
Jessica memperhatikan Akbar yang keluar dari apartemen dengan wajah bahagia. Entah apa
yang membuat pria itu bahagia hingga tidak berhenti bersenandung. Dengan santai
Akbar melemparkan kunci mobil kepadanya yang sedang mengekor dibelakang.
“Ahhhhh” Jessica mengusap keningnya yang memerah karena menjadi landasan kunci mobil
Akbar.
“Makanya jadi orang itu harus sigap. Sudah ayo cepet”
“Saya yang nyetir Pak??”
“Kamu pikir saya supir Kamu??”
Jessica mendengus kesal. Kenapa sikap bosnya ini sangat menyebalkan. Bosnya tidak
pernah memperlakukan karyawan lain seperti ini. Sebenarnya kesialan apa yang didapat
Jessica hingga menjadi bulan-bulanan Akbar. Dan yang lebih menyebalkan adalah,
Ia tetap menggilai Akbar meskipun sudah diperlakukan dengan buruk.
Tanpa disadari wajahnya yang tertekuk itu masih tetap menempel. Bahkan dia juga
membanting pintu mobil dengan kasar. Ia masih kesal dengan perlakuan Akbar
kepadanya. Saat di apartemen, Akbar tidak menolak disebut sebagai suami istri.
Belum satu jam berlalu tetapi lelaki itu sudah kembali membully nya.
“Dasar sialan!!! Sok ganteng!!” Jessica mengumpat dalam hati.
“Kenapa? Kamu marah sama saya? Yaudah marah aja.” Akbar berbicara sembari menyilangkan
tangannya di depan dada.
“Saya pak?? Saya marah? Kenapa??” Tanya Jessica kebingungan.
“Dasar sialan, sok ganteng” Akbar mencibirkan bibirnya berusaha meniru suara Jessica.
Jessica menutup mulut menggunakan kedua tangannya. Sial.. Apa bosnya mendengar
umpatannya?? Seingat Jessica, dia hanya mengumpat dalam hati. Ah, kenapa bisa
keceplosan. Jessica kembali bergumam sambil memukul kepalanya.
Sedikit terkejut ketika Akbar menahan tangannya. Wajahnya memerah seperti kepiting
rebus. Kenapa Ia menjadi sangat bodoh dan ceroboh saat berhadapan dengan Akbar.
Sadarlah Jessica, pria idamanmu ini akan segera menikah. Jessica kembali
bergumam dalam hati.
Wajahnya semakin terasa panas ketika Akbar mendekatinya. Jantungnya berdegub sangat kencang saat
wajah tampan pria itu hampir menempel dengan wajahnya. Refleks Jessica menutup
matanya. Entah apa yang ada dipikirannya, dia hanya ingin memejamkan mata dan
menikmati aroma tubuh Akbar yang benar-benar sangat dekat dengannya saat ini.
“Kamu ngebayangin apa??”
“Ah,
tidak pak. Saya hanya sedikit mengantuk.” Jessica mencoba menutupi
kebodohannya.
“Saya Cuma mau pasang seatbelt kamu, biar cepet berangkat”
“Ohh..” Suara kecewa Jessica terdengar jelas di telinga Akbar
“Ohh?? Haha. Kamu berharap apa?” Ejek Akbar.
Jessica menyalakan mesin mobil dan bersiap untuk
__ADS_1
kembali ke kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.35. Itu tandanya 25 menit
lagi jam kerjanya akan berakhir. Dia sudah membayangkan betapa nyaman ranjang
dikamarnya. Ia ingin mengakhiri kegalauan hari ini dengan berbaring sepanjang
waktu.
Belum sampai 5 menit Jessica mengemudikan mobil,
Akbar sudah memerintahkan Jessica untuk menepi.
“Kamu pernah bolos??”
“Bolos?? Dulu waktu saya SMP pernah pak.”
“Okay, sekarang kamu bolos lagi. Kita ke Lembang,
saya akan tunjukkan jalannya” Perintah Akbar tanpa memandang wajah Jessica
“Ha? Lembang?? Kita ga balik kantor pak??”
“Kenapa Kamu selalu membuat Saya bicara dua kali?
Lembang!! Saya bilang ke Lembang sekarang!! Kamu bolos kerja hari ini!! Apa
sudah dimengerti??!” Akbar menjelaskan dengan penekanan di berbagai kata.
Jessica hanya mengangguk pasrah. Dalam hati dia
menggerutu. Bukan bolos kerja namanya kalau hanya 15 menit. Bayangan tempat
tidurnya yang nyaman menghilang dengan segera.
45 menit berlalu, Jessica mengendarai mobil itu
dengan kecepatan sedang. Telinganya sibuk mendengar arahan dari Google Maps.
Akbar?? Jangan ditanya, matanya sudah terpejam setelah menyerahkan tugasnya pada aplikasi itu.
Jessica berhenti tepat didepan pintu gerbang villa. Matanya beredar mengagumi keindahan
mata Jessica beralih ke wajah tampan idolanya.
Ia memperhatikan Akbar yang sedang tertidur pulas. Alisnya yang tegas, bulu mata
lentik, hidung mancung, bibir sensual, kenapa bosnya begitu cantik. Seandainya
tidak ada bulu halus di bagian pipinya dan otot kekar dibadannya, pasti banyak
orang yang mengira bahwa bosnya adalah perempuan.
Lama ia terpesona dengan karya Tuhan disampingnya. Hingga tidak menyadari bahwa langit sudah mulai menghitam. Purnama juga sudah menampakkan dirinya. Jessica menyandarkan tubuhnya di kursi.
Ingin rasanya Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Akbar.
“Loh sudah sampai??” Tanya Akbar sembari mengucek matanya
“Sudah 45 menit yang lalu pak”
“Kok ga bangunin saya?? Kamu pikir ga capek tidur di posisi seperti itu?? Ayo cepat
turun, atau kamu tidur disini sendiri malam ini”
Mendengar ancaman Akbar, Jessica segera berlari mengekor dibelakangnya. Jessica masih
terngiang dengan kalimat terakhir Akbar. Apa mereka akan bermalam dirumah ini??
Berdua saja?? Wah mimpi apa Dia semalam hingga mendapatkan rejeki seperti ini.
**
“Hei kamu, cepat kesini!!”
Jessica segera mendekat ke arah Akbar dan menerima ponsel di hadapannya.
Tidak memerlukan waktu lama, Jessica menyerahkan kembali ponsel milik Akbar.
“Bilang apa dia??”
__ADS_1
“Ibu meminta saya untuk memakai daster miliknya Pak. Saya juga diminta untuk tidur
di kamarnya”
“Oh. Yasudah, sana kamu mandi! Setelah itu segera kesini, kita makan malam. Kamarnya
yang itu” Akbar menunjuk sebuah ruangan tertutup. Di pintu ruangan itu
menggantung sebuah aksesoris kecil yang berisi foto Indira.
Jessica membawa tasnya dan masuk kedalam ruangan. Dia tidak terlalu peduli dengan
isi ruangan itu. Yang diinginkan hanyalah merebahkan tubuhnya. Mengistirahatkan
tulang-tulang belakangnya yang bekerja terlalu keras hari ini.
Karena takut tertidur, Jessica mengumpulkan nyawanya untuk mandi. Ia merogoh kantong
kecil di dalam tasnya. Mengambil celana dalam miliknya. Jessica selalu
menyelipkan 2-3 buah pakaian dalam di semua tasnya untuk mengatasi kondisi
seperti ini. Ia paham betul dengan posisinya sebagai sekretaris pribadi yang
akan selalu mengikuti kemanapun bosnya pergi.
**
Jessica mendatangi Akbar yang sedang duduk di meja makan. Makanan sudah tertata rapi,
tetapi bosnya belum juga menyentuh hidangan itu.
Jiwa keibuannya pun muncul. Ia segera mengambil piring, dan mengisinya dengan
berbagai hidangan yang tersedia. Ia menyerahkan piring itu kepada Akbar.
“Terimakasih, kamu kalau lapar makan saja”
Jessica pun menuruti perkataan bosnya untuk makan malam bersama. Ia memang selalu
mengikuti kemanapun Akbar pergi, termasuk menginap di luar kota. Tetapi ini
adalah kali pertamanya menginap bersama Akbar dalam kondisi non formal.
Biasanya, saat menginap di luar kota, mereka akan berpisah di kamar hotel yang berbeda.
Tetapi kali ini, Jessica berada di tempat yang sama. Ia sungguh menikmati
pemandangan Akbar yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya
yang masih basah membuat Akbar semakin terlihat sensual.
“Saya ganteng ya?? Hei jangan dikira saya tidak tau. Mata Kamu itu dari tadi lihatnya
ke arah Saya terus. Mikir apa ??”
“Ha?? Emhh maaf Pak. Ini pertama kalinya Saya lihat Bapak pakai baju santai. Jadi
masih belum terbiasa. Hehe”
Jessica dan Akbar menyelesaikan makan malamnya dalam diam. Sesekali Jessica mencuri
pandang ke arah Akbar.
Jessica berdiri dan bersiap untuk membantu Bibi membereskan meja makan. Namun Akbar
segera menghentikannya.
“Bi, tolong dibantu beresin ya. Dan Kamu, ikut saya ke ruang tengah”
Merasa mendapat perintah, Jessicapun mengikuti Akbar.
Ia duduk di hadapan Akbar. Berulang kali menggosok lengannya untuk menghilangkan
rasa dingin yang menusuk kulit. Daster milik Indira terlalu tipis untuk bisa
menghangatkan tubuhnya.
Sejurus kemudian Akbar melempar selimut yang ada di sampingnya ke arah Jessica.
__ADS_1