Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH5- BERDARAH


__ADS_3

Bandung 2005


“Akbar...” Teriak Indira ketika melihat Akbar berjalan dari arah


gerbang sekolah.


“eh yaampun itu siapaa ganteng banget”, “kakaknya Indi mungkin. Eh


tapi dia panggil nama”,”Jangan-jangan pacarnya Indira, tapi masa pacaran sama


anak SMA”, “beruntung banget indi”, “Iya, wajahnya kaya bule. Eh apa kaya orang


Korea ya” ,” kalau itu pacarnya, terus Malik gimana?”  terdengar beberapa gadis mulai membicarakan


ketampanan yang dimiliki oleh Akbar.


Ini adalah kali pertama bagi Akbar menjemput Malik dan Indira ke sekolahnya. Biasanya Malik dan Indiralah yang akan menjemput Akbar, tapi karena hari ini SMA Akbar sedang acara, jadi para siswa dipulangkan lebihh awal.


Tanpa basa basi Akbar langsung merangkul pundak Indi dan


mengacak-acak rambut sahabatnya itu.


“Malik mana?? Kok kamu ga sama Malik?” tanya Akbar keheranan


karena tidak biasanya Indira sendirian. Dimana ada Indira, disitu ada Malik. Begitu pula sebaliknya.


Banyak siswa di SMP ini yang mengira kalau Indira dan Malik adalah saudara.


Tapi juga banyak yang berpikir bahwa Indira dan Malik berpacaran.


“Masih pipis. Masa iya aku mau ikut pipis. Nah itu dia” Begitu


melihat Malik, Indira dan Akbar langsung melambaikan tangannya sambil berteriak


memanggil nama Malik.


“itu ngapain dadah dadah sih, malu-maluin. Dari jauh juga udah


keliatan kalau itu mereka. chhh” Batin Malik sedikit kesal dengan sikap


kekanakan para sahabatnya


“Kamu pipis apa boker? Lama banget. Aku sama Akbar udah laper


banget tauuu.”


Indira langsung memegang kedua lengan laki-laki tampan


disebelahnya ini. Meskipun masih remaja, wajah Akbar dan Malik sudah menjadi


dambaan bagi siswi disekolahnya. Indira?? Jangan tanya. Dia adalah gadis paling


manis di SMP nya.


“Mau makan apa?” tanya Malik


“Kita makan dikantin kalian aja yuk, lagi pengen makan bakso nih.


Kata Indi bakso disini enak banget” Akbar menjawab tenang sambil memegang


perutnya yang mulai keroncongan


“Emang kamu ga malu? Kan kamu bukan siswa sini”


“Bodo amat ndi. Yang penting makan.. Hari ini aku traktir, mumpung


habis dapat uang saku dari papi. Hehe”


Dengan segera mereka bertiga melangkahkan kaki menuju kantin.


Disepanjang koridor banyak para siswi yang terkesima  melihat ketampanan Malik dan Akbar. Banyak


juga yang merasa iri dengan keberuntungan Indira yang dikelilingi oleh malaikat


tampan berwujud manusia itu.


“kang, basonya tiga yaa pedes semua, yang dua ekstra bihun, yang


satu ekstra kecap. Es jeruknya tiga yang satu es nya dikit ” Tanpa bertanya


Indira langsung memesankan bakso sesuai dengan kesukaan masing-masing.


“eh kalian dicarii sama papi. Katanya kok lama ga main kerumah”


Akbar mulai membuka pembicaraan sambil membuka resleting jaketnya.


“yaudah nanti aja habis pulang dari sini. Tapi aku mau mampir ke


minimarket mama dulu, tadi disuruh ambil gula titipan  Ibuk” Jawab Indira sambil mengusap perutnya.


“ini baksonya ya jang. Dua ekstra bihun, satu ekstra kecap, terus


ini es jeruknya. Yang ga pake es yang ini ya” Pembicaraan terhenti karena bakso

__ADS_1


sayur di mangkok sudah memanggil mereka.


“makasih ya kang” jawab Malik dengan sopan.


Setelah akang bakso pergi, Akbar dan Malik  langsung fokus dengan kenikmatan seporsi


bakso yang ada di depannya. Berbeda dengan Indira, Ia terlihat sedikit tidak


nyaman dengan posisi duduknya. Meskipun masih semangat untuk menyantap


baksonya, tapi sesekali Indira memegang dan mengusap-ngusap perutnya. Hal itu


segera disadari oleh Malik.


“kenapa ndi??”


“gapapa lik. Asa mules weh (kaya mules aja)” jawab indi sambil


menyendokkan bihun kemulutnya. Mendengar jawaban Indira, Malik hanya mengangguk dan kembali fokus ke mangkoknya


“Oh iya, nanti sekalian bilang ibuk, mama sama papa ya. Hari


Minggu besok diundang papi buat makan malam dirumah. Papi mau syukuran buat


pembukaan outlet baru.” Akbar menyampaikan pesan dari papinya yang langsung


dijawab dengan anggukan kepala Malik dan Indira.


waktu berlalu, sepanjang makan bakso Akbar mulai


bercerita tentang gadis SMA yang sedang dia rayu. Malik sesekali tertawa dan


menganggukkan kepalanya. Tidak seperti biasanya, Indira terlihat tidak terlalu antusias


menanggapi cerita Akbar. Dia sibuk menghabiskan makannya sambil memegang perut.


Setelah selesai makan, Akbar mengambil uang 50 ribu dari sakunya


dan menyerahkan kepada Indira.


“Nih ndi, bayarin”


“Iya” Pada saat Indira berdiri dan akan melangkahkan kakinya,


Malik langsung menarik tangan Indira sampai Ia kembali duduk diposisi semula.


“Apa  ih Malik kamu ngagetin


aja” Indira protes melihat Malik yang sepertinya sengaja membuatnya terduduk


“ndi” Malik mulai bicara dengan tatapan yang tidak bisa ditebak


dan tanggannya tetap memegang lengan Indira


“hm”


“ndi”


“apa ih. Kamu teh mau apa? Nda ndi nda ndi tapi teu jelas rek


ngomong naon (tapi ga jelas mau ngomong apa). Aku mau bayar, biar cepet pulang.


Aku capek ini” Indira mulai terlihat marah karena Malik tidak juga melepaskan


tangannya.


“Iya lik, ada apa sih. Tumben-tumbenan kamu aneh begini, ya


meskipun biasanya juga aneh. Hahahaha” Akbar mulai menimpali perdebatan Indira


“Ndi, kamu halangan?” tanya Malik sedikit berbisik agar tidak ada siswa


lain yang mendengar ucapannya


“huh? Halangan apa maksud kamu lik?” Amarah Indira sedikit mereda


setelah akhirnya Malik membuka mulutnya. Sementara Akbar hanya menatap


sahabatnya bergantian


“Itu, rok kamu berdarah”


“hahhh?? Serius kamu?? Aduh terus gimana dong iniii. Haaaa Malik,


aku maluuuuuuuuu. Hiks hiksss..” Setelah berteriak kaget, Indira mulai


meneteskan air matanya


“eh kenapa nangis ndi. Lik, kamu bilang apa sama Indi jadi nangis


gitu ih” Melihat Indi menangis, Akbar langsung berdiri dan menarik kursinya


mendekati Indira.

__ADS_1


“kayanya Indira halangan bar, roknya berdarah” Malik memberi penjelasan


sambil berbisik


“Hah?? Berdarah??” Teriakan Akbar membuat beberapa siswa yang ada


dikantin menoleh kearahnya


“Jangan kenceng-kenceng bar” Tegur Malik, sedangkan Indira tetap


menangis tanpa suara.


“Malik gimana dong inii. Huhuuuuu”


“Kamu pertama kali kaya gini??” tanya Malik dan langsung dijawab


dengan anggukan kepala Indi


“Pantesan dari tadi kamu pegangin perut terus ndi. Nih pake


jaketku buat nutupin rok kamu. Malik, kamu kan yang tau sekolah ini, kamu pergi


beli pembalut dan aku nemenin Indi disini” Bisik Akbar memberikan ide. Akbar


sedikit mengerti mengenai hal berbau wanita, karena selama disekolah Akbar


banyak bergaul dengan para siswi.


“ndi, beli pembalut dimana? Terus bilangnya gimana??” Malik mulai


berdiri dan bersiap


“mungkin di kopsis ada lik.” Indira mulai berhanti menangis sambil


mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Setelah mengangguk, Malik langsung berdiri dan pergi menuju


koperasi siswa disekolahnya.


“cari apa jang??” bu kopsis mulai bertanya karena sudah cukup


lama  Akbar berdiri didepan etalase tapi


tidak berbicara apa-apa. Didalam kopsis ada beberapa siswi yang juga sedang


membeli keperluan sekolahnya


“emmm, anu bu. Saya cari itu” Malik sedikit kebingungan bercampur


malu karena ada beberapa siswi yang memperhatikan dia


“Iya, cari apa? Dasi? Pensil? Penggaris??”


“eh bukan bu. eehhhh Saya mau beli itu. Emmm. Beli pembalut bu”


“Oh pembalut, bilang dari tadi dong jang. Hahaha, buat siapa


pacarnya ya?? Tunggu ya, Ibu ambilin dulu. Beli yang panjang apa yang biasa??


Ah Ibu ambilin dua-duanya deh, biar dia bisa pilih. ” suara lantang bu kopsis


membuat semua pelanggan kopsis menatap kearah Malik.


“Yaampun, beruntung banget yang jadi pacarnya”, “ih romantis


banget ya si Malik”, “pasti itu buat Indira”, “ahh aku juga pengen dong kaya


Indira” bisik-bisik para siswi didalam kopsis mulai terdengar. Malik hanya bisa


tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


“ini jang pembalutnya, satu pak isi 10. Ini yang biasa harganya


5ribu, ini yang panjang ada sayapnya harganya 8ribu. Jadi 13 ribu jang” Setelah


mendengar bu kopsis bicara, Malik langsung membayar dan pergi meninggalkan


beberapa siswa yang masih terpana dengannya.


“biasa, panjang, ada  sayapnya, mau terbang kali. Ah mana aku ngerti, masa ini mau langsung


dipakai semua  sama Indi.” Batin Malik


sedikit bingung dengan ucapan bu kopsis. Ia segera melangkahkan kakinya ke


kantin. Terlihat Indira sudah tidak menangis lagi, tapi masih sedikit tidak


nyaman dengan posisi duduknya. Sedangkan Akbar, hanya bisa tersenyum sambil


menepuk pundak Indira


“nih ndi.” Ucap Malik sambil memberikan kantong kresek hitam dan

__ADS_1


disambut oleh senyuman manis dari Indira. Indira yang memakai jaket milik Akbar


untuk menutupi roknya segera pergi ke kamar mandi.


__ADS_2