Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH46- Seandainya


__ADS_3

Akbar melihat Jessica yang memeluk dirinya sendiri. Mungkin gadis itu masih belum


terbiasa dengan hawa dingin di villa ini. Akbar mengambil selimut yang ada


disampingnya dan melemparnya pada Jessica.


“Lagian ngapain pake daster tipis kaya gitu”


“Maaf pak. Di lemari Bu Indira hanya ada ini.” Jawab Jessica sembari menunjuk pakaian


yang ia kenakan.


“Yasudah terserah. Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu kepada saya??”


“Tentang apa pak??”


“Apartemen tadi misalnya, atau tentang hubungan saya dan Indira”


“Saya bukan tipe orang yang ingin tau urusan pribadi orang lain pak. Hehe. Kalau


Bapak bercerita akan Saya dengarkan, tetapi kalau Bapak diam, Saya tidak akan


mencari tau” Jelas Jessicadengan senyum khasnya.


Ini adalah salah satu sifat Jessica yang membuat Akbar mempertahankan posisi gadis


itu. Sebenarnya, bagi Akbar tidak ada yang bermasalah dengan kinerja Jessica.


Tapi entah kenapa dia suka membully Jessica. Mungkin karena reaksinya, atau


memang sudah menjadi salah satu hobi Akbar. Entahlah~


Akbar mulai menjelaskan pada Jessica bahwa saat ini Indira adalah tunangannya. Dan


apartemen yang Ia beli akan digunakan setelah mereka menikah.


Cukup lama Akbar bercerita tentang masalah pribadinya kepada Jessica. Tentang


pertunangan, rencana pernikahan dan hal kecil lainnya.


“Oh ya, tanggal 23 Desember hingga 10 hari kedepannya, tolong kosongkan jadwal


saya” Wajah Akbar berubah serius ketika membahas mengenai pekerjaan.


“10 hari Pak?? Apa Bapak akan ke luar kota?? Apa saya perlu ikut??”


“Tidak. Saya hanya berlibur. Saya akan ke Korea selama 7 Hari. Jadi tolong rubah semua


jadwal saya. Kamu tau kan maksud saya??”


“Baik Pak, ada lagi yang dibutuhkan??”


“Emm, oh ya. Indira memiliki ide untuk mengembangkan perusahaan di luar negeri.


Bagaimana menurut pendapat kamu??”


“Menurut Saya itu bukan ide yang buruk Pak. Tapi kalau kita langsung mendirikan pabrik disana,


Saya rasa resikonya terlalu besar. Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan


perusahaan lain yang sudah berkembang di negara tersebut.”


“Maksud kamu pengusaha dari Indo yang sudah punya nama di sana??”


“Benar Pak”


**


Perbincangan


mengenai pekerjaan masih berlanjut hingga tengah malam. Jessica bersyukur


karena ada telepon dari Indira yang datang bak penyelamat jam istirahatnya.


Jessica tidak pernah menyangka akan meeting dengan bosnya hanya menggunakan daster.


Setengah hatinya menggerutu karena ini bukanlah “bolos kerja” seperti yang Dia


bayangkan. Setengah hati yang lain sangat bahagia karena Dia bisa berlama-lama


memandang wajah tampan bosnya.


Jessica merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Ingin rasanya Ia memejamkan matanya dan


menikmati indahnya dunia mimpi. Tapi sepertinya, otak dan hatinya tidak


sejalan. Otaknya ingin sekali beristirahat, tetapi hatinya seperti tidak rela

__ADS_1


untuk mengakhiri indahnya hari ini.


Tanpa disadari senyumnya tidak berhenti mengembang. Bahkan berulang kali kakinya menendang ranjangnya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bermalam dengan Akbar. Meskipun tidur di tempat terpisah,


setidaknya kali ini dia puas memandang Akbar yang hanya menggunakan kaos


oblong.


“Tunggu” Jessica terduduk di atas ranjang.


“Bagaimana kalau aku datang ke kamarnya, terus


bilang kalau aku takut tidur sendiri disini.” Sejurus kemudian, wajah cerianya


berubah menjadi muram.


Ia mengutuki dirinya sendiri atas pikiran bodoh


yang ada dikepalanya. Bagaimana mungkin Dia bisa melakukan hal serendah itu


kepada orang yang sudah memiliki tunangan. Dan sejak kapan otaknya dipenuhi hal


mesum seperti itu. Jessica mulai mengacak-acak rambutnya.


Berguling kesana kemari. Menutup kepalanya dengan


bantal. Masuk ke dalam selimut. Sesaat dia tersenyum bahagia, sesaat kemudian


matanya berkaca-kaca. Sungguh, jatuh cinta pada Akbar sudah membuat akal


sehatnya hilang.


**


“Malik aaaaa” Indira menyuapkan sesendok obat


cair pada Malik yang sedang duduk diatas sofa.


Malik pun menuruti perkataan Indira meskipun obat


jenis itu adalah obat yang paling Ia hindari.


Usai meminumkan obat itu pada Malik, Indira


merebahkan kepalanya diatas pangkuan Malik. Memejamkan matanya sesaat. Merasakan


“Ternyata dimana Akbar?” Suara Maik memecah


keheningan.


“Di Lembang. Katanya tadi ada meeting disekitar


situ, yaudah nginep sekalian.”


“Sendiri?”


“Engga, sama Jessica. Aku suruh Jessica pakai


kamar aku disana.” Jelas Indira, sembari meraih tangan Malik dan meletakkan


diatas kepalanya. Indira memberi kode agar Malik memijat kepalanya. Tanpa


protes, Malik pun mulai memijat pelan kepalanya.


“Aku seneng deh kalau kamu tidur disini Lik.”


“Kenapa?”


“Tau sendiri, dari dulu kan cita-cita aku bisa


serumah sama kamu.” Jawab Indira santai.


“Oh, jadi kamu seneng aku sakit??”


“Bukan gitu. Maksudnya, aku akan lebih seneng


kalau kamu seterusnya disini”


Malik hanya tersenyum tipis. Tangannya berpindah


ke hidung Indira dan mencubitnya pelan.


“Ndi, kasian Papi kalau aku tinggal disini. Akbar


sering keluar kota sekarang. Kalau aku disini, yang jagain Papi siapa. Lagian,


ga lama lagi kamu kan nikah sama Akbar.”

__ADS_1


Indira terdiam mendengar penjelasan dari Malik.


Apa yang Ia katakan memang benar.


Saat ini, dia sudah menjadi tunangan Akbar. Dan


pasti, tidak lama lagi para orang tua akan menikahkan mereka.


Jika sudah menikah, apa kehidupannya dengan Malik


akan tetap seperti ini. Apakah perjuangannya memendam perasaan kepada Malik selama


6 tahun akan berakhir begini??


Indira memiliki prinsip bahwa wanita tidak


menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Itulah yang menyebabkan Ia memendam


rasa cintanya selama ini.


Ia mendongak dan memandang wajah Malik dalam.


Apakah pria ini benar-benar tidak memiliki perasaan kepadanya?? Jika saja Malik


juga mencintainya, apakah Malik akan segera melamarnya? Apakah mungkin dia


menikah dengan Malik?? Seandainya Indira tidak peduli dengan prinsipnya apa


mungkin dia bisa bersama dengan Malik?? Seandainya dia tidak menerima lamaran


Akbar, apa mungkin masih ada kesempatan?? Ahh, seandainya saja. Indira bergumam


dalam hati.


Sakit menimpa, sesal terlambat. Menyesalpun sudah


tidak ada artinya. Bagaimanapun, statusnya kini sudah berbeda. Jika Dia tidak


melanjutkan apa yang sudah dimulai, lalu apa yang akan terjadi dengan para


orang tua?? Pasti mereka akan semakin kecewa. Dan hal lain yang bisa dipastikan


adalah, hubungannya dengan Akbar pasti akan merenggang.


Indira menggelengkan kepalanya pelan. Mengusir


semua pikiran yang sedang mengganggunya.


“Kenapa?? Pijetannya ga kerasa??” Tanya Malik


keheranan


“Enggak kok. Udahan aja Lik, nanti kamu capek.


Kan yang sakit kamu” Indira memegang dan menahan tangan Malik.


“Yaudah, terserah kamu aja. Kalau ngantuk, tidur


di kamar aja. Aku masih mau nonton”


Indira menggeleng pelan. Ia ingin menikmati


masa-masa indah bersama Malik sebelum Ia menjadi istri Akbar.


Mata Indira memang melihat layar televisi, tetapi


pikirannya melayang entah kemana.


“Lik..” Indira mengangkat kepalanya dari pangkuan


Malik dan duduk dengan tegas. Wajahnya berubah menjadi sendu.


“Hmm”


“Makasih ya”


“Buat??”


“Semuanya. Perhatian, kasih sayang, pengorbanan,


waktu, dan semua yang sudah kamu beri buat aku. Makasih banyak. Maaf aku belum


bisa jadi sahabat yang baik buat kamu. Maaf masih sering nyusahin kamu. Maaf


udah bikin kamu kaya gini. Sampai kapanpun, Aku akan tetap jadi Indira kamu”


Pandangan Indira menjadi buram karena air mata

__ADS_1


mulai menggenang di pelupuk matanya.


__ADS_2