
Setelah mengantarkan Anggi dan Fajar pulang, kali
ini giliran Akbar untuk mengantarkan Indira pulang. Sepanjang perjalanan tidak
hentinya Indira tersenyum bahagia. Sepertinya gadis ini memang sudah jatuh hati
pada Fajar. Melihat hal ini membuat Akbar mengurungkan niatnya untuk melarang Indira berpacaran. Dia tidak tega bila harus membuat wajah Indira tidak memiliki semangat lagi.
“Hai maah, pahh. Neng cantik pulaaaaanggggg”
kebiasaannya berteriak memang tidak pernah berubah. Indira dan Akbar segera
mencium punggung tangan Bu Mega dan Pak Adrian yang sedang bersantai di ruang
tamu. Indira langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.
“Malik mana ma, pa??” Tanya Akbar masih berdiri
disamping sofa
“Masih mandi dikamarnya. Kamu udah makan bar? Mau
mama siapin makan??”
“enggak ma, Akbar capek mau langsung pulang aja.
Kasian papi sendirian, kan Malik hari ini jadwal tidur sini” Jawab Akbar.
“Yaudah kalo gitu Akbar pulang dulu ya, besok
pagi kesini lagi. Oh ya ma, pa. Titip Indira ya, takut dia gila. Dari tadi
senyum-senyum sendiri. Hehe” Dengan segera Akbar berpamitan dan kembali mencium
tangan mama papanya. Sebelum pergi, Akbar menyempatkan diri ke Indira hanya
untuk mengacak-acak rambut gadis yang sedang kasmaran itu.
Sepeninggal Akbar, Indira mulai berceloteh kesana
kemari. Menceritakan lelaki manis yang baru saja mereka temui. Karena sedikit
bosan mendengar cerita Indira yang diulang-ulang, Pak Adrian mengusir putrinya
dengan dalih untuk segera mandi dan istirahat.
Indirapun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya
dengan tertawa. Sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama membuat Indira
menjadi sedikit tidak waras.
**
Ahhh, Fajar.. Fajar.. Fajar.. berulang kali
Indira menyebut nama itu. Pikirannya saat ini hanya tentang Fajar. Tidak hanya
wajahnya yang manis, perlakuannya pada Indirapun juga sangat romantis. Dia
tidak segan membantu mengikat tali sepatunya di tempat umum. Benar-benar lelaki
idaman kaum hawa. Bagaimanapun caranya
Indira akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari restu dari Malik dan Akbar.
Saat ini Indira merebahkan tubuhnya di karpet
bulu yang ada dikamarnya. Kepalanya disandarkan pada boneka beruang besar
pemberian Malik. Bibirnya tak henti tersenyum. Sedangkan matanya terpusat pada
secarik kertas berukuran A4 yang sudah lecek di genggamannya. Apa yang dia
pikirkan membuat hatinya berdebar-debar.
Tok tok tok (suara pintu kamar Indira)
Karena merasa tidak mendapat jawaban, Malik
langsung masuk kedalam kamar Indira. Ternyata gadis itu sedang tersenyum manis
__ADS_1
dihadapan sebuah kertas. Bahkan 3 menit Malik berdiri di samping pintu tidak
membuat gadis itu mengubah pandangannya.
Malik hanya tersenyum melihat gadis yang sedang
jatuh cinta itu. Memang Malik juga sangat mencintai Indira. Tapi untuk saat
ini, dia belum siap untuk menyatakan perasaannya. Bagi Malik, melihat Indira
bahagia saja sudah cukup.
Malik memutuskan untuk menghampiri Indira yang
setengah gila itu. Dengan sigap ia menarik kertas di genggaman Indira.
“Aaaa balikiiiiinnnn” teriak Indira.
Malik mengangkat tinggi kertas itu ke udara.
Berusaha mencegah benda itu kembali ke pemiliknya. Ia mendongakkan kepalanya
keatas, berusaha untuk melihat sebenarnya apa yang sedang digilai Indira,
sedangkan tangannya yang lain menahan kapala Indira agar tidak mendekat.
Ternyata tebakan Malik salah. Ia berpikir yang
ada di kertas itu adalah surat cinta atau foto milik Fajar. Ternyata isinya
adalah gambar. Gambar?? Ya.. Lebih tepatnya sketsa gaun pengantin. Sesaat Malik
terdiam memperhatikan sketsa itu.
“Apa ini??” Malik melepas kepala Indira dan
merebahkan dirinya diatas kasur kecil milik Indira.
Dengan tersenyum manis Indira duduk di karpet dan
mendekatkan kepalanya ke arah Malik. Dia mulai menceritakan kisah panjang kali
lebar tentang apa yang ada di kertas itu.
Sontak Malik menoleh dan memelototkan matanya menunggu penjelasan dari Indira.
“Itu Ibuk yang gambar”
“Ibuk?? Ibu aku maksud kamu??” Indira
menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Indira mulai bercerita bahwa sketsa gaun
pengantin itu adalah karya Ibunya. Dulu, saat masih kelas 5 sd Indira memang
menggilai salah satu drama Korea yang pemeran utamanya bekerja sebagai designer
gaun pengantin. Berkali-kali Indira mengatakan pada Bu Sri bahwa dia ingin
pergi ke Korea agar bisa bertemu dengan aktris tersebut, dan membuatkannya gaun
pengantin.(Padahal kan aktris itu bukan designer beneran, kan cuma drama wkwk)
Dan ternyata, ketika masih sekolah, Bu Sri pernah
magang di sebuah tempat pembuat gaun pengantin ternama di Bandung. Jadi sedikit
banyak Bu Sri tau cara-cara untuk membuat sketsa. Hal itu membuat Indira
merengek agar dibuatkan sketsa gaun pengantin untuk dia pakai kelak.
Sketsa wedding dress Bu Sri memang tergolong
sederhana namun sangat indah. Bertema long sleeve mermaid dress. Gaun
pengantin model putri duyung berlengan panjang ini sengaja dibuat Bu Sri untuk
membuat siluet tubuh Indira terlihat lebih langsing. Bu Sri mengharapkan agar
gaun ini bisa terlihat elegan dan berkelas ketika dipakai Indira nanti. Dibawah
__ADS_1
gambar itu tertulis Lace yang berarti gaun ini akan lebih bagus apabila
dibuat menggunakan kain berjenis Lace, yang merupakan kain
bermotif floral di seluruh bagian. Tidak terlalu banyak aksesoris yang
digunakan. Hanya ada beberapa aksen pemanis di bagian dada.
Indira bercerita dengan semangatnya. Sedangkan Akbar tetap
terpaku pada keindahan sketsa gaun pengantin yang dibuat oleh ibunya. Dia baru
tahu bahwa ternyata Ibunya bisa menggambar hal semacam ini. Selama hidupnya
yang Malik tahu Ibunya hanya pandai membuat kue dan memasak.
“Yakin ini Ibuk yang bikin ndi?? Kok ibuk ga pernah cerita
ke aku kalau bisa gambar beginian?”
“heem. Bagus kan. Ini ibuk bikin khusus buat pernikahan aku.
Nah berhubung hari ini hati aku lagi berbunga-bunga, makanya aku keluarin
sketsa ini. Ceritanya aku lagi ngayal lik. Ntar kalo aku nikah sama A Fajar,
aku mau pake gaun rancangan Ibu ini. Gimana??”
Malik hanya mengangguk malas. Pikirannya masih
ada pada kertas itu. Masih terheran dengan ketrampilan istimewa yang dimiliki
oleh Ibunya. Perlahan Malik mulai melayangkan pikirannya. Membayangkan Indira
menggunakan gaun ini, berdiri dipelaminan, dan.... bersanding dengan dirinya.
Tanpa dia sadari bibirnya tersungging dengan manis.
PLAAAAAKKKK
Indira memukul lengan Malik sedikit keras. Dia
kesal karena ternyata celotehnya tentang khayalan menikah dengan Fajar tidak
dianggap oleh Malik. Malik langsung terduduk dan mengusap lengannya yang panas
terkena tamparan dari Indira.
“Kamu ga dengerin aku ya”
“Dengerin kok ndi”
“Apa coba?”
“Kamu mau pakai gaun ini waktu nikah kan??”
“Sama siapa??”
“Sama akuuu. Haha”
“Ihhhh najiiiiiissss. Siapa juga yang mau nikah
sama anak jutek kaya kamu” Indira kembali menghujani Malik dengan pukulan
pukulan kecil di tangannya. Malik hanya tertawa geli melihat Indira.
Hari itu dihabiskan mereka berdua dengan membahas
khayalan masa depan Indira. Mulai dari menikah dengan Fajar, menggunakan gaun
pengantin rancangan Bu Sri, menikah di hotel ternama, siapa saja yang akan
diundang, makanan apa saja yang akan dihidangkan, souvenir apa yang akan dibagikan
dan printilan lainnya. Tentu saja perbincangan kali ini juga dibumbui dengan
banyak tawa dan beberapa pukulan dari tangan Indira.
Karena terlalu banyak bicara, Malik ikut tertidur
di kamar Indira. Dia tidur beralaskan karpet bulu, sedangkan Indira tidur di
__ADS_1
kasur mungilnya.