Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH52-Rencana Perjodohan Malik


__ADS_3

 Akbar menurunkannya di depan kantor. Membuat Ia


harus berjalan bersama dengan Malik kedalam kantor. Berdua saja. Otaknya selalu


berpikir bahwa Ia akan tidak disukai oleh karyawan yang lain karena terlalu


dekat dengan Bosnya. Renata benar-benar tidak siap jika harus dianggap penjilat


oleh karyawan yang lain.


Benar saja, ada beberapa karyawan yang langsung


datang mengitari saat Ia duduk di meja kerjanya.


“Mbak Ren, ada hubungan apa hayo sama Pak


Malik??”


“Kalian kencan yaaaaa..”


“Teteh kok kenal juga sama Bu Indira dan Pak


Akbar??”


Berbagai pertanyaan yang Ia dapatkan memang


membuatnya sedikit risih. Tetapi hatinya bisa bernapas dengan lega. Setidaknya


karyawan lain berkumpul hanya sekedar kepo dengan hubungannya. Bukan berniat


untuk membully dirinya atau menganggapnya penjilat kepada atasan.Ia bersyukur karena rekan kerjanya


sekarang jauh berbeda dengan rekan kerja saat di Kota Malang.


Karena tidak ingin ada kesalah pahaman, Renata


mulai bercerita tentang rahasia hubungannya dengan Malik. Ia membeberkan bahwa


Malik, Indira dan dirinya bersahabat saat di bangku SMA. Sedangkan Akbar dulu


adalah kakak kelas mereka.


Renata juga menjelaskan bahwa mereka berpisah


saat Ia harus pindah ke luar kota dan menyebabkan putusnya silaturahmi dengan


Malik. Ia mengaku hanya sesekali berhubungan dengan Indira melalui sosial


media. Renata juga menjelaskan bahwa hubungannya dengan Malik di luar kantor


tidak lebih dari teman lama.


“Serius cuma teman lama?? Mbak ga ada perasaan


apaa gitu”


“Hehe, serius. Saya sama Pak Malik cuma temenan aja”


“Kalau pacaran juga gapapa sih Mbak. Kan Pak


Malik jomblo, Mbak Rena juga jomblo. Apa salahnya dicoba?? Pak Malik umurnya


udah banyak Mbak. Kasihan kalau ga nikah-nikah. Keburu tua. Makanya nikah sama


Mbak aja” Goda salah satu karyawan yang lebih muda darinya.


“Ren, ke ruangan saya sebentar.”


Suara berat Malik membubarkan kerumunan penggosip


itu. Mereka berlari ke tempat masing-masing. Khawatir dengan apa yang sudah


mereka ucapkan. Semoga saja tidak didengar oleh Bos nya.


Sementara Renata dengan hati berdegub mengikuti


langkah Malik ke dalam ruangannya. Apa yang akan bosnya bicarakan? Apa Bosnya


mendengar percakapan konyol antara dirinya dengan karyawan yang lain? Ah,


kenapa Bosnya harus muncul di saat seperti itu.


Ia menuruti Malik yang memintanya untuk duduk di


sofa.


“Mereka bilang apa?? Apa mereka bicara hal buruk

__ADS_1


tentang kamu?”


Jantungnya kembali berdetak kencang. Firasatnya


benar. Sepertinya Malik mendengar pembicaraan mereka.


“Oh tidak Pak. Mereka hanya menanyakan hubungan


Saya dengan Bapak.”


“Kamu jawab apa??”


“Ya Saya bilang kalau Saya, Bapak dan Indira


adalah teman dekat waktu SMA.”


“Tapi kok Saya dengar mereka membicarakan tentang usia Saya??”


Wajah Renata pucat pasi mendengarkan perkataan


Malik.Apa lagi yang harus Ia


ucapkan. Tidak mungkin dirinya harus jujur kalau karyawan yang lain menjodohkan


Dia dengan Malik.


“Ah udahlah itu ga penting. Ren, Aku mau minta


tolong sama Kamu. Bukan sebagai atasan, tetapi sebagai teman” Ucap Malik dengan


mengubah tata bahasanya menjadi lebih informal.


“Tolong apa Pak?? Eh.. Lik??”


“Lusa, Aku, Indi sama Akbar pergi ke Korea. Aku


mau minta tolong kamu buat nemenin Mama Mega. Sama sesekali tolong Kamu lihat


kondisinya Papi Aku. Bisa??”


Renata segera menganggukan kepalanya tanda


persetujuan. Bukan


hal berat bagi Renata jika hanya sekedar menemani atau menjenguk orang tua


Malik. Toh dirinya juga tidak memiliki kegiatan sepulang bekerja.


Mungkin di kantor itu hanya Renata yang mengetahui bahwa Malik dan Akbar bukan


saudara kandung. Karena menurut gosip yang beredar, Malik adalah adik dari


Akbar. Dan Anak dari Pak Adi. Sedangkan Bu Mega dan Pak Adrian adalah orang tua


dari sahabatnya Si Bos, Indira.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 23.25, sedangkan


Malik belum juga pulang. Akbar memeriksa ponselnya berkali-kali. Melihat apakah


pesannya sudah mendapat balasan dari Malik.


Ia berbaring di sofa ruang tamu. Berharap bisa


segera bertemu dengan Malik. Ia ingin menyampaikan berita bahagia bahwa


ternyata pernikahannya dengan Indira berubah menjadi 1 bulan lebih cepat.


Akbar segera membuka pintu rumahnya ketika


mendengar suara mobil Malik. Ia benar-benar menyambut kedatangan Malik.


Sikapnya saat ini benar-benar tidak sesuai dengan usianya yang sudah menginjak


kepala tiga.


Ia segera menarik tangan Malik dan membawanya


duduk di ruang tamu. Mulai membuka percakapannya dengan berita yang cukup


membahagiakan. Dengan


antusias Akbar menyampaikan acara pernikahan yang dimajukan karena menyesuaikan


jadwal dengan para keluarga yang lain.

__ADS_1


Akbar tersenyum puas saat mendengar reaksi Malik.


Ia semakin bahagia saat mendengar bahwa Malik akan membantu segala sesuatu yang


diperlukan untuk persiapan pernikahannya dengan Indira.


Usai membicarakan mengenai rencana pernikahan,


Akbar mulai bertanya pada Malik.


“Kok malem banget pulangnya??”


“Lagi ngebut kerjaan yang buat besok Bar.”


“Lah kerjaan besok ngapain dikerjain hari ini??”


“Besok waktunya Papi cek kesehatan Bar. Aku udah


janji mau nemenin.”


Seketika Akbar terdiam mendengar ucapan Malik. Ia


memandang Malik dalam. Perlahan Akbar menggenggam tangan Malik dengan erat.


Berulang kali Ia menyampaikan rasa terima


kasihnya pada Malik. Akbar sangat bersyukur karena memiliki Malik. Malik sudah


merawat dan menyayangi Papi melebihi putra kandungnya sendiri. Akbar merasa


malu, bahkan untuk hal sepenting itu Ia tidak tau.


“Sudah tugasku Bar. Apa yang aku lakukan sama


Papi sekarangmasih tidak sebanding dengan semua yang sudah Papi dan Kamu kasih buat


Aku. Jadi jangan merasa terbebani.”


Sungguh, Akbar merasa menjadi anak yang paling


buruk di dunia. Jangankan jadwal kesehatan, bertemu Papinya pun jarang. Seperti mencoba menjadi anak yang


baik, Akbar mulai menanyakan kondisi Papinya saat ini.


Dengan seksama Ia memperhatikan Malik yang sedang menjelaskan.


Lama membicarakan kondisi Papinya, Akbar kembali


teringat dengan ucapan Indira. Wedding dress. Ia kembali memandang Malik. Kali


ini dengan tatapan yang cukup sendu.


Akbar kembali berterima kasih untuk kasih sayang


dan perhatiannya pada Indira. Berterima kasih karena sudah mewujudkan wedding


dress impian Indira menjadi kenyataan. Entah apa lagi yang harus Akbar lakukan


untuk mengungkapkan ucapan terima kasihnya yang begitu dalam.


Sebenarnya masih banyak hal yang ingin


disampaikan oleh Akbar. Tetapi melihat kondisi Malik yang masih menggunakan


pakaian kerja membuatnya mengurungkan niat.


Ia berjalan gontai ke arah kamarnya. Memandang


tiga koper yang ada di samping ranjangnya. Ia baru menyadari bahwa liburan kali


ini sepenuhnya dibiayai oleh Malik. Kembali hatinya dipenuhi dengan rasa sungkan. Pada akhirnya Akbar


memutuskan akan membiayai apapun yang Malik dan Indira beli selama di Korea.


Otaknya mulai berpikir cepat, apa yang harus Ia lakukan agar bisa membuat Malik


bahagia. Seperti mendapat mukjizat dari langit, matanya mulai berbinar.


Ia membuka ponsel dengan cepat, menekan angka satu yang segera tersambung dengan


Indira. Menyampaikan semua idenya tentang perjodohan Malik dengan Renata. Belum


usai Ia menyampaikan idenya, tapi Indira sudah menolak dengan alasan bahwa


Indira sudah pernah mencobanya tetapi gagal.


“Sayang, Kamu percaya aja sama Aku. Dia pasti menuruti apa yang Papi minta. Aku bakal

__ADS_1


bilang sama Papi supaya segera menjodohkan Malik. Ini pasti berhasil !! Pulang dari Korea kita bahas


lagi.”


__ADS_2