Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH 39- Maukah menikah denganku??


__ADS_3

“aaaaahhhhh..


Maliiiiikkkk. Dimana?? Cepetan…”


Indira refleks berteriak karena seluruh lampu dirumah itu tiba-tiba padam. Kenapa di


saat seperti ini Malik malah pergi meninggalkan dirinya. Jangankan untuk keluar


dari sana, untuk membuka matanya saja Indira tidak punya


keberanian.


Ia masih terbayang dengan wajah hantu di film horor yang tadi siang ia tonton.


Indira masih teringat jelas dengan wanita berambut panjang berantakan, dengan


bibirnya yang lebar dan penuh darah, matanya yang hampir keluar, dan wajahnya


yang berantakan. Indira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Berharap Malik


segera datang dan menemaninya.


Sudah hampir 5 menit tapi Malik belum juga menampakkan batang hidungnya. Hal ini


membuat Indira ketakutan. Dia memberanikan diri untuk mencari keberadaan Malik.


Menggunakan flash di ponselnya sebagai satu—satunya penerangan. Dia berjalan


perlahan ke arah dapur sembari memanggil-manggil nama Malik. Kakinya sedikit


gemetar karena takut.


“Maliikk.. kamu dimana sih.. katanya ambil minum. Sekarang kok ilang.. kamu ga dimakan


zombie kan..” Indira berbicara lirih dan berjalan mengendap di dapur. Mencari


di setiap sela yang ada.


Perhatiannya teralih ketika ada cahaya temaram dari arah taman belakang. DIa segera


menghentikan langkahnya. Pikirannya kembali mengingat setiap adegan di film.


“kok ada lampu disana. Biasanya itu jebakan dari hantu. Kalau di film, orang yang


dateng kesana pasti bakal ketemu sama hantunya. Duh tapi gimana dong.


Jangan-jangan Malik ilang disana. Ahh bodo amat deh” Indira memberanikan diri


untuk mendatang sumber cahaya.


Berjalan sedikit mengendap agar tidak ada yang mendengar. Dia membuka pintu perlahan.


Tiba-tiba tubuhnya membeku. Air matanya menggenang melihat pemandangan yang ada


dihadapannya. Meja makan yang sudah dipenuhi hidangan, lilin dan bunga-bunga.


Apakah ini kejutan untuknya??


Indira merasakan ada tangan hangat yang menyentuh bahunya. Dengan segera dia memutar


kepalanya memastikan siapa yang menyiapkan semua ini.


“Selamat ulang tahun ya sayang” Indira segera memeluk wanita kesayangannya itu. Dia


melihat ada anggota keluarga lain yang bersembunyi di sudut taman.


Ternyata memang benar, kejutan ini untuknya. Dia


tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kejutan lain selain dari Malik.


Indira menatap dalam wajah-wajah orang yang sedang berdiri mengelilinginya.


Memperhatikan wajah papanya yang sedang membawa kue ulang tahun miliknya. Lagu


ulang tahun yang dikumandangkan membuat air matanya ingin segera keluar.


Indira tersenyum dan memejamkan matanya, berdoa


kepada sang pencipta agar segera mengabulkan keinginannya. Dengan semangat


Indira meniup lilin itu dan menghambur memeluk orang-orang yang ia sayangi.


Seperti biasa Indira memilih duduk diantara Malik

__ADS_1


dan Akbar. Mulai bercerita mengenai kejutan ulang tahun yang diberikan oleh


Malik. Dia berceloteh kesana kemari membuat para pendengar larut dalam kebahagiaan


Indira.


“ehm.. Emm. Permisi semuanya, saya mau memberikan


pengumuman. Di malam yang berbahagia ini, saya ingin mengutarakan perasaan


saya. Seperti yang kalian semua tau, saya dan Indira bersahabat sejak kecil.


Dari dulu, saya ingin melindungi Indira, ingin memberikan yang terbaik


untuknya. Semakin kami dewasa, tidak dipungkiri, rasa itu berubah menjadi


cinta. Saya tidak ingin Indira menikah dengan orang yang salah, saya ingin


membahagiakan dia seumur hidup saya. Oleh karena itu, malam ini saya ingin melamarnya.


Indira, maukah menikah denganku??”


Seketika tubuh Indira membeku, bibirnya terkunci


rapat terdiam seribu bahasa. Tidak hanya Indira, Bu Mega pun melakukan hal yang


sama.


“Papa setuju!!!”


“Papi juga setuju!!” Kedua pria itu mengacungkan


jarinya dan tertawa puas, sepertinya hanya mereka berdua yang bahagia dengan


berita besar yang baru saja terdengar.


“ma.. maksud.. maksud kamu apa Akbar??” Indira


menolehkan wajahnya dan berharap segera mendapatkan penjelasan dari pria yang


sedang melamarnya itu.


“aku sayang sama kamu ndi. Bukan sebagai sahabat


aku pengen nikah sama kamu. Kamu mau kan??” Indira hanya bisa terdiam menahan


air matanya melihat Akbar memasangkan cincin berlian di jari manisnya.


Tapi Indira hanya tersenyum kecut. Matanya


bergantian melihat cincin, dan wajah orang-orang yang ada disekitarnya.


Terutama papa dan papinya yang tampak gembira dan meletakkan harapan tinggi


kepadanya. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum menganggukkan kepalanya. Dia


tidak ingin mengecewakan orang-orang itu. Lagi pula, bukanlah keputusan buruk


jika menerima lamaran dari Akbar. Toh, mereka juga sudah memahami satu sama


lain. Masalah cinta, pasti nanti akan tumbuh dengan berjalannya waktu.


Setelah memberikan jawabannya yang sedikit


terpaksa, Akbar segera meraih bahunya dan memeluknya dengan erat. Di lubuk


hatinya yang paling dalam, Indira berharap Malik lah yang akan menjadi


pendamping hidupnya. Tapi apa daya, dia juga tidak memiliki keberanian untuk


menolaknya.


Indira menarik nafasnya dalam. Berharap semoga ia


tidak membuat keputusan yang salah. Dia hanya terdiam saat Akbar memeluknya,


tidak ada niatan untuk membalas pelukan itu. Berpura-pura bahagia adalah hal


terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.


Makan malam pun berjalan dengan sangat meriah,


tak terkecuali kebahagiaan palsu Indira. Dia ikut tertawa riang meskipun

__ADS_1


hatinya sedang bimbang. Mencoba menutupi perasaannya dengan senyuman yang


dibuat seceria mungkin.


Berulang kali matanya menangkap basah sang mama


yang sedang menggandeng tangan Malik dengan erat. Apa mamanya juga tidak


bahagia dengan keputusan ini?? Kenapa wajah mamanya terlihat seakan sedang


tidak nyaman. Salahkah keputusan Indira kali ini??


Indira membantu Bu Mega dan Malik yang sedang


membersihkan sisa-sisa pesta sederhana itu. Dia mengumpulkan piring kotor di


sebuah kotak besar. Kembali ia melihat mamanya yang sedang duduk sendirian


dengan wajah yang tampak gusar.


“Ma...” Indira menggoyangkan bahu Bu Mega. Karena


tidak mendapatkan balasan, Ia kembali memanggil mamanya


“Ma.. mama kenapa??”


“hemm?? Iya?? Kenapa neng??” Jawab Bu Mega


sedikit kebingungan.


“Neng liat, dari tadi mama kok diem aja. Mama ga


enak badan? Atau ada pikiran??”


Indira duduk di samping mamanya dan mencoba untuk


menggali informasi. Tapi mamanya hanya diam, meneteskan air mata dan memeluknya


dengan erat. Membuat Indira semakin kebingungan. Sebenarnya apa yang sedang


dipikirkan mamanya hingga bertingkah seperti ini.


Dia melemparkan peda Malik meminta jawaban atas


apa yang sedang terjadi. Namun Malik hanya mengangkat bahunya dan kembali merapikan


meja makan.


Tidak ada yang bisa Indira lakukan selain menepuk


punggung ibunya. Dia tidak ingin memaksa mamanya untuk bicara. Jika waktunya


sudah tepat, tanpa diminta pun mamanya pasti akan memberitahukan segalanya.


Setelah dirasa sang mama sudah tenang, Indira


mencium keningnya dan berlalu untuk membantu Malik yang sudah lebih dulu


mencuci piring. Dia mengambil sarung tangan karet dan membilas piring-piring


yang sudah dicuci Malik.


“sayang...” Indira menolehkan kepala dan sedikit


terkejut dengan pria tampan yang ada dibelakangnya. Tidak biasanya Indira


mendengar sebutan semacam itu.


“aku sama papi pulang dulu ya. Besok pagi aku


jemput kamu..” Indira semakin tidak bisa berkata-kata saat Akbar meraih kepala


dan mencium keningnya. Dia masih belum siap dengan apa yang baru saja terjadi.


Belum sempat dia memberi jawaban, tapi pria itu sudah menghilang dari


pandangannya.


“Kamu kalau mau ngelamun pergi aja, biar aku yang


nyuci.” Suara Malik membuyarkan lamunannya.


“Ha? Ah iya. Sorry”

__ADS_1


__ADS_2