
“Ibuk bajunya pakai yang warna biru ajaaa. Biar samaan kaya Indi.”
Indira merengek supaya Bu Sri memilih warna baju yang senada dengannya.Bu Sri
hanya tersenyum dan melakukan apa yang diinginkan oleh Indira. Setelah berganti
baju, mereka langsung menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada Malik, Bu
Mega dan Pak Adrian (Orang tua Indira).
“Nah kan kalo kita kembaran gini bagus buk jadinya hehe”. Ucap
indira sambil memeluk lengan Bu Sri.
“Ndi, kamu ga pernah tuh ngajakin mama biar bajunya couple. Kamu
ini anaknya mama apa ibuk sebenernya. Bener loh Teh Sri, kalau saya tanya
bagusnya pakai baju apa pasti Indira jawabnya terserah” ucap Bu Mega pura-pura
merajuk
“hehe, Indi anaknya dua-duanya deh kalau gitu” Indi langsung memeluk
lengan kedua wanita yang ia sayang itu.
“sudah sudah, yuk berangkat. Kang Adi sama Akbar pasti sudah
nunggu.” Pak Adrian mulai melangkah keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil.
Pak Adrian dan bu Mega duduk di kursi depan. Sedangkan Bu Sri,
Malik dan Indira duduk di kursi tengah. Mereka pergi bersama untuk memenuhi
undangan makan malam dari Pak Adi.
Jarak rumah mereka memang tidak terlalu jauh, tapi kalau
menggunakan mobil harus berputar keluar dari kampung dan masuk perumahan
melalui pintu depan yang agak jauh. Sebenarnya Malik dan Bu Sri lebih memilih
berjalan kaki, tapi karena kondisi Bu Sri yang sedikit kurang fit, Pak Adrian
memaksa agar mereka ikut mobil miliknya.
Sudah bisa ditebak, tidak ada kedamaian di kursi bagian tengah
mobil. Malik dan Indira lagi-lagi bertengkar karena berebut Bu Sri. Hal yang
biasa bagi para orang tua ketika mendengar perdebatan mereka, malah akan ada
tanda tanya kalau Malik dan Indira tidak bertengkar.
Ketika memasuki pagar kediaman Pak Adi, mereka langsung disambut
oleh Akbar.
“hai ma, pa dan ibukku tersayang.” Akbar mencium punggung tangan
mereka bergantian.
“yuk masuk, papi udah nunggu didalem. Ini kenapa repot-repot pakai
bawa kue sama buah segala sihh.” Meskipun sedikit protes tapi Akbar tetap
menerima niat baik mereka.
Mereka masuk dan langsung diantar ke ruang makan oleh mbok Lastri.
__ADS_1
Disana sudah ada Pak Adi yang masih sibuk dengan telepon genggamnya.
“Selamat malam Kang Adi.” Pak Adrian langsung mengulurkan
tangannya dan seketika disambut oleh senyuman hangat papi Akbar.
“Ya, selamat malam Kang. Ayo mari silahkan duduk”. Dengan sopan
Pak Adi mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk. Indira memilih duduk diantara
Malik dan Akbar
“Jadi begini Kang, Teh. Hari ini saya mengundang akang dan teteh
sekalian untuk makan malam bersama dalam
rangka syukuran kecil-kecilan pembukaan outlet baru di perusahaan roti kami.
Sekaligus, saya juga mau berterimakasih pada Teh Sri, Teh Mega dan Kang Adrian
karena sudah menjaga Akbar seperti anaknya sendiri” Pak Adi mulai membuka
percakapan dan disambut dengan senyuman para tamu yang sudah seperti
keluarganya itu.
“Jujur saya sebagai orang tua malu kang, saya Cuma sibuk mencari
uang buat Akbar tapi kasih sayang yang saya beri sebagai ayah masih jauh dari
yang seharusnya. Apalagi setelah maminya pergi, saya takut kalau Akbar jadi
anak yang nakal. Tapi beruntung Akbar punya sahabat seperti Malik dan Indira,
punya orang tua kedua seperti teteh sama akang. Saya sadar kalau saya kurang
saya” Pak Adi segera menyeka air mata penyesalan yang mulai keluar dari ujung
matanya
“jangan bilang gitu kang. Sudah kewajiban kami untuk menyayangi
Akbar juga. Akbar sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Yah meskipun
saya dan istri saya juga kurang dalam hal memperhatikan anak-anak kita” Pak
Adrian mulai menimpali sambil memegang lembut tangan Pak Adi
“Harusnya kang, kita itu berterimakasih sama teh Sri. Teteh itu tulus banget ngerawat anak-anak kita.
Mulai anak-anak masih kecil sampe remaja seperti sekarang. Bahkan nih kang,
kalau anak-anak ditanya milih siapa diantara kita para orang tua, pasti mereka
bakalan milih teteh. Hahaha” Bu Mega tertawa mendengar ucapannya sendiri. Bukan
kecemburuan yang dia rasakan, tapi lebih ke rasa syukur, karena masih ada orang
yang dengan tulus menyayangi putri semata wayangnya.
“hehe, mama tau aja. Tapi emang ibuk terbaik sih ma. Apalagi kalau
ibuk udah masak balado terong terus cuci mulutnya pisang coklat. Aduhhhh, udah
paling cantik sedunia deh ibuku sayang iniii” sahut Indira dan disambut dengan
tawa anggota keluarga yang lain.
Selama makan malam mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari
__ADS_1
perusahaan roti milik Pak Adi, perkembangan tubuh anak-anak mereka, dan tak
luput dari perdebatan Malik, Indira dan Akbar. Persahabatan antara 3 remaja ini
juga membuat para orang tua menjadi dekat.
Setelah makan malam selesai, para orang tua berbincang di ruang
tamu, sedangkan Malik, Indira dan Akbar bermain nitendo di ruang tengah
“Teh Mega gimana minimarketnya??”
“Pengennya sih saya buka cabang gitu kang, tapi kata papanya
Indira jangan dulu. Soalnya ga ada yang ngurusin. Awalnya sih kecewa, tapi
setelah saya pikir-pikir bener juga yang dibilang suami saya. Ngurusin satu
minimarket aja ribet, gimana mau buka cabang. Hehe” dengan antusias Bu Mega
menjawab pertanyaan dari Pak Adi.
“Kalau butuh bantuan saya siap bantu Mbak Mega kok. Hehe. Eh teteh,
lagi sakit ya??” Pak Adi sedikit khawatir melihat wajah pucat dan kaki Bu Sri
yang membengkak.
“ah endak kok kang Adi, Cuma kadar gula darah saya lagi agak
tinggi”
“teteh kok gak bilang sih kalau sakit. Besok ke dokter ya, Mega
anterin” tawar Bu Mega
“ga usah Mega, kemarin saya sudah ke dokter kok. Memang agak
tinggi, sama jantungnya agak bengkak kata dokter. Tapi sudah dikasih obat .
Pokoknya gaboleh banyak pikiran, gaboleh kecapekan, pola makan dijaga, sama
minum obat teratur nanti juga sembuh mbak.” Bu Sri sedikit berbohong mengenai
sakitnya karena tidak ingin membuat yang lain khawatir.
Sebenarnya bukan hanya gula darah dan jantungnya yang bermasalah.
Tekanan darah yang tinggi, kolestrol, dan gagal ginjal juga diderita oleh Bu
Sri. Bahkan Malik tidak mengetahui apa penyakit ibunya. Yang Malik tau hanya
kadar gula darah ibunya yang naik turun.
Biasanya, setelah mengerjakan tugas
sekolahnya Malik selalu memijat kaki ibunya untuk mengurangi rasa sakitnya. Bukannya menghilang, Tapi rasa sakit yang
disembunyikan Bu Sri menjadi semakin parah setiap harinya.
“Teh Sri jangan banyak pikiran biar ga tambah sakit. Atau
begini saja, minggu depan kita liburan di villa saya di daerah Lembang.
Bagaimana? Disana kan udaranya juga sejuk banget, jadi teteh bisa istirahat disana. Kang Adrian sama tehMega bisa kan??” Ide
yang diberikan Pak Adi disambut senyuman dan anggukan dari Bu Sri, Bu Mega dan
Pak Adrian.
__ADS_1