Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH20- Pertemuan Indira


__ADS_3

Sebelum Akbar datang menjemputnya, Anggi sudah


berada di dalam rumahnya bersama dengan Fajar. Dia memperingatkan kembali bahwa


tujuannya mengenalkan pada Indira adalah untuk menjauhkan gadis itu dari Akbar.


Selain itu Anggi juga menegaskan bahwa Fajar akan diperkenalkan sebagai saudara


sepupunya, bukan teman nongkrongnya.


“Kalau aku suka beneran gimana nggi??” tanya


Fajar sambil menyesap rokoknya.


“terserah kamu, aku ga peduli. Mau kamu suka, mau


kamu jatuh cinta, mau kamu ngapa-ngapain sama dia aku ga peduli. Pokonya


aku gamau dia terlalu deket sama pacar aku”


Fajar tersenyum tipis mendengar ucapan kawannya.


Ia mulai menerawang apa yang akan dilakukan pada gadis polos seperti Indira.


Dilihat dari fotonya saja sudah terlihat bahwa Indira adalah anak manja,  bukan anak yang mandiri. Pasti akan mudah Fajar mendapatkan hatinya.


Tok tok tok.. pembicaraan mereka terhenti karena


Akbar sudah ada di depan pintu


Akbar masuk dan memperkenalkan diri kepada Fajar.


First impression Akbar ketika melihat lelaki ini adalah playboy. Entah dari


segi mana Akbar melihatnya, tapi Akbar langsung tidak suka dengan lelaki ini.


Tapi dia sedikit menahan bibirnya agar tidak berbicara aneh, karena Anggi sudah


mengingatkan berulang kali bahwa Fajar adalah lelaki yang baik dan bertanggung


jawab.


Anggi masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas


dan sedikit berdandan. Sementara di ruang tamu tercipta keheningan yang sedikit


menusuk. Fajar membaca raut wajah Akbar dengan seksama. Sesaat kemudian, dia


memastikan bahwa lelaki di hadapannya bukan ancaman besar baginya untuk


mendekati Indira.


“mau rokok bro?” Fajar menyerahkan sebungkus


rokok beserta koreknya. Dengan sopan Akbar menggeleng dan mengembalikan rokok


itu.


Ketika keluar dari kamar, Anggi melihat kejadian itu, membuatnya berlari dan menghampiri mereka.


“dia ga ngerokok a. Keren kan pacar aku. Harusnya


aa juga berhenti ngerokok dong” Anggi mulai menempelkan kepalanya di bahu


Akbar. Tidak ada reaksi yang diberikan Akbar. Saat ini didalam kepalanya hanya


berisi tentang Fajar dan Indira. Akbar tidak akan tinggal diam apabila


laki-laki ini sedikit saja menyentuh tubuh Indira.


Sesaat kemudian, Anggi menerima pesan bahwa


Indira sudah berada di tempat pertemuan. Dengan segera Anggi mengajak dua


lelaki itu untuk berangkat. Mereka bertiga pergi menggunakan mobil milik Akbar.


*******


“Ma, neng cantik ga??” Indira memutarkan


tubuhnya. Hari ini dia menggunakan rok 7/8 dan kaos oblong berwarna hitam.


Pakaian ini membuat kulit Indira terlihat lebih bersih dan cerah. Dia hanya


menggunakan bedak, maskara dan memoles sedikit lipstick nude pada bibirnya.


Sungguh kecantikan yang alami.

__ADS_1


“cantik. Mau kemana? Kok Malik sama Akbar belum


dateng?”


“Mau kencan ma, hehe. Malik kan lagi kerja. Akbar


udah nungguin neng di tkp kok. Hari ini kencannya ditemeni sama Akbar sama


pacarnya juga. Double date gituu” antusias Indira benar-benar terasa di ruang


tamu itu.


“yaudah ati-ati. Kalo naik angkot duduk didepan


aja ya nak. Nanti mama pamitin sama papa, kamu pulangnya jangan malem-malem”


Indira menganggukan kepala, dan mencium punggung tangan ibunya.


Setelah berpamitan Indira berjalan sedikit keluar


dari kampungnya. Biasanya, kemanapun dia pergi akan ada Malik atau Akbar yang


menemani. Tapi kali ini, dia harus rela naik angkutan umum demi bertemu dengan


gebetan barunya..


Indira menuruti pesan ibunya untuk duduk di


bangku depan sebelah supir. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya gadis ini


bercermin. Dia merasa bahwa dandanannya hari ini sedikit berlebihan. Beberapa


kali ia berusaha untuk menghapus lipsticknya, tapi selalu diurungkan.


Jantungnya berdegub dengan kencang.. hari ini,


untuk yang pertama kalinya, dia akan berkenalan dengan lelaki lain selain kedua


sahabatnya. Sudah lama dia ingin memiliki kekasih. Tapi rencananya selalu


digagalkan oleh kedua lelaki cerewet itu.


Indira duduk di sebuah cafe. Matanya melirik


kesana kemari mencari dimanakah calon kekasihnya itu. Akhirnya dia memutuskan


untuk menghubungi Anggi. Dia memesan latte hangat dan satu slice blackforest.


tidak ada yang bisa dia ajak untuk berbicara.


Disaat Indira akan merebahkan kepalanya diatas


meja, yang dinanti-nanti akhirnya datang. Diluar dugaan, lelaki itu jauh lebih


tampan dari yang ada di foto. Kulitnya sawo matang, rambutnya tersisir dengan


rapi, hidungnya mancung, alisnya tebal, senyumnya manis, dan baunya sangat


harum. Tunggu.. Harum?? Kenapa dia bisa mencium bau tubuhnya?? Sial!! Laki-laki


itu sudah ada didepannya. Sedangkan dia masih menempelkan pipinya keatas meja.


Ahh, dimana kesadaranmu Indira.. Indira memarahi dirinya sendiri


“hei, mau sampai kapan kaya gitu??” Akbar


menggoyang-goyangkan bahu Indira. Membuat kesadaran Indira kembali 85%. Ya,


hanya 85%. Sisanya entah masih melayang kemana. Matanya masih tertuju pada


lelaki manis yang sudah duduk dihadapannya.


“Hai Indira, aku fajar..” Indira tidak bergerak.


Dia hanya menatap tangan yang menjulur ke arahnya itu. Pikirannya kemana-mana,


otaknya kembali tidak bisa bekerja. Bahkan tangannya pun terlihat menarik.


Melihat Indira yang terdiam seperti orang baru


mendapat lotre, Akbar mulai memanggil nama gadis ini. Tapi tetap saja tidak ada


jawaban. Apa gadis ini menjadi tuli?? Atau kesadarannya sudah hilang??


PLETAAKKK


“Aaaakhhhhhh” Indira langsung menggosok

__ADS_1


keningnya. Sentilan Akbar yang tanpa aba-aba itu membuat keningnya menjadi


merah. Tidak hanya keningnya yang merah, wajahnya juga merah padam karena malu.


Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Fajar, tapi sudah terjadi adegan


memalukan seperti ini.


“aah sakit tauuuukk bar”


“lagian kamu dipanggilin ga nyahut. Tuh, Fajar


ngajak kenalan. Keburu pegel tangannya nungguin kamu”


Indira langsung menoleh ke arah depan. Dan benar


saja, tangan fajar masih menunggunya.


“Oh, sorry sorry. Hai, aku Indira. Maaf ya, aku


tadi lagi ga konsen. Hehe”


Sepertinya sentilan Akbar berhasil mengembalikan


100% kesadaran Indira. Gadis itu kembali normal seperti biasanya.


Anggi datang dengan membawa buku menu untuk yang lain.


Mereka memilih minuman masing-masing dan beberapa cemilan. Setelah hidangan


datang, Fajar dan Indira saling berbicara untuk memperkenalkan diri. Terkadang


Anggi juga ikut masuk dalam pembicaraan mereka.


Berbeda dengan Anggi, Akbar hanya fokus menatap


Indira. Menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Sukakah dia dengan


lelaki didepannya itu?? Mana mungkin Indira bisa jatuh cinta secepat itu. Kalau


benar jatuh cinta, apakah lelaki itu bisa dipercaya. Berbagai pertanyaan


berlarian kesana kemari dalam otak Akbar.


Setelah selesai, Fajar mengajak Indira untuk


menonton film horor. Dengan harapan, agar dia bisa mengenal lebih dekat, dan menilai seperti apa Indira sebenarnya.


Melihat hal itu, Akbar tidak tinggal diam. Akbar


tidak memberi kesempatan untuk Fajar bisa berduaan dengan Indira di hari


pertama. Dia mengajak Anggi untuk mengikuti kemanapun mereka pergi hari ini.


Dengan berat hati, Anggi memesan 4 tiket film horor, 2 popcorn dan 4 minuman


soda. Tentu saja menggunakan uang Akbar.


Didalam studio Fajar duduk dipaling ujung,


kemudian Indira, Akbar, dan Anggi. Baru saja duduk dan memposisikan diri. Akbar


sudah merentangkan telapak tangannya dihadapan Indira. Seperti sudah paham apa


yang dimaksud, Indira menyambut tangan Akbar dan menggenggamnya dengan nyaman.


Fajar dan Anggi sedikit heran dengan apa yang


baru saja mereka lihat. Bukankah adegan itu salah orang?? Harusnya Fajar yang


menggenggam Indira, dan tangan Anggi yang ada di genggaman Akbar. Kenapa jadi


terbalik?


Melihat Fajar yang kebingungan, Indira tersenyum


sambil mengangkat tangannya tanpa melepas genggaman Akbar.


“ini kebiasaan dari kecil hehe. Kalau lagi nonton


sama Akbar atau sahabat aku yang satu lagi, pasti tangan aku dipegangin kaya


gini” Jelas Indira.


Fajar hanya tersenyum mendengarnya. Sebenarnya


dia tidak terlalu peduli, karena tujuannya berkenalan dengan Indira hanya untuk

__ADS_1


bersenang-senang. Kalau memang pacaran, mungkin hanya akan dia gunakan sebagai


pelampiasan.


__ADS_2