Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH 3- Telat Pulang


__ADS_3

Bu Sri menunggu didepan rumah kecilnya sambil menyiram tanaman.


Biasanya Bu Sri akan menunggu Indira dan Malik pulang sekolah didalam rumah,


sambil mengemas sisa kue dagangan pagi hari untuk dibagi-bagikan (Mungkin dari


pada dibuang kali ya). Bu Sri memang terkenal baik di kampungnya. Meskipun


terbilang kurang mampu, Bu Sri tidak pernah lupa untuk bersedekah. Karena tidak


punya uang untuk disedekahkan, Bu Sri selalu membagikan kue dagangannya yang


tidak habis entah untuk anak jalanan atau tetangga di kampungnya.


Tapi hari ini, sudah lewat jam 3 sore anaknya belum juga sampai


dirumah.


“Ndi, ada ibuk didepan. Pasti kita kena marah gara-gara pulang


telat” Malik mulai cemas karena ini adalah kali pertama mereka pulang


terlambat. Langkahnya seketika terhenti karena ibunya sudah ada didepan rumah.


“Tenang, Indi disini” Jawab Indira sambil membusungkan dadanya.


Indira memang selalu pulang kerumah Malik dan kembali kerumahnya sendiri jam 7 malam, karena biasanya Papa dan Mama Indira


akan pulang lewat dari jam 6. Karena kedekatannya dengan Bu Sri dan Malik,


orang tua Indira sengaja meminta bantuan Bu Sri untuk menemani Indira ketika


sore.


“Ibuk, kita pulang” Tanpa rasa takut Indira langsung berlari


menghampiri Bu Sri dan mencium punggung tangannya. Diikuti oleh Malik.


“Ya ampun, dari mana aja jam segini baru pulang. Main boleh, tapi


harus tau waktu. Neng Indi, ibuk kan tadi pagi udah bilang nanti malem ada les


matematika. Kalau sekarang main terus, nanti malem pasti ngantuk. Malik juga


gitu, kamu tau Indira masih agak sakit. Malah diajakin main sampai sore”  Ketika melihat Malik dan Indira, bu Sri


langsung menegur mereka berdua.


“iya bu, maaf” Jawab Malik dan segera berlalu meninggalkan Ibunya.


Malik langsung masuk kedalam kamar dan mengganti bajunya. Berbeda dengan Malik,


Indira malah bergelayutan di lengan Bu Sri sambil mengerjapkan matanya dengan


manja.


“buuk, indi laper. Ibuk masak apa?? Tadi keasyikan main jadi sampe


lupa kalau belum makan siang,”


 “Makanya kalau main itu tau


waktu. Ibuk masak balado terong kesukaan kalian. Sekarang ganti baju dulu, cuci


tangan, cuci kaki. Biar ibuk siapkan makannya ya” Meskipun sedikit kesal, tapi


Bu Sri tetap menyayangi Indira seperti anaknya sendiri. Bu Sri merasa tidak


tega kalau membiarkan Indira kalau harus pulang ke rumahnya yang sepi.


Belum lama setelah Indira masuk kedalam, sudah terdengar kehebohan


“buuuuuk, ibuuukk. Baju Indi dimanaaaaa? Kok gaa adaaa??”

__ADS_1


“Ampun eneng. Tong kitu ih (Jangan gitu ih). Suka banget teriak


teriak” Bu Sri langsung berjalan cepat kearah sumber suara.


“hehe, maaf buk. Habisnya takut ibuk ga denger. Bajunya Indi


dimana? Biasanya kan dilemari ibuk” jawab Indira sambil menggaruk tengkuknya


yang tidak gatal.


“oh iya lupa, masih basah habis ibu cuci. Makanya kalau bajunya


kotor itu langsung dicuci, jangan disimpen dilemari. Kan ibu gatau kalau ada


yang masih kotor. Sini kunci rumah kamu, biar ibu ambilin dulu” Bu Sri memang


sedikit lebih memanjakan Indira dibanding dengan Malik anaknya sendiri.


“Jangan deh buk, nanti Ibuk capek. Indi pake bajunya ibuk aja


gapapa”


“Haha, kamu mau pakai daster?? Udah tau bajunya ibu daster semua,


masih nantang mau pake baju Ibu segala. Teu mahi neng (Ga cukup nak) kalau pake


daster ibu” Bu Sri tersenyum sambil mengusap kepala Indira.


“Terus pake apa dong bu? Kalau dasternya cukup sih gapapa Indi


pake daster Ibu.”


“ulah ah neng (jangan ah nak) nanti kamu diejek sama Malik. Ibu


ambilkan kaos sama celana Malik yang agak kecil aja ya. Neng pake yang itu” Bu


Sri berlalu meninggalkan Indi dan membawa beberapa potong kaos oblong plus


Setelah memilih beberapa saat indira memilih kaos oblong warna


hijau botol dan celana hitam. Indira segera melepas seragam sekolahnya dan


mengganti kaos yang sudah ia pilih.


Bu Sri sudah memanggil Malik dan Indira


untuk makan siang yang kesorean. Dengan berlari Indira segera pergi ke dapur,


agar bisa cepat memanjakan perutnya yang keroncongan.


“wuuaahh terong balado kesukaan indi nihh. Maliiiiikkkkk,


cepaaattt. Aku lapar niiihhhh” kembali berteriak karena sahabatnya tidak


kunjung keluar. Ya, gadis kecil ini memang terlampau ceria hingga berteriak dan


tertawa menjadi hobby nya.


Sementara Bu Sri hanya bisa tersenyum melihat tingkah Indira.


“Apa sih ndi. Aku denger, jadi gausah teriak-teriak.” Jawab Malik


sedikit kesal karena mendengar teriakan Indi yang seperti piring pecah


“Habisnya kamu dipanggil Ibuk diem aja. Kan aku udah laper tau”


“Aku masih pipis tadi ndi. Bawel banget. Eh itu kan bajuku” Malik


menjawab dengan sedikit ketus


“pinjam. Kenapa? Emang ga boleh. Dasar pelit, pinjam gini aja ga


boleh”

__ADS_1


Pertengkaran kecil memang sering terjadi antara Malik dan Indira.


Berebut kamar mandi dan berebut saluran tv menjadi hal  yang paling sering memicu pertengkaran


mereka. Dalam hal apapun, pasti mereka bertengkar. Meskipun pada akhirnya Malik


yang akan mengalah. Terkadang ada saat dimana Malik ingin menggoda Indira


sampai menangis dan berakhir dengan hukuman dari Bu Sri.


Tapi dibalik pertengkaran mereka, tercipta rasa sayang dan melindungi


satu sama lain. Jika Indira pulang ke rumahnya, pasti Malik akan mencarinya.


Disekolahpun mereka begitu, bagi Malik bertengkar dengan Indira  sudah menjadi hal yang biasa. Tapi kalau ada


yang membuat Indira menangis selain dirinya, dia akan dengan gagahnya membela


Indira.


“Buk, Malik itu jutek banget tau ke Indira. Ga Cuma dirumah aja,


disekolah juga gitu. Jarang ngomong, tapi buk sekalinya ngomong pasti ngeselin”


dengan mulutnya yang penuh dengan nasi, Indira mencoba untuk melaporkan tingkah


Malik ke Ibunya.


“Kalau makan itu jangan ngomong ndi. Ntar mati keselek”


“tuh kan buk, dia itu juteknya kaya gitu. Cowo tuh yang seru kaya


Akbar” Mata Indira mulai berbinar ketika menceritakan Akbar


“siapa Akbar neng??” Meskipun Bu Sri tidak ikut makan, Bu Sri tetap


menemani anaknya untuk makan siang.


“Ada buk. Temen baru Malik sama Indi, udah kelas 5 tapi. Dia


rumahnya di komplek perumahan depan. Ya ampun buukk, rumahnya itu besaaar


banget. Ada kolam renangnya, tamannya juga besar loh buk. Terus disana ada Mbok


Lastri juga buk. Orangnya baik banget, mbok kerja disana” Indira antusias


menceritakan tentang Akbar, sedangkan Malik hanya manggut manggut mendengarkan


ocehan Indira


“Tapi buk, yang kasian itu. Rumahnya kan gede banget ya, tapi yang


tinggal Cuma dia, papinya sama mbok lastri aja. Kata Akbar, maminya habis


berantem terus pergi dari rumah sambil bawa koper buk. Kayanya ga balik lagi


deh” *ghibah time :D*


“Itu bukan urusan kamu ndi. Dasar tukang gosip” Si Malik yang anti


dengan mengurusi urusan orang lain mulai angkat suara


“nah kan judes lagi” cela Indira sambil menyebikkan bibirnya


“Lik, bener kata Indira. Kamu itu jangan jutek2 jadi anak. Yang


supel, sering senyum gituloh kamu itu” Ternyata Bu Sri juga menyadari kalau


anaknya sedikit jutek


“Tapi kan Malik perhatian bu. Tadi aja Malik ngelap ingusnya Indi.


Lagian udah gede ingusan” Malik sedikit membela dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2