
“Gausah pura-pura bodoh. Kita putus. Jangan
ngehubungin aku lagi”
Akbar meninggalkan Anggi yang masih terdiam di
taman dengan kesal. Ternyata selama ini dia memang belum benar-benar memahami
seperti apa Anggi yang sebenarnya. Anggi tidak sepolos seperti yang ia
pikirkan. Banyak rahasia yang tidak ia ketahui selama ini. Merokok,
mabuk-mabukan, siapa Fajar sebenarnya.. Ternyata seperti inikah kekasih yang
selama ini dia cintai.
Bahkan gadis itu juga yang menyarankan Fajar
untuk berperilaku buruk pada Indira. Terkuak sudah kebusukan Anggi selama ini.
Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain memutuskan hubungannya dengan
Anggi.
Kali ini emosinya sudah berada di atas kepalanya.
Seandainya saat ini dia bertemu dengan Fajar, mungkin dia sudah membunuh lelaki
itu.
Akbar masuk kedalam kamar rawat Malik, menutup
pintu dengan kasar, dan membanting tubuhnya diatas sofa. Dia pura-pura tidur
untuk menyembunyikan semua hal yang baru terjadi. Membuat yang ada di dalam
ruangan sedikit heran.
“kamu kenapa bar??” Tanya Indira sembari berjalan
mendekat.
“gapapa kok. Kamu ga capek?? Dari kemarin kamu
belum istirahat ndi. Aku telepon supirnya papi ya, biar jemput kamu. Kamu
istirahat dulu dirumah. Besok kesini lagi.” Akbar duduk dan menampilkan wajah
palsunya dengan tersenyum manis dihadapan Indira. Dia berbicara dengan nada
yang paling ramah agar bisa menutupi perasaannya saat ini.
“Terus Malik gimana??”
“Aku kan ada disini. Nanti kalau mama sama papa
dateng aku langsung pulang kok. Kamu pulang dulu aja”
Melihat Indira mengangguk sebagai tanda
persetujuan, Akbar segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi supir
untuk menjemput Indira.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk supir datang
ke rumah sakit dan membawa Indira pulang ke kediaman Pak Adi.
Akbar kembali merebahkan dirinya diatas sofa
sambil melenguh. Tangannya memainkan ponsel seakan menutupi kondisinya.
Tapi ternyata pasien yang sedang terbaring diatas ranjang
memperhatikan gerak-gerik aneh Akbar sedari tadi.
“Kamu kenapa??”
“Gapapa lik. Cuma pusing, kamu gimana? Udah
mendingan rasanya??” Akbar berusaha menyembunyikan perasaan semampunya. Tapi
ternyata Malik lebih peka dari apa yang Akbar kira.
Akbar terus mendapat desakan dari Malik mengenai
hal apa yang membuat dia tidak konsentrasi setelah kedatangan Anggi. Bahkan Anggi juga pergi tanpa berpamitan kepada mereka.
__ADS_1
Pada awalnya, Akbar sudah berencana untuk
menyembunyikan hal ini dari orang lain. Dia hanya akan bicara kepada papinya,
agar papinya bisa membantu untuk membawa kasus Malik ke ranah hukum. Akbar akan
mencari bukti terlebih dahulu sebelum benar-benar melaporkan Fajar ke polisi.
Tapi ternyata, Malik yang mendesak membuat Akbar
harus berbicara yang sejujurnya.
Akbar menyampaikan beberapa hal yang baru saja
dia dengar. Siapakah Fajar dan Anggi sebenarnya. Dia juga menyampaikan bahwa
dalang dibalik kejadian yang menimpa Indira juga kekasihnya. Akbar berusaha
mengalihkan perhatian Malik, agar tidak membuatnya mengakui siapa yang
mencelakai Malik. Tapi sia-sia saja.
“Ga usah disembunyiin bar. Aku tau”
“Tau apa??”
“Yang nabrak aku Fajar. Aku sempet liat siapa
yang ada didalem mobil itu. Tapi tolong jangan bilang Indi ya. Aku takut dia semakin ngerasa bersalah. Jadi biarin aja
gapapa, jangan dilaporin ke polisi”
Akbar ternganga mendengar ucapan Malik. Bagaimana
bisa Malik menyimpan rahasia ini sendirian. Dan apa itu tadi?? Malik melarang
dia untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Ini adalah hal yang
mustahil bagi Akbar. Rasanya saja sudah tidak sabar melihat lelaki busuk itu
mendekam dipenjara. Tapi Malik malah melarangnya.
Dia masih tidak terima kalau harus melihat Fajar
berkeliaran dengan bebas disekitar mereka. Saat ini Malik yang menjadi korban.
Akbar sudah memutuskan hubungannya dengan Anggi. Pasti mereka akan semakin
murka dan bisa melakukan hal buruk lainnya.
Dengan berbagai cara, Akbar meyakinkan Malik
bahwa hal ini tetap tidak bisa dibiarkan. Pada akhirnya Malik setuju untuk
menceritakan hal ini pada Pak Adi, dan meminta pendapat terbaik dari beliau sebagai orang yang lebih dewasa.
**
Malam itu, tidak seperti rencana awal. Pak Adi
mengambil alih tugas Bu Mega untuk menjaga Malik di rumah sakit. Dengan
antusias, Akbar menceritakan semua yang terjadi kepada mereka beberapa bulan
ini. Termasuk percobaan pemerkosaan Indira beberapa waktu lalu.
Pak Adi hanya bisa menggelengkan kepala mendengar
cerita dari anak-anaknya. Entah apa yang harus dia katakan menghadapi anak muda
jaman sekarang yang dengan mudahnya bertindak kriminal. Tanpa harus memikirkan
resiko yang akan ditanggung.
Setelah terdiam beberapa saat, Pak Adi memutuskan
untuk melaporkan kasus ini ke ranah hukum secara rahasia. Hanya mereka bertiga
yang akan mengetahuinya. Pak Adi akan berusaha semaksimal mungkin agar Fajar
tidak mendapat hukuman yang terlalu berat. Memang benar keluarga mereka sangat
sakit hati dengan perlakuan Fajar. Tapi beliau tidak ingin jika kelak
dikemudian hari Fajar akan kembali membahayakan nyawa anak-anaknya. Tujuan Pak
Adi melaporkan Fajar hanya sekedar ingin memberikan efek jera.
__ADS_1
Bagi Pak Adi, kecelakaan yang menimpa Malik sudah
menjadi mimpi buruk. Dia merasa gagal untuk menjadi orang tua angkat Malik.
melihat tubuhnya yang lemah, kakinya yang terbalut gips, dan tangannya yang
tergantung membuat hatinya semakin terluka.
Mulai terbesit di pikiran Pak Adi mengenai
cita-cita Malik selama ini. Dari kecil, Malik sudah berniat untuk menjadi
polisi. Tapi dengan kondisinya saat ini, apakah bisa anaknya masuk ke akademi
kepolisian. Untuk berlari kencang saja mungkin Malik sudah tidak bisa. Apalagi
menjadi polisi. Membayangkannya saja sudah membuat Pak Adi begitu merasa bersalah.
“Malik. maafin papi ya nak”
“maaf kenapa pi??”
“Papi sudah gagal menjaga kamu. Papi gabisa
nepatin janji ke Ibu kamu.” Air mata mulai menggenang di sudut mata Pak
Adi. Dengan bantuan Akbar, Malik berusaha duduk dan merengkuh tangan Pak Adi.
Pak Adi merasakan kehangatan ketika Malik menyentuh tangannya.
“Pi, jangan ngomong gitu. Papi adalah orang tua
terhebat buat Malik sama Akbar. Meskipun Malik bukan anak kandung papi, tapi
papi ga pernah ngebedain kami. Bahkan papi ngasih semua fasilitas yang mungkin
gabisa dikasih sama orang tua kandung Malik pi. Malik bersyukur punya papi. Jadi jangan
ngomong gitu lagi”
Pipi tua Pak Adi membasah karena air mata itu.
Hatinya semakin sendu mendengar ucapan Malik.
“Nak, papi akan mencari cara supaya kamu tetap
bisa masuk akademi kepolisian ya”
“Pi, Malik sudah cacat. Aku ga akan bisa jadi
polisi. Tapi papi tenang aja, aku sudah ikhlas kok pi. Mungkin ini jalannya
buat Malik.” Jawab Malik dengan tulus.
Pak Adi menyarankan agar kelak Malik bisa kuliah
di jurusan Administrasi bisnis agar bisa membantu Akbar menjalankan perusahaan
rotinya. Pak Adi juga menilai Malik sudah mengetahui seluk beluk perusahaan
dengan baik karena selama ini dia menjadi pekerja paruh waktu disana.
Tapi dengan segera ide Pak Adi mendapat penolakan.
Ternyata sedari kecil Malik mempunyai keinginan lain terlepas dari menjadi
polisi. Setelah mendengar penjelasan dari Malik yang ternyata memilih untuk
kuliah dijurusan hukum dan menjadi pengacara, air mata dukanya berubah menjadi
air mata haru.
Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya
yang mulai tua. Dia merasa bersyukur, ternyata anak-anaknya sudah bisa bersikap
dewasa dalam menghadapi masalah. Terutama Malik. Ditengah kondisinya yang yatim
piatu, Malik bisa berjuang dan hidup dengan semangat.
Pak Adi merengkuh bahu Malik dan berusaha
memeluknya dengan lembut.
“Papi akan mendukung apapun yang kamu mau nak.
Kamu juga anak papi. Papi sayang sama kamu”
__ADS_1