
Akbar melihat Jessica yang memeluk dirinya sendiri. Mungkin gadis itu masih belum
terbiasa dengan hawa dingin di villa ini. Akbar mengambil selimut yang ada
disampingnya dan melemparnya pada Jessica.
“Lagian ngapain pake daster tipis kaya gitu”
“Maaf pak. Di lemari Bu Indira hanya ada ini.” Jawab Jessica sembari menunjuk pakaian
yang ia kenakan.
“Yasudah terserah. Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu kepada saya??”
“Tentang apa pak??”
“Apartemen tadi misalnya, atau tentang hubungan saya dan Indira”
“Saya bukan tipe orang yang ingin tau urusan pribadi orang lain pak. Hehe. Kalau
Bapak bercerita akan Saya dengarkan, tetapi kalau Bapak diam, Saya tidak akan
mencari tau” Jelas Jessicadengan senyum khasnya.
Ini adalah salah satu sifat Jessica yang membuat Akbar mempertahankan posisi gadis
itu. Sebenarnya, bagi Akbar tidak ada yang bermasalah dengan kinerja Jessica.
Tapi entah kenapa dia suka membully Jessica. Mungkin karena reaksinya, atau
memang sudah menjadi salah satu hobi Akbar. Entahlah~
Akbar mulai menjelaskan pada Jessica bahwa saat ini Indira adalah tunangannya. Dan
apartemen yang Ia beli akan digunakan setelah mereka menikah.
Cukup lama Akbar bercerita tentang masalah pribadinya kepada Jessica. Tentang
pertunangan, rencana pernikahan dan hal kecil lainnya.
“Oh ya, tanggal 23 Desember hingga 10 hari kedepannya, tolong kosongkan jadwal
saya” Wajah Akbar berubah serius ketika membahas mengenai pekerjaan.
“10 hari Pak?? Apa Bapak akan ke luar kota?? Apa saya perlu ikut??”
“Tidak. Saya hanya berlibur. Saya akan ke Korea selama 7 Hari. Jadi tolong rubah semua
jadwal saya. Kamu tau kan maksud saya??”
“Baik Pak, ada lagi yang dibutuhkan??”
“Emm, oh ya. Indira memiliki ide untuk mengembangkan perusahaan di luar negeri.
Bagaimana menurut pendapat kamu??”
“Menurut Saya itu bukan ide yang buruk Pak. Tapi kalau kita langsung mendirikan pabrik disana,
Saya rasa resikonya terlalu besar. Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan
perusahaan lain yang sudah berkembang di negara tersebut.”
“Maksud kamu pengusaha dari Indo yang sudah punya nama di sana??”
“Benar Pak”
**
Perbincangan
mengenai pekerjaan masih berlanjut hingga tengah malam. Jessica bersyukur
karena ada telepon dari Indira yang datang bak penyelamat jam istirahatnya.
Jessica tidak pernah menyangka akan meeting dengan bosnya hanya menggunakan daster.
Setengah hatinya menggerutu karena ini bukanlah “bolos kerja” seperti yang Dia
bayangkan. Setengah hati yang lain sangat bahagia karena Dia bisa berlama-lama
memandang wajah tampan bosnya.
Jessica merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ingin rasanya Ia memejamkan matanya dan
menikmati indahnya dunia mimpi. Tapi sepertinya, otak dan hatinya tidak
sejalan. Otaknya ingin sekali beristirahat, tetapi hatinya seperti tidak rela
__ADS_1
untuk mengakhiri indahnya hari ini.
Tanpa disadari senyumnya tidak berhenti mengembang. Bahkan berulang kali kakinya menendang ranjangnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bermalam dengan Akbar. Meskipun tidur di tempat terpisah,
setidaknya kali ini dia puas memandang Akbar yang hanya menggunakan kaos
oblong.
“Tunggu” Jessica terduduk di atas ranjang.
“Bagaimana kalau aku datang ke kamarnya, terus
bilang kalau aku takut tidur sendiri disini.” Sejurus kemudian, wajah cerianya
berubah menjadi muram.
Ia mengutuki dirinya sendiri atas pikiran bodoh
yang ada dikepalanya. Bagaimana mungkin Dia bisa melakukan hal serendah itu
kepada orang yang sudah memiliki tunangan. Dan sejak kapan otaknya dipenuhi hal
mesum seperti itu. Jessica mulai mengacak-acak rambutnya.
Berguling kesana kemari. Menutup kepalanya dengan
bantal. Masuk ke dalam selimut. Sesaat dia tersenyum bahagia, sesaat kemudian
matanya berkaca-kaca. Sungguh, jatuh cinta pada Akbar sudah membuat akal
sehatnya hilang.
**
“Malik aaaaa” Indira menyuapkan sesendok obat
cair pada Malik yang sedang duduk diatas sofa.
Malik pun menuruti perkataan Indira meskipun obat
jenis itu adalah obat yang paling Ia hindari.
Usai meminumkan obat itu pada Malik, Indira
merebahkan kepalanya diatas pangkuan Malik. Memejamkan matanya sesaat. Merasakan
“Ternyata dimana Akbar?” Suara Maik memecah
keheningan.
“Di Lembang. Katanya tadi ada meeting disekitar
situ, yaudah nginep sekalian.”
“Sendiri?”
“Engga, sama Jessica. Aku suruh Jessica pakai
kamar aku disana.” Jelas Indira, sembari meraih tangan Malik dan meletakkan
diatas kepalanya. Indira memberi kode agar Malik memijat kepalanya. Tanpa
protes, Malik pun mulai memijat pelan kepalanya.
“Aku seneng deh kalau kamu tidur disini Lik.”
“Kenapa?”
“Tau sendiri, dari dulu kan cita-cita aku bisa
serumah sama kamu.” Jawab Indira santai.
“Oh, jadi kamu seneng aku sakit??”
“Bukan gitu. Maksudnya, aku akan lebih seneng
kalau kamu seterusnya disini”
Malik hanya tersenyum tipis. Tangannya berpindah
ke hidung Indira dan mencubitnya pelan.
“Ndi, kasian Papi kalau aku tinggal disini. Akbar
sering keluar kota sekarang. Kalau aku disini, yang jagain Papi siapa. Lagian,
ga lama lagi kamu kan nikah sama Akbar.”
__ADS_1
Indira terdiam mendengar penjelasan dari Malik.
Apa yang Ia katakan memang benar.
Saat ini, dia sudah menjadi tunangan Akbar. Dan
pasti, tidak lama lagi para orang tua akan menikahkan mereka.
Jika sudah menikah, apa kehidupannya dengan Malik
akan tetap seperti ini. Apakah perjuangannya memendam perasaan kepada Malik selama
6 tahun akan berakhir begini??
Indira memiliki prinsip bahwa wanita tidak
menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Itulah yang menyebabkan Ia memendam
rasa cintanya selama ini.
Ia mendongak dan memandang wajah Malik dalam.
Apakah pria ini benar-benar tidak memiliki perasaan kepadanya?? Jika saja Malik
juga mencintainya, apakah Malik akan segera melamarnya? Apakah mungkin dia
menikah dengan Malik?? Seandainya Indira tidak peduli dengan prinsipnya apa
mungkin dia bisa bersama dengan Malik?? Seandainya dia tidak menerima lamaran
Akbar, apa mungkin masih ada kesempatan?? Ahh, seandainya saja. Indira bergumam
dalam hati.
Sakit menimpa, sesal terlambat. Menyesalpun sudah
tidak ada artinya. Bagaimanapun, statusnya kini sudah berbeda. Jika Dia tidak
melanjutkan apa yang sudah dimulai, lalu apa yang akan terjadi dengan para
orang tua?? Pasti mereka akan semakin kecewa. Dan hal lain yang bisa dipastikan
adalah, hubungannya dengan Akbar pasti akan merenggang.
Indira menggelengkan kepalanya pelan. Mengusir
semua pikiran yang sedang mengganggunya.
“Kenapa?? Pijetannya ga kerasa??” Tanya Malik
keheranan
“Enggak kok. Udahan aja Lik, nanti kamu capek.
Kan yang sakit kamu” Indira memegang dan menahan tangan Malik.
“Yaudah, terserah kamu aja. Kalau ngantuk, tidur
di kamar aja. Aku masih mau nonton”
Indira menggeleng pelan. Ia ingin menikmati
masa-masa indah bersama Malik sebelum Ia menjadi istri Akbar.
Mata Indira memang melihat layar televisi, tetapi
pikirannya melayang entah kemana.
“Lik..” Indira mengangkat kepalanya dari pangkuan
Malik dan duduk dengan tegas. Wajahnya berubah menjadi sendu.
“Hmm”
“Makasih ya”
“Buat??”
“Semuanya. Perhatian, kasih sayang, pengorbanan,
waktu, dan semua yang sudah kamu beri buat aku. Makasih banyak. Maaf aku belum
bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Maaf masih sering nyusahin kamu. Maaf
udah bikin kamu kaya gini. Sampai kapanpun, Aku akan tetap jadi Indira kamu”
Pandangan Indira menjadi buram karena air mata
__ADS_1
mulai menggenang di pelupuk matanya.