
Rombongan keluarga Pak Adi, Pak Adrian dan Malik sedang
diperjalanan menuju villa milik Pak Adi. Kali ini mereka tidak membawa mobil
besar seperti sebelum-sebelumnya. Mereka pergi hanya mengendarai mobil pribadi
milik Pak Adi.
Mereka berangkat sore hari, karena pagi harinya
para orang tua masih harus mengerjakan beberapa urusan pekerjaan yang harus
ditinggalkan beberapa hari kedepan.
Di perjalanan, sudah mulai terukir senyum di
masing-masing bibir mereka. Mencoba melupakan mimpi buruk yang baru saja
terjadi.
Indira, adalah anggota yang paling antusias dalam
perjalanan kali ini. Entah memang dia bahagia dengan liburan ini atau sengaja
ingin menutupi kesedihan yang ada pada dirinya. Tidak ada yang tau.
Baru saja mobil berjalan, sudah mulai terdengar
kehebohan. Tebakan-tebakan receh mulai dimainkan oleh para remaja ini.
PLETAKKKK
“Ahhhh.. Jangan kenceng kenceng dong. Kamu tega
banget sama perempuan. Maahh, Akbar tuh mahhh. Lihat kan aura kecantikan Indi
jadi berkurang kalau merah gini” Indira menggosok-gosok keningnya yang memerah
karena mendapat sentilan dari Akbar.
“haha siapa suruh kamu kalah. Lihat lik,
keningnya merah banget” Akbar tertawa puas melihat kekalahan Indira. Diantara
mereka bertiga, biasanya Akbar lah yang paling payah dalam permainan ini dan
Malik yang paling jago. Tapi kali ini, Akbar seperti mendapat pertolongan dari
dewi fortuna dan membuatnya berkali-kali melayangkan sentilan di kening
lawannya.
“haha. Katanya ratu tebakan, tapi jawab gitu
aja gabisa.” Ejek Malik
“hahahahaha, bener banget lik. Toss duluu donggg”
Akbar dan Malik tertawa sambil menepukkan telapak tangannya.
“Maaah, lihat mereka. Masa ga mau ngalah sih sama
Indi” Bu Mega hanya tersenyum dan mengusap pelan pipi putri kesayangannya itu.
Sedikit ada rasa haru dan bahagia didalam hati Bu
Mega. Dalam semalam, akhirnya mereka bertiga bisa mengikhlaskann kepergian Bu
Sri. Dia yakin, pasti dihati anak-anak itu masih tersisa duka yang mendalam.
Tapi kepandaian anak-anak untuk menutupinya membuat hati Bu Mega sedikit lega.
Bu Mega berharap, mereka bertiga akan tetap ceria seperti sekarang, apapun
masalah yang sedang mereka hadapi.
Sesampainya di villa, mereka langsung memindahkan
barang bawaan ke kamar masing-masing. Setelah barang-barang selesai di rapikan,
__ADS_1
Malik, Indira dan Akbar langsung duduk di ruang keluarga dan merencanakan
kegiatan mereka malam ini. Tidak berselang lama, Malik dan Akbar pergi ke kamar
dan mengambil sebuah kasur lipat besar. Sedangkan Indira mengambil beberapa
bantal dan selimut dibantu oleh Bu Elis, asisten rumah tangga di villa itu.
“Loh, ngapain kok kasurnya dibawa kesini??” Tanya
Pak Adi
“Nanti, kita bertiga mau bobo disini pi. Kita mau
nonton film horor sampe pagi” Jelas Indira sambil merapikan kasurnya.
“Yasudah terserah kalian, pokoknya jangan
berisik. Sekarang kita makan malam dulu ayo..”
Malik, Indira dan Akbar segera berdiri mengikuti
Pak Adi ke meja makan. Disana sudah ada Bu Mega dan Pak Adrian yang sedang
membantu menyiapkan makan malam. Mereka langsung duduk diposisinya
masing-masing. Seperti biasa, Indira duduk disebelah Malik dan dihadapan Akbar,
sedangkan Pak Adi duduk di kursi utama. Disampingnya ada Pak Adrian berhadapan
dengan Bu Mega. Ketika makan malam baru dimulai, Pak Adi mulai membuka
pembicaraan untuk memecah keheningan.
“emmm, Malik..”
“Iya pi.” Malik segera meletakkan sendoknya dan
menoleh ke arah Pak Adi.
“Sambil makan aja gapapa nak, santai aja. Kamu
“Malik baik-baik aja kok pi.”
“mmm jadi gini nak. Ibu kamu pernah pesen sama
papi, mama sama papa kalian. Kalau beliau berharap bisa menjaga kamu.... Nah
maksud papi gini. Gimana kalau Malik tinggal sama papi. Jadi kan Akbar bisa
nemenin kamu. Papi juga sudah janji sama ibu kamu, papi bakal biayain sekolah
kamu sampai lulus universitas. Kamu mau kan nak??” Ucapan Pak Adi membuat
mereka semua menghentikan aktivitas makan malamnya. Semua mata tertuju pada Pak
Adi.
“Saya setuju sama papi kalian. Kalau tinggal
disana, setidaknya ada Akbar yang bisa nemenin kamu Malik” timpal pak Adrian.
Akbar dan Bu Mega mengangguk tanda persetujuan mereka. Lain hal nya dengan
Indira.
“Neng ga setuju pi..” Indira mengacungkan tangan
sambil mengerucutkan bibirnya
“Kenapa ga setuju nak??”
“Kalau Malik tinggal dirumah papi, terus rumahnya
Malik gimana?? Kalau gaada yang tinggalin, nanti bakalan ditinggali hantu pi.
Lagian kan ga Cuma Akbar yang bisa nemenin Malik. neng juga bisa. Kalau Malik
dirumah papi, neng jadi kesusahan pas mau ketemu sama Malik. Enggak. Pokoknya
__ADS_1
neng ga setuju”
Mendengar penolakan dari Indira bu Mega tersenyum
dan ikut membuka suara.
“Indi, rumah papi kamu itu jaraknya ga jauh-jauh
banget dari rumah kita, ga sampe 10 menit jalan kaki juga udah sampai. Kamu
itu, kalo lagi kumpul berantem, tp kalo gaada nyariin”
“bukan gitu maksud neng maahhh. Aahh. Kok mama ga
pengertian banget sih. Kan neng juga pengen bisa tinggal serumah sama Malik.
Neng bakalan kesepian kalo Malik tinggal sama papi maaahhh” rengek Indira.
Melihat anaknya yang merengek membuat Pak Adrian gemas dan berdiri
menghampirinya. Pak Adrian berdiri dibelakang Indira dan memegang bahu anaknya.
“hahaha, gini loh anakku sayang. Sebenernya, papa
itu sudah lama menyiapkan kamar untuk Malik di rumah kita, kamu tau kan kamar
di sebelah ruang tv. Itu sebenernya buat Malik, sudah ada perabotnya juga. Tapi
papa rasa, Malik lebih cocok tinggal sama Akbar. Jadi gini aja. Gimana kalau
weekday Malik tinggal dirumah papi, nanti weekend Malik tidur dirumah papa.
Gimana Malik??” Pak Adrian berganti menatap Malik.
“Iya pa. Malik ikut apa kata papa sama papi aja.
Tinggal dimanapun ga masalah buat Malik. Terus rumah Ibu gimana??”. Tak
disangka, Malik menerima tawaran para orang tua dengan senyuman khasnya.
Awalnya para orang tua sedikit khawatir kalau Malik akan menolak tawaran ini.
Tapi ternyata Malik sudah cukup dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan.
Pak Adi memberikan ide untuk mengontrakkan rumah
milik Ibu Malik, dan uangnya bisa digunakan ketika Malik menikah nanti.
Ternyata Malik sedikit keberatan dengan ide yang
diberikan Pak Adi. Bukan karena mengontrakkan rumah ibunya, tapi lebih karena
hasil yang diperoleh dari rumah itu. Kenapa harus digunakan untuk biaya
menikah?? Kenapa tidak Malik gunakan saja untuk membayar biaya sekolah Malik.
Setelah mendapat penjelasan, bahwa Pak Adi lah
yang akan membiayai sekolah Malik sampai Universitas, dengan berat hati Malik
akhirnya setuju untuk mengontrakkan rumahnya. Tapi dengan satu syarat. Malik
meminta agar dia dipekerjakan, entah di pabrik atau outlet roti milik papinya
setiap weekend. Apabila tidak mendapat ijin, Malik mengancam untuk tetap tinggal
dirumahnya sendiri dan berhenti sekolah agar bisa bekerja.
Mendengar
ancaman dari Malik membuat Pak Adi terpaksa menganggukan kepalanya. Bagi para
orang tua, pendidikan dan kesehatan Malik saat ini menjadi yang utama.
Setelah puas mendengar jawaban dari para orang
tua, mereka pun melanjutkan makan malam dengan suasana yang hangat. Sesekali
terlihat Akbar yang mulai menggoda Indira dengan mengambil makanan yang ada di
__ADS_1
piring Indira.