Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH 2- Mau berteman dengan kami?


__ADS_3

“GAJALAH KEBERSIHAN. HAHAHAHAHAHA” merasa bisa membalas


kekalahannya Malik tertawa dengan keras dan puas. Indira hanya menatap malik


dengan sendu. Ternyata ide konyolnya bermain tebak-tebakan bisa membuat Malik


kembali tersenyum dan melupakan kejadian menyedihkan yang menimpa keluarganya.


“hahahahhaha”


“malik, siapa yang ketawa ih” tanya Indira keheranan karena


tiba-tiba ada suara tawa selain dari diri mereka


“itu aku” sontak Malik dan Indira mendongakkan kepala, melihat ada


seorang bocah yang sedang duduk diatas pohon mangga.


Tidak lama kemudian bocah laki-laki itu turun menghampiri Malik


dan Indira. Dengan senyuman manisnya bocah ini mengulurkan tangannya.


“hai, aku Akbar”


“oh iya. Aku Malik” Malik segera menjawab dan menerima uluran


tangan Akbar.


Lain halnya dengan Indira. Bukannya memperkenalkan diri, justru


Indira sibuk memperhatikan wajah anak laki-laki itu. Karena mulai risih, Akbar


mulai bertanya pada Indira


“kenapa? Aku ganteng ya?? Emang sih, orang-orang bilang aku itu


ganteng, pinter, lucu.” Dengan bangganya Akbar menyunggingkan senyum ceria


didepan mereka.


“bukan. Kamu habis nangis ya?” tanya Indira dengan penasaran. Tapi


Akbar hanya mengalihkan pandangan untuk menghindari pertanyaan Indira.


“hahaha, iya kamu habis nangis. Ngapain? Kamu nangis diatas sana


ya??” ejek Indira sambil menunjuk pohon mangga diatasnya. Malik yang merasa


Indira sedikit tidak sopan langsung menyenggol tangannya.


“Ndi, kita pulang yuk. Udah siang ini, nanti ibu marah. Akbar kita


pulang dulu ya”


Disaat Malik dan Indira mulai melangkahkan kakinya meninggalkan


Akbar, bocah itu kembali bersuara dan membuat mereka berhenti.


“Orang tuaku bertengkar. Dan mami pergi” Akbar menjawab dengan


tatapan kosong.


Karena merasa Akbar membutuhkan teman, Malik memegang tangan


Indira dan mengajaknya untuk kembali ke samping Akbar. Tanpa aba-aba dengan


senyum ceria khas miliknya, Indira langsung merangkul bahu Akbar dan


memperkenalkan dirinya.


“Hai, aku Indira, 8 tahun. Aku dan Malik bersahabat dari kecil.

__ADS_1


Rumah kami ada di kampung sebelah. Kamu anak mana??”


Tidak disangka Akbar langsung kembali ceria mendengar pertanyaan


dari Indira.


“Aku 10 tahun, dan ini rumahku” sambil menunjuk rumah besar


didepan mereka. Jawaban Akbar membuat Indira ternganga, karena ternyata rumah


besar impiannya adalah milik Akbar. Dengan segera Malik menutup mulut Indira


dengan tangannya.Tanpa basa-basi Indira langsung menepis tangan Malik dan


mengulurkan tangannya ke Akbar.


“Kamu kayanya ga punya temen ya. Mau berteman dengan kami??”


kebiasaan ceplas ceplos Indira membuat Malik memutar bola matannya kesal.


“emang boleh??”


“boleh dong. Iya kan Malik” Tanpa memberi waktu Malik dan Akbar


untuk menjawab Indira langsung menggandeng lengan kedua bocah itu


“okay mulai sekarang kita bertiga berteman yaa. Akbar, biasanya


kita pulang jam 1 siang. Kalau pulang sekolah kita pasti lewat sini. Besok kamu


kita jemput, terus kita main di rumah Akbar yaa. “


Malik hanya tersenyum melihat Indira yang dengan mudahnya bergaul


dengan anak lain. Sementara Akbar terlihat antusias mendengar celoteh Indira


seakan lupa dengan pertengkaran kedua orang tuanya.


Tidak lama kemudian, Akbar menarik tangan Malik dan Indira untuk


“Diluar panas, kita masuk aja ya. Ini rumahku, aku tinggal sama


papi, mami, sama mbok. Tapi sekarang mami pergi, jadi tinggal kita bertiga


disini.” Penjelasan singkat Akbar membuat Malik dan Indira sedikit mengerti


dengan kesedihan Akbar.


Akbar membawa mereka bermain diruang tengah. Tidak lama kemudian,


Mbok Lastri membawakan jus mangga dan sedikit camilan.


“A, ini mbok bawain jus sama jajanan yaa. Oh ini temannya Aa ya?


Namanya siapa? Saya mbok Lastri, yang bersih-bersih disini.” Uluran tangan Mbok


Lastri langsung disambut oleh Malik dan Indira. Malik dan Indira pun langsung


bergantian mencium punggung tangan Mbok Lastri sambil menyebutkan nama mereka


masing-masing.


“Yaudah, kalian main dulu ya. Mbok ada di dalem, kalau butuh


sesuatu panggil aja yaa. Aa, tadi papi pesen sama mbok, papi hari ini pulang


malam” Sebelum pergi, Mbok mengusap pelan kepala Akbar.


Mbok Lastri memang menemani Akbar sejak umur 4 bulan. Dia


menyayangi Akbar seperti cucunya sendiri. Si Mbok mengerti betapa kesepiannya

__ADS_1


Akbar sekarang. Ketika anak lain mendapat kasih sayang dari orang tuanya,


 Akbar hanya mendapat kasih sayang dari pembantunya. Kesibukan Papi


Akbar sebagai pemilik perusahaan roti  membuat Maminya kesepian dan akhirnya memilih berselingkuh dan pergi


dengan laki-laki lain.  Mbok Lastri


adalah satu-satunya orang yang selalu ada untuk akbar. Dan hanya Mbok Lastri


yang menyebut Akbar dengan sebutan Aa (Kakak). Menurut Akbar, itu adalah


panggilan sayang dari si mbok..


Setelah si Mbok pergi, Akbar mulai menceritakan tentang dirinya.


Sekolah dimana, kelas berapa, suka main sama siapa, termasuk mengenai orang


tuanya. Malik hanya mendengarkan dan sesekali tersenyum mendengar tanggapan


dari Indira. Sedangkan Indira tampak terhibur dengan cerita teman barunya itu.


Lama menghabiskan waktu untuk bercerita membuat mereka lupa, kalau


hari sudah mulai sore. Malik segera menarik tangan Indira dan mengajaknya untuk


pulang.


“eh iya, udah sore. Akbar kita pulang dulu ya takut dimarahin


ibuk. Besok habis pulang sekolah, kita jemput kamu. Terus kita main di rumah


Malik yaa” Indira segera berdiri dan melambaikan tangannya. Saat sudah sampai


didepan pintu, mereka berhenti sejenak dan saling menatap. Kemudian berlari


serentak ke arah dapur.


“eh kok balik lagi?” tanya Akbar keheranan


“iya ada yang lupa” Indira asal menjawab dan tetap berlari kedapur


sambil memegang tangan Malik.


Setelah masuk dapur, Malik dan Indira langsung mendatangi Mbok Lastri


dan mencium punggung tangannya bergantian. Ternyata hal yang mereka lupakan


adalah berpamitan dengan si mbok. Memang Malik dan Indira dididik oleh Bu Sri


(Ibu Malik)  untuk selalu sopan dan


hormat kepada orang tua.


Selesai berpamitan dengan si mbok, mereka kembali melambaikan


tangan ke Akbar dan segera pergi meninggalkan rumah mewah itu.


“Malik, nanti kalo udah gede aku mau kerja. Biar bisa punya rumah


kaya punya Akbar. Pasti seru ada kolam renangnya, tamannya besar, ruang tamu


nya besar, terus ada si mbok juga. Nanti lik, kalau aku kaya kamu sama ibuk


bakalan aku ajak tinggal sama aku. Terus ibuk gausah capek2 bikin kue lagi deh.


Kalau mama sama papa kan rumahnya udah agak gede, jadi biar tinggal disana aja.


Kita bertiga tinggal dirumah aku yang besar itu. Gimana bagus kan ide aku”


Celoteh Indira mengungkapkan keinginannya, sedangakn Malik hanya mengiyakan

__ADS_1


sambil tersenyum tipis. Mereka berdua menyusuri jalan kecil dibelakang


perumahan untuk bisa sampai di rumah mereka.


__ADS_2