
“Mama mau ikut Malik ga habis ini??”
“Kemana??”
“Liat kado buat Indira”
Dengan antusias Malik menyampaikan mengenai
hadiah yang sudah dia siapkan untuk ulang tahun Indira. Dia hanya mengatakan
bahwa ini adalah dua kado spesial yang pasti akan disukai Indira. Malik tidak menyebutkan
secara spesifik apa sebenarnya hadiah yang dimaksud.
Setelah makan malam usai, Malik memboyong mamanya
untuk pergi ke salah satu ruko yang letaknya tidak terlalu jauh dari mall.
Tempat ini adalah gabungan dari 3 ruko yang berjejer. Dari tampak depannya saja
sudah terlihat, bahwa ini bukanlah tempat sembarangan. Dipenuhi dengan kaca
tembus pandang, membuat setiap pengunjung bisa leluasa melihat apa yang
terpajang didalam tempat itu.
Tangan Malik menggenggam Bu Mega yang sedari tadi
tidak berhenti mengerjapkan matanya dan membawanya masuk kedalam ruko.
Begitu masuk kedalam tempat itu, ada seorang
wanita cantik yang datang menghampiri Malik. Dengan sopan, wanita itu
menjulurkan tangan dan menyapa mereka berdua seakan sudah lama menunggu
kedatangan mereka ke tempat itu.
“Selamat datang Pak Malik dan Ibu. Mari pak, bu.
Akan saya antar ke dalam ruangan”
Wanita muda itu berjalan dengan tegas menuju
salah satu ruangan di tempat itu. Setelah sampai diruangan wanita itu
meninggalkan Malik dan Bu Mega sendirian.
Bu Mega kembali terkesima dengan pemandangan yang
ada di dalam ruangan. Matanya terbelalak, mulutnya menganga. Tangannya tak
henti-hentinya menggoyangkan lengan Malik berusaha untuk mendapatkan
penjelasan.
Sementara Malik hanya tersenyum dan merangkul
bahu Bu Mega dengan nyaman.
“gimana ma??”
Mata yang tadi terbuka lebar, kini terlihat buram
karena dihalangi oleh genangan air mata. Bu Mega menatap Malik dengan pilu.
Memegang wajah Malik menggunakan kedua tangannya.
“Kamu yang siapin ini nak??” Malik menganggukkan
kepalanya santai. Dia meraih bahu Bu Mega dan memeluknya dengan erat.
Menepuk pelan punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Bagi Malik, medapat restu dari Pak Adrian dan Bu
Mega adalah yang utama. Mungkin rencananya untuk melamar Indira akan menjadi
__ADS_1
lebih mudah karena sudah mendapat restu dari mamanya.
Malik mengeluarkan benda yang sedari tadi
menonjol didalam saku jas nya. Dia mengeluarkan benda berlapis kain beludru berwarna
merah dan membukanya di hadapan Bu Mega. Sebuah cincin emas putih dengan sebuah
berlian kecil dibagian atasnya terpancar dari dalam kotak. Melihat Bu Mega yang
tidak memberikan respon selain air mata membuat Malik sedikit khawatir. Dia
menuntun Bu Mega untuk duduk di sofa. Menjadikan bahu kanannya sebagai bantalan
Bu Mega.
Kali ini mata Malik dan Bu Mega tertuju pada
salah satu benda yang terpajang didepan mereka. Sketsa wedding dress rancangan
Bu Sri kini menjadi nyata dan terpampang dihadapan mereka. Detailnya sungguh
jelas dan indah. Bentuknya melekuk mengikuti tubuh manekin. Kainnya yang
bermotif floral menambah kesan elegan. Beberapa aksen kecil yang ditaburkan di
bagian dada membuat gaun ini semakin terlihat glamour namun tetap sederhana.
Tidak diragukan lagi, mungkin gaun ini akan menjadi idola Indira seumur
hidupnya.
Wedding dress ini semakin terlihat anggun saat
mendapat pancaran sinar dari sorot lampu yang ada diatasnya.
Tangan Malik digenggam erat oleh Bu Mega. Raut
wajahnya seakan menunggu penjelasan. Dengan senyum khasnya, Malik membuka
bibirnya yang sedari tadi terkunci.
Indira. Sudah lama Malik menyiapkan ini ma. Tapi Malik masih belum punya nyali
buat ngelamar dia. Gaun itu sudah dibuat 5 bulan yang lalu. Malik pernah kesini
buat ambil gaun pesta Indira untuk ulang tahun pernikahan Mama. Yaudah,
sekalian Malik minta tolong buat gaun pernikahan ini pakai ukuran yang sudah
ada. Cincin ini juga udah lama dipesen. Tapi memang baru tadi pagi Malik
ambilnya. Kan udah niat mau ngelamar. Rencananya sih mau kasih kejutan waktu
ulang tahun dia. Eh tapi ternyata mama tau duluan. Hehe. Malik sayang sama Indi
ma. Malik pengen jadi suami yang baik buat Indi. Makanya Malik kerja keras,
biar nanti bisa mencukupi semua kebutuhan Indi”
Antusias Malik saat bercerita semakin membuat air
mata Bu Mega membasahi wajahnya. Berulang kali Malik memeluk tubuh mamanya.
Kali ini perasaannya begitu lega. Setelah belasan tahun memendam rasa cintanya,
kini ia bisa bercerita tentang betapa besar rasa sayangnya pada Indira.
Seorang pegawai datang memberikan jamuan
sederhana untuk mereka berdua, dan duduk dihadapannya. Mendengarkan dan
mencatat dengan teliti apa yang disampaikan oleh Malik.
Malik meminta agar gaun itu tetap berada diatas
manekin, dan dikirim ke rumah Bu Mega pada hari ulang tahun Indira. Dia juga
__ADS_1
meminta beberapa aksesoris seperti kalung dan mahkota sederhana agar dipasang
pada manekin.
Malik bercerita bahwa dia dan Akbar sudah
menyusun beberapa rencana kejutan untuk Indira. Kejutan akan bermula di kantor.
Karena Akbar sedang ada pekerjaan di luar kota, tugas pertama dijalankan oleh
Malik. Malik akan membuatkan sebuah pesta kejutan kecil di kantornya. Dia juga
sudah menghubungi karyawan yang ada di divisi Indira untuk menyiapkan
perlengkapannya. Beberapa cake dan makanan ringan juga sudah dipesan.
Untuk kejutan selanjutnya disiapkan oleh Akbar.
Pesta ulang tahun beserta makan malam sederhana akan diadakan di taman belakang
rumah Bu Mega.
Sementara gaun pengantin itu akan Malik simpan di
kamar Malik yang ada di rumah Bu Mega. Malik berencana akan membawa Indira ke
kamar itu setelah makan malam usai. Rencana melamar Indira ini hanya diketahui
oleh Malik dan Bu Mega. Dengan harapan agar rencana ini tidak sampai bocor ke
telinga Indira.
**
Sepanjang perjalanan pulang Bu Mega menatap wajah
Malik dalam. Tangannya tidak henti mengusap pipi laki-laki yang sudah dia
anggap anaknya itu. Harapannya selama ini akan terwujud. Impiannya dan Bu Sri
untuk menikahkan Malik dengan Indira akan segera terlaksana.
Suaminya pun pasti akan setuju dengan keputusan
ini. Mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan Indira. Karena anak gadis mereka
akan berada di tangan yang tepat. Dibandingkan dengan Akbar, Bu Mega lebih
setuju jika Indira menikah dengan Malik. Entah apa yang membedakan, tetapi bagi
Bu Mega Indira akan lebih bahagia jika menikah dengan Malik.
Pikirannya mulai berlarian kesana-kemari.
Membayangkan apa saja yang akan disiapkan untuk pernikahan putri semata
wayangnya. Membayangkan betapa cantik putrinya jika menggunakan gaun itu dan
berdiri diatas pelaminan bersama Malik. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan
mengadakan pesta yang meriah untuk Indira.
Air mata kembali menggenang di mata Bu Mega. Anak
kecil yang dulu pendiam dan cuek, sekarang sudah berubah menjadi pria gagah
yang sukses. Tanpa bantuan dari orang lain dia berhasil mendirikan
perusahaannya sendiri. Berhasil menjadi pengacara yang dikenal banyak orang.
Dan sekarang, pria ini akan segera melamar gadis kecilnya. Sungguh sebuah
keberuntungan bagi dirinya.
“Teteh, aa.. lihat Malik sekarang. Dia sudah
tumbuh menjadi pria dewasa. Dan seperti keinginan kita dulu teh. Malik mau
__ADS_1
ngelamar Indira. Kita bakal jadi besan teh.. Mega janji bakal jadi orang tua
yang baik buat mereka. Teteh bahagia ya disana..”