
Suasana dingin menyelimuti jiwa seluruh penumpang mobil.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang ditengah kota yang tidak terlalu padat.
Tidak ada yang berniat untuk membuka mulutnya.
Hanya suara Indira yang masih terisak di belakang mobil.
Semenjak keluar dari tempat terkutuk itu, bibir
Malik seakan terkunci rapat. Ekspresinya tidak bisa ditebak. Wajahnya merah
padam. Tangannya mengepal. Tatapannya hanya tertuju pada pemandangan kota yang
mereka lintasi.
Otaknya seperti tersumbat, telinganya seperti
tidak bisa mendengar apa-apa. Hanya amarah dan kekecewaan yang saat ini sedang
merasuki dirinya. Dia begitu marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga gadis
yang dia cintai. Marah pada lelaki busuk yang sudah berusaha untuk menyakiti
Indira. Dan kecewa kepada Indira karena sudah berbohong kepadanya.
Para penumpang fokus pada pikirannya masing-masing. Terlihat Mobil itu mengarah ke kediaman Pak
Adi. Mereka sengaja tidak memulangkan Indira ke rumahnya, karena takut mama
papanya akan khawatir melihat kondisi Indira yang berantakan.
Begitu sampai Malik keluar dan membanting pintu
mobil dengan kasar. Berjalan melewati Akbar yang dengan sabarnya merangkul dan
memapah Indira. Malik melangkahkan kakinya dengan cepat. Tanpa menyapa penghuni
rumah, dia segera masuk kedalam kamarnya, membuka seluruh bajunya dan berdiam
diri di kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air dingin berharap amarahnya
segera reda.
Cukup lama Malik di posisi itu. Sepertinya air
dingin yang menghujam kepalanya benar-benar tidak bisa mengurangi rasa kesal
dihatinya.
Tangannya
memutar kran dan menghentikan aliran air itu. Ia menggelungkan handuk
dipinggangnya dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Menyahut pakaian apa saja yang ada disekitarnya
dan segera memakainya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dan melemparkan selimut
ke arah kakinya. Memejamkan matanya dengan paksa, berharap bisa melupakan apa
yang baru saja terjadi.
Sungguh Malik benar-benar tidak bisa menahan
emosinya hari ini. Selama hidup, ini adalah kali pertama Malik menunjukkan
ekspresi kemarahannya. Dia begitu murka melihat apa yang sudah terjadi kepada
Indira. Dia merasa gagal melindungi gadis yang sangat dia cintai. Dia tidak
bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Ia dan Akbar tidak
segera datang ke tempat itu. Mungkin Malik bisa membunuh Fajar, jika lelaki itu
melakukan hal buruk lain pada Indira.
Matanya hanya terpejam, tapi perasaannya masih
campur aduk. Pikirannya melayang kemana-mana.
Tok Tok Tok
Tidak lama setelah terdengar suara ketukan pintu,
seseorang berjalan ke arah Malik. Dengan sengaja Malik membalikkan tubuhnya ke
__ADS_1
arah berlawanan. Menutup hampir seluruh tubuhnya menggunakan selimut, menyisakan
wajahnya saja.
“Malik...”
Mendengar bahwa yang datang adalah Indira,
semakin membuat Malik tidak ingin membuka matanya. Tetap angkuh dengan
posisinya seperti semula. Jantungnya kembali berdegub kencang, otaknya seperti
memutar kembali memori yang baru saja terjadi.
Gadis itu berjalan mendekat dan menarik pelan
selimut yang menutupi tubuhnya. Memegang bahunya dengan lembut. Sedikit kesal,
Malik membuka matanya dan duduk diatas sofa. Matanya mengarah ke balkon,
seperti ingin menghindari tatapan Indira.
Malik merasakan tangan hangat menyentuh
lengannya, berusaha meraih telapak tangannya. Dengan kasar Malik menarik
tangannya hingga membuat mata Indira berkaca-kaca.
“Diam dulu. Aku Cuma mau ngasih ini” Indira
kembali meraih tangan Malik, menggenggamnya. Terasa dingin ketika Indira
mengoleskan salep ke buku-buku tangannya yang terluka karena memukuli Fajar. Indira
juga dengan sabar memasangkan plester di tangan Malik.
Meskipun sedikit terpaksa, Malik membiarkan gadis
itu merawatnya, karena tidak ingin membuat Indira semakin bersedih.
Ketika melihat Indira selesai merawat lukanya,
Malik kembali berbaring dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.
“Maaf.. “
“Maaf.. Maafin aku.. aku salah. Maafin aku
Malik..hiks hiks” Indira terisak dan
menundukkan kepalanya. Membuat Malik yang sedang marah luluh dan membuka
matanya. Ia duduk dan menghadapkan wajahnya ke Indira. Berbicara dengan nada
dan wajah yang datar.
“Iya. Sekarang kamu keluar aja. Aku capek”
Memang emosi Malik sedikit mereda setelah melihat
air mata Indira, tapi hatinya masih terluka. Ia tidak ingin dengan melihat
wajah Indira, amarahnya kembali meluap.
Tapi gadis itu tidak bergeming. Dia tetap dengan
posisinya semula. Menangis dan terduduk dilantai. Di samping sofa itu. Wajahnya
basah karena air mata, matanya sembab, bibirnya bergetar, nafasnya tercekat.
“Dia.. dia bilang mau liburan sama keluarganya,
dia bilang mau ngenalin aku, dia bilang bakalan rame-rame, dia bilang.....
huhuuhuuuuuuuu” Tangis Indira kembali pecah, membuat Malik tidak bisa lagi
mengabaikan gadis itu. Malik turun dari sofa mendekati Indira, merengkuh bahu
Indira dan memeluknya dengan erat.
“ma.. maafin akuuu. Hiksss. Jangan marah lagi..
aku takuut.. aku takut Malik.. Aku takut kalau kamu kaya gini.. jangan ..
jangan diemin akuuuu.. aku ga bisaaa.. hiks hiks hiks” Tangis Indira membuat baju Malik sedikit basah. Malik hanya
mengangguk pelan. Dia mengelus rambut Indira. Merasa bersalah atas sikapnya
__ADS_1
yang sedikit kasar.
Setelah emosi Indira sedikit mereda, Malik
membawanya ke atas sofa. Menggenggam lembut kedua tangannya.
“maaf ya ndi. Aku udah kasar sama kamu. Aku juga
udah mukulin pacar kamu. Tapi kamu pasti tau apa alasanku. “ Malik membuka
pembicaraan. Melihat mata Indira yang kembali berkaca-kaca, Malik menepuk nepuk
tangan gadis itu, berusaha menenangkannya.
“Kamu diapain aja??”
“Cuma yang tadi kamu lihat aja” Indira menjawab
sembari menundukkan kepalanya dalam.
“Yakin? Ga ada yang lain??”
“he em.” Indira menatap mata Malik dan mengangguk
pelan. Malik mengusap kepala Indira dengan kasih sayang.
“Mulai sekarang, kamu jangan bohong lagi.
Bukannya apa, aku Cuma ga mau liat kamu kenapa-kenapa kaya tadi.”
**
“halo, haaaii sayaaanggg.. kamu lagii apaaaahh??
Tadi jadi liburan kemana??”
“hm. Bilang sama saudara kamu, jangan pernah
deketin Indira lagi. Dan jangan sampai wajahnya berkeliaran didepanku atau aku
bakalan ngehabisin dia.” Nada Akbar yang sedikit mengancam membuat si penerima
telepon sedikit gugup dan ketakutan.
“ap apa maksud kamu sayang? Saudara? Maksud kamu
Fajar? Kenapa sama Fajar? Dia salah apa?”
“Jangan pernah nyebut namanya kalo lagi ngobrol
sama aku!!”
“sayang kamu kenapa? Kok jadi marah? Aku salah
apa?”
“kamu tanya aja sendiri sama saudara kamu itu.
Dasar cowok ********. Harusnya dari awal aku ga ngijinin kamu ngenalin dia ke
Indira. Bener-bener nyesel aku!!”
“Akbar...”
“Udah aku capek. Besok aku bolos lagi. Aku tutup”
Akbar menutup dan melemparkan handphonenya ke
ranjang. Tidak hanya marah pada Fajar, dia juga kesal dengan Anggi yang sudah
mengenalkan lelaki busuk pada Indira. Dan bagaimana mungkin Anggi memiliki
saudara semacam itu.
Untung saja Malik sudah menghajar Fajar, jadi dia
tidak perlu mengotori tangannya untuk menyentuh sampah seperti Fajar.
Tangannya mengepal membayangkan apa yang terjadi
hari ini.
“Benar-benar lelaki pengecut!!! Berani sekali dia
menyentuh tubuh Indira. Membawa Indi ke tempat busuk seperti itu. Huhhh. Awas
saja kalau dia berani muncul dihadapanku lagi. Benar-benar akan aku habisi dia”
__ADS_1