
Indira benar-benar menikmati liburannya kali ini.
Dalam waktu lima hari, Indira sudah mengunjungi beberapa tempat iconic di
Korea. Tidak hanya di kota Seoul dan Incheon. Kim Yoon Jae juga membawanya ke
berbagai tempat yang sering menjadi tujuan para pelancong luar negeri.
Suhu hari ini lebih dingin dari hari-hari
biasanya. Membuat Indira melapisi tubuhnya dengan beberapa kain tebal. Ia
bersiap untuk makan siang dan mengunjungi salah satu taman bermain yang
terkenal indah saat musim dingin seperti sekarang.
Setelah mendapat pesan dari Akbar, Indira turun
lebih dulu ke lobby hotel. Ia segera menghampiri Kim Yoon Jae yang sedang duduk
memainkan ponselnya.
“Oppa!!!”
“Sendirian Nona?? Tuan Malik dan Tuan Akbar??”
“Oh, mereka akan datang sedikit terlambat. Masih ada kerjaan katanya. Oppa, apa Saya boleh ke taman??” Ucap Indira seraya meunjuk Taman yang
ada di samping hotel.
“Tentu saja. Saya akan menemani Anda.”
**
Kim Yoon Jae menemani Indira duduk di sebuah
bangku taman. Melihat beberapa bocah kecil yang sedang bermain di area play
ground. Sesekali melirik Indira yang berulangkali melakukan swafoto.
“Apa mau saya bantu untuk foto Nona??” Tawar Kim
Yoon Jae yang segera mendapat persetujuan.
Ia menerima ponsel Indira dan bersiap untuk
memotretnya. Pengalamannya 8 tahun menjadi pemandu wisata membuatnya sedikit banyak
mengerti tentang cara-cara mengambil foto berkualitas. Meskipun hanya menggunakan kamera
ponsel.
Berulang kali Ia mengarahkan Indira demi
mendapatkan hasil foto yang maksimal. Ia bisa dengan cepat mengerti hasil foto
seperti apa yang diinginkan oleh Indira.
Cukup lama melakukan sesi pemotretan, Yoon Jae
duduk di samping Indira yang masih sibuk memilah fotonya. Berulang kali Ia
mendengar Indira bergumam sendiri memuji hasil karyanya. Ia juga berulang kali
mendengar Indira mengucapkan nama Malik.
Rasa penasaran muncul di dalam benaknya. 5 hari
bersama dengan mereka membuat Yoon Jae sedikit banyak mengerti tentang hubungan
ketiganya. Menurut penuturan Malik, Indira bertunangan dengan Akbar. Tapi saat
bersama dengan Indira, Yoon Jae merasa ada yang berbeda dengan Indira.
Setelah lama berpikir, Yoon Jae memutuskan untuk
bertanya.
“Emm.. Nona, mohon maaf kalau saya lancang. Apa
saya bisa bertanya mengenai hal yang sedikit pribadi?” Tanya Yoon Jae ragu
“Tentu saja boleh.”
__ADS_1
“Ah, tidak jadi Nona. Maaf. Hehe”
“Santai saja Oppa. Saya akan menjawab apapun yang
Oppa tanyakan.” Mendengar ucapan Indira, Yoon Jae membulatkan tekadnya, demi
mengatasi rasa penasarannya.
“Apa Nona pernah memiliki perasaan terhadap Tuan
Malik?? Maaf kalau saya bertanya seperti ini. Tapi setau Saya, tidak ada yang
namanya persahabatan murni antara pria dan wanita.”
“Woah.. Oppa.. Apa terlihat jelas?? Bagaimana
Oppa bisa tau??”
Yoon Jae terpaku melihat reaksi Indira. Ia
mengira Indira akan marah karena pertanyaan konyolnya. Ternyata wanita itu
malah terlihat antusias.
Dengan seksama Yoon Jae mendengarkan cerita
Indira. Ia sedikit terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Indira pernah
memendam perasaan kepada Malik. Begitupun sebaliknya. Tapi karena tidak ada
yang menyatakan perasaannya, mereka tidak tau perasaan masing-masing. Dan Akbar
yang lebih dulu melamarnya di hadapan para orang tua, membuat Indira tidak bisa
menolaknya.
Yoon Jae pun kembali bertanya cara Indira untuk
mengatasi perasaannya yang terikat pada dua pria. Ia menganggukkan kepalanya
berulang kali saat mendengar Indira berbicara. Ia terlalu larut dalam cerita
hingga tidak menyadari Indira menatapnya.
“Oppa, giliranmu. Ceritakan tentang kehidupan
Hatinya sedikit bergetar. Setelah sekian lama,
akhirnya ada orang yang menanyakan tentang kehidupan pribadinya. Yoon Jae
tersenyum dan mulai menceritakan kisah hidupnya.
“Saya
terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jadi Saya tidak memiliki waktu untuk sekedar berkenalan atau berkencan dengan wanita.”
Ia mulai membuka kisah masa kecilnya. Bercerita bahwa
ayahnya adalah seorang pengusaha properti asli Korea. Sedangkan Ibunya adalah
seorang wanita biasa yang berasal dari Bandung. Keduanya bertemu di salah satu
universitas ternama di Kota Bandung. Setelah menjalin hubungan yang cukup lama,
mereka memutuskan untuk menikah.
Pernikahan itu menghasilkan seorang Kim Yoon Jae.
Ia kembali menceritakan masa kecilnya yang hidup di Indonesia. Di usia 5 tahun,
orang tuanya memboyongnya ke Korea. Tetapi karena Yoon Jae mengalami masalah
pada ketidak cocokan perubahan cuaca, orang tuanya memutuskan untuk
megembalikan Yoon Jae ke Bandung dan menitipkannya pada neneknya.
Ia menempuh pendidikannya hingga jenjang SMA di
Indonesia. Setelah lulus SMA, Yoon Jae memutuskan untuk menyusul kedua orang
tuanya dan melanjutkan pendidikannya di Korea. Ia akan pulang ke Indonesia
sekali dalam dua atau tiga bulan. Hanya untuk menjenguk neneknya tercinta.
__ADS_1
Menyadari Ia telah banyak berbicara, Yoon Jae
menatap Indira dan menundukkan kepalanya berulang kali sebagai permintaan maaf.
“Maaf Nona. Di cuaca sedingin ini Saya bercerita
panjang lebar. Ini karena Saya terlalu bahagia. Sudah lama tidak ada yang
menanyakan tentang kehidupan pribadi Saya. Apalagi menggunakan Bahasa
Indonesia”
“Oppa, berikan ponselmu”
Dengan sedikit kebingungan, Yoon Jae meraih
ponsel yang ada di dalam saku jaket dan memberikannya pada Indira. Ia melihat
Indira menekan layar berulang kali.
“Ini nomorku. Kapanpun Oppa butuh teman curhat,
bisa langsung telepon ya. Aku bersedia jadi teman curhat Oppa. Dan kalau lagi
di Bandung, segera hubungi Aku ya. Mulai sekarang, Aku akan jadi teman baikmu.
Jadi bahasanya jangan terlalu formal”
Yoon Jae terkejut melihat Indira mengulurkan
tangannya. Refleks, Yoon Jae pun menerima uluran tangan itu. Hatinya terasa
hangat. Ia merasakan ketulusan dari mata Indira. Inikah rasanya memiliki
teman?? Selama ini dirinya hanya sibuk dengan pekerjaan, hingga lupa bagaimana
rasanya memiliki teman.
Ia melihat Indira berulang kali menggosok telapak
tangannya. Yoon Jae sangat menyadari mungkin Indira masih belum terbiasa dengan
cuaca dingin Korea. Ia melepas syal yang sedari tadi melilit di lehernya, dan
memberikan pada Indira.
“Silahkan pakai ini Nona.”
“Hmm?? Gausah Oppa. Nanti Oppa juga kedinginan.”
“Saya sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini”
Yoon jae sedikit memaksa Indira agar memakai syalnya. Ia hanya tidak ingin
teman barunya sampai sakit karena cuaca yang tidak bersahabat.
Rintik salju mulai turun membasahi tubuhnya. Ia
memperhatikan Indira yang tiba-tiba berdiri.
“Oppa!!! Apa ini salju pertama??”
“Sepertinya iya Nona.”
“Wuahh. Gawat!! Aku harus telepon Akbar. Oppa,
mundur sedikit!!” Yoon Jae sedikit kebingungan melihat Indira yang mengayunkan
telapak tangannya seakan mengusir.
“Saya akan mundur. Tapi ada apa Nona??”
“Mitosnya kan kalau berdua pas salju pertama bisa
jodoh. Nah kita kan lagi berdua. Harusnya kan Aku sama Akbar. Jadi Oppa jangan
dekat-dekat Aku dulu”
Yoon Jae terpingkal dengan perkataan Indira.
Bagaimana bisa wanita itu mempercayai mitos yang bahkan tidak semua orang di
negaranya percaya. Termasuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia segera menghentikan tingkah konyol Indira dan
menjelaskan bahwa tidak semua mitos itu benar.