
“maaaah.. paahhh.. bukain pintunyaaa.. mamaahh...
paahhh..” dengan nafas yang terengah engah Malik berteriak dan menggedor pintu
rumah Pak Adrian. Karena mendengar keributan yang tidak biasa semua anggota
keluarga itu langsung keluar
“Malik, kenapa kamu teriak malem-malem gini
nak??” Tanya Bu Mega keheranan
“Mah tolongin Malik, Ibuk pingsan.” Malik
menjawab dengan mata berkaca-kaca
Dengan segera mereka langsung mengunci pintu
rumahnya dan berlari ke rumah Malik.
“teh, teteh bangun teh..” Pak Adrian menepuk pelan pipi Bu Sri. Sedangkan Bu Mega
mulai mengoleskan minyak kayu putih di kaki dan kening Bu Sri.
Terlihat Indira meneteskan air matanya sambil
menggenggam tangan Malik.
“Gak bisa ma. Kita harus bawa teteh ke rumah
sakit. Tunggu disini, papa ambil mobil dulu. Indi bantuin mama kamu pijetin
kaki ibuk ya” Adrian segera berlalu untuk menyiapkan kendaraannya.
Bu Mega dan Indira mulai memijat kaki Bu Sri,
sedangkan Malik segera menyandarkan kepala Bu Sri di pangkuannya. Terlihat
sesekali Malik berusaha untuk mengusap air matanya.
Untuk pertama kalinya Malik menangis didepan
orang lain.
“Lik, ibuk kenapa tiba-tiba pingsan begini nak?”
tanya Bu Mega khawatir
“Gak tau mah, tadi Malik lagi pijitin kaki Ibu.
Terus ibu minta dibuatin teh anget, pas Malik balik Ibuk udah ada di bawah ma.”
Jelas malik dengan mata yang berkaca-kaca
Sesaat kemudian Pak Adrian datang dan mereka
segera membawa ke rumah sakit terdekat. Pada saat mereka di jalan, Bu Mega
mencoba untuk menghubungi Pak Adi.
Ketika sampai di lobby, perawat langsung
keluar dan membantu untuk membawa Bu Sri
ke UGD. Cukup lama Bu Sri diperiksa oleh dokter.
“Mas Bagas, gimana keadaan teh Sri??” Pak Adi
langsung berlari menghampiri dokter Bagas. Dokter Bagas adalah salah satu kakak
kelas SMA Pak Adi yang kebetulan adalah dokter penyakit dalam Bu Sri.
“Loh Di, kamu kenal sama Bu Sri??” Jawab dokter
Bagas.
“Iya mas, dia sahabat saya. Gimana konsinya
sekarang? Kok bisa sampai pingsan gitu. Gulanya tinggi lagi mas?” Tidak hanya
Pak Adi yang cemas, Bu Mega dan Pak Adrian menggenggam tangan satu sama lain
__ADS_1
untuk saling menguatkan.
“Kamu ikut saya ke ruangan ya Di, sekalian Bapak
sama Ibu juga” Dokter Bagas mengajak Pak Adi, Bu Mega dan Pak Adrian ke ruangan
dokter untuk memberi penjelasan mengenai kondisi Bu Sri.
Setelah berada di ruangan dokter, Pak Adi dan Bu
Mega duduk dihadapan Dokter Bagas, sedangkan Pak Adrian berdiri di belakang Bu
Mega sambil memegang pundak istrinya.
“Jadi begini, Bu Sri adalah salah satu pasien
saya. Sudah sekitar 2.5 tahun beliau selalu kontrol gula darah, kolestrol dan
tekanan darah tinggi disini. Tapi bulan kemarin beliau mengalami gagal ginjal.
Sudah saya jadwalkan untuk beliau menjalani hemodialisa atau cuci darah 2
minggu yang lalu, tapi beliau tidak ada kabar.” Jelas Dokter Bagas.
“Apa parah mas kondisinya?? Kalau memang harus
cuci darah, dilakukan saja mas. Pokoknya saya mau yang terbaik buat teh Sri
mas. Bisa diusahakan??” Dengan wajah memelas Pak Adi sedikit memohon kepada
dokter Bagas.
Sedangkan Bu Mega dan Pak Adrian hanya terdiam
dengan tatapan nanar. Setelah cukup lama mendengar penjelasan dari dokter, Pak
Adi dan Bu Mega memasuki tempat perawatan Bu Sri. Sedangkan Pak Adrian duduk
disamping anak-anak mereka.
Terlihat Indira menyandarkan kepalanya di bahu
Malik sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu, sambil sesekali mengusap
menguatkan dalam diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya
tatapan kosong yang menandakan kesedihan karena kondisi ibu kesayangan mereka.
Bu Mega duduk disamping ranjang Bu Sri sambil
memegang tangannya.
“Teh, teteh gapapa??” Bu Mega langsung berdiri ketika
melihat Bu Sri membuka matanya. Bu Sri hanya mengangguk pelan sambil tersenyum
tipis.
“teh, kenapa ga bilang kalau kondisinya teteh sudah kaya gini.” Ucap Pak Adi lirih
sambil mendekat ke ranjang pasien
“saya ndak papa kok. Saya Cuma gamau ngerepotin
aja”
“harusnya kalau teteh sakit, itu udah jangan jual
kue lagi. Istirahat saja, kalau sudah sakit kaya gini gimana . teteh ga kasihan
lihat anak-anak??” air mata mulai keluar dari ujung mata cantik Bu Mega
“Kalau saya ga bikin kue, saya gabisa bayar
sekolahnya Malik. Lagian bikin kue itu hobi saya. Mega sama kang Adi tenang
aja, saya sudah gapapa kok”
“sudah jangan dipikirkan. Untuk Malik, saya yang
akan membiayai sekolahnya sampai Universitas. Malik juga anak kami, jadi jangan
__ADS_1
terlalu dipikirkan. Fokus saja untuk kesembuhan teteh” Sahut Pak Adi
“saya Cuma mau minta tolong. Titip anak-anak,
terutama Malik. Malik itu memang kelihatnya cuek, judes. Tapi aslinya dia itu
lembut . Kalau dibandingkan dengan Indira, mungkin Malik yang lebih sering
nangis. Tolong disayang ya anak saya” pinta Bu Sri sambil meneteskan air
matanya.
Bu Sri merasa tubuhnya tidak lagi kuat untuk
mencari nafkah. Dari lubuk hatinya yang paling dalam Bu Sri tidak ingin
merepotkan orang lain, tapi apa daya penyakitnya sudah terlanjur parah. Bu Sri
juga lebih memilih untuk tidak melakukan proses hemodialisa, karena menurut Bu
Sri percuma saja cuci darah. Toh penyakit yang lain juga tidak akan sembuh
dengan mudah.
“Teh, meskipun Malik bukan anak kandung saya,
saya sayang sama Malik. Saya tidak pernah membedakan kasih sayang saya untuk
Indira, Malik dan Akbar. Jadi teteh jangan kuatir, yang penting sekarang sembuh
dulu” Bu Mega mengulurkann tangannya untuk mengusap air mata Bu Sri.
Mendengar ada percakapan didalam ruangan, Malik,
Indira, Akbar dan Pak Adrian langsung masuk. Indira langsung berlari memeluk Bu
Sri yang sedang terbaring lemah diatas ranjang.
“Ibuk. Kok bisa sampai kaya gini sih bu. Kan Indi
takut. Ibu jangan sakit lagi yaa”
Malik hanya terdiam dan meneteskan air mata.
ketika melihat ibunya mengulurkan tangan. Dengan segera Malik mendekat dan
menerima uluran tangan ibunya. Bu Mega, Pak Adi, dan Pak Adrian pergi
meninggalkan ruangan agar Bu Sri bisa bermesraan dengan anak-anak mereka.
“Buk, jangan sakit lagi ya. Akbar gamau ibu
kenapa-kenapa” Akbar mendekat dan mengusap kepala Bu Sri.
“Ibu gapapa nak. Hari ini temenin Ibu disini ya”
Bu Sri tersenyum melihat tingkah para remaja yang
begitu mengkhawatirkan dirinya. Wajah Bu Sri sudah mulai berseri, tidak pucat
seperti ketika awal masuk ke ruangan UGD.
Tidak berselang lama, Bu Sri sudah di pindahkan
ke ruangan pasien. Pak Adi memilihkan ruangan kelas 1 yang hanya diisi oleh 1
orang. Sebenarnya Pak Adi ingin memindahkan Bu Sri ke ruangan VVIP yang
memiliki fasilitas lebih lengkap. Tapi seperti biasa, kesederhanaan Bu Sri
membuat Pak Adi mengurungkan niatnya.
Setelah masuk di ruangan, Bu Mega terlihat
memijat pelan tangan Bu Sri sambil bercerita tentang kenangan mereka selama
mengasuh anak-anaknya. Sesekali Bu Sri tersenyum mendengar ucapan dari Bu Mega.
Awalnya Mereka semua ingin menginap di rumah
sakit untuk menemani Bu Sri, tapi karena
__ADS_1
ada peraturan mengenai jumlah penunggu pasien, beberapa dari mereka harus
pulang ke rumah masing-masing.