Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH26- Amarah Malik


__ADS_3

Suasana dingin menyelimuti jiwa seluruh penumpang mobil.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang ditengah kota yang tidak terlalu padat.


Tidak ada yang berniat untuk membuka mulutnya.


Hanya suara Indira yang masih terisak di belakang mobil.


Semenjak keluar dari tempat terkutuk itu, bibir


Malik seakan terkunci rapat. Ekspresinya tidak bisa ditebak. Wajahnya merah


padam. Tangannya mengepal. Tatapannya hanya tertuju pada pemandangan kota yang


mereka lintasi.


Otaknya seperti tersumbat, telinganya seperti


tidak bisa mendengar apa-apa. Hanya amarah dan kekecewaan yang saat ini sedang


merasuki dirinya. Dia begitu marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga gadis


yang dia cintai. Marah pada lelaki busuk yang sudah berusaha untuk menyakiti


Indira. Dan kecewa kepada Indira karena sudah berbohong kepadanya.


Para penumpang fokus pada pikirannya masing-masing. Terlihat Mobil itu mengarah ke kediaman Pak


Adi. Mereka sengaja tidak memulangkan Indira ke rumahnya, karena takut mama


papanya akan khawatir melihat kondisi Indira yang berantakan.


Begitu sampai Malik keluar dan membanting pintu


mobil dengan kasar. Berjalan melewati Akbar yang dengan sabarnya merangkul dan


memapah Indira. Malik melangkahkan kakinya dengan cepat. Tanpa menyapa penghuni


rumah, dia segera masuk kedalam kamarnya, membuka seluruh bajunya dan berdiam


diri di kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air dingin berharap amarahnya


segera reda.


Cukup lama Malik di posisi itu. Sepertinya air


dingin yang menghujam kepalanya benar-benar tidak bisa mengurangi rasa kesal


dihatinya.


 Tangannya


memutar kran dan menghentikan aliran air itu. Ia menggelungkan handuk


dipinggangnya dan berjalan keluar dari kamar mandi.


Menyahut pakaian apa saja yang ada disekitarnya


dan segera memakainya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dan melemparkan selimut


ke arah kakinya. Memejamkan matanya dengan paksa, berharap bisa melupakan apa


yang baru saja terjadi.


Sungguh Malik benar-benar tidak bisa menahan


emosinya hari ini. Selama hidup, ini adalah kali pertama Malik menunjukkan


ekspresi kemarahannya. Dia begitu murka melihat apa yang sudah terjadi kepada


Indira. Dia merasa gagal melindungi gadis yang sangat dia cintai. Dia tidak


bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Ia dan Akbar tidak


segera datang ke tempat itu. Mungkin Malik bisa membunuh Fajar, jika lelaki itu


melakukan hal buruk lain pada Indira.


Matanya hanya terpejam, tapi perasaannya masih


campur aduk. Pikirannya melayang kemana-mana.


Tok Tok Tok


Tidak lama setelah terdengar suara ketukan pintu,


seseorang berjalan ke arah Malik. Dengan sengaja Malik membalikkan tubuhnya ke

__ADS_1


arah berlawanan. Menutup hampir seluruh tubuhnya menggunakan selimut, menyisakan


wajahnya saja.


“Malik...”


Mendengar bahwa yang datang adalah Indira,


semakin membuat Malik tidak ingin membuka matanya. Tetap angkuh dengan


posisinya seperti semula. Jantungnya kembali berdegub kencang, otaknya seperti


memutar kembali memori yang baru saja terjadi.


Gadis itu berjalan mendekat dan menarik pelan


selimut yang menutupi tubuhnya. Memegang bahunya dengan lembut. Sedikit kesal,


Malik membuka matanya dan duduk diatas sofa. Matanya mengarah ke balkon,


seperti ingin menghindari tatapan Indira.


Malik merasakan tangan hangat menyentuh


lengannya, berusaha meraih telapak tangannya. Dengan kasar Malik menarik


tangannya hingga membuat mata Indira berkaca-kaca.


“Diam dulu. Aku Cuma mau ngasih ini” Indira


kembali meraih tangan Malik, menggenggamnya. Terasa dingin ketika Indira


mengoleskan salep ke buku-buku tangannya yang terluka karena memukuli Fajar. Indira


juga dengan sabar memasangkan plester di tangan Malik.


Meskipun sedikit terpaksa, Malik membiarkan gadis


itu merawatnya, karena tidak ingin membuat Indira semakin bersedih.


Ketika melihat Indira selesai merawat lukanya,


Malik kembali berbaring dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.


“Maaf.. “


“Maaf.. Maafin aku.. aku salah. Maafin aku


Malik..hiks hiks” Indira terisak  dan


menundukkan kepalanya. Membuat Malik yang sedang marah luluh dan membuka


matanya. Ia duduk dan menghadapkan wajahnya ke Indira. Berbicara dengan nada


dan wajah yang datar.


“Iya. Sekarang kamu keluar  aja. Aku capek”


Memang emosi Malik sedikit mereda setelah melihat


air mata Indira, tapi hatinya masih terluka. Ia tidak ingin dengan melihat


wajah Indira, amarahnya kembali meluap.


Tapi gadis itu tidak bergeming. Dia tetap dengan


posisinya semula. Menangis dan terduduk dilantai. Di samping sofa itu. Wajahnya


basah karena air mata, matanya sembab, bibirnya bergetar, nafasnya tercekat.


“Dia.. dia bilang mau liburan sama keluarganya,


dia bilang mau ngenalin aku, dia bilang bakalan rame-rame, dia bilang.....


huhuuhuuuuuuuu” Tangis Indira kembali pecah, membuat Malik tidak bisa lagi


mengabaikan gadis itu. Malik turun dari sofa mendekati Indira, merengkuh bahu


Indira dan memeluknya dengan erat.


“ma.. maafin akuuu. Hiksss. Jangan marah lagi..


aku takuut.. aku takut Malik.. Aku takut kalau kamu kaya gini.. jangan ..


jangan diemin akuuuu.. aku ga bisaaa..  hiks  hiks hiks” Tangis Indira membuat baju Malik sedikit basah. Malik hanya


mengangguk pelan. Dia mengelus rambut Indira. Merasa bersalah atas sikapnya

__ADS_1


yang sedikit kasar.


Setelah emosi Indira sedikit mereda, Malik


membawanya ke atas sofa. Menggenggam lembut kedua tangannya.


“maaf ya ndi. Aku udah kasar sama kamu. Aku juga


udah mukulin pacar kamu. Tapi kamu pasti tau apa alasanku. “ Malik membuka


pembicaraan. Melihat mata Indira yang kembali berkaca-kaca, Malik menepuk nepuk


tangan gadis itu, berusaha menenangkannya.


“Kamu diapain aja??”


“Cuma yang tadi kamu lihat aja” Indira menjawab


sembari menundukkan kepalanya dalam.


“Yakin? Ga ada yang lain??”


“he em.” Indira menatap mata Malik dan mengangguk


pelan. Malik mengusap kepala Indira dengan kasih sayang.


“Mulai sekarang, kamu jangan bohong lagi.


Bukannya apa, aku Cuma ga mau liat kamu kenapa-kenapa kaya tadi.”


**


“halo, haaaii sayaaanggg.. kamu lagii apaaaahh??


Tadi jadi liburan kemana??”


“hm. Bilang sama saudara kamu, jangan pernah


deketin Indira lagi. Dan jangan sampai wajahnya berkeliaran didepanku atau aku


bakalan ngehabisin dia.” Nada Akbar yang sedikit mengancam membuat si penerima


telepon sedikit gugup dan ketakutan.


“ap apa maksud kamu sayang? Saudara? Maksud kamu


Fajar? Kenapa sama Fajar? Dia salah apa?”


“Jangan pernah nyebut namanya kalo lagi ngobrol


sama aku!!”


“sayang kamu kenapa? Kok jadi marah? Aku salah


apa?”


“kamu tanya aja sendiri sama saudara kamu itu.


Dasar cowok ********. Harusnya dari awal aku ga ngijinin kamu ngenalin dia ke


Indira. Bener-bener nyesel aku!!”


“Akbar...”


“Udah aku capek. Besok aku bolos lagi. Aku tutup”


Akbar menutup dan melemparkan handphonenya ke


ranjang. Tidak hanya marah pada Fajar, dia juga kesal dengan Anggi yang sudah


mengenalkan lelaki busuk pada Indira. Dan bagaimana mungkin Anggi memiliki


saudara semacam itu.


Untung saja Malik sudah menghajar Fajar, jadi dia


tidak perlu mengotori tangannya untuk menyentuh sampah seperti Fajar.


Tangannya mengepal membayangkan apa yang terjadi


hari ini.


“Benar-benar lelaki pengecut!!! Berani sekali dia


menyentuh tubuh Indira. Membawa Indi ke tempat busuk seperti itu. Huhhh. Awas


saja kalau dia berani muncul dihadapanku lagi. Benar-benar akan aku habisi dia”

__ADS_1


__ADS_2