Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH27- Kecelakaan


__ADS_3

Sudah dua bulan semenjak kejadian mengerikan itu


terjadi. Indira benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Fajar. Setiap hari


dia lebih memilih untuk pulang pergi sekolah bersama dengan Malik. Dia juga


lebih sering menghindari Anggi karena sedikit merasa tidak nyaman. Meskipun


terkadang masih harus duduk bersama jika papi Akbar mengundang Anggi untuk


makan malam dirumahnya. Mereka bertiga sepakat untuk melupakan dan tidak


membahas kejadian itu. Terutama didepan orang tua mereka.


Malik dan Akbar juga semakin ketat menjaga


Indira. Bahkan jika Indira pergi dengan Renata sahabat di kelasnya, Malik akan


setia mengikuti. Indira juga tidak merasa keberatan dengan sikap Malik dan


Akbar yang lebih posesif terhadapnya. Indira juga lebih memilih untuk tidak


menjalin hubungan lagi dengan lelaki selama masa SMA nya belum berakhir.


Mereka bertiga benar-benar menikmati masa ini.


Satu minggu sekali mereka akan menginap bersama. Entah di rumah Pak Adi, Pak


Adrian atau di villa. Di malam hari pun mereka lebih sering bersama hanya untuk


sekedar mengerjakan tugas atau berbincang mengenai cita-cita mereka. Tentang


Malik yang ingin menjadi polisi, tentang cita-cita Akbar menjadi pemain band


yang harus gagal, tentang Indira yang ingin menjadi pegawai kantoran, dan masih


banyak hal lainnya


Siang itu, Malik dan Indira sedang berjalan di


area depan sekolah. Gadis itu merengek untuk dibelikan cilok. Karena takut kulit


putihnya terbakar terik matahari, Indira memohon agar Malik yang pergi.


Sedangkan dirinya menunggu di depan pos satpam.


“Buruan Maliiikk. Aku lapeer iniii” rengek Indira


sambil menggoyang goyangkan lengan Malik.


Dengan malas, Malik berjalan ke arah para


pedagang kaki lima. Namun tiba-tiba..


CIIIIITTTTT... BRAAAAAAKKKKK


Tubuh Malik terhempas ke tanah. Sebuah mobil


hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi menghantam Malik. Mobil itu langsung


mundur dan memutar mobilnya ke arah berlawanan untuk melarikan diri.


“Aaaaahhhh. Maaaaliiiiiiikkk....” Indira segera


berlari dan merengkuh kepala Malik, meletakkan diatas pangkuannya. Air mata


turun begitu saja dari mata cantik Indira. Dengan ketakutan dia menggenggam


tangan Malik.


Dia melihat ada banyak darah di tubuh Malik.


“Tt.. toloongg,.. tolong kami.. Malik...”


Keinginan Indira untuk berteriak gagal, karena nafasnya begitu tercekat oleh


air mata. Suaranya lirih..


Indira melihat Malik membuka matanya.. berkedip pelan


dan tesenyum. Sesaat kemudian, mata Malik kembali tertutup. Membuat Indira


semakin histeris.

__ADS_1


Banyak orang disekitar sekolah berkerumun dan


berusaha membantu Malik. Tidak membutuhkan waktu lama bagi ambulans untuk


datang menolong mereka.


Ambulans itu membawa Malik dan Indira ke rumah


sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Indira tetap menggenggam tangan Malik


yang berlumuran darah. Tangisnya tidak pernah berhenti. Bibirnya selalu


bergerak memohon maaf pada sahabatnya yang terbaring lemah.


Begitu memasuki halaman rumah sakit, beberapa


perawat segera datang dan membawa Malik ke UGD. Mereka meminta Indira untuk


duduk diruang tunggu sementara dokter memeriksa. Butuh waktu sedikit lebih


lama, karena Malik harus menjalani beberapa rangkaian tes seperti Rontgen, CT


scan dan beberapa tes lainnya. Untuk memastikan apakah ada organ dalam yang


terluka.


Saat diam di ruang tunggu, terlihat Akbar dan


orang tua mereka berjalan mendekat. Bu Mega langsung memeluk putri semata wayangnya


begitu melihat tubuh Indira penuh dengan noda darah.


“ma.. Malik ma... Ini semua salah Indi maa...”


Indira mulai menangis dipelukan Mamanya.. sementara Bu Mega hanya mengangguk


dan merapatkan pelukannya..


45 menit sudah berjalan. Pak Adi, Pak Adrian dan


Akar langsung berdiri begitu melihat dokter jaga keluar dari UGD.


“Bisa bicara dengan walinya Ahmad Malik??”


arah dokter.


“Baik. Jadi begini pak. Beruntung organ dalam


pasien tidak ada  yang terluka secara


serius dan juga tidak ada internal bleeding. Tetapi  Untuk bagian bahu dan betisnya mengalami


patah tulang. Jadi kami harus segera melakukan operasi sekaligus pemasangan


pen. Sedangkan dibagian dalam kepalanya ada sedikit memar pak. Seharusnya tidak


akan ada masalah pada kepalanya, tapi kemungkinan terburuknya adalah Malik bisa


mengalami cephalgia post trauma yang menyebabkan sakit kepala secara berkala.


Tapi itu hanya kemungkinan kecil pak. Jadi jangan terlalu khawatir dan kita berdoa yang terbaik untuk Malik ya” Jelas dokter


“Kalau harus operasi, lakukan saja dok. Lakukan semua


yang terbaik untuk anak saya.”


“Baik kalau begitu, kami akan segera menyiapkan


ruangannya. Bapak bisa ke bagian administrasi untuk tanda tangan persetujuan


ya. Saya pamit dulu.”


**


“Bar.. kok dia belum bangun?? Ini udah lebih dari


12 jam.” Indira mulai khawatir melihat Malik yang masih saja terlelap dengan


bantuan oksigen di hidungnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.25 siang. Tapi


semenjak operasi yang dilakukan kemarin Malik belum juga membuka matanya,

__ADS_1


membuat semua orang cemas, terutama Indira.


Pak Adi dan Pak Adrian harus meninggalkan rumah


sakit karena pekerjaannya. Saat ini hanya Indira, Akbar dan Bu Mega yang


berjaga. Bu Mega tertidur di sofa, sedangkan Indira dan Akbar duduk disamping


Malik.


“Sabar dulu. Kata dokter, operasinya sukses. Jadi


pasti dia baik-baik aja” Jawab Akbar menenangkan. Tetapi mata Indira hanya terpaku pada pasien lemah itu.


“eh.. eh.. Malik?? Bisa liat aku ga?? Inget ga??


Ini aku Indi.” Indira dan Akbar langsung berdiri melihat Malik membuka matanya.


Tidak ada reaksi yang diberikan, Malik hanya berkedip perlahan.


“Yahh, kok diem aja. Haaa Akbar gimana dong. Kok


jadi gini. Nanti kalo dia ga inget apa-apa gimana??” Mata Indira mulai


berkaca-kaca. Akbar segera pergi dari ruangan dan meminta bantuan dokter jaga.


“Maliiikk, inget aku gaa. Bisa lihat aku ga.


Jangan diem aja. Hiks hiks..”


Melihat gadis itu terisak, Mali mengumupulkan


tenaga untuk mengangkat salah satu tangannya yang tidak terluka untuk membuka


alat bantu yang menutup hidung dan mulutnya.


“kamu pikir aku buta??” Suara lirih Malik mulai


terdengar dibarengi dengan senyuman tipis dari bibirnya.


“Aaaahh Maaaliiiik. Maafin akuuuuuu. Hiks hiks”


Dengan segera Indira memeluk tubuh ringkih Malik yang masih ada di ranjang


pasien


Mendengar suara tangis Indira, Bu Mega terbangun


dan membantu melepaskan tubuh Indira yang sedikit menindih Malik.


“Neng jangan kenceng-kenceng. Malik masih sakit.


Nak, apanya yang sakit??” Tanya bu Mega sembari mengusap wajah tampan Malik.


Malik hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


Sesaat kemudian Akbar datang bersama dokter jaga.


Dokter itu memeriksa beberapa bagian tubuh Malik dengan teliti, juga mengajukan


beberapa pertanyaan sederhana untuk melihat adakah masalah pada kesadaran


Malik. Setelah dirasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter memberikan


sedikit penjelasan dan pergi meninggalkan mereka.


Setelah melihat kondisi Malik yang sedikit


membaik, Bu Mega pergi meninggalkan mereka di ruang rawat inap. Bu Mega harus


beristirahat, karena malam harinya Bu Mega berniat untuk tidur di rumah sakit,


menjaga Malik.


Tidak berselang lama setelah kesadarannya, Malik


sudah mulai berbicara meskipun hanya beberapa kata. Sesekali dia sedikit merasa


kesakitan karena pengaruh obat biusnya sudah hilang, terutama dibagian bahu


kirinya.


Tok Tok Tok

__ADS_1


__ADS_2