Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH54- Kim Yoon Jae


__ADS_3

Indira benar-benar menikmati liburannya kali ini.


Dalam waktu lima hari, Indira sudah mengunjungi beberapa tempat iconic di


Korea. Tidak hanya di kota Seoul dan Incheon. Kim Yoon Jae juga membawanya ke


berbagai tempat yang sering menjadi tujuan para pelancong luar negeri.


Suhu hari ini lebih dingin dari hari-hari


biasanya. Membuat Indira melapisi tubuhnya dengan beberapa kain tebal. Ia


bersiap untuk makan siang dan mengunjungi salah satu taman bermain yang


terkenal indah saat musim dingin seperti sekarang.


Setelah mendapat pesan dari Akbar, Indira turun


lebih dulu ke lobby hotel. Ia segera menghampiri Kim Yoon Jae yang sedang duduk


memainkan ponselnya.


“Oppa!!!”


“Sendirian Nona?? Tuan Malik dan Tuan Akbar??”


“Oh, mereka akan datang sedikit terlambat. Masih ada kerjaan katanya. Oppa, apa Saya boleh ke taman??” Ucap Indira seraya meunjuk Taman yang


ada di samping hotel.


“Tentu saja. Saya akan menemani Anda.”


**


Kim Yoon Jae menemani Indira duduk di sebuah


bangku taman. Melihat beberapa bocah kecil yang sedang bermain di area play


ground. Sesekali melirik Indira yang berulangkali melakukan swafoto.


“Apa mau saya bantu untuk foto Nona??” Tawar Kim


Yoon Jae yang segera mendapat persetujuan.


Ia menerima ponsel Indira dan bersiap untuk


memotretnya. Pengalamannya 8 tahun menjadi pemandu wisata membuatnya sedikit banyak


mengerti tentang cara-cara mengambil foto berkualitas. Meskipun hanya menggunakan kamera


ponsel.


Berulang kali Ia mengarahkan Indira demi


mendapatkan hasil foto yang maksimal. Ia bisa dengan cepat mengerti hasil foto


seperti apa yang diinginkan oleh Indira.


Cukup lama melakukan sesi pemotretan, Yoon Jae


duduk di samping Indira yang masih sibuk memilah fotonya. Berulang kali Ia


mendengar Indira bergumam sendiri memuji hasil karyanya. Ia juga berulang kali


mendengar Indira mengucapkan nama Malik.


Rasa penasaran muncul di dalam benaknya. 5 hari


bersama dengan mereka membuat Yoon Jae sedikit banyak mengerti tentang hubungan


ketiganya. Menurut penuturan Malik, Indira bertunangan dengan Akbar. Tapi saat


bersama dengan Indira, Yoon Jae merasa ada yang berbeda dengan Indira.


Setelah lama berpikir, Yoon Jae memutuskan untuk


bertanya.


“Emm.. Nona, mohon maaf kalau saya lancang. Apa


saya bisa bertanya mengenai hal yang sedikit pribadi?” Tanya Yoon Jae ragu


“Tentu saja boleh.”

__ADS_1


“Ah, tidak jadi Nona. Maaf. Hehe”


“Santai saja Oppa. Saya akan menjawab apapun yang


Oppa tanyakan.” Mendengar ucapan Indira, Yoon Jae membulatkan tekadnya, demi


mengatasi rasa penasarannya.


“Apa Nona pernah memiliki perasaan terhadap Tuan


Malik?? Maaf kalau saya bertanya seperti ini. Tapi setau Saya, tidak ada yang


namanya persahabatan murni antara pria dan wanita.”


“Woah.. Oppa.. Apa terlihat jelas?? Bagaimana


Oppa bisa tau??”


Yoon Jae terpaku melihat reaksi Indira. Ia


mengira Indira akan marah karena pertanyaan konyolnya. Ternyata wanita itu


malah terlihat antusias.


Dengan seksama Yoon Jae mendengarkan cerita


Indira. Ia sedikit terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Indira pernah


memendam perasaan kepada Malik. Begitupun sebaliknya. Tapi karena tidak ada


yang menyatakan perasaannya, mereka tidak tau perasaan masing-masing. Dan Akbar


yang lebih dulu melamarnya di hadapan para orang tua, membuat Indira tidak bisa


menolaknya.


Yoon Jae pun kembali bertanya cara Indira untuk


mengatasi perasaannya yang terikat pada dua pria. Ia menganggukkan kepalanya


berulang kali saat mendengar Indira berbicara. Ia terlalu larut dalam cerita


hingga tidak menyadari Indira menatapnya.


“Oppa, giliranmu. Ceritakan tentang kehidupan


Hatinya sedikit bergetar. Setelah sekian lama,


akhirnya ada orang yang menanyakan tentang kehidupan pribadinya. Yoon Jae


tersenyum dan mulai menceritakan kisah hidupnya.


“Saya


terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jadi Saya tidak memiliki waktu untuk sekedar berkenalan atau berkencan dengan wanita.”


Ia mulai membuka kisah masa kecilnya. Bercerita bahwa


ayahnya adalah seorang pengusaha properti asli Korea. Sedangkan Ibunya adalah


seorang wanita biasa yang berasal dari Bandung. Keduanya bertemu di salah satu


universitas ternama di Kota Bandung. Setelah menjalin hubungan yang cukup lama,


mereka memutuskan untuk menikah.


Pernikahan itu menghasilkan seorang Kim Yoon Jae.


Ia kembali menceritakan masa kecilnya yang hidup di Indonesia. Di usia 5 tahun,


orang tuanya memboyongnya ke Korea. Tetapi karena Yoon Jae mengalami masalah


pada ketidak cocokan perubahan cuaca, orang tuanya memutuskan untuk


megembalikan Yoon Jae ke Bandung dan menitipkannya pada neneknya.


Ia menempuh pendidikannya hingga jenjang SMA di


Indonesia. Setelah lulus SMA, Yoon Jae memutuskan untuk menyusul kedua orang


tuanya dan melanjutkan pendidikannya di Korea. Ia akan pulang ke Indonesia


sekali dalam dua atau tiga bulan. Hanya untuk menjenguk neneknya tercinta.

__ADS_1


Menyadari Ia telah banyak berbicara, Yoon Jae


menatap Indira dan menundukkan kepalanya berulang kali sebagai permintaan maaf.


“Maaf Nona. Di cuaca sedingin ini Saya bercerita


panjang lebar. Ini karena Saya terlalu bahagia. Sudah lama tidak ada yang


menanyakan tentang kehidupan pribadi Saya. Apalagi menggunakan Bahasa


Indonesia”


“Oppa, berikan ponselmu”


Dengan sedikit kebingungan, Yoon Jae meraih


ponsel yang ada di dalam saku jaket dan memberikannya pada Indira. Ia melihat


Indira menekan layar berulang kali.


“Ini nomorku. Kapanpun Oppa butuh teman curhat,


bisa langsung telepon ya. Aku bersedia jadi teman curhat Oppa. Dan kalau lagi


di Bandung, segera hubungi Aku ya. Mulai sekarang, Aku akan jadi teman baikmu.


Jadi bahasanya jangan terlalu formal”


Yoon Jae terkejut melihat Indira mengulurkan


tangannya. Refleks, Yoon Jae pun menerima uluran tangan itu. Hatinya terasa


hangat. Ia merasakan ketulusan dari mata Indira. Inikah rasanya memiliki


teman?? Selama ini dirinya hanya sibuk dengan pekerjaan, hingga lupa bagaimana


rasanya memiliki teman.


Ia melihat Indira berulang kali menggosok telapak


tangannya. Yoon Jae sangat menyadari mungkin Indira masih belum terbiasa dengan


cuaca dingin Korea. Ia melepas syal yang sedari tadi melilit di lehernya, dan


memberikan pada Indira.


“Silahkan pakai ini Nona.”


“Hmm?? Gausah Oppa. Nanti Oppa juga kedinginan.”


“Saya sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini”


Yoon jae sedikit memaksa Indira agar memakai syalnya. Ia hanya tidak ingin


teman barunya sampai sakit karena cuaca yang tidak bersahabat.


Rintik salju mulai turun membasahi tubuhnya. Ia


memperhatikan Indira yang tiba-tiba berdiri.


“Oppa!!! Apa ini salju pertama??”


“Sepertinya iya Nona.”


“Wuahh. Gawat!! Aku harus telepon Akbar. Oppa,


mundur sedikit!!” Yoon Jae sedikit kebingungan melihat Indira yang mengayunkan


telapak tangannya seakan mengusir.


“Saya akan mundur. Tapi ada apa Nona??”


“Mitosnya kan kalau berdua pas salju pertama bisa


jodoh. Nah kita kan lagi berdua. Harusnya kan Aku sama Akbar. Jadi Oppa jangan


dekat-dekat Aku dulu”


Yoon Jae terpingkal dengan perkataan Indira.


Bagaimana bisa wanita itu mempercayai mitos yang bahkan tidak semua orang di


negaranya percaya. Termasuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia segera menghentikan tingkah konyol Indira dan


menjelaskan bahwa tidak semua mitos itu benar.


__ADS_2