
Sudah 1 minggu semenjak kepulangan Malik. Setelah
mendapat perawatan selama 9 hari di rumah sakit, Malik akhirnya mendapat ijin
dari dokter untuk melakukan rawat jalan.
Meskipun di rumah Pak Adi kamarnya
terletak di lantai 2, Malik lebih memilih untuk tinggal disana dengan dalih ada
Akbar yang akan leluasa membantunya. Para orang tua pun menuruti apa yang
diminta oleh Malik.
Pak Adi memang sempat melaporkan Fajar ke kantor
polisi. Dan lelaki itu mendekam di sel selama 5 hari saja, karena Pak Adi
mencabut tuntutannya dan bersedia menjadi penjamin bagi Fajar. Dengan syarat,
Fajar tidak boleh menetap di kota Bandung., agar tidak kembali membahayakan
nyawa anak-anaknya. Kasus ini pun tertutup rapat dari keluarga yang lain.
Meskipun Indira tidak tau siapa pelaku tabrak
lari Malik sebenarnya, dia tetap selalu menyalahkan dirinya. Seandainya dia tidak
merengek minta jajanan, pasti hal ini tidak akan terjadi. Pasti Malik bisa
masuk ke akademi kepolisian. Pasti Malik tidak akan kesakitan seperti saat ini.
Pikiran itulah yang selalu berputar dalam kepala Indira. Membuatnya tidak bisa
jauh dari Malik. Bahkan semenjak kepulangan Malik, Indira lebih sering tidur
di rumah Pak Adi daripada dirumahnya sendiri.
Indira dan Akbar selalu setia membantu kegiatan
Malik sehari-hari. Meskipun sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat, Indira
tetap bersikukuh untuk memapah Malik kemanapun dia pergi. Pada saat makanpun
Indira selalu memaksa untuk menyuapi Malik.
Hari itu, tidak biasanya Indira datang ke rumah
Pak Adi dengan mata yang sembab. Dia berjalan ke arah Malik dan Akbar yang
sedang duduk di ruang tengah. Indira langsung duduk diantara kedua pria itu,
menyelipkan wajahnya di belakang punggung Akbar dan mulai terisak dengan suara
yang lirih.
“Aah ndi jangan nangis di situ. Nanti ingus kamu
nempel di baju aku” Teriak Akbar protes. Indira dengan paksa didudukkan oleh
Akbar. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Dia hanya
sibuk meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya.
Akbar meraih kepala Indira dan memegang wajahnya
menggunakan kedua tangan. Berharap agar Indira menatapnya.
“cerita dulu. Jangan nangis gitu. Kenapa? Jatuh?”
“gaun aku iiilaaaaanggg.. huhuuuhuuuuu” Si
cengeng Indira kembali meneteskan air matanya.
“Gaun yang mana?? Yaudah jangan nangis, nanti
kita beli lagi ya” Akbar berusaha menenangkan Indira meskipun sebenarnya apa
__ADS_1
yang dikatakan Akbar hanyalah bualan.
“Gabakalan bisa dibeliii. Huhuuuu. Ituu. Sketsa
yang dibikinin ibuk ilaaangggg. Gaun pengantin akuuuuu barr. Hiks hiks, Malik
gimana donggg. Aku gabisa nikah kalau ga pakai gaun rancangan ibuk”
Malik hanya tersenyum mendengar tangisan
hiperbola Indira. Umurnya saja masih belum genap 17 tahun, tapi sudah berpikir
untuk menikah. Malik menatap wajah Indira dengan tajam. Matanya menunjuk ke arah lantai dua. Lebih tepatnya ke arah
kamarnya.
Indira masih telihat kebingungan dengan apa yang
Malik maksud.
“Di laci nomer dua sebelah kanan tempat tidur
aku. Udah sana ambil”
Begitu memahami apa yang dimaksud, Indira
langsung berlari seribu bayangan untuk mengambil benda yang dimaksud. Tanpa
ragu ia memasuki kamar dan menuju ke arah cabinet. Terlihat kertas lusuh yang
biasanya dia bawa, saat ini menjadi rapi dan ada didalam sebuah pigura polos
berwarna hitam. Sketsa itu terlihat lebih menarik karena ada didalam sebuah
tempat yang elegan
Mungkin bagi orang lain, kertas itu hanya sebuah
gambar biasa yang bisa didapatkan dari perancang busana lain. Tapi bagi Indira,
didalam gambar itu terdapat kasih sayang dan kehangatan Bu Sri. Dia sudah
akan membalut tubuhnya di hari pernikahan.
Selain menjadi pegawai kantoran, menikah dengan
menggunakan gaun rancangan Bu Sri adalah mimpi terbesarnya. Memikirkan gaun apa
yang dia pakai menjadi lebih penting daripada dengan siapa dia bersanding di
pelaminan nanti.
Indira menatap dalam sketsa itu. Mengamati setiap
garis yang hampir setiap hari dia lihat. Meskipun sudah hapal dengan
detailnya, mata Indira tidak pernah bosan untuk memandangnya. Begitu indah
gambar itu. Terpancar ketulusan di setiap goresannya. Betapa bersyukurnya
Indira bisa memiliki sketsa itu.
Setelah lama berkutat dengan pikirannya sendiri,
Indira melangkahkan kakinya ke tempat semula. Berjalan dengan santai mendekati
kedua sahabatnya. Dan kembali duduk di antara mereka berdua. Mata sembabnya
sudah memudar, berganti dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Udah, seneng??” Indira hanya mengangguk
mendengar pertanyaan dari Malik. matanya hanya tertuju pada kertas yang saat
ini terbungkus rapi dalam pigura.
Indira mengabaikan Akbar yang kembali menggerutu
__ADS_1
karena melihat tingkahnya yang begitu hiperbola sekaligus sikapnya yang
berubah-ubah. 10 menit yang lalu menangis tersedu, sekarang tersenyum haru.
Sebenarnya ada mantra apa di dalam kertas itu hingga membuat Indira menjadi
sedikit tidak waras.
“Asal kalian tau aja, meskipun ini Cuma gambar,
tapi di dalem gambar ini ada kasih sayang ibuk buat aku”
Indira kembali menjelaskan betapa lihai Bu Sri
ketika menggambar sketsa ini. Indira masih mengingat dengan jelas bagaimana
wajah antusias dan bahagia Bu Sri saat menggoreskan pensilnya.
“Malik gimana?? Tangan sama kaki kamu masih
sakit?? Maafin aku yaa..”
Malik hanya meggelengkan kepalanya pelan. Dia
tersenyum sembari mengusap kepala Indira.
“Gara-gara aku, kamu jadi gabisa masuk akpol,
tangan sama kaki kamu juga jadi sakit. Apa aku nikah sama kamu aja ya lik? Biar
bisa ngurusin kamu seumur hidup. Biar aku tanggung jawab”
PLETAKKK
Indira meringis kesakitan karena sentilan tangan
Akbar yang mendarat tepat di keningnya.
“haha. Mana mau Malik sama kamu. Udah jangan
ngelantur”
“Ndi, udah jangan ngerasa bersalah terus. Ini
bukan salah kamu. Mungkin emang bukan takdir aku buat jadi polisi. Aku udah
mutusin mau kuliah jurusan hukum. Aku mau jadi pengacara aja. Kalo kaya gitu
kan aku masih tetep bisa cari tau tentang kasusnya bapak. Jangan mikirin itu
lagi. Sekarang kita fokus aja sama sekolah kita.” Sifat dewasa Malik membuat
Indira terharu. Ia mulai menyandarkan kepalanya di bahu kanan Malik. dia
memijat pelan tangan sahabatnya.
Kembali meracau tentang masa depan masing-masing.
Bagaimana mereka akan hidup kelak. Apakah akan selalu bersama seperti ini.
Apakah tetap selalu menyayangi. Apakah nantinya pekerjaan mereka sesuai dengan
yang diharapkan. Apakah tetap bisa meluangkan waktu ditengah kesibukan
pekerjaannya. Apakah hubungan asmara akan kembali menciptakan jarak bagi
mereka. Entahlah.
Bagi Malik, Indira dan Akbar, bisa menjadi
sahabat seperti ini adalah yang terbaik. Sahabat yang sudah seperti keluarga
yang saling menjaga dan menyayangi. Meskipun ada rasa yang harus dinomor
duakan. Tapi mungkin saja, dikemudian hari Malik memiliki keberanian untuk
menyatakan perasaannya kepada Indira. Atau bisa jadi Akbar yang terlihat selalu
__ADS_1
menjahili Indira tiba-tiba menyatakan cinta pada Indira. Siapa yang tau..