
Malik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan
sedang. Wajahnya sedikit tirus karena sakit yang diderita selama satu minggu
ini. Meskipun Bu Mega dan Pak Adrian sudah melarangnya untuk bekerja, Malik
tetap bersikukuh untuk mengaktifkan kembali otaknya yang sudah terlalu lama
beristirahat.
Ia memarkirkan mobil di halaman kantor firma
hukumnya. Firma hukum milik Malik hanyalah gabungan dari 4 ruko yang ada di
pinggir jalan. Ketenaran Malik dalam dunia Hukum membuatnya harus merekrut cukup
banyak karyawan.
Seperti halnya hari ini. Baru saja duduk di
kursinya yang nyaman, Amira selaku paralegal sekaligus sekretaris pribadinya
sudah memberikan laporan berupa rentetan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh
Malik setelah absen selama satu minggu. Amira juga memberitahukan bahwa ada
satu orang karyawan baru yang mulai bekerja disana sejak 4 hari yang lalu.
Tanpa menunggu perintah, Amira pun meminta
karyawan baru itu untuk bertemu dengan Malik.
“Selamat pagi Pak, Saya adalah karyawan baru
disini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Wanita berparas manis itu
tersenyum dengan lembut dan mengulurkan tangannya.
Malik yang sedari tadi fokus dengan lembaran
dihadapannya pun berdiri, bersiap untuk menyambut uluran tangan karyawan barunya.
“Selamat datang di......” Ucapan Malik terhenti
ketika melihat wanita yang berdiri di samping Amira. Tak hanya Malik, wanita
itupun membelalakkan matanya sedikit terkejut.
“Renata??”
“Malik?? Ah, maksud Saya Pak Malik??”
Wajah keduanya berbinar ketika melihat satu sama
lain.
Renata adalah sahabat Indira sejak duduk di
bangku SMA. Namun Renata harus berpisah dengan Indira selepas kelulusan
sekolah, karena Ia harus mengikuti keluarganya untuk pindah ke Kota Malang.
Renata menempuh pendidikan hukumnya di kota
tersebut. Sebelumnya, Ia bekerja di salah satu notaris di tempatnya magang saat
di Kota Malang. Disana Renata banyak mengambil kasus-kasus yang berhubungan
dengan keluarga. Entah perceraian, hak asuh anak dan lain sebagainya.
Karena tidak ingin stuck di posisinya, Renata
memberanikan diri untuk kembali ke kota asalnya, berharap bisa mendapatkan
pengalaman yang lebih banyak. Ia memasukkan lamarannya ke berbagai firma hukum
ternama di kota Bandung. Tetapi ternyata nasib membawanya kembali untuk bertemu
dengan Malik.
Acara perkenalan yang seharusnya berjalan dengan
singkat menjadi lebih lama karena Malik dan Renata berbincang mengenai masa
__ADS_1
lalu mereka. Saling menanyakan kabar, dan kegiatan masing-masing selama ini.
“Baiklah kalau begitu kamu bisa kembali bekerja.
Saya harap, kamu bisa betah ada disini.”
“Ya Pak. Tentu saja saya akan nyaman berada di
sini.” Renata berdiri dan tersenyum ramah.
“Kenapa dari tadi kamu memanggil Saya dengan
sebutan itu. Panggil nama saja tidak masalah”
“Ini masih dilingkungan dan jam kerja Pak. Bapak
adalah atasan saya, jadi Saya harus profesional. Kalau begitu Saya pamit undur
diri Pak. ”
Malik tersenyum melihat kepergian Renata dari
ruangannya. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan teman lamanya. Saat
disekolah dulu, mungkin Renata adalah satu-satunya teman wanita Malik selain
Indira. Gadis kecil yang dulu
banyak bicara, kini sudah berubah menjadi wanita dewasa. Dengan wajah manis dan
kulitnya yang sawo matang.
***
Malik sedang berdiri dihadapan papan kaca yang
tertempel beberapa foto. Foto itu berisi beberapa mayat dan lokasi tempat
kejadian perkara. Kali ini Malik sedang dihadapkan dengan kasus pembunuhan
berantai yang cukup rumit.
Beberapa karyawan terlihat memperhatikan Malik dengan senyuman di bibir masing-masing. Menurut
mereka, ketampanan dan keseksian Malik akan bertambah 1000% saat sedang
Malik menolehkan wajahnya ketika merasa ada
tangan hangat yang menyentuh pundaknya.
“Ma.. Kok kesini?? Ada apa?? Kesini sama siapa?”
Tanya Malik keheranan. Tidak biasanya Bu Mega datang ke kantor Malik.
“Sendiri, pakai mobilnya Neng. Nih. Bekal kamu
ketinggalan. Kamu belum boleh makan aneh-aneh. Tadi sudah Mama siapkan di meja,
tapi kamu lupa bawanya”
Malik menerima kotak makan yang diserahkan Bu
Mega. Disaat yang sama, Malik melihat Renata yang baru saja keluar dari ruang
meeting bersama beberapa karyawan yang lain.
“Ren, coba kesini sebentar.” Suara Malik terdengar
di seluruh ruangan.
Renata yang sedikit kebingunganpun berjalan
mendekat ke arah Malik. Langkahnya terhenti ketika melihat wanita paruh baya
yang berdiri di hadapan Malik.
“Bibi!!!” Renata sedikit berlari dan memeluk Bu
Mega dengan erat.
Karyawan lain yang sedari tadi meperhatikan
mereka mulai bertanya-tanya. Ada hubungan apakah bosnya dengan karyawan baru?
__ADS_1
Apakah mereka sudah saling mengenal sebelumnya?? Kenapa Renata bisa sampai
memeluk wanita kesayangan bosnya?
“Renata?? Ya ampun sayang. Kamu cantik sekali.
Aduh, udah lama ya ga ketemu. Selama ini kemana aja? Kenapa ga pernah telepon Bibi? Kok Kamu ada disini??
Kamu kerja sama Malik??”
Malik tersenyum melihat tingkah Bu Mega yag
berulang kali membelai rambut Renata. Tidak heran, dulu hampir setiap pulang
sekolah, Renata akan datang ke rumah Bu Mega.
Menyadari ada banyak mata yang memperhatikan
mereka, Malik memegang lengan Bu Mega dan menuntunnya ke dalam ruangan.
“Ma. Tanyanya satu-satu dong. Rena mau jawab juga
bingung. Kita keruangan Aku aja ya. Ngobrol didalem.”
Perbincangan pun dilanjutkan. Banyak hal yang
dibicarakan oleh Renata dan Bu Mega. Sedangkan Malik, Ia sedang menikmati
makanan yang sudah disiapkan untuknya, sambil sesekali melihat para wanita yang
sedang bercengkrama itu.
Malik memandang wajah Bu Mega. Sudah lama Malik tidak melihat wajah
bahagia Mamanya. Semoga saja pertemuan dengan Renata hari ini bisa membuat
Mamanya lupa dengan kesedihannya.
Cukup lama mereka berbincang, hingga tidak menyadari bahwa jam istirahat akan segera
habis. Bu Mega berkali-kali meminta maaf karena menyita waktu Renata, hingga
membuat wanita itu tidak sempat untuk makan siang.
Malik memperhatikan Mamanya yang tidak pernah melepas lengan Renata saat keluar dari
ruangannya.
“Ren, pokonya Bibi ga mau tau. Nanti malem Kamu harus makan dirumah ya. Pulangnya
bareng sama Malik aja”
“Iya Bi siap.” Jawab Renata sembari tersenyum lembut.
“Malik, Dia jangan ditinggal loh. Kalau sampai Mama lihat Dia ga ada di mobil Kamu,
sekalian Kamu jangan pulang kerumah Mama!!”
Malik mengangguk pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajah Malik
sedikit memerah karena suara Mamanya yang sedikit keras dan diikuti oleh tawa
kecil beberapa karyawannya.
***
Suara tawa mulai terdengar dari ruang tamu. Kehadiran Renata membawa suasana baru di
rumah Pak Adrian. Mereka seakan sedang mengulang kejadian beberapa tahun yang
lalu.
Makanan memang sudah tersaji di meja makan. Tetapi makan malam akan dimulai ketika
Indira sudah datang. Sembari menunggu kedatangan Indira, Renata mulai
membicarakan Malik yang dulu selalu mengekor kemanapun Ia dan Indira pergi. Bahkan
Malik juga pernah melakukan perawatan kuku tangan dan kaki karena paksaan
darinya dan Indira.
“Kok pintunya dibuk…aaaaaa..” Renata melambaikan tangan ketika melihat langkah Indira yang
__ADS_1
terhenti di depan pintu.
“Reennaaaaaaaa!!!”