
Bandung 2005
“Akbar...” Teriak Indira ketika melihat Akbar berjalan dari arah
gerbang sekolah.
“eh yaampun itu siapaa ganteng banget”, “kakaknya Indi mungkin. Eh
tapi dia panggil nama”,”Jangan-jangan pacarnya Indira, tapi masa pacaran sama
anak SMA”, “beruntung banget indi”, “Iya, wajahnya kaya bule. Eh apa kaya orang
Korea ya” ,” kalau itu pacarnya, terus Malik gimana?” terdengar beberapa gadis mulai membicarakan
ketampanan yang dimiliki oleh Akbar.
Ini adalah kali pertama bagi Akbar menjemput Malik dan Indira ke sekolahnya. Biasanya Malik dan Indiralah yang akan menjemput Akbar, tapi karena hari ini SMA Akbar sedang acara, jadi para siswa dipulangkan lebihh awal.
Tanpa basa basi Akbar langsung merangkul pundak Indi dan
mengacak-acak rambut sahabatnya itu.
“Malik mana?? Kok kamu ga sama Malik?” tanya Akbar keheranan
karena tidak biasanya Indira sendirian. Dimana ada Indira, disitu ada Malik. Begitu pula sebaliknya.
Banyak siswa di SMP ini yang mengira kalau Indira dan Malik adalah saudara.
Tapi juga banyak yang berpikir bahwa Indira dan Malik berpacaran.
“Masih pipis. Masa iya aku mau ikut pipis. Nah itu dia” Begitu
melihat Malik, Indira dan Akbar langsung melambaikan tangannya sambil berteriak
memanggil nama Malik.
“itu ngapain dadah dadah sih, malu-maluin. Dari jauh juga udah
keliatan kalau itu mereka. chhh” Batin Malik sedikit kesal dengan sikap
kekanakan para sahabatnya
“Kamu pipis apa boker? Lama banget. Aku sama Akbar udah laper
banget tauuu.”
Indira langsung memegang kedua lengan laki-laki tampan
disebelahnya ini. Meskipun masih remaja, wajah Akbar dan Malik sudah menjadi
dambaan bagi siswi disekolahnya. Indira?? Jangan tanya. Dia adalah gadis paling
manis di SMP nya.
“Mau makan apa?” tanya Malik
“Kita makan dikantin kalian aja yuk, lagi pengen makan bakso nih.
Kata Indi bakso disini enak banget” Akbar menjawab tenang sambil memegang
perutnya yang mulai keroncongan
“Emang kamu ga malu? Kan kamu bukan siswa sini”
“Bodo amat ndi. Yang penting makan.. Hari ini aku traktir, mumpung
habis dapat uang saku dari papi. Hehe”
Dengan segera mereka bertiga melangkahkan kaki menuju kantin.
Disepanjang koridor banyak para siswi yang terkesima melihat ketampanan Malik dan Akbar. Banyak
juga yang merasa iri dengan keberuntungan Indira yang dikelilingi oleh malaikat
tampan berwujud manusia itu.
“kang, basonya tiga yaa pedes semua, yang dua ekstra bihun, yang
satu ekstra kecap. Es jeruknya tiga yang satu es nya dikit ” Tanpa bertanya
Indira langsung memesankan bakso sesuai dengan kesukaan masing-masing.
“eh kalian dicarii sama papi. Katanya kok lama ga main kerumah”
Akbar mulai membuka pembicaraan sambil membuka resleting jaketnya.
“yaudah nanti aja habis pulang dari sini. Tapi aku mau mampir ke
minimarket mama dulu, tadi disuruh ambil gula titipan Ibuk” Jawab Indira sambil mengusap perutnya.
“ini baksonya ya jang. Dua ekstra bihun, satu ekstra kecap, terus
ini es jeruknya. Yang ga pake es yang ini ya” Pembicaraan terhenti karena bakso
__ADS_1
sayur di mangkok sudah memanggil mereka.
“makasih ya kang” jawab Malik dengan sopan.
Setelah akang bakso pergi, Akbar dan Malik langsung fokus dengan kenikmatan seporsi
bakso yang ada di depannya. Berbeda dengan Indira, Ia terlihat sedikit tidak
nyaman dengan posisi duduknya. Meskipun masih semangat untuk menyantap
baksonya, tapi sesekali Indira memegang dan mengusap-ngusap perutnya. Hal itu
segera disadari oleh Malik.
“kenapa ndi??”
“gapapa lik. Asa mules weh (kaya mules aja)” jawab indi sambil
menyendokkan bihun kemulutnya. Mendengar jawaban Indira, Malik hanya mengangguk dan kembali fokus ke mangkoknya
“Oh iya, nanti sekalian bilang ibuk, mama sama papa ya. Hari
Minggu besok diundang papi buat makan malam dirumah. Papi mau syukuran buat
pembukaan outlet baru.” Akbar menyampaikan pesan dari papinya yang langsung
dijawab dengan anggukan kepala Malik dan Indira.
waktu berlalu, sepanjang makan bakso Akbar mulai
bercerita tentang gadis SMA yang sedang dia rayu. Malik sesekali tertawa dan
menganggukkan kepalanya. Tidak seperti biasanya, Indira terlihat tidak terlalu antusias
menanggapi cerita Akbar. Dia sibuk menghabiskan makannya sambil memegang perut.
Setelah selesai makan, Akbar mengambil uang 50 ribu dari sakunya
dan menyerahkan kepada Indira.
“Nih ndi, bayarin”
“Iya” Pada saat Indira berdiri dan akan melangkahkan kakinya,
Malik langsung menarik tangan Indira sampai Ia kembali duduk diposisi semula.
“Apa ih Malik kamu ngagetin
aja” Indira protes melihat Malik yang sepertinya sengaja membuatnya terduduk
“ndi” Malik mulai bicara dengan tatapan yang tidak bisa ditebak
dan tanggannya tetap memegang lengan Indira
“hm”
“ndi”
“apa ih. Kamu teh mau apa? Nda ndi nda ndi tapi teu jelas rek
ngomong naon (tapi ga jelas mau ngomong apa). Aku mau bayar, biar cepet pulang.
Aku capek ini” Indira mulai terlihat marah karena Malik tidak juga melepaskan
tangannya.
“Iya lik, ada apa sih. Tumben-tumbenan kamu aneh begini, ya
meskipun biasanya juga aneh. Hahahaha” Akbar mulai menimpali perdebatan Indira
“Ndi, kamu halangan?” tanya Malik sedikit berbisik agar tidak ada siswa
lain yang mendengar ucapannya
“huh? Halangan apa maksud kamu lik?” Amarah Indira sedikit mereda
setelah akhirnya Malik membuka mulutnya. Sementara Akbar hanya menatap
sahabatnya bergantian
“Itu, rok kamu berdarah”
“hahhh?? Serius kamu?? Aduh terus gimana dong iniii. Haaaa Malik,
aku maluuuuuuuuu. Hiks hiksss..” Setelah berteriak kaget, Indira mulai
meneteskan air matanya
“eh kenapa nangis ndi. Lik, kamu bilang apa sama Indi jadi nangis
gitu ih” Melihat Indi menangis, Akbar langsung berdiri dan menarik kursinya
mendekati Indira.
__ADS_1
“kayanya Indira halangan bar, roknya berdarah” Malik memberi penjelasan
sambil berbisik
“Hah?? Berdarah??” Teriakan Akbar membuat beberapa siswa yang ada
dikantin menoleh kearahnya
“Jangan kenceng-kenceng bar” Tegur Malik, sedangkan Indira tetap
menangis tanpa suara.
“Malik gimana dong inii. Huhuuuuu”
“Kamu pertama kali kaya gini??” tanya Malik dan langsung dijawab
dengan anggukan kepala Indi
“Pantesan dari tadi kamu pegangin perut terus ndi. Nih pake
jaketku buat nutupin rok kamu. Malik, kamu kan yang tau sekolah ini, kamu pergi
beli pembalut dan aku nemenin Indi disini” Bisik Akbar memberikan ide. Akbar
sedikit mengerti mengenai hal berbau wanita, karena selama disekolah Akbar
banyak bergaul dengan para siswi.
“ndi, beli pembalut dimana? Terus bilangnya gimana??” Malik mulai
berdiri dan bersiap
“mungkin di kopsis ada lik.” Indira mulai berhanti menangis sambil
mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Setelah mengangguk, Malik langsung berdiri dan pergi menuju
koperasi siswa disekolahnya.
“cari apa jang??” bu kopsis mulai bertanya karena sudah cukup
lama Akbar berdiri didepan etalase tapi
tidak berbicara apa-apa. Didalam kopsis ada beberapa siswi yang juga sedang
membeli keperluan sekolahnya
“emmm, anu bu. Saya cari itu” Malik sedikit kebingungan bercampur
malu karena ada beberapa siswi yang memperhatikan dia
“Iya, cari apa? Dasi? Pensil? Penggaris??”
“eh bukan bu. eehhhh Saya mau beli itu. Emmm. Beli pembalut bu”
“Oh pembalut, bilang dari tadi dong jang. Hahaha, buat siapa
pacarnya ya?? Tunggu ya, Ibu ambilin dulu. Beli yang panjang apa yang biasa??
Ah Ibu ambilin dua-duanya deh, biar dia bisa pilih. ” suara lantang bu kopsis
membuat semua pelanggan kopsis menatap kearah Malik.
“Yaampun, beruntung banget yang jadi pacarnya”, “ih romantis
banget ya si Malik”, “pasti itu buat Indira”, “ahh aku juga pengen dong kaya
Indira” bisik-bisik para siswi didalam kopsis mulai terdengar. Malik hanya bisa
tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“ini jang pembalutnya, satu pak isi 10. Ini yang biasa harganya
5ribu, ini yang panjang ada sayapnya harganya 8ribu. Jadi 13 ribu jang” Setelah
mendengar bu kopsis bicara, Malik langsung membayar dan pergi meninggalkan
beberapa siswa yang masih terpana dengannya.
“biasa, panjang, ada sayapnya, mau terbang kali. Ah mana aku ngerti, masa ini mau langsung
dipakai semua sama Indi.” Batin Malik
sedikit bingung dengan ucapan bu kopsis. Ia segera melangkahkan kakinya ke
kantin. Terlihat Indira sudah tidak menangis lagi, tapi masih sedikit tidak
nyaman dengan posisi duduknya. Sedangkan Akbar, hanya bisa tersenyum sambil
menepuk pundak Indira
“nih ndi.” Ucap Malik sambil memberikan kantong kresek hitam dan
__ADS_1
disambut oleh senyuman manis dari Indira. Indira yang memakai jaket milik Akbar
untuk menutupi roknya segera pergi ke kamar mandi.