
Malik menyandarkan punggungnya di kursi.
Menikmati secangkir susu coklat hangat dan indahnya bintang yang bertaburan
diatas sana. Matanya menerawang keatas memikirkan sesuatu.
Kali ini perhatiannya hanya terpusat pada satu
hal. Entah ini hanya firasat atau memang pertanda.
Saat sedang berbaur dengan lamunannya, ada tangan
hangat yang menyentuh pundaknya, membuat apa yang sedang dia pikirkan tercecer
berantakan.
“ngapain ngelamun disini. Galau?” Akbar datang
dengan sebuah es kopi yang ada di tangannya.
“eh bar. Aku kaya aneh deh”
“hmm? Aneh? Aneh apa? Kamu jatuh cinta?”
“bukan. Indi”
“jatuh cinta sama Indi maksud kamu?”
“bukan gitu. Aku agak aneh aja sama sikap Indi
beberapa hari ini.”
“aneh gimana maksud kamu??”
Malik mulai menceritakan kecurigaannya pada Indira.
Sudah 3 hari ini, Indira terus bertanya kepada Malik tentang villa. Bahkan
Indira juga bertanya bagaimana cara memesan villa. Tapi ketika Malik bertanya
apa penyebab Indira bertanya hal-hal itu, Indira selalu mencari-cari alasan.
Alasannya pun berubah-ubah. Dan yang paling mencurigakan bagi Malik adalah,
kemarin Malik menemukan secarik kertas berupa surat dokter palsu untuk hari
Kamis depan.
Saat Malik meminta penjelasan dari Indira, gadis
itu hanya berkata bahwa surat dokter itu adalah milik temannya. Sungguh alasan
yang tidak masuk akal.
Malik berpikir bahwa Indira sedang berbohong
kepadanya. Biasanya, Indira tidak akan bisa menyimpan rahasia darinya, tapi
kali ini Indira benar-benar menutup rapat mulutnya.
Ketika mendengar penjelasan dari Malik, langsung
muncul satu nama di otaknya. Fajar. Pasti Fajar yang membuat Indira menanyakan
hal-hal bodoh seperti itu.
“Hari Kamis bolos. Kita buntutin Indira” Ajak
Akbar tegas.
Bukannya tidak percaya kepada Indira. Malik dan
Akbar hanya tidak ingin terjadi hal buruk kepada satu-satunya wanita diantara
mereka.
**
Malik dan Akbar benar-benar membolos sekolah hari
ini. Mereka sudah ada di dekat rumah Indira. Alih-alih menggunakan mobilnya
yang berwarna merah, Akbar lebih memilih meminjam mobil papinya yang berwarna
hitam. Kalau menggunakan mobilnya sendiri, dengan sekali lihat saja Indira
pasti sudah tau kalau dia sedang dibuntuti.
Pukul 05.35 terlihat mobil Pak Adrian
__ADS_1
meninggalkan rumah. Tidak berselang lama, Bu Mega pergi ke minimarketnya
menaiki ojek langganan.
Dengan sabar Malik dan Akbar menunggu di dalam
mobil. Mengintai Indira yang masih belum saja keluar dari rumah itu. Harus
berapa lama lagi mereka menunggu. Apakah pikiran mereka salah??
Sudah hampir 2 jam mereka tetap ditempat, tidak
ada tanda-tanda dari Indira. Akbar sudah hampir menyerah akan hal ini. Tapi
Malik meyakinkan Akbar agar bersabar sedikit lebih lama.
Benar saja dugaan Malik, Fajar datang menggunakan
motor maticnya. Semangat mereka langsung kembali berkobar melihat Indira keluar
dari rumahnya dengan menggunakan ransel. Kemanakah Fajar membawa Indira pergi?
Motor itu perlahan pergi meninggalkan
perkampungan, dengan hati-hati Akbar menyalakan mesin dan mengikuti kemanapun
mereka akan pergi.
Motor itu berhenti di sebuah rumah makan kecil.
Terlihat Fajar dan Indira memesan makanan disana. Hal itu membuat Malik dan
Akbar tersadar bahwa perut mereka juga sudah mulai berbunyi minta diberi makan.
Kali ini Akbar memasang masker, topi dan hoodienya. Dia keluar dari mobil
dengan santai agar tidak mencurigakan. Mampir ke minimarket kecil dan membeli
beberapa potong roti dan susu coklat untuk sarapannya bersama Malik.
“gimana??” Tanya Akbar sembari menyerahkan roti
dan susu kepada Malik.
“masih makan.”
“untung kamu cerita lik. Dari sini aja udah
apa enggak, katanya gausah. Dia mau bareng sama papa.”
“huh, dia kemarin telepon aku bar. Katanya hari
ini dia mau bolos sama Renata.”
“Sejak kapan Indira pinter ngebohong kaya gini.
Mereka berdua terlalu larut dalam kekecewaan
hingga hampir melewatkan Indira yang sudah beranjak dari tempat itu. Akbar
menancap pedal gas mobilnya sedikit lebih kencang. Hampir saja kehilangan jejak
Indira.
Sudah 30 menit mereka membuntuti Indira. Tapi
motor itu masih tetap melaju.
Semakin lama, motor itu semakin menjauh dari
pusat kota Bandung. Bahkan keluar dari Bandung. Motor itu mengarah ke Kota lain.
Dan apa yang sedang mereka lihat?? Fajar membawa Indira masuk kedalam villa.
Villa siapa sebenarnya itu.
Malik sudah hampir berlari keluar dari mobil
melihat Fajar merangkul Indira dan membawanya masuk kedalam villa. Tapi tangan
Akbar menahannya. Akbar sedang mencoba berpikiran positive. Mungkin saja villa itu
adalah milik keluarga Fajar.
“aaaaaaaakhhhhh”
***
“waahh a, villa nya bagus banget. Tapi kok sepi??
__ADS_1
Katanya orang tua aa mau kesini juga?? Belum pada dateng ya??" Indira
berjalan perlahan sembari melihat-lihat apa yang ada didalam villa itu.
Indira dijanjikan oleh Fajar untuk berlibur di
villa bersama dengan orang tuanya. Tapi kondisi villa itu sepi, seperti tidak
ada tanda-tanda kehidupan lain.
Bibir Fajar tersungging tipis, dia memicingkan
matanya dan mendekat kearah Indira. Mengarahkan bibirnya ke telinga Indira,
sengaja berbisik dan bernafas dengan berat membuat bulu kuduk Indira berdiri.
“Kalau orang tua aku ga dateng gimana??”
“Maksud aa? Ya terus ngapain aku ikut kesini
kalau Cuma berdua aja”
Merasa ada yang aneh, Indira mulai melangkahkan
kakinya ke belakang. Berusaha menghindari Fajar. Semakin cepat langkah Indira,
semakin cepat pula Fajar mengejarnya. Dengan sigap Fajar menarik lengan Indira
dan menjatuhkan gadis itu keatas sofa. Indira mulai gemetar melihat Fajar
perlahan mendekatkan tubuh ke arahnya.
Air mata mulai menggenang di sudut mata Indira.
Apa yang ingin Fajar lakukan kepadanya. Kenapa pria yang sangat lembut bisa
berubah menjadi seperti ini.
“Aa mau apa?? Kok jadi gini? Indi takut a. Indi
mau pulang aja” suara Indira lirih, nafasnya tercekat, bulir air mata mulai
menetes melalui ujung matanya.
“Takut apa? Kamu ga usah takut. Aa ga bakalan
kasar kok. Kamu tinggal merem aja beres. Kita seneng-seneng dulu disini
sebentar yaa” Tubuhnya semakin terhimpit, Tangan Fajar yang membelai pipi Indira
dengan lembut semakin membuat gadis itu ketakutan dan tidak bisa bergerak.
Fajar mendekatkan bibirnya ke bibir Indira berusaha mencium gadis polos itu,
tangannya bergerak perlahan memegang dada Indira
“aaaaaaakhhhhhh”
BRRUUUUUKKKKKKK
Fajar tersungkur di atas lantai. Masih belum
berdiri, wajah Fajar sudah dibumbui dengan beberapa pukulan dari tangan Malik. darah
segar mulai menghiasi beberapa titik wajah manis Fajar. Tidak hanya itu,
buku-buku tangan Malik juga membiru dan lecet karena pukulan keras yang dia
hadiahkan kepada Fajar.
Ketika Malik masih sibuk dengan Fajar, Dengan
segera Akbar mengangkat Indira, memeluknya dengan erat. Sementara tangis Indira
semakin pecah karena melihat kehadiran Malik dan Akbar.
Setelah puas melampiaskan amarahnya kepada laki-laki
brengsek itu, Malik berdiri dan merapikan pakaiannya lagi. Wajahnya masih merah
padam. Dia begitu kecewa dengan apa yang sudah Fajar lakukan kepada Indira.
Harusnya dari awal, dia jangan pernah memberi ijin Indira untuk berhubungan
dengan lelaki busuk seperti Fajar.
“Jangan sakiti dia. Atau akibatnya akan seperti
ini”
__ADS_1
Malik berjalan meninggalkan mereka semua yang ada
disana,bahkan tanpa menoleh kepada Indira yang sedang menangis ketakutan.