Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH8- UGD


__ADS_3

“maaaah.. paahhh.. bukain pintunyaaa.. mamaahh...


paahhh..” dengan nafas yang terengah engah Malik berteriak dan menggedor pintu


rumah Pak Adrian. Karena mendengar keributan yang tidak biasa semua anggota


keluarga itu langsung keluar


“Malik, kenapa kamu teriak malem-malem gini


nak??” Tanya Bu Mega keheranan


“Mah tolongin Malik, Ibuk pingsan.” Malik


menjawab dengan mata berkaca-kaca


Dengan segera mereka langsung mengunci pintu


rumahnya dan berlari ke rumah Malik.


“teh, teteh  bangun teh..” Pak Adrian menepuk pelan pipi Bu Sri. Sedangkan Bu Mega


mulai mengoleskan minyak kayu putih di kaki dan kening Bu Sri.


Terlihat Indira meneteskan air matanya sambil


menggenggam tangan Malik.


“Gak bisa ma. Kita harus bawa teteh ke rumah


sakit. Tunggu disini, papa ambil mobil dulu. Indi bantuin mama kamu pijetin


kaki ibuk ya” Adrian segera berlalu untuk menyiapkan kendaraannya.


Bu Mega dan Indira mulai memijat kaki Bu Sri,


sedangkan Malik segera menyandarkan kepala Bu Sri di pangkuannya. Terlihat


sesekali Malik berusaha untuk mengusap air matanya.


Untuk pertama kalinya Malik menangis didepan


orang lain.


“Lik, ibuk kenapa tiba-tiba pingsan begini nak?”


tanya Bu Mega khawatir


“Gak tau mah, tadi Malik lagi pijitin kaki Ibu.


Terus ibu minta dibuatin teh anget, pas Malik balik Ibuk udah ada di bawah ma.”


Jelas malik dengan mata yang berkaca-kaca


Sesaat kemudian Pak Adrian datang dan mereka


segera membawa ke rumah sakit terdekat. Pada saat mereka di jalan, Bu Mega


mencoba untuk menghubungi Pak Adi.


Ketika sampai di lobby, perawat langsung


keluar  dan membantu untuk membawa Bu Sri


ke UGD. Cukup lama Bu Sri diperiksa oleh dokter.


“Mas Bagas, gimana keadaan teh Sri??” Pak Adi


langsung berlari menghampiri dokter Bagas. Dokter Bagas adalah salah satu kakak


kelas SMA Pak Adi yang kebetulan adalah dokter penyakit dalam Bu Sri.


“Loh Di, kamu kenal sama Bu Sri??” Jawab dokter


Bagas.


“Iya mas, dia sahabat saya. Gimana konsinya


sekarang? Kok bisa sampai pingsan gitu. Gulanya tinggi lagi mas?” Tidak hanya


Pak Adi yang cemas, Bu Mega dan Pak Adrian menggenggam tangan satu sama lain

__ADS_1


untuk saling menguatkan.


“Kamu ikut saya ke ruangan ya Di, sekalian Bapak


sama Ibu juga” Dokter Bagas mengajak Pak Adi, Bu Mega dan Pak Adrian ke ruangan


dokter untuk memberi penjelasan mengenai kondisi Bu Sri.


Setelah berada di ruangan dokter, Pak Adi dan Bu


Mega duduk dihadapan Dokter Bagas, sedangkan Pak Adrian berdiri di belakang Bu


Mega sambil memegang pundak istrinya.


“Jadi begini, Bu Sri adalah salah satu pasien


saya. Sudah sekitar 2.5 tahun beliau selalu kontrol gula darah, kolestrol dan


tekanan darah tinggi disini. Tapi bulan kemarin beliau mengalami gagal ginjal.


Sudah saya jadwalkan untuk beliau menjalani hemodialisa atau cuci darah 2


minggu yang lalu, tapi beliau tidak ada kabar.” Jelas Dokter Bagas.


“Apa parah mas kondisinya?? Kalau memang harus


cuci darah, dilakukan saja mas. Pokoknya saya mau yang terbaik buat teh Sri


mas. Bisa diusahakan??” Dengan wajah memelas Pak Adi sedikit memohon kepada


dokter Bagas.


Sedangkan Bu Mega dan Pak Adrian hanya terdiam


dengan tatapan nanar. Setelah cukup lama mendengar penjelasan dari dokter, Pak


Adi dan Bu Mega memasuki tempat perawatan Bu Sri. Sedangkan Pak Adrian duduk


disamping anak-anak mereka.


Terlihat Indira menyandarkan kepalanya di bahu


Malik sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu, sambil sesekali mengusap


menguatkan dalam diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya


tatapan kosong yang menandakan kesedihan karena kondisi ibu kesayangan mereka.


Bu Mega duduk disamping ranjang Bu Sri sambil


memegang tangannya.


“Teh, teteh  gapapa??” Bu Mega langsung berdiri ketika


melihat Bu Sri membuka matanya. Bu Sri hanya mengangguk pelan sambil tersenyum


tipis.


“teh, kenapa  ga bilang kalau kondisinya teteh sudah kaya gini.” Ucap Pak Adi lirih


sambil mendekat ke ranjang pasien


“saya ndak papa kok. Saya Cuma gamau ngerepotin


aja”


“harusnya kalau teteh sakit, itu udah jangan jual


kue lagi. Istirahat saja, kalau sudah sakit kaya gini gimana . teteh ga kasihan


lihat anak-anak??” air mata mulai keluar dari ujung mata cantik Bu Mega


“Kalau saya ga bikin kue, saya gabisa bayar


sekolahnya Malik. Lagian bikin kue itu hobi saya. Mega sama kang Adi tenang


aja, saya sudah gapapa kok”


“sudah jangan dipikirkan. Untuk Malik, saya yang


akan membiayai sekolahnya sampai Universitas. Malik juga anak kami, jadi jangan

__ADS_1


terlalu dipikirkan. Fokus saja untuk kesembuhan teteh” Sahut Pak Adi


“saya Cuma mau minta tolong. Titip anak-anak,


terutama Malik. Malik itu memang kelihatnya cuek, judes. Tapi aslinya dia itu


lembut . Kalau dibandingkan dengan Indira, mungkin Malik yang lebih sering


nangis. Tolong disayang ya anak saya” pinta Bu Sri sambil meneteskan air


matanya.


Bu Sri merasa tubuhnya tidak lagi kuat untuk


mencari nafkah. Dari lubuk hatinya yang paling dalam Bu Sri tidak ingin


merepotkan orang lain, tapi apa daya penyakitnya sudah terlanjur parah. Bu Sri


juga lebih memilih untuk tidak melakukan proses hemodialisa, karena menurut Bu


Sri percuma saja cuci darah. Toh penyakit yang lain juga tidak akan sembuh


dengan mudah.


“Teh, meskipun Malik bukan anak kandung saya,


saya sayang sama Malik. Saya tidak pernah membedakan kasih sayang saya untuk


Indira, Malik dan Akbar. Jadi teteh jangan kuatir, yang penting sekarang sembuh


dulu” Bu Mega mengulurkann tangannya untuk mengusap air mata Bu Sri.


Mendengar ada percakapan didalam ruangan, Malik,


Indira, Akbar dan Pak Adrian langsung masuk. Indira langsung berlari memeluk Bu


Sri yang sedang terbaring lemah diatas ranjang.


“Ibuk. Kok bisa sampai kaya gini sih bu. Kan Indi


takut. Ibu jangan sakit lagi yaa”


Malik hanya terdiam dan meneteskan air mata.


ketika melihat ibunya mengulurkan tangan. Dengan segera Malik mendekat dan


menerima uluran tangan ibunya. Bu Mega, Pak Adi, dan Pak Adrian pergi


meninggalkan ruangan agar Bu Sri bisa bermesraan dengan anak-anak mereka.


“Buk, jangan sakit lagi ya. Akbar gamau ibu


kenapa-kenapa” Akbar mendekat dan mengusap kepala Bu Sri.


“Ibu gapapa nak. Hari ini temenin Ibu disini ya”


Bu Sri tersenyum melihat tingkah para remaja yang


begitu mengkhawatirkan dirinya. Wajah Bu Sri sudah mulai berseri, tidak pucat


seperti ketika awal masuk ke ruangan UGD.


Tidak berselang lama, Bu Sri sudah di pindahkan


ke ruangan pasien. Pak Adi memilihkan ruangan kelas 1 yang hanya diisi oleh 1


orang. Sebenarnya Pak Adi ingin memindahkan Bu Sri ke ruangan VVIP yang


memiliki fasilitas lebih lengkap. Tapi seperti biasa, kesederhanaan Bu Sri


membuat Pak Adi mengurungkan niatnya.


Setelah masuk di ruangan, Bu Mega terlihat


memijat pelan tangan Bu Sri sambil bercerita tentang kenangan mereka selama


mengasuh anak-anaknya. Sesekali Bu Sri tersenyum mendengar ucapan dari Bu Mega.


Awalnya Mereka semua ingin menginap di rumah


sakit untuk menemani  Bu Sri, tapi karena

__ADS_1


ada peraturan mengenai jumlah penunggu pasien, beberapa dari mereka harus


pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2