Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH25- JANGAN SAKITI DIA


__ADS_3

Malik menyandarkan punggungnya di kursi.


Menikmati secangkir susu coklat hangat dan indahnya bintang yang bertaburan


diatas sana. Matanya menerawang keatas memikirkan sesuatu.


Kali ini perhatiannya hanya terpusat pada satu


hal. Entah ini hanya firasat atau memang pertanda.


Saat sedang berbaur dengan lamunannya, ada tangan


hangat yang menyentuh pundaknya, membuat apa yang sedang dia pikirkan tercecer


berantakan.


“ngapain ngelamun disini. Galau?” Akbar datang


dengan sebuah es kopi yang ada di tangannya.


“eh bar. Aku kaya aneh deh”


“hmm? Aneh? Aneh apa? Kamu jatuh cinta?”


“bukan. Indi”


“jatuh cinta sama Indi maksud kamu?”


“bukan gitu. Aku agak aneh aja sama sikap Indi


beberapa hari ini.”


“aneh gimana maksud kamu??”


Malik mulai menceritakan kecurigaannya pada Indira.


Sudah 3 hari ini, Indira terus bertanya kepada Malik tentang villa. Bahkan


Indira juga bertanya bagaimana cara memesan villa. Tapi ketika Malik bertanya


apa penyebab Indira bertanya hal-hal itu, Indira selalu mencari-cari alasan.


Alasannya pun berubah-ubah. Dan yang paling mencurigakan bagi Malik adalah,


kemarin Malik menemukan secarik kertas berupa surat dokter palsu untuk hari


Kamis depan.


Saat Malik meminta penjelasan dari Indira, gadis


itu hanya berkata bahwa surat dokter itu adalah milik temannya. Sungguh alasan


yang tidak masuk akal.


Malik berpikir bahwa Indira sedang berbohong


kepadanya. Biasanya, Indira tidak akan bisa menyimpan rahasia darinya, tapi


kali ini Indira benar-benar menutup rapat mulutnya.


Ketika mendengar penjelasan dari Malik, langsung


muncul satu nama di otaknya. Fajar. Pasti Fajar yang membuat Indira menanyakan


hal-hal bodoh seperti itu.


“Hari Kamis bolos. Kita buntutin Indira” Ajak


Akbar tegas.


Bukannya tidak percaya kepada Indira. Malik dan


Akbar hanya tidak ingin terjadi hal buruk kepada satu-satunya wanita diantara


mereka.


**


Malik dan Akbar benar-benar membolos sekolah hari


ini. Mereka sudah ada di dekat rumah Indira. Alih-alih menggunakan mobilnya


yang berwarna merah, Akbar lebih memilih meminjam mobil papinya yang berwarna


hitam. Kalau menggunakan mobilnya sendiri, dengan sekali lihat saja Indira


pasti sudah tau kalau dia sedang dibuntuti.


Pukul 05.35 terlihat mobil Pak Adrian

__ADS_1


meninggalkan rumah. Tidak berselang lama, Bu Mega pergi ke minimarketnya


menaiki ojek langganan.


Dengan sabar Malik dan Akbar menunggu di dalam


mobil. Mengintai Indira yang masih belum saja keluar dari rumah itu. Harus


berapa lama lagi mereka menunggu. Apakah pikiran mereka salah??


Sudah hampir 2 jam mereka tetap ditempat, tidak


ada tanda-tanda dari Indira. Akbar sudah hampir menyerah akan hal ini. Tapi


Malik meyakinkan Akbar agar bersabar sedikit lebih lama.


Benar saja dugaan Malik, Fajar datang menggunakan


motor maticnya. Semangat mereka langsung kembali berkobar melihat Indira keluar


dari rumahnya dengan menggunakan ransel. Kemanakah Fajar membawa Indira pergi?


Motor itu perlahan pergi meninggalkan


perkampungan, dengan hati-hati Akbar menyalakan mesin dan mengikuti kemanapun


mereka akan pergi.


Motor itu berhenti di sebuah rumah makan kecil.


Terlihat Fajar dan Indira memesan makanan disana. Hal itu membuat Malik dan


Akbar tersadar bahwa perut mereka juga sudah mulai berbunyi minta diberi makan.


Kali ini Akbar memasang masker, topi dan hoodienya. Dia keluar dari mobil


dengan santai agar tidak mencurigakan. Mampir ke minimarket kecil dan membeli


beberapa potong roti dan susu coklat untuk sarapannya bersama Malik.


“gimana??” Tanya Akbar sembari menyerahkan roti


dan susu kepada Malik.


“masih makan.”


“untung kamu cerita lik. Dari sini aja udah


apa enggak, katanya gausah. Dia mau bareng sama papa.”


“huh, dia kemarin telepon aku bar. Katanya hari


ini dia mau bolos sama Renata.”


“Sejak kapan Indira pinter ngebohong kaya gini.


Mereka berdua terlalu larut dalam kekecewaan


hingga hampir melewatkan Indira yang sudah beranjak dari tempat itu. Akbar


menancap pedal gas mobilnya sedikit lebih kencang. Hampir saja kehilangan jejak


Indira.


Sudah 30 menit mereka membuntuti Indira. Tapi


motor itu masih tetap melaju.


Semakin lama, motor itu semakin menjauh dari


pusat kota Bandung. Bahkan keluar dari Bandung. Motor itu mengarah ke Kota lain.


Dan apa yang sedang mereka lihat?? Fajar membawa Indira masuk kedalam villa.


Villa siapa sebenarnya itu.


Malik sudah hampir berlari keluar dari mobil


melihat Fajar merangkul Indira dan membawanya masuk kedalam villa. Tapi tangan


Akbar menahannya. Akbar sedang mencoba berpikiran positive. Mungkin saja villa itu


adalah milik keluarga Fajar.


“aaaaaaaakhhhhh”


***


“waahh a, villa nya bagus banget. Tapi kok sepi??

__ADS_1


Katanya orang tua aa mau kesini juga?? Belum pada dateng ya??" Indira


berjalan perlahan sembari melihat-lihat apa yang ada didalam villa itu.


Indira dijanjikan oleh Fajar untuk berlibur di


villa bersama dengan orang tuanya. Tapi kondisi villa itu sepi, seperti tidak


ada tanda-tanda kehidupan lain.


Bibir Fajar tersungging tipis, dia memicingkan


matanya dan mendekat kearah Indira. Mengarahkan bibirnya ke telinga Indira,


sengaja berbisik dan bernafas dengan berat membuat bulu kuduk Indira berdiri.


“Kalau orang tua aku ga dateng gimana??”


“Maksud aa? Ya terus ngapain aku ikut kesini


kalau Cuma berdua aja”


Merasa ada yang aneh, Indira mulai melangkahkan


kakinya ke belakang. Berusaha menghindari Fajar. Semakin cepat langkah Indira,


semakin cepat pula Fajar mengejarnya. Dengan sigap Fajar menarik lengan Indira


dan menjatuhkan gadis itu keatas sofa. Indira mulai gemetar melihat Fajar


perlahan mendekatkan tubuh ke arahnya.


Air mata mulai menggenang di sudut mata Indira.


Apa yang ingin Fajar lakukan kepadanya. Kenapa pria yang sangat lembut bisa


berubah menjadi seperti ini.


“Aa mau apa?? Kok jadi gini? Indi takut a. Indi


mau pulang aja” suara Indira lirih, nafasnya tercekat, bulir air mata mulai


menetes melalui ujung matanya.


“Takut apa? Kamu ga usah takut. Aa ga bakalan


kasar kok. Kamu tinggal merem aja beres. Kita seneng-seneng dulu disini


sebentar yaa” Tubuhnya semakin terhimpit, Tangan Fajar yang membelai pipi Indira


dengan lembut semakin membuat gadis itu ketakutan dan tidak bisa bergerak.


Fajar mendekatkan bibirnya ke bibir Indira berusaha mencium gadis polos itu,


tangannya bergerak perlahan memegang dada Indira


“aaaaaaakhhhhhh”


BRRUUUUUKKKKKKK


Fajar tersungkur di atas lantai. Masih belum


berdiri, wajah Fajar sudah dibumbui dengan beberapa pukulan dari tangan Malik. darah


segar mulai menghiasi beberapa titik wajah manis Fajar. Tidak hanya itu,


buku-buku tangan Malik juga membiru dan lecet karena pukulan keras yang dia


hadiahkan kepada Fajar.


Ketika Malik masih sibuk dengan Fajar, Dengan


segera Akbar mengangkat Indira, memeluknya dengan erat. Sementara tangis Indira


semakin pecah karena melihat kehadiran Malik dan Akbar.


Setelah puas melampiaskan amarahnya kepada laki-laki


brengsek itu, Malik berdiri dan merapikan pakaiannya lagi. Wajahnya masih merah


padam. Dia begitu kecewa dengan apa yang sudah Fajar lakukan kepada Indira.


Harusnya dari awal, dia jangan pernah memberi ijin Indira untuk berhubungan


dengan lelaki busuk seperti Fajar.


“Jangan sakiti dia. Atau akibatnya akan seperti


ini”

__ADS_1


Malik berjalan meninggalkan mereka semua yang ada


disana,bahkan tanpa menoleh kepada Indira yang sedang menangis ketakutan.


__ADS_2