Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH29- Masa depan Malik


__ADS_3

“Gausah pura-pura bodoh. Kita putus. Jangan


ngehubungin aku lagi”


Akbar meninggalkan Anggi yang masih terdiam di


taman dengan kesal. Ternyata selama ini dia memang belum benar-benar memahami


seperti apa Anggi yang sebenarnya. Anggi tidak sepolos seperti yang ia


pikirkan. Banyak rahasia yang tidak ia ketahui selama ini. Merokok,


mabuk-mabukan, siapa Fajar sebenarnya.. Ternyata seperti inikah kekasih yang


selama ini dia cintai.


Bahkan gadis itu juga yang menyarankan Fajar


untuk berperilaku buruk pada Indira. Terkuak sudah kebusukan Anggi selama ini.


Tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain memutuskan hubungannya dengan


Anggi.


Kali ini emosinya sudah berada di atas kepalanya.


Seandainya saat ini dia bertemu dengan Fajar, mungkin dia sudah membunuh lelaki


itu.


Akbar masuk kedalam kamar rawat Malik, menutup


pintu dengan kasar, dan membanting tubuhnya diatas sofa. Dia pura-pura tidur


untuk menyembunyikan semua hal yang baru terjadi. Membuat yang ada di dalam


ruangan sedikit heran.


“kamu kenapa bar??” Tanya Indira sembari berjalan


mendekat.


“gapapa kok. Kamu ga capek?? Dari kemarin kamu


belum istirahat ndi. Aku telepon supirnya papi ya, biar jemput kamu. Kamu


istirahat dulu dirumah. Besok kesini lagi.” Akbar duduk dan menampilkan wajah


palsunya dengan tersenyum manis dihadapan Indira. Dia berbicara dengan nada


yang paling ramah agar bisa menutupi perasaannya saat ini.


“Terus Malik gimana??”


“Aku kan ada disini. Nanti kalau mama sama papa


dateng aku langsung pulang kok. Kamu pulang dulu aja”


Melihat Indira mengangguk sebagai tanda


persetujuan, Akbar segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi supir


untuk menjemput Indira.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk supir datang


ke rumah sakit dan membawa Indira pulang ke kediaman Pak Adi.


Akbar kembali merebahkan dirinya diatas sofa


sambil melenguh. Tangannya memainkan ponsel seakan menutupi kondisinya.


Tapi ternyata pasien yang sedang terbaring diatas ranjang


memperhatikan gerak-gerik aneh Akbar sedari tadi.


“Kamu kenapa??”


“Gapapa lik. Cuma pusing, kamu gimana? Udah


mendingan rasanya??” Akbar berusaha menyembunyikan perasaan semampunya. Tapi


ternyata Malik lebih peka dari apa yang Akbar kira.


Akbar terus mendapat desakan dari Malik mengenai


hal apa yang membuat dia tidak konsentrasi setelah kedatangan Anggi. Bahkan Anggi juga pergi tanpa berpamitan kepada mereka.

__ADS_1


Pada awalnya, Akbar sudah berencana untuk


menyembunyikan hal ini dari orang lain. Dia hanya akan bicara kepada papinya,


agar papinya bisa membantu untuk membawa kasus Malik ke ranah hukum. Akbar akan


mencari bukti terlebih dahulu sebelum benar-benar melaporkan Fajar ke polisi.


Tapi ternyata, Malik yang mendesak membuat Akbar


harus berbicara yang sejujurnya.


Akbar menyampaikan beberapa hal yang baru saja


dia dengar. Siapakah Fajar dan Anggi sebenarnya. Dia juga menyampaikan bahwa


dalang dibalik kejadian yang menimpa Indira juga kekasihnya. Akbar berusaha


mengalihkan perhatian Malik, agar tidak membuatnya mengakui siapa yang


mencelakai Malik. Tapi sia-sia saja.


“Ga usah disembunyiin bar. Aku tau”


“Tau apa??”


“Yang nabrak aku Fajar. Aku sempet liat siapa


yang ada didalem mobil itu. Tapi tolong jangan  bilang Indi ya. Aku takut dia semakin ngerasa bersalah. Jadi biarin aja


gapapa, jangan dilaporin ke polisi”


Akbar ternganga mendengar ucapan Malik. Bagaimana


bisa Malik menyimpan rahasia ini sendirian. Dan apa itu tadi?? Malik melarang


dia untuk melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Ini adalah hal yang


mustahil bagi Akbar. Rasanya saja sudah tidak sabar melihat lelaki busuk itu


mendekam dipenjara. Tapi Malik malah melarangnya.


Dia masih tidak terima kalau harus melihat Fajar


berkeliaran dengan bebas disekitar mereka. Saat ini Malik yang menjadi korban.


Akbar sudah memutuskan hubungannya dengan Anggi. Pasti mereka akan semakin


murka dan bisa melakukan hal buruk lainnya.


Dengan berbagai cara, Akbar meyakinkan Malik


bahwa hal ini tetap tidak bisa dibiarkan. Pada akhirnya Malik setuju untuk


menceritakan hal ini pada Pak Adi, dan meminta pendapat terbaik dari beliau sebagai orang yang lebih dewasa.


**


Malam itu, tidak seperti rencana awal. Pak Adi


mengambil alih tugas Bu Mega untuk menjaga Malik di rumah sakit. Dengan


antusias, Akbar menceritakan semua yang terjadi kepada mereka beberapa bulan


ini. Termasuk percobaan pemerkosaan Indira beberapa waktu lalu.


Pak Adi hanya bisa menggelengkan kepala mendengar


cerita dari anak-anaknya. Entah apa yang harus dia katakan menghadapi anak muda


jaman sekarang yang dengan mudahnya bertindak kriminal. Tanpa harus memikirkan


resiko yang akan ditanggung.


Setelah terdiam beberapa saat, Pak Adi memutuskan


untuk melaporkan kasus ini ke ranah hukum secara rahasia. Hanya mereka bertiga


yang akan mengetahuinya. Pak Adi akan berusaha semaksimal mungkin agar Fajar


tidak mendapat hukuman yang terlalu berat. Memang benar keluarga mereka sangat


sakit hati dengan perlakuan Fajar. Tapi beliau tidak ingin jika kelak


dikemudian hari Fajar akan kembali membahayakan nyawa anak-anaknya. Tujuan Pak


Adi melaporkan Fajar hanya sekedar ingin memberikan efek jera.

__ADS_1


Bagi Pak Adi, kecelakaan yang menimpa Malik sudah


menjadi mimpi buruk. Dia merasa gagal untuk menjadi orang tua angkat Malik.


melihat tubuhnya yang lemah, kakinya yang terbalut gips, dan tangannya yang


tergantung membuat hatinya semakin terluka.


Mulai terbesit di pikiran Pak Adi mengenai


cita-cita Malik selama ini. Dari kecil, Malik sudah berniat untuk menjadi


polisi. Tapi dengan kondisinya saat ini, apakah bisa anaknya masuk ke akademi


kepolisian. Untuk berlari kencang saja mungkin Malik sudah tidak bisa. Apalagi


menjadi polisi. Membayangkannya saja sudah membuat Pak Adi begitu merasa bersalah.


“Malik. maafin papi ya nak”


“maaf kenapa pi??”


“Papi sudah gagal menjaga kamu. Papi gabisa


nepatin janji ke Ibu kamu.” Air mata mulai menggenang di sudut mata  Pak


Adi. Dengan bantuan Akbar, Malik berusaha duduk dan merengkuh tangan Pak Adi.


Pak Adi merasakan kehangatan ketika Malik menyentuh tangannya.


“Pi, jangan ngomong gitu. Papi adalah orang tua


terhebat buat Malik sama Akbar. Meskipun Malik bukan anak kandung papi, tapi


papi ga pernah ngebedain kami. Bahkan papi ngasih semua fasilitas yang mungkin


gabisa dikasih sama orang tua kandung Malik pi. Malik bersyukur punya papi. Jadi jangan


ngomong gitu lagi”


Pipi tua Pak Adi membasah karena air mata itu.


Hatinya semakin sendu mendengar ucapan Malik.


“Nak, papi akan mencari cara supaya kamu tetap


bisa masuk akademi kepolisian ya”


“Pi, Malik sudah cacat. Aku ga akan bisa jadi


polisi. Tapi papi tenang aja, aku sudah ikhlas kok pi. Mungkin ini jalannya


buat Malik.” Jawab Malik dengan tulus.


Pak Adi menyarankan agar kelak Malik bisa kuliah


di jurusan Administrasi bisnis agar bisa membantu Akbar menjalankan perusahaan


rotinya. Pak Adi juga menilai Malik sudah mengetahui seluk beluk perusahaan


dengan baik karena selama ini dia menjadi pekerja paruh waktu disana.


Tapi dengan segera ide Pak Adi mendapat penolakan.


Ternyata sedari kecil Malik mempunyai keinginan lain terlepas dari menjadi


polisi. Setelah mendengar penjelasan dari Malik yang ternyata memilih untuk


kuliah dijurusan hukum dan menjadi pengacara, air mata dukanya berubah menjadi


air mata haru.


Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya


yang mulai tua. Dia merasa bersyukur, ternyata anak-anaknya sudah bisa bersikap


dewasa dalam menghadapi masalah. Terutama Malik. Ditengah kondisinya yang yatim


piatu, Malik bisa berjuang dan hidup dengan semangat.


Pak Adi merengkuh bahu Malik dan berusaha


memeluknya dengan lembut.


“Papi akan mendukung apapun yang kamu mau nak.


Kamu juga anak papi. Papi sayang sama kamu”

__ADS_1


__ADS_2