
“dimana??”
“tempat karaoke sama timnya juga. Kita mau makan
dulu, baru pulang.”
“Okay, ini persiapannya udah mau selesai.
Makanannya juga udah mateng semua. Tinggal nunggu kalian berdua. Jangan bolehin
dia makan banyak-banyak ya”
“ok”
Malik dengan cepat membalas pesan singkatnya. Dia
benar-benar melihat kebahagiaan di pancaran mata Indira. Indira yang bernyanyi
dan menari dengan riang semakin membuatnya jatuh cinta. Hari ini, malam ini,
tekadnya sudah bulat untuk melamarnya.
Dia berharap rencana rahasianya bersama Bu Mega
akan sukses malam ini. Kabarnya, gaun pengantin itu sudah datang pagi hari
tadi, saat dirumah hanya ada Bu Mega. Bahkan cincin yang akan diberikanpun
sudah tersimpan rapi didalam sakunya.
Malik sudah membayangkan bagaimana wajah Indira
ketika melihat gaun impiannya menjadi kenyataan. Dia juga sudah menyusun
kata-kata apa yang akan disampaikan pada saat melamar Indira tadi. Jantungnya
kembali berdegub kencang saat membayangkannya.
Malik memperhatikan Indira yang melenguh dan membanting tubuh di sampingnya.
Meneguk air mineral yang ada dihadapannya. Tertawa dengan puas melihat tingkah
para gadis yang sedang bernyanyi riang itu. Malik mengusap keringat yang mulai
menetes di dahi Indira dan tersenyum lembut.
“capek??”
Indira hanya mengangguk pelan.
“Malik..”
“hemm??”
“Makasih ya. Dari dulu, kamu selalu ngasih aku
yang terbaik. Selalu nurutin apa kemauan aku. Selalu jaga aku. Padahal aku kan
nyebelin, aku juga udah bikin kamu sakit. Aku nyesel banget lik.. Aku janji, bakalan nyenengin
kamu seumur hidup aku. Apapun yang kamu mau bakal aku turutin. Makasih banyak ya.. pokonya aku sayaaanggg
banget sama kamu”
Malik mengangguk dan menghapus air mata haru
Indira dengan lembut. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk dan menjawab pernyataan
itu. Tapi dia tidak ingin rencananya berantakan, jadi terpaksa hanya bisa diam
dan mengangguk.
Setelah puas bernyanyi, para gadis itu bergabung
dengan Malik dan Indira di sofa, dan mulai bercengkrama untuk menghabiskan
waktu yang hanya tersisa 35 menit itu.
“Guys, tolong fotoin kita dong..” Indira berdiri
dan memberikan ponselnya kepada Siska.
“naon sih Ndi, malu tau” Malik segera menolak
ajakan dari Indira karena sedikit merasa tidak nyaman. Tapi tetap saja,
penolakannya berujung sia-sia. Indira tetap memaksakan keinginannya.
Indira merangkul lengan Malik, tersenyum dengan
__ADS_1
bangganya seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah wanita paling
bahagia.Sedangkan Malik hanya
berdiri kaku tanpa melakukan apapun. Wajahnya pun datar tanpa ekspresi.
“Pak, sekali lagi yaa. Agak dempet dong. Bapak
kaya foto sama klien aja kaku begitu” ejek Siska
Malikpun mengalah dan menyunggingkan senyum di
bibirnya. Tangannya meraih bahu Indira agar terlihat tidak kaku.
“Satu, dua, ti.......”
Cup...
Bukannya terlihat tampan, kali ini wajah Malik
terlihat sangat terkejut karena Indira yang tiba-tiba mencium pipinya. Semua
bersorak karena akhirnya menyaksikan adegan yang begitu mereka dambakan.
Semuanya tertawa dan berteriak saking gembiranya, tak terkecuali Indira. Hanya
Malik yang masih membeku karena ciuman yang mendarat dengan tepat di pipinya.
Bukan-bukan. Tidak hanya mendarat di pipinya. Tapi rasa hangat itu turun sampai
ke hatinya.
Wajahnya mulai memerah, jantungnya berdegub
sangat kencang, kakinya gemetar, bibirnya membisu. Apa ternyata Indira juga memiliki perasaan yang sama
kepadanya?? Apakah ini pertanda bahwa Indira akan menerima
lamarannya nanti malam? Atau ciuman itu hanya sekedar ucapan terima kasih
Indira padanya. Entahlah, otak Malik seperti susah untuk diajak berpikir.
**
Malik merasakan lengan hangat yang melingkar di
satupun perkataan Indira yang terdengar di telinganya. Pikirannya hanya
terpusat pada ciuman Indira yang masih terasa panas di pipinya. Ingin rasanya
Maik segera memeluk dan menyatakan perasaanyang sesungguhnya.
Malik memasukkan motornya di halaman rumah Pak
Adrian. Dia hanya memperhatikan Indira yang membuka pintu rumah dan berjalan
kedalam.
“Ternyata masih sepi. Hei, Kamu mau kemana??” Malik
mulai tersadar karena Indira menepuk bahunya sedikit keras.
“ha?? Emm. Mau ke kamar. Aku tidur disini aja.
Capek kalau mau pulang kerumah”
“Oh. Yaudah. Aku mandi dulu, habis itu kita
nonton di ruang tengah yaa” Malik memperhatikan langkah Indira.
Gadis itu masuk kedalam kamarnya dengan santai
seperti tidak ada yang terjadi. Apa mungkin ciuman itu tidak berdampakapapun pada Indira?? Apa hanya
dirinya sendiri yang sedang merasa canggung malam ini. Kenapa gadis itu
bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Apa memang benar kalau itu hanya
ciuman biasa??
Malik
menggelengkan kepalanya berulang kali dan mulai menata ulang pikirannya agar
terfokus dengan lamaran yang sudah dia siapkan malam ini. Malik pergi ke arah
taman belakang untuk memeriksa apakah kejutan sudah disiapkan.
Ternyata
__ADS_1
di taman belakang sudah ada Pak Adi, Pak Adrian, Bu Mega dan Akbar yang sedang
menunggu. Meja tertata dengan rapi dan indah. Ada beberapa lilin yang sengaja
tidak dinyalakan. Ada buket bunga juga diatas meja. Mungkin ini adalah kali
pertama bagi keluarga ini melakukan makan malam romantis seperti ini. Akbar
benar-benar bekerja keras untuk membantunya.
Sebenarnya
ingin sekali Malik bercerita kepada Akbar tentang perasaannya. Tapi Malik tidak
bisa mempercayakan hal sepenting itu kepada Akbar yang suka keceplosan saat
berbicara dengan Indira.
Karena
mendengar Indira yang sudah keluar dari kamar mandi, Malik segera berlari ke
ruang tengah dan memposisikan dirinya seperti semula.
Dia
melihat Indira yang hanya menggunakan daster dan rambutnya yang terikat sedikit
berantakan. Kacamatanya kembali bertengger di hidung mancungnya. Gadis itu
berjalan dan bergabung bersama Malik di sofa.
“kok
cepet banget?? Terus kok Cuma pake daster??”
“Kan
mau nonton film, habis itu bobo. Emang aku harus pake gaun??” Jawab Indira
tanpa melihat wajah Malik.
“ndi…”
“hmm??”
Dengan santainya Indira menarik lengan Malik dan menjadikannya sebagai bantalan
kepala. Wajah Indira yang tepat berada di dadanya membuat Malik semakin tidak
bisa berpikir. Kata-kata yang sudah dia siapkan entah pergi kemana. Indira
menggelungkan tangannya di pinggang Malik, seperti tidak ingin kehilangan
dirinya.
Sedangkan
Malik hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Mengatur detak jantungnya
agar tidak melompat dari tempatnya. Pada akhirnya Malik memutuskan untuk
memulai kejutannya. Dia menyingkirkan tangan Indira dan bersiap untuk pergi.
“kemana??”
“mau
ambil minum” Malik meninggalkan Indira sendiri di ruang tengah. Alibinya untuk
ke dapur sepertinya dipercaya oleh Indira. Dia melangkahkan kakinya ke taman
belakang dan menghampiri anggota keluarga lain yang sudah menunggu.
“aaaaahhhhh..
Maliiiiikkkk. Dimana?? Cepetan…”
Terdengar
suara teriakan Indira karena lampu yang tiba-tiba padam. Sementara Malik dan
yang lain mulai menyalakan lilin dan lampu tumblr yang sudah disiapkan. Malik
berharap rencananya hari ini akan berjalan dengan baik. Harapannya menjadi
semakin besar ketika mendengar Bu Mega yang berulang kali menggenggam
tangannya.
__ADS_1