Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH9- Kita sayang Ibu


__ADS_3

Bu Sri memilih untuk dijaga oleh Malik, Indira


dan juga Akbar. Beruntung besok adalah hari libur untuk anak sekolah. Akbar


terpejam di sofa sementara Indira merebahkan kepalanya diatas pangkuan


Akbar.  Malik duduk disamping ibunya


sambil memperhatikan wajah ibunya yang sedang tertidur.  Sesaat Malik tersenyum melihat kulit wajah


ibunya yang sudah keriput. Tapi sesaat kemudian, mata malik mulai


berkaca-kaca.


Ia mulai memikirkan, bagaimana perjuangan Ibunya.


Sebagai yatim piatu, sedari kecil ibunya sudah harus berjualan kue untuk


membiayai sekolahnya. Setelah menikah dengan ayahnya pun kebahagiaan Ibunya


tidak berlangsung lama. 3 tahun setelah kelahiran Malik, Ibunya harus rela


kehilangan bayi perempuan yang baru dilahirkan. Beberapa tahun kemudian, sang


ayah pergi karena menjadi korban tabrak lari. Semenjak saat itu ibunya harus


bekerja keras menjadi seorang ayah dan ibu bagi dirinya meskipun dengan


penyakit yang menggerogoti tubuh Bu Sri. Tapi tidak pernah sekalipun Malik


mendengar ibunya mengeluh.


Air mata mulai menetes dari sudut mata Malik. Ia


sengaja tidak menghapus tetesan air matanya karena tidak ingin melepas


genggaman tangan ibunya. Malik menangis dalam diam, tidak ada yang tau betapa


hancur hatinya meihat ibunya terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien.


“Bu, Malik takut.. Malik gabisa jauh dari Ibu.


Ibu jangan sakit, lebih baik Malik yang sakit daripada harus lihat Ibu seperti


ini”.


Butiran air yang terjatuh menjadi semakin besar,


Malik menundukkan kepalanya, terisak ketika membayangkan ketakutan yang ada


dalam dirinya. Ketika merasa Ibunya menggerakkan tangan, Malik segera


mendongakkan kepalanya.


“Kamu ngapain nangis Malik?” Bu Sri mengusap


pelan kepala anak kesayangannya itu. Dengan tenangnya Bu Sri tersenyum tipis. Senyumnya seperti mencoba mengatakan bahwa dia sudah tidak apa-apa.


“Malik takut bu.. Malik takuutt..” Malik berdiri


dan memeluk tubuh ringkih ibunya yang terbaring. Tangisan Malik membangunkan


Indira dan Akbar yang sedang terlelap di sofa. Indira dan Akbar langsung


menghampiri Bu Sri yang sedang berpelukan dengan anaknya


“Ibuk gapapa??” Tanya Akbar khawatir sambil


memegang kaki Bu Sri. Malikpun segera melepaskan pelukannya dan menghapus air


mata yang sudah membasahi wajahnya


“Gapapa nak. Ibu gapapa. Ini Malik lagi cengeng


aja. Hari ini temenin ibu bobo ya. Kalian jangan jauh-jauh. Tidur disebelah ibu

__ADS_1


sini ya.”


Mendengar pinta Bu Sri, Akbar segera mengambil


dua kursi lipat lagi untuk dirinya dan Indira. Malik dan Indira duduk disebelah


kanan, dan Akbar duduk di bagian kiri ranjang. Malik tidak pernah melepas


genggaman tangan Ibunya, sedangkan Indira dan Akbar bergantian memijat kakinya.


“Nak, kalian bertiga yang rukun yaa. Yang akur,


jangan berantem terus. Malik sama Akbar jagain Indira. Kalau bisa, Ibu


pengennya nanti Indira menikah sama Malik atau Akbar. Tapi kalaupun bukan


jodoh, apapun yang terjadi, Ibu berharap kalian bertiga tetap seperti ini ya”


Bu Sri mengusap kepala mereka bergantian. Ketiga anak ini hanya mengangguk


pelan. Tidak ada yang menolak atau membantah permintaan Bu Sri.


Melihat air mata yang keluar dari sudut mata Bu


Sri membuat Indira terluka. Ibu yang selama ini dia sayang melebihi Ibu


kandungnya memberikan harapan besar kepada mereka. Indira mulai melontarkan


kata-kata konyolnya, berharap air mata itu segera kering dan berganti dengan


senyuman hangat Bu Sri.


“buk, ibuk bisa bayangin ga kalau nanti neng


nikah sama Akbar? Pasti banyak piring pecah buk. Bukan karena berantem, tapi


gara-gara suara Akbar sama neng yang cempreng ini hahaha”


“Suara kamu kali ndi yang cempreng. Suara aku itu


terkenal. Kan repot kalau aku terkenal” Sahut Akbar tidak terima


“Merdu apaan. Terus nih buk ya, kalau misalkan


neng nikah sama Malik. Uhhh pasti hawa dirumah bakal jadi dingin gara-gara


kejutekan Malik. Udah pasti tiap hari kita bakalan perang terus, iya ga sih


lik?? Tapi nanti neng pikir-pikir deh, mau nikahnya sama Malik apa Akbar ”


“enggak lah. Kalau kamu jadi istriku, aku


gabakalan jutek lagi. Aku bakalan jadi suami paling baik sedunia. Terus kamu


bakalan klepek-klepek jatuh cinta sama aku. Haha”


Obrolan konyol mereka tentang pernikahan membuat


bu Sri tersenyum. Kehangatan inilah yang akan selalu dirindukan. Air mata yang


tadi membasahi pipi mereka kini berganti dengan sunggingan senyum indah.


“Ibu sayang kalian..”


Meskipun bicara dengan lirih, suara bu Sri bisa


terdengar oleh ketiga remaja ini. Dengan kompak dan senyuman lebar mereka


menjawab


“Kita juga sayang Ibuk...” Bergantian mereka


memeluk dan mencium kening Bu Sri.


Karena sudah masuk tengah malam, suasana mulai

__ADS_1


sepi. Mereka kembali ke posisi masing-masing. Indira dan Akbar duduk dan tertidur


disisi kiri Bu Sri dengan kepala yang diletakkan di ranjang pasien. Sementara


Malik tetap memegang tangan Ibunya. Tidak ada rasa kantuk di dalam diri Malik.


Dia hanya ingin menjaga ibunya.


10 menit, 30 menit, 60 menit berlalu. Malik tetap


di posisinya. Menggenggam tangan lembut ibunya. Malik mengusap pelan tangan hangat


itu. Berharap tangan itu akan selalu ia genggam.


“Bu, Malik sayang sama Ibu...”


Malik merasakan genggaman tangan ibunya sedikit


meregang. Tangan hangat itu menjadi dingin. Wajah berseri ibunya kembali


memucat. Sesaat Malik terdiam, mencerna apa yang sedang terjadi dengan Ibunya. Ketika


mulai tersadar, bulir besar air mata langsung turun membasahi pipi Malik. Malik


menangis dan terisak tanpa suara beberapa saat.


“Buk... ibuk.. Ibuk denger Malik kan buk..” Malik


mulai berbicara lirih sambil menangis. Dia tidak beranjak dari kursinya. Dia


menciumi tangan ibunya, seakan tidak ingin melepas ibunya. Mendengar suara


Malik, Indira dan Akbar langsung berdiri memastikan kondisi Bu Sri.


Indira menggoyangkan bahu, memegang pipi,


mengusap tangan Bu Sri, tapi tidak ada jawaban.


“Lik Ibu kenapa. Kok dingin. Kok diem aja. Ibuk


banguuunnn.....” Air mata mulai membanjiri wajah cantik Indi, sedangkan Malik


tetap menangis di tangan ibunya.


Menyadari ada yang aneh, Akbar langsung berlari


mencari dokter. Beberapa perawat dan dokter Bagas yang kebetulan shift malam


langsung berlari menghampiri ruangan Bu Sri.


Dokter memeriksa beberapa bagian tubuh Bu


Sri. Cukup lama dokter memeriksa tubuh Bu Sri. Memeriksa denyut nadi, tekanan darah, dan beberapa organ vital yang lain. Setelah dirasa mendapat jawaban, dokter Bagas berpindah posisi menghampiri Malik


yang masih tertunduk dan menepuk pundaknya.


“kamu harus kuat ya. Emm, Akbar. Tolong hubungi


papi kamu sekarang ya. Kita tunggu 2 jam untuk memastikan Bu Sri”


Akbar hanya terdiam. Banyak pertanyaan yang berkubang dalam otaknya. apa yang harus dipastikan?? Kenapa harus menghubungi papi?? Apakah dengan kehadiran kami tidak cukup untuk menemani Ibu? Sebenarnya apa yang terjadi??


Para perawat mulai melepas infus dan selang


oksigen yang menempel di tubuh Bu Sri, dan dokter Bagas berlalu meninggalkan


mereka.


Meskipun dengan banyak pertanyaan dalam kepalanya, Akbar berusaha untuk menghubungi papi, papa dan


mamanya, Indira langsung mendekat dan memeluk Malik. Ia menangis dipelukan


sahabatnya. Malikpun tidak menolak pelukan Indira. Dia mengusap kepala Indi


dengan pelan seakan menguatkan gadis itu. Malik menutupi kesedihannya meskipun

__ADS_1


sebenarnya dialah yang paling terluka dengan kepergian ibunya.


__ADS_2