Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH21- Wedding Dress


__ADS_3

Setelah mengantarkan Anggi dan Fajar pulang, kali


ini giliran Akbar untuk mengantarkan Indira pulang. Sepanjang perjalanan tidak


hentinya Indira tersenyum bahagia. Sepertinya gadis ini memang sudah jatuh hati


pada Fajar. Melihat  hal ini membuat Akbar mengurungkan niatnya untuk melarang Indira berpacaran. Dia tidak tega bila harus membuat wajah Indira tidak memiliki semangat lagi.


“Hai maah, pahh. Neng cantik pulaaaaanggggg”


kebiasaannya berteriak memang tidak pernah berubah. Indira dan Akbar segera


mencium punggung tangan Bu Mega dan Pak Adrian yang sedang bersantai di ruang


tamu. Indira langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.


“Malik mana ma, pa??” Tanya Akbar masih berdiri


disamping sofa


“Masih mandi dikamarnya. Kamu udah makan bar? Mau


mama siapin makan??”


“enggak ma, Akbar capek mau langsung pulang aja.


Kasian papi sendirian, kan Malik hari ini jadwal tidur sini” Jawab Akbar.


“Yaudah kalo gitu Akbar pulang dulu ya, besok


pagi kesini lagi. Oh ya ma, pa. Titip Indira ya, takut dia gila. Dari tadi


senyum-senyum sendiri. Hehe” Dengan segera Akbar berpamitan dan kembali mencium


tangan mama papanya. Sebelum pergi, Akbar menyempatkan diri ke Indira hanya


untuk mengacak-acak rambut gadis yang sedang kasmaran itu.


Sepeninggal Akbar, Indira mulai berceloteh kesana


kemari. Menceritakan lelaki manis yang baru saja mereka temui. Karena sedikit


bosan mendengar cerita Indira yang diulang-ulang, Pak Adrian mengusir putrinya


dengan dalih untuk segera mandi dan istirahat.


Indirapun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya


dengan tertawa. Sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama membuat Indira


menjadi sedikit tidak waras.


**


Ahhh, Fajar.. Fajar.. Fajar.. berulang kali


Indira menyebut nama itu. Pikirannya saat ini hanya tentang Fajar. Tidak hanya


wajahnya yang manis, perlakuannya pada Indirapun juga sangat romantis. Dia


tidak segan membantu mengikat tali sepatunya di tempat umum. Benar-benar lelaki


idaman kaum hawa.  Bagaimanapun caranya


Indira akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari restu dari Malik dan Akbar.


Saat ini Indira merebahkan tubuhnya di karpet


bulu yang ada dikamarnya. Kepalanya disandarkan pada boneka beruang besar


pemberian Malik. Bibirnya tak henti tersenyum. Sedangkan matanya terpusat pada


secarik kertas berukuran A4 yang sudah lecek di genggamannya. Apa yang dia


pikirkan membuat hatinya berdebar-debar.


Tok tok tok (suara pintu kamar Indira)


Karena merasa tidak mendapat jawaban, Malik


langsung masuk kedalam kamar Indira. Ternyata gadis itu sedang tersenyum manis

__ADS_1


dihadapan sebuah kertas. Bahkan 3 menit Malik berdiri di samping pintu tidak


membuat gadis itu mengubah pandangannya.


Malik hanya tersenyum melihat gadis yang sedang


jatuh cinta itu. Memang Malik juga sangat mencintai Indira. Tapi untuk saat


ini, dia belum siap untuk menyatakan perasaannya. Bagi Malik, melihat Indira


bahagia saja sudah cukup.


Malik memutuskan untuk menghampiri Indira yang


setengah gila itu. Dengan sigap ia menarik kertas di genggaman Indira.


“Aaaa balikiiiiinnnn” teriak Indira.


Malik mengangkat tinggi kertas itu ke udara.


Berusaha mencegah benda itu kembali ke pemiliknya. Ia mendongakkan kepalanya


keatas, berusaha untuk melihat sebenarnya apa yang sedang digilai Indira,


sedangkan tangannya yang lain menahan kapala Indira agar tidak mendekat.


Ternyata tebakan Malik salah. Ia berpikir yang


ada di kertas itu adalah surat cinta atau foto milik Fajar. Ternyata isinya


adalah gambar. Gambar?? Ya.. Lebih tepatnya sketsa gaun pengantin. Sesaat Malik


terdiam memperhatikan sketsa itu.


“Apa ini??” Malik melepas kepala Indira dan


merebahkan dirinya diatas kasur kecil milik Indira.


Dengan tersenyum manis Indira duduk di karpet dan


mendekatkan kepalanya ke arah Malik. Dia mulai menceritakan kisah panjang kali


lebar tentang apa yang ada di kertas itu.


Sontak Malik menoleh dan memelototkan matanya menunggu penjelasan dari Indira.


“Itu Ibuk yang gambar”


“Ibuk?? Ibu aku maksud kamu??” Indira


menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Indira mulai bercerita bahwa sketsa gaun


pengantin itu adalah karya Ibunya. Dulu, saat masih kelas 5 sd Indira memang


menggilai salah satu drama Korea yang pemeran utamanya bekerja sebagai designer


gaun pengantin. Berkali-kali Indira mengatakan pada Bu Sri bahwa dia ingin


pergi ke Korea agar bisa bertemu dengan aktris tersebut, dan membuatkannya gaun


pengantin.(Padahal kan aktris itu bukan designer beneran, kan cuma drama wkwk)


Dan ternyata, ketika masih sekolah, Bu Sri pernah


magang di sebuah tempat pembuat gaun pengantin ternama di Bandung. Jadi sedikit


banyak Bu Sri tau cara-cara untuk membuat sketsa. Hal itu membuat Indira


merengek agar dibuatkan sketsa gaun pengantin untuk dia pakai kelak.


Sketsa wedding dress Bu Sri memang tergolong


sederhana namun sangat indah. Bertema long sleeve mermaid dress. Gaun


pengantin model putri duyung berlengan panjang ini sengaja dibuat Bu Sri untuk


membuat siluet tubuh Indira terlihat lebih langsing. Bu Sri mengharapkan agar


gaun ini bisa terlihat elegan dan berkelas ketika dipakai Indira nanti. Dibawah

__ADS_1


gambar itu tertulis Lace yang berarti gaun ini akan lebih bagus apabila


dibuat menggunakan kain berjenis Lace, yang merupakan kain


bermotif floral di seluruh bagian. Tidak terlalu banyak aksesoris yang


digunakan. Hanya ada beberapa aksen pemanis di bagian dada.


Indira bercerita dengan semangatnya. Sedangkan Akbar tetap


terpaku pada keindahan sketsa gaun pengantin yang dibuat oleh ibunya. Dia baru


tahu bahwa ternyata Ibunya bisa menggambar hal semacam ini. Selama hidupnya


yang Malik tahu Ibunya hanya pandai membuat kue dan memasak.


“Yakin ini Ibuk yang bikin ndi?? Kok ibuk ga pernah cerita


ke aku kalau bisa gambar beginian?”


“heem. Bagus kan. Ini ibuk bikin khusus buat pernikahan aku.


Nah berhubung hari ini hati aku lagi berbunga-bunga, makanya aku keluarin


sketsa ini. Ceritanya aku lagi ngayal lik. Ntar kalo aku nikah sama A Fajar,


aku mau pake gaun rancangan Ibu ini. Gimana??”


Malik hanya mengangguk malas. Pikirannya masih


ada pada kertas itu. Masih terheran dengan ketrampilan istimewa yang dimiliki


oleh Ibunya. Perlahan Malik mulai melayangkan pikirannya. Membayangkan Indira


menggunakan gaun ini, berdiri dipelaminan, dan.... bersanding dengan dirinya.


Tanpa dia sadari bibirnya tersungging dengan manis.


PLAAAAAKKKK


Indira memukul lengan Malik sedikit keras. Dia


kesal karena ternyata celotehnya tentang khayalan menikah dengan Fajar tidak


dianggap oleh Malik. Malik langsung terduduk dan mengusap lengannya yang panas


terkena tamparan dari Indira.


“Kamu ga dengerin aku ya”


“Dengerin kok ndi”


“Apa coba?”


“Kamu mau pakai gaun ini waktu nikah kan??”


“Sama siapa??”


“Sama akuuu. Haha”


“Ihhhh najiiiiiissss. Siapa juga yang mau nikah


sama anak jutek kaya kamu” Indira kembali menghujani Malik dengan pukulan


pukulan kecil di tangannya. Malik hanya tertawa geli melihat Indira.


Hari itu dihabiskan mereka berdua dengan membahas


khayalan masa depan Indira. Mulai dari menikah dengan Fajar, menggunakan gaun


pengantin rancangan Bu Sri, menikah di hotel ternama, siapa saja yang akan


diundang, makanan apa saja yang akan dihidangkan, souvenir apa yang akan dibagikan


dan printilan lainnya. Tentu saja perbincangan kali ini juga dibumbui dengan


banyak tawa dan beberapa pukulan dari tangan Indira.


Karena terlalu banyak bicara, Malik ikut tertidur


di kamar Indira. Dia tidur beralaskan karpet bulu, sedangkan Indira tidur di

__ADS_1


kasur mungilnya.


__ADS_2