama ya.. mama menyesal” Bu Mega menciumi
tangan Malik dengan penyesalan yang teramat dalam.
Melihat Malik yang berusaha untuk duduk, Bu Mega
segera melepaskan tangannya dan membantu Malik. Dia menyandarkan badan Malik
diatas ranjang.
“kenapa mama minta maaf?? Itu bukan kesalahan mama.
Kalaupun harus ada yang disalahkan,, itu Malik ma. Malik yang terlalu mengulur
waktu. Malik yang terlalu pengecut. Apapun yang terjadi, Malik tetap menjadi
anak mama, dan Malik bakalan ngedukung apapun keputusan Indi ma. Entah dengan Akbar,
atau dengan yang lain. Selama itu baik untuk Indi, akan selalu Malik dukung.”
Bu Mega memeluk erat tubuh Malik, bersyukur
dengan kedewasaan yang dimiliki Malik. Rasa penyesalannyapun sedikit berkurang karena hiburan dari Malik.
Kembali wanita itu memijat tangan Malik.
Menanyakan apa yang sedang dirasakan oleh Malik hingga membuatnya jatuh sakit
dalam sekejap.
Bu Mega menawarkan untuk mengantar Malik ke rumah
sakit ketika mendengar bahwa sudah beberapa hari ini bekas operasinya beberapa
tahun yang lalu terasa sakit. Bu Mega mendengarkan setiap keluhan Malik tentang
rasa sakitnya.Dia menjanjikan akan membawa Malik ke rumah sakit jika mentari sudah meninggi.
Usai berbincang dengan Malik, Bu Mega memutuskan
untuk pergi ke dapur. Membuat sarapan untuk suami dan putrinya, sekaligus
membuat bubur untuk Malik. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Bu Mega untuk menyiapkan semuanya.
Karena masih terlalu dini untuk membangunkan anggota keluarga yang lain, Bu Mega
kembali ke kamar Malik dengan membawa semangkuk bubur.
__ADS_1
Bu Mega mulai mengaduk dan mengambil sesendok penuh. Meniupi perlahan mencari suhu
yang tepat sebelum akhirnya diberikan kepada Malik.
“Ma, Malik bisa makan sendiri..” Bu Mega menatap tajam Malik yang berusaha menutup
mulutnya menggunakan tangan. Tidak kalah cerdas, Bu Mega memasang wajah
memelasnya sambil meletakkan mangkok itu diatas meja, bersiap untuk pergi dari
kamar Malik.
Benar saja, Malik langsung menarik lengan Bu Mega dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Merasa rencananya berhasil, Bu Mega segera duduk ke tempatnya semula dan mulai
menyuapi Malik. Sebuah adegan yang sangat dirindukan oleh Bu Mega dan Malik.
***
“Pagi ma. Papa mana??” Akbar mencium punggung tangan Bu Sri yang sedang duduk diatas
sofa.
“Papa udah berangkat. Mau mama siapin sarapan??”
“Enggak ma, loh kamu ngapain disitu??” Tanya Akbar keheranan melihat Malik yang sedang
berbaring diatas pangkuan Bu Mega. Pria yang biasanya terlihat tampan, kini
terlihat menyedihkan dengan wajah pucatnya. Akbar mendekati Malik dan memegang
keningnya, memastikan apakah benar kondisi Malik seperti yang ia bayangkan.
Akbar ikut bergabung di ruang tamu ketika mendapat penjelasan dari Bu Mega bahwa
Malik sedang sakit. Dia menawarkan untuk mengantar Malik dan Bu Mega kerumah
sakit, tapi dengan segera ditolak oleh Bu Mega karena tidak ingin merepotkan.
Mega. Kenapa mamanya benar-benar tidak membahas acara lamaran yang kemarin ia
lakukan. Bu Mega hanya membicarakan kesehatan Malik yang sedang menurun.
Pada akhirnya, Akbar lah yang memutuskan untuk membahas acara itu. Dia meminta maaf
karena sudah cukup mengejutkan anggota keluarga yang lain dengan keputusannya
yang cukup tergesa-gesa. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, dia tidak terlalu
menginginkan restu dari Bu Mega dan Pak Adrian. Baginya, orang-orang yang ia
anggap keluarga ini lebih penting. Kalaupun memang dia tidak mendapat restu,
dengan senang hati ia rela memutuskan Indira.
Akbar pergi kekamar Indira setelah menyelesaikan pembicaraannya dengan Bu Mega.
Berulang kali dia mengetuk pintu kamar tunangannya. Tapi sekalipun dia tidak
mendengar adanya jawaban dari Indira. Agak lama Akbar berpikir sebelum
memutuskan untuk masuk kedalam.
Dia melihat Indira sedang terlelap. Tubuhnya tidak tertutup sempurna oleh selimut.
Paha putih mulusnya terbuka dengan lebar. Perlahan Akbar menarik selimut dan
membentangkannya diatas tubuh Indira.
“Kenapa gadis ini sembrono sekali. Kalau posisinya begini, harusnya dia mengunci pintu”
Gumam Akbar.
Akbar duduk disamping Indira yang sedang terlelap diatas ranjang. Sekian lama bersama
dengan Indira, ini adalah kali pertama bagi Akbar memperhatikan wajah Indira
__ADS_1
yang sedang tidur. Dia baru menyadari bahwa gadis yang sekarang menjadi
tunangannya itu sungguh memiliki wajah yang nyaris sempurna. Cukup lama Akbar
memandang wajah gadis itu, hingga tidak menyadari bahwa mata Indira sudah
terbuka.
“Kamu ngapain disini?”
“Ha?? Oh. Emm. Bangunin kamu. Cepet mandi, udah hampir jam 7 kok kamu masih rebahan
aja” Jawab Akbar sedikit kebingungan
“Aku ijin ga masuk ya bar. Lagi ga enak badan nih”
“yaudah istirahat aja. Kok jadi sakit semua sih. Malik sakit, kamu sakit juga”
“Malik sakit??” Akbar hanya mengangguk pelan dan bersiap untuk meninggalkan Indira.
Dia mencium kening Indira sebelum akhirnya pergi.
Dengan berat hati Akbar harus melalui hari ini tanpa Indira. Meskipun sudah banyak hal
yang sebenarnya ingin dia lakukan bersama di kantor. Tapi apa boleh buat, tidak
mungkin juga dia memaksa Indira yang sedang tidak sehat untuk menemaninya ke
kantor.
Dia kembali duduk bersama dengan Bu Mega dan Malik yang masih tetap di posisi
semula. Akbar memejamkan matanya sesaat. Mengumpulkan nyawa dan kekuatannya
untuk pergi ke kantor. Dia berpesan kepada Bu Mega untuk membawa serta Indira
ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Akbar tidak ingin terjadi sesuatu
dengan Indira. Dia mencium punggung tangan Bu Mega dan segera pergi ke tempat
yang seharusnya.
Akbar mengemudikan mobilnya sedikit lebih cepat. Berharap ingin segera sampai di
ruangannya yang nyaman, mengerjakan tumpukan tugasnya dan melupakan
kekecewaannya pagi ini.
Akbar memasang wajah datarnya, dan hanya mengangguk saat beberapa karyawan
menyapanya. Bahkan dia juga tidak menyadari kalau sekretaris pribadinya sudah
ada dibelakangnya dengan tumpukan agenda yang harus dikerjakan oleh Akbar hari
ini.
“Kalau bapak kurang sehat, saya bisa menunda semua kegiatan hari ini” Tawar Jessica
sedikit cemas melihat kondisi bosnya yang tidak memiliki gairah. Namun Akbar
hanya menggeleng dan menjentikkan jarinya, meminta Jessica melanjutkan laporan
paginya.
DRRTTT
DRRRTTT
Seketika wajah Akbar berubah ceria ketika menatap layar ponselnya yang sedang menyala.
“Halo sayang… ini udah sampai.. ahh gapapa kok.. kamu gimana?? Udah ke rumah
sakit??.. Naik taksi online aja ya, kamu sama Malik kan lagi sakit. Apa mau aku
jemput?... oh gitu, yaudah ati-ati ya.. love you…”
Akbar menutup sambungan teleponnya dan beralih ke Jesssica yang memperhatikannya.
__ADS_1