
Akbar menurunkannya di depan kantor. Membuat Ia
harus berjalan bersama dengan Malik kedalam kantor. Berdua saja. Otaknya selalu
berpikir bahwa Ia akan tidak disukai oleh karyawan yang lain karena terlalu
dekat dengan Bosnya. Renata benar-benar tidak siap jika harus dianggap penjilat
oleh karyawan yang lain.
Benar saja, ada beberapa karyawan yang langsung
datang mengitari saat Ia duduk di meja kerjanya.
“Mbak Ren, ada hubungan apa hayo sama Pak
Malik??”
“Kalian kencan yaaaaa..”
“Teteh kok kenal juga sama Bu Indira dan Pak
Akbar??”
Berbagai pertanyaan yang Ia dapatkan memang
membuatnya sedikit risih. Tetapi hatinya bisa bernapas dengan lega. Setidaknya
karyawan lain berkumpul hanya sekedar kepo dengan hubungannya. Bukan berniat
untuk membully dirinya atau menganggapnya penjilat kepada atasan.Ia bersyukur karena rekan kerjanya
sekarang jauh berbeda dengan rekan kerja saat di Kota Malang.
Karena tidak ingin ada kesalah pahaman, Renata
mulai bercerita tentang rahasia hubungannya dengan Malik. Ia membeberkan bahwa
Malik, Indira dan dirinya bersahabat saat di bangku SMA. Sedangkan Akbar dulu
adalah kakak kelas mereka.
Renata juga menjelaskan bahwa mereka berpisah
saat Ia harus pindah ke luar kota dan menyebabkan putusnya silaturahmi dengan
Malik. Ia mengaku hanya sesekali berhubungan dengan Indira melalui sosial
media. Renata juga menjelaskan bahwa hubungannya dengan Malik di luar kantor
tidak lebih dari teman lama.
“Serius cuma teman lama?? Mbak ga ada perasaan
apaa gitu”
“Hehe, serius. Saya sama Pak Malik cuma temenan aja”
“Kalau pacaran juga gapapa sih Mbak. Kan Pak
Malik jomblo, Mbak Rena juga jomblo. Apa salahnya dicoba?? Pak Malik umurnya
udah banyak Mbak. Kasihan kalau ga nikah-nikah. Keburu tua. Makanya nikah sama
Mbak aja” Goda salah satu karyawan yang lebih muda darinya.
“Ren, ke ruangan saya sebentar.”
Suara berat Malik membubarkan kerumunan penggosip
itu. Mereka berlari ke tempat masing-masing. Khawatir dengan apa yang sudah
mereka ucapkan. Semoga saja tidak didengar oleh Bos nya.
Sementara Renata dengan hati berdegub mengikuti
langkah Malik ke dalam ruangannya. Apa yang akan bosnya bicarakan? Apa Bosnya
mendengar percakapan konyol antara dirinya dengan karyawan yang lain? Ah,
kenapa Bosnya harus muncul di saat seperti itu.
Ia menuruti Malik yang memintanya untuk duduk di
sofa.
“Mereka bilang apa?? Apa mereka bicara hal buruk
__ADS_1
tentang kamu?”
Jantungnya kembali berdetak kencang. Firasatnya
benar. Sepertinya Malik mendengar pembicaraan mereka.
“Oh tidak Pak. Mereka hanya menanyakan hubungan
Saya dengan Bapak.”
“Kamu jawab apa??”
“Ya Saya bilang kalau Saya, Bapak dan Indira
adalah teman dekat waktu SMA.”
“Tapi kok Saya dengar mereka membicarakan tentang usia Saya??”
Wajah Renata pucat pasi mendengarkan perkataan
Malik.Apa lagi yang harus Ia
ucapkan. Tidak mungkin dirinya harus jujur kalau karyawan yang lain menjodohkan
Dia dengan Malik.
“Ah udahlah itu ga penting. Ren, Aku mau minta
tolong sama Kamu. Bukan sebagai atasan, tetapi sebagai teman” Ucap Malik dengan
mengubah tata bahasanya menjadi lebih informal.
“Tolong apa Pak?? Eh.. Lik??”
“Lusa, Aku, Indi sama Akbar pergi ke Korea. Aku
mau minta tolong kamu buat nemenin Mama Mega. Sama sesekali tolong Kamu lihat
kondisinya Papi Aku. Bisa??”
Renata segera menganggukan kepalanya tanda
persetujuan. Bukan
hal berat bagi Renata jika hanya sekedar menemani atau menjenguk orang tua
Malik. Toh dirinya juga tidak memiliki kegiatan sepulang bekerja.
Mungkin di kantor itu hanya Renata yang mengetahui bahwa Malik dan Akbar bukan
saudara kandung. Karena menurut gosip yang beredar, Malik adalah adik dari
Akbar. Dan Anak dari Pak Adi. Sedangkan Bu Mega dan Pak Adrian adalah orang tua
dari sahabatnya Si Bos, Indira.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.25, sedangkan
Malik belum juga pulang. Akbar memeriksa ponselnya berkali-kali. Melihat apakah
pesannya sudah mendapat balasan dari Malik.
Ia berbaring di sofa ruang tamu. Berharap bisa
segera bertemu dengan Malik. Ia ingin menyampaikan berita bahagia bahwa
ternyata pernikahannya dengan Indira berubah menjadi 1 bulan lebih cepat.
Akbar segera membuka pintu rumahnya ketika
mendengar suara mobil Malik. Ia benar-benar menyambut kedatangan Malik.
Sikapnya saat ini benar-benar tidak sesuai dengan usianya yang sudah menginjak
kepala tiga.
Ia segera menarik tangan Malik dan membawanya
duduk di ruang tamu. Mulai membuka percakapannya dengan berita yang cukup
membahagiakan. Dengan
antusias Akbar menyampaikan acara pernikahan yang dimajukan karena menyesuaikan
jadwal dengan para keluarga yang lain.
__ADS_1
Akbar tersenyum puas saat mendengar reaksi Malik.
Ia semakin bahagia saat mendengar bahwa Malik akan membantu segala sesuatu yang
diperlukan untuk persiapan pernikahannya dengan Indira.
Usai membicarakan mengenai rencana pernikahan,
Akbar mulai bertanya pada Malik.
“Kok malem banget pulangnya??”
“Lagi ngebut kerjaan yang buat besok Bar.”
“Lah kerjaan besok ngapain dikerjain hari ini??”
“Besok waktunya Papi cek kesehatan Bar. Aku udah
janji mau nemenin.”
Seketika Akbar terdiam mendengar ucapan Malik. Ia
memandang Malik dalam. Perlahan Akbar menggenggam tangan Malik dengan erat.
Berulang kali Ia menyampaikan rasa terima
kasihnya pada Malik. Akbar sangat bersyukur karena memiliki Malik. Malik sudah
merawat dan menyayangi Papi melebihi putra kandungnya sendiri. Akbar merasa
malu, bahkan untuk hal sepenting itu Ia tidak tau.
“Sudah tugasku Bar. Apa yang aku lakukan sama
Papi sekarangmasih tidak sebanding dengan semua yang sudah Papi dan Kamu kasih buat
Aku. Jadi jangan merasa terbebani.”
Sungguh, Akbar merasa menjadi anak yang paling
buruk di dunia. Jangankan jadwal kesehatan, bertemu Papinya pun jarang. Seperti mencoba menjadi anak yang
baik, Akbar mulai menanyakan kondisi Papinya saat ini.
Dengan seksama Ia memperhatikan Malik yang sedang menjelaskan.
Lama membicarakan kondisi Papinya, Akbar kembali
teringat dengan ucapan Indira. Wedding dress. Ia kembali memandang Malik. Kali
ini dengan tatapan yang cukup sendu.
Akbar kembali berterima kasih untuk kasih sayang
dan perhatiannya pada Indira. Berterima kasih karena sudah mewujudkan wedding
dress impian Indira menjadi kenyataan. Entah apa lagi yang harus Akbar lakukan
untuk mengungkapkan ucapan terima kasihnya yang begitu dalam.
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin
disampaikan oleh Akbar. Tetapi melihat kondisi Malik yang masih menggunakan
pakaian kerja membuatnya mengurungkan niat.
Ia berjalan gontai ke arah kamarnya. Memandang
tiga koper yang ada di samping ranjangnya. Ia baru menyadari bahwa liburan kali
ini sepenuhnya dibiayai oleh Malik. Kembali hatinya dipenuhi dengan rasa sungkan. Pada akhirnya Akbar
memutuskan akan membiayai apapun yang Malik dan Indira beli selama di Korea.
Otaknya mulai berpikir cepat, apa yang harus Ia lakukan agar bisa membuat Malik
bahagia. Seperti mendapat mukjizat dari langit, matanya mulai berbinar.
Ia membuka ponsel dengan cepat, menekan angka satu yang segera tersambung dengan
Indira. Menyampaikan semua idenya tentang perjodohan Malik dengan Renata. Belum
usai Ia menyampaikan idenya, tapi Indira sudah menolak dengan alasan bahwa
Indira sudah pernah mencobanya tetapi gagal.
“Sayang, Kamu percaya aja sama Aku. Dia pasti menuruti apa yang Papi minta. Aku bakal
__ADS_1
bilang sama Papi supaya segera menjodohkan Malik. Ini pasti berhasil !! Pulang dari Korea kita bahas
lagi.”