
Bu Sri memilih untuk dijaga oleh Malik, Indira
dan juga Akbar. Beruntung besok adalah hari libur untuk anak sekolah. Akbar
terpejam di sofa sementara Indira merebahkan kepalanya diatas pangkuan
Akbar. Malik duduk disamping ibunya
sambil memperhatikan wajah ibunya yang sedang tertidur. Sesaat Malik tersenyum melihat kulit wajah
ibunya yang sudah keriput. Tapi sesaat kemudian, mata malik mulai
berkaca-kaca.
Ia mulai memikirkan, bagaimana perjuangan Ibunya.
Sebagai yatim piatu, sedari kecil ibunya sudah harus berjualan kue untuk
membiayai sekolahnya. Setelah menikah dengan ayahnya pun kebahagiaan Ibunya
tidak berlangsung lama. 3 tahun setelah kelahiran Malik, Ibunya harus rela
kehilangan bayi perempuan yang baru dilahirkan. Beberapa tahun kemudian, sang
ayah pergi karena menjadi korban tabrak lari. Semenjak saat itu ibunya harus
bekerja keras menjadi seorang ayah dan ibu bagi dirinya meskipun dengan
penyakit yang menggerogoti tubuh Bu Sri. Tapi tidak pernah sekalipun Malik
mendengar ibunya mengeluh.
Air mata mulai menetes dari sudut mata Malik. Ia
sengaja tidak menghapus tetesan air matanya karena tidak ingin melepas
genggaman tangan ibunya. Malik menangis dalam diam, tidak ada yang tau betapa
hancur hatinya meihat ibunya terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien.
“Bu, Malik takut.. Malik gabisa jauh dari Ibu.
Ibu jangan sakit, lebih baik Malik yang sakit daripada harus lihat Ibu seperti
ini”.
Butiran air yang terjatuh menjadi semakin besar,
Malik menundukkan kepalanya, terisak ketika membayangkan ketakutan yang ada
dalam dirinya. Ketika merasa Ibunya menggerakkan tangan, Malik segera
mendongakkan kepalanya.
“Kamu ngapain nangis Malik?” Bu Sri mengusap
pelan kepala anak kesayangannya itu. Dengan tenangnya Bu Sri tersenyum tipis. Senyumnya seperti mencoba mengatakan bahwa dia sudah tidak apa-apa.
“Malik takut bu.. Malik takuutt..” Malik berdiri
dan memeluk tubuh ringkih ibunya yang terbaring. Tangisan Malik membangunkan
Indira dan Akbar yang sedang terlelap di sofa. Indira dan Akbar langsung
menghampiri Bu Sri yang sedang berpelukan dengan anaknya
“Ibuk gapapa??” Tanya Akbar khawatir sambil
memegang kaki Bu Sri. Malikpun segera melepaskan pelukannya dan menghapus air
mata yang sudah membasahi wajahnya
“Gapapa nak. Ibu gapapa. Ini Malik lagi cengeng
aja. Hari ini temenin ibu bobo ya. Kalian jangan jauh-jauh. Tidur disebelah ibu
__ADS_1
sini ya.”
Mendengar pinta Bu Sri, Akbar segera mengambil
dua kursi lipat lagi untuk dirinya dan Indira. Malik dan Indira duduk disebelah
kanan, dan Akbar duduk di bagian kiri ranjang. Malik tidak pernah melepas
genggaman tangan Ibunya, sedangkan Indira dan Akbar bergantian memijat kakinya.
“Nak, kalian bertiga yang rukun yaa. Yang akur,
jangan berantem terus. Malik sama Akbar jagain Indira. Kalau bisa, Ibu
pengennya nanti Indira menikah sama Malik atau Akbar. Tapi kalaupun bukan
jodoh, apapun yang terjadi, Ibu berharap kalian bertiga tetap seperti ini ya”
Bu Sri mengusap kepala mereka bergantian. Ketiga anak ini hanya mengangguk
pelan. Tidak ada yang menolak atau membantah permintaan Bu Sri.
Melihat air mata yang keluar dari sudut mata Bu
Sri membuat Indira terluka. Ibu yang selama ini dia sayang melebihi Ibu
kandungnya memberikan harapan besar kepada mereka. Indira mulai melontarkan
kata-kata konyolnya, berharap air mata itu segera kering dan berganti dengan
senyuman hangat Bu Sri.
“buk, ibuk bisa bayangin ga kalau nanti neng
nikah sama Akbar? Pasti banyak piring pecah buk. Bukan karena berantem, tapi
gara-gara suara Akbar sama neng yang cempreng ini hahaha”
“Suara kamu kali ndi yang cempreng. Suara aku itu
terkenal. Kan repot kalau aku terkenal” Sahut Akbar tidak terima
“Merdu apaan. Terus nih buk ya, kalau misalkan
neng nikah sama Malik. Uhhh pasti hawa dirumah bakal jadi dingin gara-gara
kejutekan Malik. Udah pasti tiap hari kita bakalan perang terus, iya ga sih
lik?? Tapi nanti neng pikir-pikir deh, mau nikahnya sama Malik apa Akbar ”
“enggak lah. Kalau kamu jadi istriku, aku
gabakalan jutek lagi. Aku bakalan jadi suami paling baik sedunia. Terus kamu
bakalan klepek-klepek jatuh cinta sama aku. Haha”
Obrolan konyol mereka tentang pernikahan membuat
bu Sri tersenyum. Kehangatan inilah yang akan selalu dirindukan. Air mata yang
tadi membasahi pipi mereka kini berganti dengan sunggingan senyum indah.
“Ibu sayang kalian..”
Meskipun bicara dengan lirih, suara bu Sri bisa
terdengar oleh ketiga remaja ini. Dengan kompak dan senyuman lebar mereka
menjawab
“Kita juga sayang Ibuk...” Bergantian mereka
memeluk dan mencium kening Bu Sri.
Karena sudah masuk tengah malam, suasana mulai
__ADS_1
sepi. Mereka kembali ke posisi masing-masing. Indira dan Akbar duduk dan tertidur
disisi kiri Bu Sri dengan kepala yang diletakkan di ranjang pasien. Sementara
Malik tetap memegang tangan Ibunya. Tidak ada rasa kantuk di dalam diri Malik.
Dia hanya ingin menjaga ibunya.
10 menit, 30 menit, 60 menit berlalu. Malik tetap
di posisinya. Menggenggam tangan lembut ibunya. Malik mengusap pelan tangan hangat
itu. Berharap tangan itu akan selalu ia genggam.
“Bu, Malik sayang sama Ibu...”
Malik merasakan genggaman tangan ibunya sedikit
meregang. Tangan hangat itu menjadi dingin. Wajah berseri ibunya kembali
memucat. Sesaat Malik terdiam, mencerna apa yang sedang terjadi dengan Ibunya. Ketika
mulai tersadar, bulir besar air mata langsung turun membasahi pipi Malik. Malik
menangis dan terisak tanpa suara beberapa saat.
“Buk... ibuk.. Ibuk denger Malik kan buk..” Malik
mulai berbicara lirih sambil menangis. Dia tidak beranjak dari kursinya. Dia
menciumi tangan ibunya, seakan tidak ingin melepas ibunya. Mendengar suara
Malik, Indira dan Akbar langsung berdiri memastikan kondisi Bu Sri.
Indira menggoyangkan bahu, memegang pipi,
mengusap tangan Bu Sri, tapi tidak ada jawaban.
“Lik Ibu kenapa. Kok dingin. Kok diem aja. Ibuk
banguuunnn.....” Air mata mulai membanjiri wajah cantik Indi, sedangkan Malik
tetap menangis di tangan ibunya.
Menyadari ada yang aneh, Akbar langsung berlari
mencari dokter. Beberapa perawat dan dokter Bagas yang kebetulan shift malam
langsung berlari menghampiri ruangan Bu Sri.
Dokter memeriksa beberapa bagian tubuh Bu
Sri. Cukup lama dokter memeriksa tubuh Bu Sri. Memeriksa denyut nadi, tekanan darah, dan beberapa organ vital yang lain. Setelah dirasa mendapat jawaban, dokter Bagas berpindah posisi menghampiri Malik
yang masih tertunduk dan menepuk pundaknya.
“kamu harus kuat ya. Emm, Akbar. Tolong hubungi
papi kamu sekarang ya. Kita tunggu 2 jam untuk memastikan Bu Sri”
Akbar hanya terdiam. Banyak pertanyaan yang berkubang dalam otaknya. apa yang harus dipastikan?? Kenapa harus menghubungi papi?? Apakah dengan kehadiran kami tidak cukup untuk menemani Ibu? Sebenarnya apa yang terjadi??
Para perawat mulai melepas infus dan selang
oksigen yang menempel di tubuh Bu Sri, dan dokter Bagas berlalu meninggalkan
mereka.
Meskipun dengan banyak pertanyaan dalam kepalanya, Akbar berusaha untuk menghubungi papi, papa dan
mamanya, Indira langsung mendekat dan memeluk Malik. Ia menangis dipelukan
sahabatnya. Malikpun tidak menolak pelukan Indira. Dia mengusap kepala Indi
dengan pelan seakan menguatkan gadis itu. Malik menutupi kesedihannya meskipun
__ADS_1
sebenarnya dialah yang paling terluka dengan kepergian ibunya.