Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH10- Pemakaman


__ADS_3

Kepergian Bu Sri tidak hanya diiringi oleh


keluarga Pak Adi dan Pak Adrian. Tapi hampir semua tetangga dikampungnya


bergotong-royong membantu proses pemakaman Bu Sri. Bu Sri dimakamkan di


pemakaman yang cukup jauh dari kampungnya. Kebaikan hati Bu Sri memang membuat


banyak orang dikampung itu merasa kehilangan. Bahkan terlihat ada beberapa anak


jalanan yang sering diberi kue oleh Bu Sri datang ke pemakaman untuk melepas


kepergian wanita baik hati itu.


Sekitar 25 menit para pelayat berjalan mengantar


Bu Sri ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pak Adi, Pak Adrian dan Akbar ikut


membantu membopong keranda Bu Sri. Sedangkan Malik berjalan dibelakangnya


didampingi oleh Indira dan Bu Mega.


Indira tidak berniat untuk melepaskan


genggamannya dari tangan Malik. Meskipun dia juga sedih tapi Indira menyadari,


saat ini Maliklah yang paling kehilangan, paling terluka dan paling membutuhkan


dorongan kekuatan dari orang lain.


Semenjak dokter memberitahukan kematian Bu Sri,


tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Malik. Dia lebih sering


melamun, dan sesekali meneteskan air mata yang kemudian segera ia hapus.


Selama proses pemakaman pun Malik hanya melihat


kepergian ibunya dengan tatapan kosong. Pikirannya berlarian kesana kemari.


Memikirkan tentang kenangan bersama ibunya. Tentang bagaimana nasibnya setelah


ini. Tetang betapa buruk sikapnya selama menjadi anak.


Malik melihat bagaimana tubuh ibunya yang selama


ini selalu mendekapnya perlahan-lahan tertutup oleh tanah. Tidak ada lagi air


mata yang keluar. Seakan seluruh air mata yang ia punya telah surut. Dia


melihat orang-orang mulai menaburkan bunga diatas pusara ibunya. Dia tidak tahu


siapa siapa saja yang membantu pemakaman ibunya. Semuanya gelap, mata Malik


seakan tertutup oleh bayangan hitam. Hanya wajah Indira yang dia kenali. Gadis


yang selalu ada disampingnya.


Beberapa pelayat terlihat mulai meninggalkan


lokasi pemakaman. Namun Malik tetap berdiri di posisinya, seakan sedang


mencerna apa yang sedang terjadi. Beberapa kali pundaknya ditepuk oleh pelayat


sebagai tanda ucapan bela sungkawa, tapi Malik tetap tidak memberikan reaksi.


Bu Mega mulai khawatir dengan kondisi Malik. Semenjak


Ibunya masuk ke rumah sakit, Malik belum istirahat, tidur dan juga makan.


“Malik, kita pulang ya nak. Dirumah kamu pasti

__ADS_1


banyak tamu yang mau melayat, kamu juga mulai kemarin belum makan.” Tidak ada


jawaban dari bibir Malik, matanya menatap nanar ke arah nisan yang bertuliskan


nama ibunya.


“Ma, mama papa sama papi pulang aja dulu. Biar


Akbar nemenin Malik sama Indira disini dulu.”


“Akbar, papa titip mereka ya nak. Indi kita


pulang dulu ya, kamu yang tabah ya sayang” Pinta Pak Adrian sambil mengusap


pelan kepala putrinya. Indira mengangguk pelan sembari menahan air mata yang mulai menggenang.


Bu Mega, Pak Adrian dan Pak Adi berlalu


meninggalkan anak-anaknya di makam. Mereka tahu bagaimana terpukulnya anak-anak


itu ketika harus kehilangan ibu kesayangan mereka.


Malik mulai duduk disamping rumah terakhir


ibunya. Berulang kali matanya membaca nama yang tertulis seakan tidak percaya.


Tangan kirinya mulai memegang batu nisan itu, sedangkan tangan kanannya tetap


digenggam oleh Indi. Sementara Akbar duduk didepannya sambil memperhatikan


tingkah Malik.


Beberapa saat tercipta keheningan diantara


mereka. Hanya suara lirih isak tangis Indira yang selalu terdengar. Seakan


tersadar, Malik mulai menolehkan kepalanya ke arah Indira. Dia menatap lama


Malik berharap bahwa Indira akan segera membangunkannya dari mimpi buruk ini.


“Ndi.. Ini ibu??” Indira terdiam dan menundukkan


kepalanya, air mata kembali mengalir di wajah cantiknya. Merasa tidak mendapat


jawaban, Malik berpindah melihat Akbar.


“Bar.. Ini yang disini beneran Ibu? Ibu aku??”


dengan satu anggukan kepala, jawaban dari Akbar seperti meruntuhkan hati Malik.


Air matanya langsung berurai. Nafasnya mulai tersengal, seperti ada yang


mencekik saluran pernafasannya. Suara tangisan Malik mulai terdengar.


Dengan segera Indira melepaskan tangan Malik dan berganti memeluknya. Indira memeluk


Malik dengan erat, hingga air matanya membasahi bahu Malik. Laki-laki pendiam yang selalu jahil padanya kini sedang ada dipelukannya. menangis berurai air mata. tanpa melihat pun semua orang pasti tau betapa hancur Malik saat ini.


“indii.. kenapa cepet banget ndii.. ibuk ndii...


ibuk pergi ndiii.” Suara serak Malik mulai terdengar menyebut ibunya


berkali-kali, tangisnya pecah.. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir


Indira. Dia hanya mengangguk dan menepuk pelan punggung Malik.


Sedangkan Akbar mulai meneteskan air matanya.


Melihat sahabatnya menangis seperti itu membuat hatinya teriris. Membayangkan


betapa hancur hati Malik ketika harus ditinggal pergi ibu untuk selamanya.

__ADS_1


Akbarpun juga merasa terpukul dengan kepergian Bu Sri. Belum lama Akbar


merasakan kehangatan dari seorang ibu, tapi kini dia harus kehilangan lagi.


Bagi Akbar Bu Sri jauh lebih berharga dibanding mami kandungnya.


Akbar berdiri dan menghampiri sahabatnya. Ia


mencoba melepaskan pelukan Indira dan Malik. Akbar berusaha untuk menyadarkan


Malik, bahwa yang terjadi memang sudah harusnya seperti ini. Perlahan Malik


melepaskan pelukannya, dan mulai menatap Akbar. Matanya sayu tertutup oleh


genangan air mata.


“Bar, aku kangen ibuk.” Tangis Malik kembali


pecah ketika mulai bicara. Giliran Akbar yang memeluk Malik. Akbar menahan air


matanya agar tidak membuat yang lain semakin sedih.


“Iya lik. Aku tau. Aku juga kangen sama Ibuk.


Tapi kita harus kuat lik. Ibuk pasti sedih kalau lihat kita seperti ini. Ibuk


gabakalan tenang kalau kamu sama Indi nangis terus kaya gini. Bukan yang ibuk


pengen lik. Ini sudah takdir.. Sekarang kita pulang dulu ya.” Akbar mulai mengangkat pelan tubuh


Malik, dan merangkul tubuh lemah itu.


Indi kembali menggenggam tangan Malik. Menuntun


Malik agar segera pergi dari area pemakaman. Meskipun merasa sangat kehilangan,


mereka tetap harus saling menguatkan. Di perjalanan pulang tidak ada suara dan


air mata. Hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


“buk, Ibuk yang tenang disana ya buk. Neng janji


bakal sering-sering jengukin ibuk. Neng sayang sama Ibuk” Indira


“Ibuk adalah ibu Akbar. Ibuk adalah pengganti


Mami, bahkan jauh lebih baik dari Mami. Akbar akan menjaga Malik dan Indira buk.


Ibuk bahagia disana ya buk..” Akbar


“maafin Malik buk.. Malik belum bisa jadi anak


yang baik buat Ibu. Malik masih sering nyusahin ibu,, bikin ibu nangis. Bahkan


Malik gatau kalau ternyata Ibu sesakit ini. Lebih baik Malik ga sekolah,


gantiin ibu kerja. Jadi Ibu gaakan seperti ini buk.. Maafin Malik.. Malik janji


akan buat ibu bangga. Malik gamau nyusahin mama, papa sama papi. Malik bakal


selalu inget pesan-pesan Ibu. Doakan aku ya bu.. ibu adalah malaikat buat


Malik.. Semoga Ibu bisa ketemu bapak disana. Semoga Ibu bahagia...”


Kepergian Bu Sri membuat ketiga remaja ini runtuh


seakan kehilangan pegangannya. Tidak akan ada lagi amarah Bu Sri karena


pertengkaran mereka, tidak akan ada lagi balado terong dan pisang coklat, tidak


ada lagi senyuman hangat yang selalu menanti mereka sepulang sekolah. Semua

__ADS_1


hanya menjadi kenangan~


__ADS_2