
Sudah dua bulan semenjak kejadian mengerikan itu
terjadi. Indira benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Fajar. Setiap hari
dia lebih memilih untuk pulang pergi sekolah bersama dengan Malik. Dia juga
lebih sering menghindari Anggi karena sedikit merasa tidak nyaman. Meskipun
terkadang masih harus duduk bersama jika papi Akbar mengundang Anggi untuk
makan malam dirumahnya. Mereka bertiga sepakat untuk melupakan dan tidak
membahas kejadian itu. Terutama didepan orang tua mereka.
Malik dan Akbar juga semakin ketat menjaga
Indira. Bahkan jika Indira pergi dengan Renata sahabat di kelasnya, Malik akan
setia mengikuti. Indira juga tidak merasa keberatan dengan sikap Malik dan
Akbar yang lebih posesif terhadapnya. Indira juga lebih memilih untuk tidak
menjalin hubungan lagi dengan lelaki selama masa SMA nya belum berakhir.
Mereka bertiga benar-benar menikmati masa ini.
Satu minggu sekali mereka akan menginap bersama. Entah di rumah Pak Adi, Pak
Adrian atau di villa. Di malam hari pun mereka lebih sering bersama hanya untuk
sekedar mengerjakan tugas atau berbincang mengenai cita-cita mereka. Tentang
Malik yang ingin menjadi polisi, tentang cita-cita Akbar menjadi pemain band
yang harus gagal, tentang Indira yang ingin menjadi pegawai kantoran, dan masih
banyak hal lainnya
Siang itu, Malik dan Indira sedang berjalan di
area depan sekolah. Gadis itu merengek untuk dibelikan cilok. Karena takut kulit
putihnya terbakar terik matahari, Indira memohon agar Malik yang pergi.
Sedangkan dirinya menunggu di depan pos satpam.
“Buruan Maliiikk. Aku lapeer iniii” rengek Indira
sambil menggoyang goyangkan lengan Malik.
Dengan malas, Malik berjalan ke arah para
pedagang kaki lima. Namun tiba-tiba..
CIIIIITTTTT... BRAAAAAAKKKKK
Tubuh Malik terhempas ke tanah. Sebuah mobil
hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi menghantam Malik. Mobil itu langsung
mundur dan memutar mobilnya ke arah berlawanan untuk melarikan diri.
“Aaaaahhhh. Maaaaliiiiiiikkk....” Indira segera
berlari dan merengkuh kepala Malik, meletakkan diatas pangkuannya. Air mata
turun begitu saja dari mata cantik Indira. Dengan ketakutan dia menggenggam
tangan Malik.
Dia melihat ada banyak darah di tubuh Malik.
“Tt.. toloongg,.. tolong kami.. Malik...”
Keinginan Indira untuk berteriak gagal, karena nafasnya begitu tercekat oleh
air mata. Suaranya lirih..
Indira melihat Malik membuka matanya.. berkedip pelan
dan tesenyum. Sesaat kemudian, mata Malik kembali tertutup. Membuat Indira
semakin histeris.
__ADS_1
Banyak orang disekitar sekolah berkerumun dan
berusaha membantu Malik. Tidak membutuhkan waktu lama bagi ambulans untuk
datang menolong mereka.
Ambulans itu membawa Malik dan Indira ke rumah
sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Indira tetap menggenggam tangan Malik
yang berlumuran darah. Tangisnya tidak pernah berhenti. Bibirnya selalu
bergerak memohon maaf pada sahabatnya yang terbaring lemah.
Begitu memasuki halaman rumah sakit, beberapa
perawat segera datang dan membawa Malik ke UGD. Mereka meminta Indira untuk
duduk diruang tunggu sementara dokter memeriksa. Butuh waktu sedikit lebih
lama, karena Malik harus menjalani beberapa rangkaian tes seperti Rontgen, CT
scan dan beberapa tes lainnya. Untuk memastikan apakah ada organ dalam yang
terluka.
Saat diam di ruang tunggu, terlihat Akbar dan
orang tua mereka berjalan mendekat. Bu Mega langsung memeluk putri semata wayangnya
begitu melihat tubuh Indira penuh dengan noda darah.
“ma.. Malik ma... Ini semua salah Indi maa...”
Indira mulai menangis dipelukan Mamanya.. sementara Bu Mega hanya mengangguk
dan merapatkan pelukannya..
45 menit sudah berjalan. Pak Adi, Pak Adrian dan
Akar langsung berdiri begitu melihat dokter jaga keluar dari UGD.
“Bisa bicara dengan walinya Ahmad Malik??”
arah dokter.
“Baik. Jadi begini pak. Beruntung organ dalam
pasien tidak ada yang terluka secara
serius dan juga tidak ada internal bleeding. Tetapi Untuk bagian bahu dan betisnya mengalami
patah tulang. Jadi kami harus segera melakukan operasi sekaligus pemasangan
pen. Sedangkan dibagian dalam kepalanya ada sedikit memar pak. Seharusnya tidak
akan ada masalah pada kepalanya, tapi kemungkinan terburuknya adalah Malik bisa
mengalami cephalgia post trauma yang menyebabkan sakit kepala secara berkala.
Tapi itu hanya kemungkinan kecil pak. Jadi jangan terlalu khawatir dan kita berdoa yang terbaik untuk Malik ya” Jelas dokter
“Kalau harus operasi, lakukan saja dok. Lakukan semua
yang terbaik untuk anak saya.”
“Baik kalau begitu, kami akan segera menyiapkan
ruangannya. Bapak bisa ke bagian administrasi untuk tanda tangan persetujuan
ya. Saya pamit dulu.”
**
“Bar.. kok dia belum bangun?? Ini udah lebih dari
12 jam.” Indira mulai khawatir melihat Malik yang masih saja terlelap dengan
bantuan oksigen di hidungnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.25 siang. Tapi
semenjak operasi yang dilakukan kemarin Malik belum juga membuka matanya,
__ADS_1
membuat semua orang cemas, terutama Indira.
Pak Adi dan Pak Adrian harus meninggalkan rumah
sakit karena pekerjaannya. Saat ini hanya Indira, Akbar dan Bu Mega yang
berjaga. Bu Mega tertidur di sofa, sedangkan Indira dan Akbar duduk disamping
Malik.
“Sabar dulu. Kata dokter, operasinya sukses. Jadi
pasti dia baik-baik aja” Jawab Akbar menenangkan. Tetapi mata Indira hanya terpaku pada pasien lemah itu.
“eh.. eh.. Malik?? Bisa liat aku ga?? Inget ga??
Ini aku Indi.” Indira dan Akbar langsung berdiri melihat Malik membuka matanya.
Tidak ada reaksi yang diberikan, Malik hanya berkedip perlahan.
“Yahh, kok diem aja. Haaa Akbar gimana dong. Kok
jadi gini. Nanti kalo dia ga inget apa-apa gimana??” Mata Indira mulai
berkaca-kaca. Akbar segera pergi dari ruangan dan meminta bantuan dokter jaga.
“Maliiikk, inget aku gaa. Bisa lihat aku ga.
Jangan diem aja. Hiks hiks..”
Melihat gadis itu terisak, Mali mengumupulkan
tenaga untuk mengangkat salah satu tangannya yang tidak terluka untuk membuka
alat bantu yang menutup hidung dan mulutnya.
“kamu pikir aku buta??” Suara lirih Malik mulai
terdengar dibarengi dengan senyuman tipis dari bibirnya.
“Aaaahh Maaaliiiik. Maafin akuuuuuu. Hiks hiks”
Dengan segera Indira memeluk tubuh ringkih Malik yang masih ada di ranjang
pasien
Mendengar suara tangis Indira, Bu Mega terbangun
dan membantu melepaskan tubuh Indira yang sedikit menindih Malik.
“Neng jangan kenceng-kenceng. Malik masih sakit.
Nak, apanya yang sakit??” Tanya bu Mega sembari mengusap wajah tampan Malik.
Malik hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
Sesaat kemudian Akbar datang bersama dokter jaga.
Dokter itu memeriksa beberapa bagian tubuh Malik dengan teliti, juga mengajukan
beberapa pertanyaan sederhana untuk melihat adakah masalah pada kesadaran
Malik. Setelah dirasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dokter memberikan
sedikit penjelasan dan pergi meninggalkan mereka.
Setelah melihat kondisi Malik yang sedikit
membaik, Bu Mega pergi meninggalkan mereka di ruang rawat inap. Bu Mega harus
beristirahat, karena malam harinya Bu Mega berniat untuk tidur di rumah sakit,
menjaga Malik.
Tidak berselang lama setelah kesadarannya, Malik
sudah mulai berbicara meskipun hanya beberapa kata. Sesekali dia sedikit merasa
kesakitan karena pengaruh obat biusnya sudah hilang, terutama dibagian bahu
kirinya.
Tok Tok Tok
__ADS_1