Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH38- Ulang Tahun Indira 3


__ADS_3

“dimana??”


“tempat karaoke sama timnya juga. Kita mau makan


dulu, baru pulang.”


“Okay, ini persiapannya udah mau selesai.


Makanannya juga udah mateng semua. Tinggal nunggu kalian berdua. Jangan bolehin


dia makan banyak-banyak ya”


“ok”


Malik dengan cepat membalas pesan singkatnya. Dia


benar-benar melihat kebahagiaan di pancaran mata Indira. Indira yang bernyanyi


dan menari dengan riang semakin membuatnya jatuh cinta. Hari ini, malam ini,


tekadnya sudah bulat untuk melamarnya.


Dia berharap rencana rahasianya bersama Bu Mega


akan sukses malam ini. Kabarnya, gaun pengantin itu sudah datang pagi hari


tadi, saat dirumah hanya ada Bu Mega. Bahkan cincin yang akan diberikanpun


sudah tersimpan rapi didalam sakunya.


Malik sudah membayangkan bagaimana wajah Indira


ketika melihat gaun impiannya menjadi kenyataan. Dia juga sudah menyusun


kata-kata apa yang akan disampaikan pada saat melamar Indira tadi. Jantungnya


kembali berdegub kencang saat membayangkannya.


Malik memperhatikan Indira yang  melenguh dan membanting tubuh di sampingnya.


Meneguk air mineral yang ada dihadapannya. Tertawa dengan puas melihat tingkah


para gadis yang sedang bernyanyi riang itu. Malik mengusap keringat yang mulai


menetes di dahi Indira dan tersenyum lembut.


“capek??”


Indira hanya mengangguk pelan.


“Malik..”


“hemm??”


“Makasih ya. Dari dulu, kamu selalu ngasih aku


yang terbaik. Selalu nurutin apa kemauan aku. Selalu jaga aku. Padahal aku kan


nyebelin, aku juga udah bikin kamu sakit. Aku nyesel banget lik.. Aku janji, bakalan nyenengin


kamu seumur hidup aku. Apapun yang kamu mau bakal aku turutin. Makasih banyak ya.. pokonya  aku sayaaanggg


banget sama kamu”


Malik mengangguk dan menghapus air mata haru


Indira dengan lembut. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk dan menjawab pernyataan


itu. Tapi dia tidak ingin rencananya berantakan, jadi terpaksa hanya bisa diam


dan mengangguk.


Setelah puas bernyanyi, para gadis itu bergabung


dengan Malik dan Indira di sofa, dan mulai bercengkrama untuk menghabiskan


waktu yang hanya tersisa 35 menit itu.


“Guys, tolong fotoin kita dong..” Indira berdiri


dan memberikan ponselnya kepada Siska.


“naon sih Ndi, malu tau” Malik segera menolak


ajakan dari Indira karena sedikit merasa tidak nyaman. Tapi tetap saja,


penolakannya berujung sia-sia. Indira tetap memaksakan keinginannya.


Indira merangkul lengan Malik, tersenyum dengan

__ADS_1


bangganya seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah wanita paling


bahagia.Sedangkan Malik hanya


berdiri kaku tanpa melakukan apapun. Wajahnya pun datar tanpa ekspresi.


“Pak, sekali lagi yaa. Agak dempet dong. Bapak


kaya foto sama klien aja kaku begitu” ejek Siska


Malikpun mengalah dan menyunggingkan senyum di


bibirnya. Tangannya meraih bahu Indira agar terlihat tidak kaku.


“Satu, dua, ti.......”


Cup...


Bukannya terlihat tampan, kali ini wajah Malik


terlihat sangat terkejut karena Indira yang tiba-tiba mencium pipinya. Semua


bersorak karena akhirnya menyaksikan adegan yang begitu mereka dambakan.


Semuanya tertawa dan berteriak saking gembiranya, tak terkecuali Indira. Hanya


Malik yang masih membeku karena ciuman yang mendarat dengan tepat di pipinya.


Bukan-bukan. Tidak hanya mendarat di pipinya. Tapi rasa hangat itu turun sampai


ke hatinya.


Wajahnya mulai memerah, jantungnya berdegub


sangat kencang, kakinya gemetar, bibirnya membisu. Apa ternyata Indira juga memiliki perasaan yang sama


kepadanya?? Apakah ini pertanda bahwa Indira akan menerima


lamarannya nanti malam? Atau ciuman itu hanya sekedar ucapan terima kasih


Indira padanya. Entahlah, otak Malik seperti susah untuk diajak berpikir.


**


Malik merasakan lengan hangat yang melingkar di


satupun perkataan Indira yang terdengar di telinganya. Pikirannya hanya


terpusat pada ciuman Indira yang masih terasa panas di pipinya. Ingin rasanya


Maik segera memeluk dan menyatakan perasaanyang sesungguhnya.


Malik memasukkan motornya di halaman rumah Pak


Adrian. Dia hanya memperhatikan Indira yang membuka pintu rumah dan berjalan


kedalam.


“Ternyata masih sepi. Hei, Kamu mau kemana??” Malik


mulai tersadar karena Indira menepuk bahunya sedikit keras.


“ha?? Emm. Mau ke kamar. Aku tidur disini aja.


Capek kalau mau pulang kerumah”


“Oh. Yaudah. Aku mandi dulu, habis itu kita


nonton di ruang tengah yaa” Malik memperhatikan langkah Indira.


Gadis itu masuk kedalam kamarnya dengan santai


seperti tidak ada yang terjadi. Apa mungkin ciuman itu tidak berdampakapapun pada Indira?? Apa hanya


dirinya sendiri yang sedang merasa canggung malam ini. Kenapa gadis itu


bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Apa memang benar kalau itu hanya


ciuman biasa??


Malik


menggelengkan kepalanya berulang kali dan mulai menata ulang pikirannya agar


terfokus dengan lamaran yang sudah dia siapkan malam ini. Malik pergi ke arah


taman belakang untuk memeriksa apakah kejutan sudah disiapkan.


Ternyata

__ADS_1


di taman belakang sudah ada Pak Adi, Pak Adrian, Bu Mega dan Akbar yang sedang


menunggu. Meja tertata dengan rapi dan indah. Ada beberapa lilin yang sengaja


tidak dinyalakan. Ada buket bunga juga diatas meja. Mungkin ini adalah kali


pertama bagi keluarga ini melakukan makan malam romantis seperti ini. Akbar


benar-benar bekerja keras untuk membantunya.


Sebenarnya


ingin sekali Malik bercerita kepada Akbar tentang perasaannya. Tapi Malik tidak


bisa mempercayakan hal sepenting itu kepada Akbar yang suka keceplosan saat


berbicara dengan Indira.


Karena


mendengar Indira yang sudah keluar dari kamar mandi, Malik segera berlari ke


ruang tengah dan memposisikan dirinya seperti semula.


Dia


melihat Indira yang hanya menggunakan daster dan rambutnya yang terikat sedikit


berantakan. Kacamatanya kembali bertengger di hidung mancungnya. Gadis itu


berjalan dan bergabung bersama Malik di sofa.


“kok


cepet banget?? Terus kok Cuma pake daster??”


“Kan


mau nonton film, habis itu bobo. Emang aku harus pake gaun??” Jawab Indira


tanpa melihat wajah Malik.


“ndi…”


“hmm??”


Dengan santainya Indira menarik lengan Malik dan menjadikannya sebagai bantalan


kepala. Wajah Indira yang tepat berada di dadanya membuat Malik semakin tidak


bisa berpikir. Kata-kata yang sudah dia siapkan entah pergi kemana. Indira


menggelungkan tangannya di pinggang Malik, seperti tidak ingin kehilangan


dirinya.


Sedangkan


Malik hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat. Mengatur detak jantungnya


agar tidak melompat dari tempatnya. Pada akhirnya Malik memutuskan untuk


memulai kejutannya. Dia menyingkirkan tangan Indira dan bersiap untuk pergi.


“kemana??”


“mau


ambil minum” Malik meninggalkan Indira sendiri di ruang tengah. Alibinya untuk


ke dapur sepertinya dipercaya oleh Indira. Dia melangkahkan kakinya ke taman


belakang dan menghampiri anggota keluarga lain yang sudah menunggu.


“aaaaahhhhh..


Maliiiiikkkk. Dimana?? Cepetan…”


Terdengar


suara teriakan Indira karena lampu yang tiba-tiba padam. Sementara Malik dan


yang lain mulai menyalakan lilin dan lampu tumblr yang sudah disiapkan. Malik


berharap rencananya hari ini akan berjalan dengan baik. Harapannya menjadi


semakin besar ketika mendengar Bu Mega yang berulang kali menggenggam


tangannya.

__ADS_1


__ADS_2