Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH 34- Wedding dress Indira


__ADS_3

“Mama mau ikut Malik ga habis ini??”


“Kemana??”


“Liat kado buat Indira”


Dengan antusias Malik menyampaikan mengenai


hadiah yang sudah dia siapkan untuk ulang tahun Indira. Dia hanya mengatakan


bahwa ini adalah dua kado spesial yang pasti akan disukai Indira. Malik tidak menyebutkan


secara spesifik apa sebenarnya hadiah yang dimaksud.


Setelah makan malam usai, Malik memboyong mamanya


untuk pergi ke salah satu ruko yang letaknya tidak terlalu jauh dari mall.


Tempat ini adalah gabungan dari 3 ruko yang berjejer. Dari tampak depannya saja


sudah terlihat, bahwa ini bukanlah tempat sembarangan. Dipenuhi dengan kaca


tembus pandang, membuat setiap pengunjung bisa leluasa melihat apa yang


terpajang didalam tempat itu.


Tangan Malik menggenggam Bu Mega yang sedari tadi


tidak berhenti mengerjapkan matanya dan membawanya masuk kedalam ruko.


Begitu masuk kedalam tempat itu, ada seorang


wanita cantik yang datang menghampiri Malik. Dengan sopan, wanita itu


menjulurkan tangan dan menyapa mereka berdua seakan sudah lama menunggu


kedatangan mereka ke tempat itu.


“Selamat datang Pak Malik dan Ibu. Mari pak, bu.


Akan saya antar ke dalam ruangan”


Wanita muda itu berjalan dengan tegas menuju


salah satu ruangan di tempat itu. Setelah sampai diruangan wanita itu


meninggalkan Malik dan Bu Mega sendirian.


Bu Mega kembali terkesima dengan pemandangan yang


ada di dalam ruangan. Matanya terbelalak, mulutnya menganga. Tangannya tak


henti-hentinya menggoyangkan lengan Malik berusaha untuk mendapatkan


penjelasan.


Sementara Malik hanya tersenyum dan merangkul


bahu Bu Mega dengan nyaman.


“gimana ma??”


Mata yang tadi terbuka lebar, kini terlihat buram


karena dihalangi oleh genangan air mata. Bu Mega menatap Malik dengan pilu.


Memegang wajah Malik menggunakan kedua tangannya.


“Kamu yang siapin ini nak??” Malik menganggukkan


kepalanya santai. Dia meraih bahu Bu Mega dan memeluknya dengan erat.


Menepuk pelan punggungnya dengan penuh kasih sayang.


Bagi Malik, medapat restu dari Pak Adrian dan Bu


Mega adalah yang utama. Mungkin rencananya untuk melamar Indira akan menjadi

__ADS_1


lebih mudah karena sudah mendapat restu dari mamanya.


Malik mengeluarkan benda yang sedari tadi


menonjol didalam saku jas nya. Dia mengeluarkan benda berlapis kain beludru berwarna


merah dan membukanya di hadapan Bu Mega. Sebuah cincin emas putih dengan sebuah


berlian kecil dibagian atasnya terpancar dari dalam kotak. Melihat Bu Mega yang


tidak memberikan respon selain air mata membuat Malik sedikit khawatir. Dia


menuntun Bu Mega untuk duduk di sofa. Menjadikan bahu kanannya sebagai bantalan


Bu Mega.


Kali ini mata Malik dan Bu Mega tertuju pada


salah satu benda yang terpajang didepan mereka. Sketsa wedding dress rancangan


Bu Sri kini menjadi nyata dan terpampang dihadapan mereka. Detailnya sungguh


jelas dan indah. Bentuknya melekuk mengikuti tubuh manekin. Kainnya yang


bermotif floral menambah kesan elegan. Beberapa aksen kecil yang ditaburkan di


bagian dada membuat gaun ini semakin terlihat glamour namun tetap sederhana.


Tidak diragukan lagi, mungkin gaun ini akan menjadi idola Indira seumur


hidupnya.


Wedding dress ini semakin terlihat anggun saat


mendapat pancaran sinar dari sorot lampu yang ada diatasnya.


Tangan Malik digenggam erat oleh Bu Mega. Raut


wajahnya seakan menunggu penjelasan. Dengan senyum khasnya, Malik membuka


bibirnya yang sedari tadi terkunci.


Indira. Sudah lama Malik menyiapkan ini ma. Tapi Malik masih belum punya nyali


buat ngelamar dia. Gaun itu sudah dibuat 5 bulan yang lalu. Malik pernah kesini


buat ambil gaun pesta Indira untuk ulang tahun pernikahan Mama. Yaudah,


sekalian Malik minta tolong buat gaun pernikahan ini pakai ukuran yang sudah


ada. Cincin ini juga udah lama dipesen. Tapi memang baru tadi pagi Malik


ambilnya. Kan udah niat mau ngelamar. Rencananya sih mau kasih kejutan waktu


ulang tahun dia. Eh tapi ternyata mama tau duluan. Hehe. Malik sayang sama Indi


ma. Malik pengen jadi suami yang baik buat Indi. Makanya Malik kerja keras,


biar nanti bisa mencukupi semua kebutuhan Indi”


Antusias Malik saat bercerita semakin membuat air


mata Bu Mega membasahi wajahnya. Berulang kali Malik memeluk tubuh mamanya.


Kali ini perasaannya begitu lega. Setelah belasan tahun memendam rasa cintanya,


kini ia bisa bercerita tentang betapa besar rasa sayangnya pada Indira.


Seorang pegawai datang  memberikan jamuan


sederhana untuk mereka berdua, dan duduk dihadapannya. Mendengarkan dan


mencatat dengan teliti apa yang disampaikan oleh Malik.


Malik meminta agar gaun itu tetap berada diatas


manekin, dan dikirim ke rumah Bu Mega pada hari ulang tahun Indira. Dia juga

__ADS_1


meminta beberapa aksesoris seperti kalung dan mahkota sederhana agar dipasang


pada manekin.


Malik bercerita bahwa dia dan Akbar sudah


menyusun beberapa rencana kejutan untuk Indira. Kejutan akan bermula di kantor.


Karena Akbar sedang ada pekerjaan di luar kota, tugas pertama dijalankan oleh


Malik. Malik akan membuatkan sebuah pesta kejutan kecil di kantornya. Dia juga


sudah menghubungi karyawan yang ada di divisi Indira untuk menyiapkan


perlengkapannya. Beberapa cake dan makanan ringan juga sudah dipesan.


Untuk kejutan selanjutnya disiapkan oleh Akbar.


Pesta ulang tahun beserta makan malam sederhana akan diadakan di taman belakang


rumah Bu Mega.


Sementara gaun pengantin itu akan Malik simpan di


kamar Malik yang ada di rumah Bu Mega. Malik berencana akan membawa Indira ke


kamar itu setelah makan malam usai. Rencana melamar Indira ini hanya diketahui


oleh Malik dan Bu Mega. Dengan harapan agar rencana ini tidak sampai bocor ke


telinga Indira.


**


Sepanjang perjalanan pulang Bu Mega menatap wajah


Malik dalam. Tangannya tidak henti mengusap pipi laki-laki yang sudah dia


anggap anaknya itu. Harapannya selama ini akan terwujud. Impiannya dan Bu Sri


untuk menikahkan Malik dengan Indira akan segera terlaksana.


Suaminya pun pasti akan setuju dengan keputusan


ini. Mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan Indira. Karena anak gadis mereka


akan berada di tangan yang tepat. Dibandingkan dengan Akbar, Bu Mega lebih


setuju jika Indira menikah dengan Malik. Entah apa yang membedakan, tetapi bagi


Bu Mega Indira akan lebih bahagia jika menikah dengan Malik.


Pikirannya mulai berlarian kesana-kemari.


Membayangkan apa saja yang akan disiapkan untuk pernikahan putri semata


wayangnya. Membayangkan betapa cantik putrinya jika menggunakan gaun itu dan


berdiri diatas pelaminan bersama Malik. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan


mengadakan pesta yang meriah untuk Indira.


Air mata kembali menggenang di mata Bu Mega. Anak


kecil yang dulu pendiam dan cuek, sekarang sudah berubah menjadi pria gagah


yang sukses. Tanpa bantuan dari orang lain dia berhasil mendirikan


perusahaannya sendiri. Berhasil menjadi pengacara yang dikenal banyak orang.


Dan sekarang, pria ini akan segera melamar gadis kecilnya. Sungguh sebuah


keberuntungan bagi dirinya.


“Teteh, aa.. lihat Malik sekarang. Dia sudah


tumbuh menjadi pria dewasa. Dan seperti keinginan kita dulu teh. Malik mau

__ADS_1


ngelamar Indira. Kita bakal jadi besan teh.. Mega janji bakal jadi orang tua


yang baik buat mereka. Teteh bahagia ya disana..”


__ADS_2