
Sebelum Akbar datang menjemputnya, Anggi sudah
berada di dalam rumahnya bersama dengan Fajar. Dia memperingatkan kembali bahwa
tujuannya mengenalkan pada Indira adalah untuk menjauhkan gadis itu dari Akbar.
Selain itu Anggi juga menegaskan bahwa Fajar akan diperkenalkan sebagai saudara
sepupunya, bukan teman nongkrongnya.
“Kalau aku suka beneran gimana nggi??” tanya
Fajar sambil menyesap rokoknya.
“terserah kamu, aku ga peduli. Mau kamu suka, mau
kamu jatuh cinta, mau kamu ngapa-ngapain sama dia aku ga peduli. Pokonya
aku gamau dia terlalu deket sama pacar aku”
Fajar tersenyum tipis mendengar ucapan kawannya.
Ia mulai menerawang apa yang akan dilakukan pada gadis polos seperti Indira.
Dilihat dari fotonya saja sudah terlihat bahwa Indira adalah anak manja, bukan anak yang mandiri. Pasti akan mudah Fajar mendapatkan hatinya.
Tok tok tok.. pembicaraan mereka terhenti karena
Akbar sudah ada di depan pintu
Akbar masuk dan memperkenalkan diri kepada Fajar.
First impression Akbar ketika melihat lelaki ini adalah playboy. Entah dari
segi mana Akbar melihatnya, tapi Akbar langsung tidak suka dengan lelaki ini.
Tapi dia sedikit menahan bibirnya agar tidak berbicara aneh, karena Anggi sudah
mengingatkan berulang kali bahwa Fajar adalah lelaki yang baik dan bertanggung
jawab.
Anggi masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas
dan sedikit berdandan. Sementara di ruang tamu tercipta keheningan yang sedikit
menusuk. Fajar membaca raut wajah Akbar dengan seksama. Sesaat kemudian, dia
memastikan bahwa lelaki di hadapannya bukan ancaman besar baginya untuk
mendekati Indira.
“mau rokok bro?” Fajar menyerahkan sebungkus
rokok beserta koreknya. Dengan sopan Akbar menggeleng dan mengembalikan rokok
itu.
Ketika keluar dari kamar, Anggi melihat kejadian itu, membuatnya berlari dan menghampiri mereka.
“dia ga ngerokok a. Keren kan pacar aku. Harusnya
aa juga berhenti ngerokok dong” Anggi mulai menempelkan kepalanya di bahu
Akbar. Tidak ada reaksi yang diberikan Akbar. Saat ini didalam kepalanya hanya
berisi tentang Fajar dan Indira. Akbar tidak akan tinggal diam apabila
laki-laki ini sedikit saja menyentuh tubuh Indira.
Sesaat kemudian, Anggi menerima pesan bahwa
Indira sudah berada di tempat pertemuan. Dengan segera Anggi mengajak dua
lelaki itu untuk berangkat. Mereka bertiga pergi menggunakan mobil milik Akbar.
*******
“Ma, neng cantik ga??” Indira memutarkan
tubuhnya. Hari ini dia menggunakan rok 7/8 dan kaos oblong berwarna hitam.
Pakaian ini membuat kulit Indira terlihat lebih bersih dan cerah. Dia hanya
menggunakan bedak, maskara dan memoles sedikit lipstick nude pada bibirnya.
Sungguh kecantikan yang alami.
__ADS_1
“cantik. Mau kemana? Kok Malik sama Akbar belum
dateng?”
“Mau kencan ma, hehe. Malik kan lagi kerja. Akbar
udah nungguin neng di tkp kok. Hari ini kencannya ditemeni sama Akbar sama
pacarnya juga. Double date gituu” antusias Indira benar-benar terasa di ruang
tamu itu.
“yaudah ati-ati. Kalo naik angkot duduk didepan
aja ya nak. Nanti mama pamitin sama papa, kamu pulangnya jangan malem-malem”
Indira menganggukan kepala, dan mencium punggung tangan ibunya.
Setelah berpamitan Indira berjalan sedikit keluar
dari kampungnya. Biasanya, kemanapun dia pergi akan ada Malik atau Akbar yang
menemani. Tapi kali ini, dia harus rela naik angkutan umum demi bertemu dengan
gebetan barunya..
Indira menuruti pesan ibunya untuk duduk di
bangku depan sebelah supir. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya gadis ini
bercermin. Dia merasa bahwa dandanannya hari ini sedikit berlebihan. Beberapa
kali ia berusaha untuk menghapus lipsticknya, tapi selalu diurungkan.
Jantungnya berdegub dengan kencang.. hari ini,
untuk yang pertama kalinya, dia akan berkenalan dengan lelaki lain selain kedua
sahabatnya. Sudah lama dia ingin memiliki kekasih. Tapi rencananya selalu
digagalkan oleh kedua lelaki cerewet itu.
Indira duduk di sebuah cafe. Matanya melirik
kesana kemari mencari dimanakah calon kekasihnya itu. Akhirnya dia memutuskan
untuk menghubungi Anggi. Dia memesan latte hangat dan satu slice blackforest.
tidak ada yang bisa dia ajak untuk berbicara.
Disaat Indira akan merebahkan kepalanya diatas
meja, yang dinanti-nanti akhirnya datang. Diluar dugaan, lelaki itu jauh lebih
tampan dari yang ada di foto. Kulitnya sawo matang, rambutnya tersisir dengan
rapi, hidungnya mancung, alisnya tebal, senyumnya manis, dan baunya sangat
harum. Tunggu.. Harum?? Kenapa dia bisa mencium bau tubuhnya?? Sial!! Laki-laki
itu sudah ada didepannya. Sedangkan dia masih menempelkan pipinya keatas meja.
Ahh, dimana kesadaranmu Indira.. Indira memarahi dirinya sendiri
“hei, mau sampai kapan kaya gitu??” Akbar
menggoyang-goyangkan bahu Indira. Membuat kesadaran Indira kembali 85%. Ya,
hanya 85%. Sisanya entah masih melayang kemana. Matanya masih tertuju pada
lelaki manis yang sudah duduk dihadapannya.
“Hai Indira, aku fajar..” Indira tidak bergerak.
Dia hanya menatap tangan yang menjulur ke arahnya itu. Pikirannya kemana-mana,
otaknya kembali tidak bisa bekerja. Bahkan tangannya pun terlihat menarik.
Melihat Indira yang terdiam seperti orang baru
mendapat lotre, Akbar mulai memanggil nama gadis ini. Tapi tetap saja tidak ada
jawaban. Apa gadis ini menjadi tuli?? Atau kesadarannya sudah hilang??
PLETAAKKK
“Aaaakhhhhhh” Indira langsung menggosok
__ADS_1
keningnya. Sentilan Akbar yang tanpa aba-aba itu membuat keningnya menjadi
merah. Tidak hanya keningnya yang merah, wajahnya juga merah padam karena malu.
Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Fajar, tapi sudah terjadi adegan
memalukan seperti ini.
“aah sakit tauuuukk bar”
“lagian kamu dipanggilin ga nyahut. Tuh, Fajar
ngajak kenalan. Keburu pegel tangannya nungguin kamu”
Indira langsung menoleh ke arah depan. Dan benar
saja, tangan fajar masih menunggunya.
“Oh, sorry sorry. Hai, aku Indira. Maaf ya, aku
tadi lagi ga konsen. Hehe”
Sepertinya sentilan Akbar berhasil mengembalikan
100% kesadaran Indira. Gadis itu kembali normal seperti biasanya.
Anggi datang dengan membawa buku menu untuk yang lain.
Mereka memilih minuman masing-masing dan beberapa cemilan. Setelah hidangan
datang, Fajar dan Indira saling berbicara untuk memperkenalkan diri. Terkadang
Anggi juga ikut masuk dalam pembicaraan mereka.
Berbeda dengan Anggi, Akbar hanya fokus menatap
Indira. Menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Sukakah dia dengan
lelaki didepannya itu?? Mana mungkin Indira bisa jatuh cinta secepat itu. Kalau
benar jatuh cinta, apakah lelaki itu bisa dipercaya. Berbagai pertanyaan
berlarian kesana kemari dalam otak Akbar.
Setelah selesai, Fajar mengajak Indira untuk
menonton film horor. Dengan harapan, agar dia bisa mengenal lebih dekat, dan menilai seperti apa Indira sebenarnya.
Melihat hal itu, Akbar tidak tinggal diam. Akbar
tidak memberi kesempatan untuk Fajar bisa berduaan dengan Indira di hari
pertama. Dia mengajak Anggi untuk mengikuti kemanapun mereka pergi hari ini.
Dengan berat hati, Anggi memesan 4 tiket film horor, 2 popcorn dan 4 minuman
soda. Tentu saja menggunakan uang Akbar.
Didalam studio Fajar duduk dipaling ujung,
kemudian Indira, Akbar, dan Anggi. Baru saja duduk dan memposisikan diri. Akbar
sudah merentangkan telapak tangannya dihadapan Indira. Seperti sudah paham apa
yang dimaksud, Indira menyambut tangan Akbar dan menggenggamnya dengan nyaman.
Fajar dan Anggi sedikit heran dengan apa yang
baru saja mereka lihat. Bukankah adegan itu salah orang?? Harusnya Fajar yang
menggenggam Indira, dan tangan Anggi yang ada di genggaman Akbar. Kenapa jadi
terbalik?
Melihat Fajar yang kebingungan, Indira tersenyum
sambil mengangkat tangannya tanpa melepas genggaman Akbar.
“ini kebiasaan dari kecil hehe. Kalau lagi nonton
sama Akbar atau sahabat aku yang satu lagi, pasti tangan aku dipegangin kaya
gini” Jelas Indira.
Fajar hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya
dia tidak terlalu peduli, karena tujuannya berkenalan dengan Indira hanya untuk
__ADS_1
bersenang-senang. Kalau memang pacaran, mungkin hanya akan dia gunakan sebagai
pelampiasan.