
“aaaaahhhhh..
Maliiiiikkkk. Dimana?? Cepetan…”
Indira refleks berteriak karena seluruh lampu dirumah itu tiba-tiba padam. Kenapa di
saat seperti ini Malik malah pergi meninggalkan dirinya. Jangankan untuk keluar
dari sana, untuk membuka matanya saja Indira tidak punya
keberanian.
Ia masih terbayang dengan wajah hantu di film horor yang tadi siang ia tonton.
Indira masih teringat jelas dengan wanita berambut panjang berantakan, dengan
bibirnya yang lebar dan penuh darah, matanya yang hampir keluar, dan wajahnya
yang berantakan. Indira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Berharap Malik
segera datang dan menemaninya.
Sudah hampir 5 menit tapi Malik belum juga menampakkan batang hidungnya. Hal ini
membuat Indira ketakutan. Dia memberanikan diri untuk mencari keberadaan Malik.
Menggunakan flash di ponselnya sebagai satu—satunya penerangan. Dia berjalan
perlahan ke arah dapur sembari memanggil-manggil nama Malik. Kakinya sedikit
gemetar karena takut.
“Maliikk.. kamu dimana sih.. katanya ambil minum. Sekarang kok ilang.. kamu ga dimakan
zombie kan..” Indira berbicara lirih dan berjalan mengendap di dapur. Mencari
di setiap sela yang ada.
Perhatiannya teralih ketika ada cahaya temaram dari arah taman belakang. DIa segera
menghentikan langkahnya. Pikirannya kembali mengingat setiap adegan di film.
“kok ada lampu disana. Biasanya itu jebakan dari hantu. Kalau di film, orang yang
dateng kesana pasti bakal ketemu sama hantunya. Duh tapi gimana dong.
Jangan-jangan Malik ilang disana. Ahh bodo amat deh” Indira memberanikan diri
untuk mendatang sumber cahaya.
Berjalan sedikit mengendap agar tidak ada yang mendengar. Dia membuka pintu perlahan.
Tiba-tiba tubuhnya membeku. Air matanya menggenang melihat pemandangan yang ada
dihadapannya. Meja makan yang sudah dipenuhi hidangan, lilin dan bunga-bunga.
Apakah ini kejutan untuknya??
Indira merasakan ada tangan hangat yang menyentuh bahunya. Dengan segera dia memutar
kepalanya memastikan siapa yang menyiapkan semua ini.
“Selamat ulang tahun ya sayang” Indira segera memeluk wanita kesayangannya itu. Dia
melihat ada anggota keluarga lain yang bersembunyi di sudut taman.
Ternyata memang benar, kejutan ini untuknya. Dia
tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kejutan lain selain dari Malik.
Indira menatap dalam wajah-wajah orang yang sedang berdiri mengelilinginya.
Memperhatikan wajah papanya yang sedang membawa kue ulang tahun miliknya. Lagu
ulang tahun yang dikumandangkan membuat air matanya ingin segera keluar.
Indira tersenyum dan memejamkan matanya, berdoa
kepada sang pencipta agar segera mengabulkan keinginannya. Dengan semangat
Indira meniup lilin itu dan menghambur memeluk orang-orang yang ia sayangi.
Seperti biasa Indira memilih duduk diantara Malik
__ADS_1
dan Akbar. Mulai bercerita mengenai kejutan ulang tahun yang diberikan oleh
Malik. Dia berceloteh kesana kemari membuat para pendengar larut dalam kebahagiaan
Indira.
“ehm.. Emm. Permisi semuanya, saya mau memberikan
pengumuman. Di malam yang berbahagia ini, saya ingin mengutarakan perasaan
saya. Seperti yang kalian semua tau, saya dan Indira bersahabat sejak kecil.
Dari dulu, saya ingin melindungi Indira, ingin memberikan yang terbaik
untuknya. Semakin kami dewasa, tidak dipungkiri, rasa itu berubah menjadi
cinta. Saya tidak ingin Indira menikah dengan orang yang salah, saya ingin
membahagiakan dia seumur hidup saya. Oleh karena itu, malam ini saya ingin melamarnya.
Indira, maukah menikah denganku??”
Seketika tubuh Indira membeku, bibirnya terkunci
rapat terdiam seribu bahasa. Tidak hanya Indira, Bu Mega pun melakukan hal yang
sama.
“Papa setuju!!!”
“Papi juga setuju!!” Kedua pria itu mengacungkan
jarinya dan tertawa puas, sepertinya hanya mereka berdua yang bahagia dengan
berita besar yang baru saja terdengar.
“ma.. maksud.. maksud kamu apa Akbar??” Indira
menolehkan wajahnya dan berharap segera mendapatkan penjelasan dari pria yang
sedang melamarnya itu.
“aku sayang sama kamu ndi. Bukan sebagai sahabat
aku pengen nikah sama kamu. Kamu mau kan??” Indira hanya bisa terdiam menahan
air matanya melihat Akbar memasangkan cincin berlian di jari manisnya.
Tapi Indira hanya tersenyum kecut. Matanya
bergantian melihat cincin, dan wajah orang-orang yang ada disekitarnya.
Terutama papa dan papinya yang tampak gembira dan meletakkan harapan tinggi
kepadanya. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. Dia
tidak ingin mengecewakan orang-orang itu. Lagi pula, bukanlah keputusan buruk
jika menerima lamaran dari Akbar. Toh, mereka juga sudah memahami satu sama
lain. Masalah cinta, pasti nanti akan tumbuh dengan berjalannya waktu.
Setelah memberikan jawabannya yang sedikit
terpaksa, Akbar segera meraih bahunya dan memeluknya dengan erat. Di lubuk
hatinya yang paling dalam, Indira berharap Malik lah yang akan menjadi
pendamping hidupnya. Tapi apa daya, dia juga tidak memiliki keberanian untuk
menolaknya.
Indira menarik nafasnya dalam. Berharap semoga ia
tidak membuat keputusan yang salah. Dia hanya terdiam saat Akbar memeluknya,
tidak ada niatan untuk membalas pelukan itu. Berpura-pura bahagia adalah hal
terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.
Makan malam pun berjalan dengan sangat meriah,
tak terkecuali kebahagiaan palsu Indira. Dia ikut tertawa riang meskipun
__ADS_1
hatinya sedang bimbang. Mencoba menutupi perasaannya dengan senyuman yang
dibuat seceria mungkin.
Berulang kali matanya menangkap basah sang mama
yang sedang menggandeng tangan Malik dengan erat. Apa mamanya juga tidak
bahagia dengan keputusan ini?? Kenapa wajah mamanya terlihat seakan sedang
tidak nyaman. Salahkah keputusan Indira kali ini??
Indira membantu Bu Mega dan Malik yang sedang
membersihkan sisa-sisa pesta sederhana itu. Dia mengumpulkan piring kotor di
sebuah kotak besar. Kembali ia melihat mamanya yang sedang duduk sendirian
dengan wajah yang tampak gusar.
“Ma...” Indira menggoyangkan bahu Bu Mega. Karena
tidak mendapatkan balasan, Ia kembali memanggil mamanya
“Ma.. mama kenapa??”
“hemm?? Iya?? Kenapa neng??” Jawab Bu Mega
sedikit kebingungan.
“Neng liat, dari tadi mama kok diem aja. Mama ga
enak badan? Atau ada pikiran??”
Indira duduk di samping mamanya dan mencoba untuk
menggali informasi. Tapi mamanya hanya diam, meneteskan air mata dan memeluknya
dengan erat. Membuat Indira semakin kebingungan. Sebenarnya apa yang sedang
dipikirkan mamanya hingga bertingkah seperti ini.
Dia melemparkan peda Malik meminta jawaban atas
apa yang sedang terjadi. Namun Malik hanya mengangkat bahunya dan kembali merapikan
meja makan.
Tidak ada yang bisa Indira lakukan selain menepuk
punggung ibunya. Dia tidak ingin memaksa mamanya untuk bicara. Jika waktunya
sudah tepat, tanpa diminta pun mamanya pasti akan memberitahukan segalanya.
Setelah dirasa sang mama sudah tenang, Indira
mencium keningnya dan berlalu untuk membantu Malik yang sudah lebih dulu
mencuci piring. Dia mengambil sarung tangan karet dan membilas piring-piring
yang sudah dicuci Malik.
“sayang...” Indira menolehkan kepala dan sedikit
terkejut dengan pria tampan yang ada dibelakangnya. Tidak biasanya Indira
mendengar sebutan semacam itu.
“aku sama papi pulang dulu ya. Besok pagi aku
jemput kamu..” Indira semakin tidak bisa berkata-kata saat Akbar meraih kepala
dan mencium keningnya. Dia masih belum siap dengan apa yang baru saja terjadi.
Belum sempat dia memberi jawaban, tapi pria itu sudah menghilang dari
pandangannya.
“Kamu kalau mau ngelamun pergi aja, biar aku yang
nyuci.” Suara Malik membuyarkan lamunannya.
“Ha? Ah iya. Sorry”
__ADS_1