Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH30-Kepulangan Malik


__ADS_3

Sudah 1 minggu semenjak kepulangan Malik. Setelah


mendapat perawatan selama 9 hari di rumah sakit, Malik akhirnya mendapat ijin


dari dokter untuk melakukan rawat jalan.


Meskipun di rumah Pak Adi kamarnya


terletak di lantai 2, Malik lebih memilih untuk tinggal disana dengan dalih ada


Akbar yang akan leluasa membantunya. Para orang tua pun menuruti apa yang


diminta oleh Malik.


Pak Adi memang sempat melaporkan Fajar ke kantor


polisi. Dan lelaki itu mendekam di sel selama 5 hari saja, karena Pak Adi


mencabut tuntutannya dan bersedia menjadi penjamin bagi Fajar. Dengan syarat,


Fajar tidak boleh menetap di kota Bandung., agar tidak kembali membahayakan


nyawa anak-anaknya. Kasus ini pun tertutup rapat dari keluarga yang lain.


Meskipun Indira tidak tau siapa pelaku tabrak


lari Malik sebenarnya, dia tetap selalu menyalahkan dirinya. Seandainya dia tidak


merengek minta jajanan, pasti hal ini tidak akan terjadi. Pasti Malik bisa


masuk ke akademi kepolisian. Pasti Malik tidak akan kesakitan seperti saat ini.


Pikiran itulah yang selalu berputar dalam kepala Indira. Membuatnya tidak bisa


jauh dari Malik. Bahkan semenjak kepulangan Malik, Indira lebih sering tidur


di rumah Pak Adi daripada dirumahnya sendiri.


Indira dan Akbar selalu setia membantu kegiatan


Malik sehari-hari. Meskipun sudah bisa berjalan dengan bantuan tongkat, Indira


tetap bersikukuh untuk memapah Malik kemanapun dia pergi. Pada saat makanpun


Indira selalu memaksa untuk menyuapi Malik.


Hari itu, tidak biasanya Indira datang ke rumah


Pak Adi dengan mata yang sembab. Dia berjalan ke arah Malik dan Akbar yang


sedang duduk di ruang tengah. Indira langsung duduk diantara kedua pria itu,


menyelipkan wajahnya di belakang punggung Akbar dan mulai terisak dengan suara


yang lirih.


“Aah ndi jangan nangis di situ. Nanti ingus kamu


nempel di baju aku” Teriak Akbar protes. Indira dengan paksa didudukkan oleh


Akbar. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mungilnya. Dia hanya


sibuk meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya.


Akbar meraih kepala Indira dan memegang wajahnya


menggunakan kedua tangan. Berharap agar Indira menatapnya.


“cerita dulu. Jangan nangis gitu. Kenapa? Jatuh?”


“gaun aku iiilaaaaanggg.. huhuuuhuuuuu” Si


cengeng Indira kembali meneteskan air matanya.


“Gaun yang mana?? Yaudah jangan nangis, nanti


kita beli lagi ya” Akbar berusaha menenangkan Indira meskipun sebenarnya apa

__ADS_1


yang dikatakan Akbar hanyalah bualan.


“Gabakalan bisa dibeliii. Huhuuuu. Ituu. Sketsa


yang dibikinin ibuk ilaaangggg. Gaun pengantin akuuuuu barr. Hiks hiks, Malik


gimana donggg. Aku gabisa nikah kalau ga pakai gaun rancangan ibuk”


Malik hanya tersenyum mendengar tangisan


hiperbola Indira. Umurnya saja masih belum genap 17 tahun, tapi sudah berpikir


untuk menikah. Malik menatap wajah Indira dengan tajam. Matanya menunjuk ke arah lantai dua. Lebih tepatnya ke arah


kamarnya.


Indira masih telihat kebingungan dengan apa yang


Malik maksud.


“Di laci nomer dua sebelah kanan tempat tidur


aku. Udah sana ambil”


Begitu memahami apa yang dimaksud, Indira


langsung berlari seribu bayangan untuk mengambil benda yang dimaksud. Tanpa


ragu ia memasuki kamar dan menuju ke arah cabinet. Terlihat kertas lusuh yang


biasanya dia bawa, saat ini menjadi rapi dan ada didalam sebuah pigura polos


berwarna hitam. Sketsa itu terlihat lebih menarik karena ada didalam sebuah


tempat yang elegan


Mungkin bagi orang lain, kertas itu hanya sebuah


gambar biasa yang bisa didapatkan dari perancang busana lain. Tapi bagi Indira,


didalam gambar itu terdapat kasih sayang dan kehangatan Bu Sri. Dia sudah


akan membalut tubuhnya di hari pernikahan.


Selain menjadi pegawai kantoran, menikah dengan


menggunakan gaun rancangan Bu Sri adalah mimpi terbesarnya. Memikirkan gaun apa


yang dia pakai menjadi lebih penting daripada dengan siapa dia bersanding di


pelaminan nanti.


Indira menatap dalam sketsa itu. Mengamati setiap


garis yang hampir setiap hari dia lihat. Meskipun sudah hapal dengan


detailnya, mata Indira tidak pernah bosan untuk memandangnya. Begitu indah


gambar itu. Terpancar ketulusan di setiap goresannya. Betapa bersyukurnya


Indira bisa memiliki sketsa itu.


Setelah lama berkutat dengan pikirannya sendiri,


Indira melangkahkan kakinya ke tempat semula. Berjalan dengan santai mendekati


kedua sahabatnya. Dan kembali duduk di antara mereka berdua. Mata sembabnya


sudah memudar, berganti dengan senyuman tipis di bibirnya.


“Udah, seneng??” Indira hanya mengangguk


mendengar pertanyaan dari Malik. matanya hanya tertuju pada kertas yang saat


ini terbungkus rapi dalam pigura.


Indira mengabaikan Akbar yang kembali menggerutu

__ADS_1


karena melihat tingkahnya yang begitu hiperbola sekaligus sikapnya yang


berubah-ubah. 10 menit yang lalu menangis tersedu, sekarang tersenyum haru.


Sebenarnya ada mantra apa di dalam kertas itu hingga membuat Indira menjadi


sedikit tidak waras.


“Asal kalian tau aja, meskipun ini Cuma gambar,


tapi di dalem gambar ini ada kasih sayang ibuk buat aku”


Indira kembali menjelaskan betapa lihai Bu Sri


ketika menggambar sketsa ini. Indira masih mengingat dengan jelas bagaimana


wajah antusias dan bahagia Bu Sri saat menggoreskan pensilnya.


“Malik gimana?? Tangan sama kaki kamu masih


sakit?? Maafin aku yaa..”


Malik hanya meggelengkan kepalanya pelan. Dia


tersenyum sembari mengusap kepala Indira.


“Gara-gara aku, kamu jadi gabisa masuk akpol,


tangan sama kaki kamu juga jadi sakit. Apa aku nikah sama kamu aja ya lik? Biar


bisa ngurusin kamu seumur hidup. Biar aku tanggung jawab”


PLETAKKK


Indira meringis kesakitan karena sentilan tangan


Akbar yang mendarat tepat di keningnya.


“haha. Mana mau Malik sama kamu. Udah jangan


ngelantur”


“Ndi, udah jangan ngerasa bersalah terus. Ini


bukan salah kamu. Mungkin emang bukan takdir aku buat jadi polisi. Aku udah


mutusin mau kuliah jurusan hukum. Aku mau jadi pengacara aja. Kalo kaya gitu


kan aku masih tetep bisa cari tau tentang kasusnya bapak. Jangan mikirin itu


lagi. Sekarang kita fokus aja sama sekolah kita.” Sifat dewasa Malik membuat


Indira terharu. Ia mulai menyandarkan kepalanya di bahu kanan Malik. dia


memijat pelan tangan sahabatnya.


Kembali meracau tentang masa depan masing-masing.


Bagaimana mereka akan hidup kelak. Apakah akan selalu bersama seperti ini.


Apakah tetap selalu menyayangi. Apakah nantinya pekerjaan mereka sesuai dengan


yang diharapkan. Apakah tetap bisa meluangkan waktu ditengah kesibukan


pekerjaannya. Apakah hubungan asmara akan kembali menciptakan jarak bagi


mereka. Entahlah.


Bagi Malik, Indira dan Akbar, bisa menjadi


sahabat seperti ini adalah yang terbaik. Sahabat yang sudah seperti keluarga


yang saling menjaga dan menyayangi. Meskipun ada rasa yang harus dinomor


duakan. Tapi mungkin saja, dikemudian hari Malik memiliki keberanian untuk


menyatakan perasaannya kepada Indira. Atau bisa jadi Akbar yang terlihat selalu

__ADS_1


menjahili Indira tiba-tiba menyatakan cinta pada Indira. Siapa yang tau..


__ADS_2