
“GAJALAH KEBERSIHAN. HAHAHAHAHAHA” merasa bisa membalas
kekalahannya Malik tertawa dengan keras dan puas. Indira hanya menatap malik
dengan sendu. Ternyata ide konyolnya bermain tebak-tebakan bisa membuat Malik
kembali tersenyum dan melupakan kejadian menyedihkan yang menimpa keluarganya.
“hahahahhaha”
“malik, siapa yang ketawa ih” tanya Indira keheranan karena
tiba-tiba ada suara tawa selain dari diri mereka
“itu aku” sontak Malik dan Indira mendongakkan kepala, melihat ada
seorang bocah yang sedang duduk diatas pohon mangga.
Tidak lama kemudian bocah laki-laki itu turun menghampiri Malik
dan Indira. Dengan senyuman manisnya bocah ini mengulurkan tangannya.
“hai, aku Akbar”
“oh iya. Aku Malik” Malik segera menjawab dan menerima uluran
tangan Akbar.
Lain halnya dengan Indira. Bukannya memperkenalkan diri, justru
Indira sibuk memperhatikan wajah anak laki-laki itu. Karena mulai risih, Akbar
mulai bertanya pada Indira
“kenapa? Aku ganteng ya?? Emang sih, orang-orang bilang aku itu
ganteng, pinter, lucu.” Dengan bangganya Akbar menyunggingkan senyum ceria
didepan mereka.
“bukan. Kamu habis nangis ya?” tanya Indira dengan penasaran. Tapi
Akbar hanya mengalihkan pandangan untuk menghindari pertanyaan Indira.
“hahaha, iya kamu habis nangis. Ngapain? Kamu nangis diatas sana
ya??” ejek Indira sambil menunjuk pohon mangga diatasnya. Malik yang merasa
Indira sedikit tidak sopan langsung menyenggol tangannya.
“Ndi, kita pulang yuk. Udah siang ini, nanti ibu marah. Akbar kita
pulang dulu ya”
Disaat Malik dan Indira mulai melangkahkan kakinya meninggalkan
Akbar, bocah itu kembali bersuara dan membuat mereka berhenti.
“Orang tuaku bertengkar. Dan mami pergi” Akbar menjawab dengan
tatapan kosong.
Karena merasa Akbar membutuhkan teman, Malik memegang tangan
Indira dan mengajaknya untuk kembali ke samping Akbar. Tanpa aba-aba dengan
senyum ceria khas miliknya, Indira langsung merangkul bahu Akbar dan
memperkenalkan dirinya.
“Hai, aku Indira, 8 tahun. Aku dan Malik bersahabat dari kecil.
__ADS_1
Rumah kami ada di kampung sebelah. Kamu anak mana??”
Tidak disangka Akbar langsung kembali ceria mendengar pertanyaan
dari Indira.
“Aku 10 tahun, dan ini rumahku” sambil menunjuk rumah besar
didepan mereka. Jawaban Akbar membuat Indira ternganga, karena ternyata rumah
besar impiannya adalah milik Akbar. Dengan segera Malik menutup mulut Indira
dengan tangannya.Tanpa basa-basi Indira langsung menepis tangan Malik dan
mengulurkan tangannya ke Akbar.
“Kamu kayanya ga punya temen ya. Mau berteman dengan kami??”
kebiasaan ceplas ceplos Indira membuat Malik memutar bola matannya kesal.
“emang boleh??”
“boleh dong. Iya kan Malik” Tanpa memberi waktu Malik dan Akbar
untuk menjawab Indira langsung menggandeng lengan kedua bocah itu
“okay mulai sekarang kita bertiga berteman yaa. Akbar, biasanya
kita pulang jam 1 siang. Kalau pulang sekolah kita pasti lewat sini. Besok kamu
kita jemput, terus kita main di rumah Akbar yaa. “
Malik hanya tersenyum melihat Indira yang dengan mudahnya bergaul
dengan anak lain. Sementara Akbar terlihat antusias mendengar celoteh Indira
seakan lupa dengan pertengkaran kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian, Akbar menarik tangan Malik dan Indira untuk
“Diluar panas, kita masuk aja ya. Ini rumahku, aku tinggal sama
papi, mami, sama mbok. Tapi sekarang mami pergi, jadi tinggal kita bertiga
disini.” Penjelasan singkat Akbar membuat Malik dan Indira sedikit mengerti
dengan kesedihan Akbar.
Akbar membawa mereka bermain diruang tengah. Tidak lama kemudian,
Mbok Lastri membawakan jus mangga dan sedikit camilan.
“A, ini mbok bawain jus sama jajanan yaa. Oh ini temannya Aa ya?
Namanya siapa? Saya mbok Lastri, yang bersih-bersih disini.” Uluran tangan Mbok
Lastri langsung disambut oleh Malik dan Indira. Malik dan Indira pun langsung
bergantian mencium punggung tangan Mbok Lastri sambil menyebutkan nama mereka
masing-masing.
“Yaudah, kalian main dulu ya. Mbok ada di dalem, kalau butuh
sesuatu panggil aja yaa. Aa, tadi papi pesen sama mbok, papi hari ini pulang
malam” Sebelum pergi, Mbok mengusap pelan kepala Akbar.
Mbok Lastri memang menemani Akbar sejak umur 4 bulan. Dia
menyayangi Akbar seperti cucunya sendiri. Si Mbok mengerti betapa kesepiannya
__ADS_1
Akbar sekarang. Ketika anak lain mendapat kasih sayang dari orang tuanya,
Akbar hanya mendapat kasih sayang dari pembantunya. Kesibukan Papi
Akbar sebagai pemilik perusahaan roti membuat Maminya kesepian dan akhirnya memilih berselingkuh dan pergi
dengan laki-laki lain. Mbok Lastri
adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuk akbar. Dan hanya Mbok Lastri
yang menyebut Akbar dengan sebutan Aa (Kakak). Menurut Akbar, itu adalah
panggilan sayang dari si mbok..
Setelah si Mbok pergi, Akbar mulai menceritakan tentang dirinya.
Sekolah dimana, kelas berapa, suka main sama siapa, termasuk mengenai orang
tuanya. Malik hanya mendengarkan dan sesekali tersenyum mendengar tanggapan
dari Indira. Sedangkan Indira tampak terhibur dengan cerita teman barunya itu.
Lama menghabiskan waktu untuk bercerita membuat mereka lupa, kalau
hari sudah mulai sore. Malik segera menarik tangan Indira dan mengajaknya untuk
pulang.
“eh iya, udah sore. Akbar kita pulang dulu ya takut dimarahin
ibuk. Besok habis pulang sekolah, kita jemput kamu. Terus kita main di rumah
Malik yaa” Indira segera berdiri dan melambaikan tangannya. Saat sudah sampai
didepan pintu, mereka berhenti sejenak dan saling menatap. Kemudian berlari
serentak ke arah dapur.
“eh kok balik lagi?” tanya Akbar keheranan
“iya ada yang lupa” Indira asal menjawab dan tetap berlari kedapur
sambil memegang tangan Malik.
Setelah masuk dapur, Malik dan Indira langsung mendatangi Mbok Lastri
dan mencium punggung tangannya bergantian. Ternyata hal yang mereka lupakan
adalah berpamitan dengan si mbok. Memang Malik dan Indira dididik oleh Bu Sri
(Ibu Malik) untuk selalu sopan dan
hormat kepada orang tua.
Selesai berpamitan dengan si mbok, mereka kembali melambaikan
tangan ke Akbar dan segera pergi meninggalkan rumah mewah itu.
“Malik, nanti kalo udah gede aku mau kerja. Biar bisa punya rumah
kaya punya Akbar. Pasti seru ada kolam renangnya, tamannya besar, ruang tamu
nya besar, terus ada si mbok juga. Nanti lik, kalau aku kaya kamu sama ibuk
bakalan aku ajak tinggal sama aku. Terus ibuk gausah capek2 bikin kue lagi deh.
Kalau mama sama papa kan rumahnya udah agak gede, jadi biar tinggal disana aja.
Kita bertiga tinggal dirumah aku yang besar itu. Gimana bagus kan ide aku”
Celoteh Indira mengungkapkan keinginannya, sedangakn Malik hanya mengiyakan
__ADS_1
sambil tersenyum tipis. Mereka berdua menyusuri jalan kecil dibelakang
perumahan untuk bisa sampai di rumah mereka.