Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH6- Makan Malam


__ADS_3

“Ibuk bajunya pakai yang warna biru ajaaa. Biar samaan kaya Indi.”


Indira merengek supaya Bu Sri memilih warna baju yang senada dengannya.Bu Sri


hanya tersenyum dan melakukan apa yang diinginkan oleh Indira. Setelah berganti


baju, mereka langsung menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada Malik, Bu


Mega dan Pak Adrian (Orang tua Indira).


“Nah kan kalo kita kembaran gini bagus buk jadinya hehe”. Ucap


indira sambil memeluk lengan Bu Sri.


“Ndi, kamu ga pernah tuh ngajakin mama biar bajunya couple. Kamu


ini anaknya mama apa ibuk sebenernya. Bener loh Teh Sri, kalau saya tanya


bagusnya pakai baju apa pasti Indira jawabnya terserah” ucap Bu Mega pura-pura


merajuk


“hehe, Indi anaknya dua-duanya deh kalau gitu” Indi langsung memeluk


lengan kedua wanita yang ia sayang itu.


“sudah sudah, yuk berangkat. Kang Adi sama Akbar pasti sudah


nunggu.” Pak Adrian mulai melangkah keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil.


Pak Adrian dan bu Mega duduk di kursi depan. Sedangkan Bu Sri,


Malik dan Indira duduk di kursi tengah. Mereka pergi bersama untuk memenuhi


undangan makan malam dari Pak Adi.


Jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh, tapi kalau


menggunakan mobil harus berputar keluar dari kampung dan masuk perumahan


melalui pintu depan yang agak jauh. Sebenarnya Malik dan Bu Sri lebih memilih


berjalan kaki, tapi karena kondisi Bu Sri yang sedikit kurang fit, Pak Adrian


memaksa agar mereka ikut mobil miliknya.


Sudah bisa ditebak, tidak ada kedamaian di kursi bagian tengah


mobil. Malik dan Indira lagi-lagi bertengkar karena berebut Bu Sri. Hal yang


biasa bagi para orang tua ketika mendengar perdebatan mereka, malah akan ada


tanda tanya kalau Malik dan Indira tidak bertengkar.


Ketika memasuki pagar kediaman Pak Adi, mereka langsung disambut


oleh Akbar.


“hai ma, pa dan ibukku tersayang.” Akbar mencium punggung tangan


mereka bergantian.


“yuk masuk, papi udah nunggu didalem. Ini kenapa repot-repot pakai


bawa kue sama buah segala sihh.” Meskipun sedikit protes tapi Akbar tetap


menerima niat baik mereka.


Mereka masuk dan langsung diantar ke ruang makan oleh mbok Lastri.

__ADS_1


Disana sudah ada Pak Adi yang masih sibuk  dengan telepon genggamnya.


“Selamat malam Kang Adi.” Pak Adrian langsung mengulurkan


tangannya dan seketika disambut oleh senyuman hangat papi Akbar.


“Ya, selamat malam Kang. Ayo mari silahkan duduk”. Dengan sopan


Pak Adi mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk. Indira memilih duduk diantara


Malik dan Akbar


“Jadi begini Kang, Teh. Hari ini saya mengundang akang dan teteh


sekalian  untuk makan malam bersama dalam


rangka syukuran kecil-kecilan pembukaan outlet baru di perusahaan roti kami.


Sekaligus, saya juga mau berterimakasih pada Teh Sri, Teh Mega dan Kang Adrian


karena sudah menjaga Akbar seperti anaknya sendiri” Pak Adi mulai membuka


percakapan dan disambut dengan senyuman para tamu yang sudah seperti


keluarganya itu.


“Jujur saya sebagai orang tua malu kang, saya Cuma sibuk mencari


uang buat Akbar tapi kasih sayang yang saya beri sebagai ayah masih jauh dari


yang seharusnya. Apalagi setelah maminya pergi, saya takut kalau Akbar jadi


anak yang nakal. Tapi beruntung Akbar punya sahabat seperti Malik dan Indira,


punya orang tua kedua seperti teteh sama akang. Saya sadar kalau saya kurang


saya” Pak Adi segera menyeka air mata penyesalan yang mulai keluar dari ujung


matanya


“jangan bilang gitu kang. Sudah kewajiban kami untuk menyayangi


Akbar juga. Akbar sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Yah meskipun


saya dan istri saya juga kurang dalam hal memperhatikan anak-anak kita” Pak


Adrian mulai menimpali sambil memegang lembut tangan Pak Adi


“Harusnya kang, kita itu berterimakasih sama teh Sri. Teteh  itu tulus banget ngerawat anak-anak kita.


Mulai anak-anak masih kecil sampe remaja seperti sekarang. Bahkan nih kang,


kalau anak-anak ditanya milih siapa diantara kita para orang tua, pasti mereka


bakalan milih teteh. Hahaha” Bu Mega tertawa mendengar ucapannya sendiri. Bukan


kecemburuan yang dia rasakan, tapi lebih ke rasa syukur, karena masih ada orang


yang dengan tulus menyayangi putri semata wayangnya.


“hehe, mama tau aja. Tapi emang ibuk terbaik sih ma. Apalagi kalau


ibuk udah masak balado terong terus cuci mulutnya pisang coklat. Aduhhhh, udah


paling cantik sedunia deh ibuku sayang iniii” sahut Indira dan disambut dengan


tawa anggota keluarga yang lain.


Selama makan malam mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari

__ADS_1


perusahaan roti milik Pak Adi, perkembangan tubuh anak-anak mereka, dan tak


luput dari perdebatan Malik, Indira dan Akbar. Persahabatan antara 3 remaja ini


juga membuat para orang tua menjadi dekat.


Setelah makan malam selesai, para orang tua berbincang di ruang


tamu, sedangkan Malik, Indira dan Akbar bermain nitendo di ruang tengah


“Teh Mega gimana minimarketnya??”


“Pengennya sih saya buka cabang gitu kang, tapi kata papanya


Indira jangan dulu. Soalnya ga ada yang ngurusin. Awalnya sih kecewa, tapi


setelah saya pikir-pikir bener juga yang dibilang suami saya. Ngurusin satu


minimarket aja ribet, gimana mau buka cabang. Hehe” dengan antusias Bu Mega


menjawab pertanyaan dari Pak Adi.


“Kalau butuh bantuan saya siap bantu Mbak Mega kok. Hehe. Eh teteh,


lagi sakit ya??” Pak Adi sedikit khawatir melihat wajah pucat dan kaki Bu Sri


yang membengkak.


“ah endak kok kang Adi, Cuma kadar gula darah saya lagi agak


tinggi”


“teteh kok gak bilang sih kalau sakit. Besok ke dokter ya, Mega


anterin” tawar Bu Mega


“ga usah Mega, kemarin saya sudah ke dokter kok. Memang agak


tinggi, sama jantungnya agak bengkak kata dokter. Tapi sudah dikasih obat .


Pokoknya gaboleh banyak pikiran, gaboleh kecapekan, pola makan dijaga, sama


minum obat teratur nanti juga sembuh mbak.” Bu Sri sedikit berbohong mengenai


sakitnya karena tidak ingin membuat yang lain khawatir.


Sebenarnya bukan hanya gula darah dan jantungnya yang bermasalah.


Tekanan darah yang tinggi, kolestrol, dan gagal ginjal juga diderita oleh Bu


Sri. Bahkan Malik tidak mengetahui apa penyakit ibunya. Yang Malik tau hanya


kadar gula darah ibunya yang naik turun.


Biasanya, setelah mengerjakan tugas


sekolahnya Malik selalu memijat kaki ibunya untuk mengurangi rasa sakitnya. Bukannya menghilang, Tapi rasa sakit yang


disembunyikan Bu Sri menjadi semakin parah setiap harinya.


“Teh Sri jangan banyak pikiran biar ga tambah sakit. Atau


begini saja, minggu depan kita liburan di villa saya di daerah Lembang.


Bagaimana? Disana kan udaranya juga sejuk banget, jadi teteh bisa istirahat disana. Kang Adrian sama tehMega bisa kan??” Ide


yang diberikan Pak Adi disambut senyuman dan anggukan dari Bu Sri, Bu Mega dan


Pak Adrian.

__ADS_1


__ADS_2