
Bu Sri menunggu didepan rumah kecilnya sambil menyiram tanaman.
Biasanya Bu Sri akan menunggu Indira dan Malik pulang sekolah didalam rumah,
sambil mengemas sisa kue dagangan pagi hari untuk dibagi-bagikan (Mungkin dari
pada dibuang kali ya). Bu Sri memang terkenal baik di kampungnya. Meskipun
terbilang kurang mampu, Bu Sri tidak pernah lupa untuk bersedekah. Karena tidak
punya uang untuk disedekahkan, Bu Sri selalu membagikan kue dagangannya yang
tidak habis entah untuk anak jalanan atau tetangga di kampungnya.
Tapi hari ini, sudah lewat jam 3 sore anaknya belum juga sampai
dirumah.
“Ndi, ada ibuk didepan. Pasti kita kena marah gara-gara pulang
telat” Malik mulai cemas karena ini adalah kali pertama mereka pulang
terlambat. Langkahnya seketika terhenti karena ibunya sudah ada didepan rumah.
“Tenang, Indi disini” Jawab Indira sambil membusungkan dadanya.
Indira memang selalu pulang kerumah Malik dan kembali kerumahnya sendiri jam 7 malam, karena biasanya Papa dan Mama Indira
akan pulang lewat dari jam 6. Karena kedekatannya dengan Bu Sri dan Malik,
orang tua Indira sengaja meminta bantuan Bu Sri untuk menemani Indira ketika
sore.
“Ibuk, kita pulang” Tanpa rasa takut Indira langsung berlari
menghampiri Bu Sri dan mencium punggung tangannya. Diikuti oleh Malik.
“Ya ampun, dari mana aja jam segini baru pulang. Main boleh, tapi
harus tau waktu. Neng Indi, ibuk kan tadi pagi udah bilang nanti malem ada les
matematika. Kalau sekarang main terus, nanti malem pasti ngantuk. Malik juga
gitu, kamu tau Indira masih agak sakit. Malah diajakin main sampai sore” Ketika melihat Malik dan Indira, bu Sri
langsung menegur mereka berdua.
“iya bu, maaf” Jawab Malik dan segera berlalu meninggalkan Ibunya.
Malik langsung masuk kedalam kamar dan mengganti bajunya. Berbeda dengan Malik,
Indira malah bergelayutan di lengan Bu Sri sambil mengerjapkan matanya dengan
manja.
“buuk, indi laper. Ibuk masak apa?? Tadi keasyikan main jadi sampe
lupa kalau belum makan siang,”
“Makanya kalau main itu tau
waktu. Ibuk masak balado terong kesukaan kalian. Sekarang ganti baju dulu, cuci
tangan, cuci kaki. Biar ibuk siapkan makannya ya” Meskipun sedikit kesal, tapi
Bu Sri tetap menyayangi Indira seperti anaknya sendiri. Bu Sri merasa tidak
tega kalau membiarkan Indira kalau harus pulang ke rumahnya yang sepi.
Belum lama setelah Indira masuk kedalam, sudah terdengar kehebohan
“buuuuuk, ibuuukk. Baju Indi dimanaaaaa? Kok gaa adaaa??”
__ADS_1
“Ampun eneng. Tong kitu ih (Jangan gitu ih). Suka banget teriak
teriak” Bu Sri langsung berjalan cepat kearah sumber suara.
“hehe, maaf buk. Habisnya takut ibuk ga denger. Bajunya Indi
dimana? Biasanya kan dilemari ibuk” jawab Indira sambil menggaruk tengkuknya
yang tidak gatal.
“oh iya lupa, masih basah habis ibu cuci. Makanya kalau bajunya
kotor itu langsung dicuci, jangan disimpen dilemari. Kan ibu gatau kalau ada
yang masih kotor. Sini kunci rumah kamu, biar ibu ambilin dulu” Bu Sri memang
sedikit lebih memanjakan Indira dibanding dengan Malik anaknya sendiri.
“Jangan deh buk, nanti Ibuk capek. Indi pake bajunya ibuk aja
gapapa”
“Haha, kamu mau pakai daster?? Udah tau bajunya ibu daster semua,
masih nantang mau pake baju Ibu segala. Teu mahi neng (Ga cukup nak) kalau pake
daster ibu” Bu Sri tersenyum sambil mengusap kepala Indira.
“Terus pake apa dong bu? Kalau dasternya cukup sih gapapa Indi
pake daster Ibu.”
“ulah ah neng (jangan ah nak) nanti kamu diejek sama Malik. Ibu
ambilkan kaos sama celana Malik yang agak kecil aja ya. Neng pake yang itu” Bu
Sri berlalu meninggalkan Indi dan membawa beberapa potong kaos oblong plus
Setelah memilih beberapa saat indira memilih kaos oblong warna
hijau botol dan celana hitam. Indira segera melepas seragam sekolahnya dan
mengganti kaos yang sudah ia pilih.
Bu Sri sudah memanggil Malik dan Indira
untuk makan siang yang kesorean. Dengan berlari Indira segera pergi ke dapur,
agar bisa cepat memanjakan perutnya yang keroncongan.
“wuuaahh terong balado kesukaan indi nihh. Maliiiiikkkkk,
cepaaattt. Aku lapar niiihhhh” kembali berteriak karena sahabatnya tidak
kunjung keluar. Ya, gadis kecil ini memang terlampau ceria hingga berteriak dan
tertawa menjadi hobby nya.
Sementara Bu Sri hanya bisa tersenyum melihat tingkah Indira.
“Apa sih ndi. Aku denger, jadi gausah teriak-teriak.” Jawab Malik
sedikit kesal karena mendengar teriakan Indi yang seperti piring pecah
“Habisnya kamu dipanggil Ibuk diem aja. Kan aku udah laper tau”
“Aku masih pipis tadi ndi. Bawel banget. Eh itu kan bajuku” Malik
menjawab dengan sedikit ketus
“pinjam. Kenapa? Emang ga boleh. Dasar pelit, pinjam gini aja ga
boleh”
__ADS_1
Pertengkaran kecil memang sering terjadi antara Malik dan Indira.
Berebut kamar mandi dan berebut saluran tv menjadi hal yang paling sering memicu pertengkaran
mereka. Dalam hal apapun, pasti mereka bertengkar. Meskipun pada akhirnya Malik
yang akan mengalah. Terkadang ada saat dimana Malik ingin menggoda Indira
sampai menangis dan berakhir dengan hukuman dari Bu Sri.
Tapi dibalik pertengkaran mereka, tercipta rasa sayang dan melindungi
satu sama lain. Jika Indira pulang ke rumahnya, pasti Malik akan mencarinya.
Disekolahpun mereka begitu, bagi Malik bertengkar dengan Indira sudah menjadi hal yang biasa. Tapi kalau ada
yang membuat Indira menangis selain dirinya, dia akan dengan gagahnya membela
Indira.
“Buk, Malik itu jutek banget tau ke Indira. Ga Cuma dirumah aja,
disekolah juga gitu. Jarang ngomong, tapi buk sekalinya ngomong pasti ngeselin”
dengan mulutnya yang penuh dengan nasi, Indira mencoba untuk melaporkan tingkah
Malik ke Ibunya.
“Kalau makan itu jangan ngomong ndi. Ntar mati keselek”
“tuh kan buk, dia itu juteknya kaya gitu. Cowo tuh yang seru kaya
Akbar” Mata Indira mulai berbinar ketika menceritakan Akbar
“siapa Akbar neng??” Meskipun Bu Sri tidak ikut makan, Bu Sri tetap
menemani anaknya untuk makan siang.
“Ada buk. Temen baru Malik sama Indi, udah kelas 5 tapi. Dia
rumahnya di komplek perumahan depan. Ya ampun buukk, rumahnya itu besaaar
banget. Ada kolam renangnya, tamannya juga besar loh buk. Terus disana ada Mbok
Lastri juga buk. Orangnya baik banget, mbok kerja disana” Indira antusias
menceritakan tentang Akbar, sedangkan Malik hanya manggut manggut mendengarkan
ocehan Indira
“Tapi buk, yang kasian itu. Rumahnya kan gede banget ya, tapi yang
tinggal Cuma dia, papinya sama mbok lastri aja. Kata Akbar, maminya habis
berantem terus pergi dari rumah sambil bawa koper buk. Kayanya ga balik lagi
deh” *ghibah time :D*
“Itu bukan urusan kamu ndi. Dasar tukang gosip” Si Malik yang anti
dengan mengurusi urusan orang lain mulai angkat suara
“nah kan judes lagi” cela Indira sambil menyebikkan bibirnya
“Lik, bener kata Indira. Kamu itu jangan jutek2 jadi anak. Yang
supel, sering senyum gituloh kamu itu” Ternyata Bu Sri juga menyadari kalau
anaknya sedikit jutek
“Tapi kan Malik perhatian bu. Tadi aja Malik ngelap ingusnya Indi.
Lagian udah gede ingusan” Malik sedikit membela dirinya sendiri.
__ADS_1