Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH49- Renata


__ADS_3

Malik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan


sedang. Wajahnya sedikit tirus karena sakit yang diderita selama satu minggu


ini. Meskipun Bu Mega dan Pak Adrian sudah melarangnya untuk bekerja, Malik


tetap bersikukuh untuk mengaktifkan kembali otaknya yang sudah terlalu lama


beristirahat.


Ia memarkirkan mobil di halaman kantor firma


hukumnya. Firma hukum milik Malik hanyalah gabungan dari 4 ruko yang ada di


pinggir jalan. Ketenaran Malik dalam dunia Hukum membuatnya harus merekrut cukup


banyak karyawan.


Seperti halnya hari ini. Baru saja duduk di


kursinya yang nyaman, Amira selaku paralegal sekaligus sekretaris pribadinya


sudah memberikan laporan berupa rentetan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh


Malik setelah absen selama satu minggu. Amira juga memberitahukan bahwa ada


satu orang karyawan baru yang mulai bekerja disana sejak 4 hari yang lalu.


Tanpa menunggu perintah, Amira pun meminta


karyawan baru itu untuk bertemu dengan Malik.


“Selamat pagi Pak, Saya adalah karyawan baru


disini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Wanita berparas manis itu


tersenyum dengan lembut dan mengulurkan tangannya.


Malik yang sedari tadi fokus dengan lembaran


dihadapannya pun berdiri, bersiap untuk menyambut uluran tangan karyawan barunya.


“Selamat datang di......” Ucapan Malik terhenti


ketika melihat wanita yang berdiri di samping Amira. Tak hanya Malik, wanita


itupun membelalakkan matanya sedikit terkejut.


“Renata??”


“Malik?? Ah, maksud Saya Pak Malik??”


Wajah keduanya berbinar ketika melihat satu sama


lain.


Renata adalah sahabat Indira sejak duduk di


bangku SMA. Namun Renata harus berpisah dengan Indira selepas kelulusan


sekolah, karena Ia harus mengikuti keluarganya untuk pindah ke Kota Malang.


Renata menempuh pendidikan hukumnya di kota


tersebut. Sebelumnya, Ia bekerja di salah satu notaris di tempatnya magang saat


di Kota Malang. Disana Renata banyak mengambil kasus-kasus yang berhubungan


dengan keluarga. Entah perceraian, hak asuh anak dan lain sebagainya.


Karena tidak ingin stuck di posisinya, Renata


memberanikan diri untuk kembali ke kota asalnya, berharap bisa mendapatkan


pengalaman yang lebih banyak. Ia memasukkan lamarannya ke berbagai firma hukum


ternama di kota Bandung. Tetapi ternyata nasib membawanya kembali untuk bertemu


dengan Malik.


Acara perkenalan yang seharusnya berjalan dengan


singkat menjadi lebih lama karena Malik dan Renata berbincang mengenai masa

__ADS_1


lalu mereka. Saling menanyakan kabar, dan kegiatan masing-masing selama ini.


“Baiklah kalau begitu kamu bisa kembali bekerja.


Saya harap, kamu bisa betah ada disini.”


“Ya Pak. Tentu saja saya akan nyaman berada di


sini.” Renata berdiri dan tersenyum ramah.


“Kenapa dari tadi kamu memanggil Saya dengan


sebutan itu. Panggil nama saja tidak masalah”


“Ini masih dilingkungan dan jam kerja Pak. Bapak


adalah atasan saya, jadi Saya harus profesional. Kalau begitu Saya pamit undur


diri Pak. ”


Malik tersenyum melihat kepergian Renata dari


ruangannya. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan teman lamanya. Saat


disekolah dulu, mungkin Renata adalah satu-satunya teman wanita Malik selain


Indira. Gadis kecil yang dulu


banyak bicara, kini sudah berubah menjadi wanita dewasa. Dengan wajah manis dan


kulitnya yang sawo matang.


***


Malik sedang berdiri dihadapan papan kaca yang


tertempel beberapa foto. Foto itu berisi beberapa mayat dan lokasi tempat


kejadian perkara. Kali ini Malik sedang dihadapkan dengan kasus pembunuhan


berantai yang cukup rumit.


Beberapa karyawan terlihat memperhatikan Malik dengan senyuman di bibir masing-masing. Menurut


mereka, ketampanan dan keseksian Malik akan bertambah 1000% saat sedang


Malik menolehkan wajahnya ketika merasa ada


tangan hangat yang menyentuh pundaknya.


“Ma.. Kok kesini?? Ada apa?? Kesini sama siapa?”


Tanya Malik keheranan. Tidak biasanya Bu Mega datang ke kantor Malik.


“Sendiri, pakai mobilnya Neng. Nih. Bekal kamu


ketinggalan. Kamu belum boleh makan aneh-aneh. Tadi sudah Mama siapkan di meja,


tapi kamu lupa bawanya”


Malik menerima kotak makan yang diserahkan Bu


Mega. Disaat yang sama, Malik melihat Renata yang baru saja keluar dari ruang


meeting bersama beberapa karyawan yang lain.


“Ren, coba kesini sebentar.” Suara Malik terdengar


di seluruh ruangan.


Renata yang sedikit kebingunganpun berjalan


mendekat ke arah Malik. Langkahnya terhenti ketika melihat wanita paruh baya


yang berdiri di hadapan Malik.


“Bibi!!!” Renata sedikit berlari dan memeluk Bu


Mega dengan erat.


Karyawan lain yang sedari tadi meperhatikan


mereka mulai bertanya-tanya. Ada hubungan apakah bosnya dengan karyawan baru?

__ADS_1


Apakah mereka sudah saling mengenal sebelumnya?? Kenapa Renata bisa sampai


memeluk wanita kesayangan bosnya?


“Renata?? Ya ampun sayang. Kamu cantik sekali.


Aduh, udah lama ya ga ketemu. Selama ini kemana aja? Kenapa ga pernah telepon Bibi? Kok Kamu ada disini??


Kamu kerja sama Malik??”


Malik tersenyum melihat tingkah Bu Mega yag


berulang kali membelai rambut Renata. Tidak heran, dulu hampir setiap pulang


sekolah, Renata akan datang ke rumah Bu Mega.


Menyadari ada banyak mata yang memperhatikan


mereka, Malik memegang lengan Bu Mega dan menuntunnya ke dalam ruangan.


“Ma. Tanyanya satu-satu dong. Rena mau jawab juga


bingung. Kita keruangan Aku aja ya. Ngobrol didalem.”


Perbincangan pun dilanjutkan. Banyak hal yang


dibicarakan oleh Renata dan Bu Mega. Sedangkan Malik, Ia sedang menikmati


makanan yang sudah disiapkan untuknya, sambil sesekali melihat para wanita yang


sedang bercengkrama itu.


Malik memandang wajah Bu Mega. Sudah lama Malik tidak melihat wajah


bahagia Mamanya. Semoga saja pertemuan dengan Renata hari ini bisa membuat


Mamanya lupa dengan kesedihannya.


Cukup lama mereka berbincang, hingga tidak menyadari bahwa jam istirahat akan segera


habis. Bu Mega berkali-kali meminta maaf karena menyita waktu Renata, hingga


membuat wanita itu tidak sempat untuk makan siang.


Malik memperhatikan Mamanya yang tidak pernah melepas lengan Renata saat keluar dari


ruangannya.


“Ren, pokonya Bibi ga mau tau. Nanti malem Kamu harus makan dirumah ya. Pulangnya


bareng sama Malik aja”


“Iya Bi siap.” Jawab Renata sembari tersenyum lembut.


“Malik, Dia jangan ditinggal loh. Kalau sampai Mama lihat Dia ga ada di mobil Kamu,


sekalian Kamu jangan pulang kerumah Mama!!”


Malik mengangguk pelan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajah Malik


sedikit memerah karena suara Mamanya yang sedikit keras dan diikuti oleh tawa


kecil beberapa karyawannya.


***


Suara tawa mulai terdengar dari ruang tamu. Kehadiran Renata membawa suasana baru di


rumah Pak Adrian. Mereka seakan sedang mengulang kejadian beberapa tahun yang


lalu.


Makanan memang sudah tersaji di meja makan. Tetapi makan malam akan dimulai ketika


Indira sudah datang. Sembari menunggu kedatangan Indira, Renata mulai


membicarakan Malik yang dulu selalu mengekor kemanapun Ia dan Indira pergi. Bahkan


Malik juga pernah melakukan perawatan kuku tangan dan kaki karena paksaan


darinya dan Indira.


“Kok pintunya dibuk…aaaaaa..” Renata melambaikan tangan ketika melihat langkah Indira yang

__ADS_1


terhenti di depan pintu.


“Reennaaaaaaaa!!!”


__ADS_2