Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH14- Kebun Teh


__ADS_3

Malik dan Akbar ikut tertidur di samping Indira. Kepala Akbar ada dibawah,


dan kaki Indira bertengger diatas dada Akbar. Sedangkan kepala Malik ada di


samping tangan Indira dan kakinya sudah keluar dari area kasur.


Bu Mega yang baru saja keluar dari kamar


tersenyum melihat pemandangan ini. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding.


Memperhatikan ketiga anak yang ia sayang sedang tertidur pulas dengan posisi


yang tak beraturan.


Betapa bersyukurnya Bu Mega melihat kebersamaan


para remaja ini. Memang bukan saudara kandung, tapi kasih sayang antara mereka


begitu kuat hingga mengalahkan yang hubungan yang memang sedarah.


Melihat kemarin malam anak-anak itu tertawa


bahagia membuat Bu Mega merasa sedikit lega. Ternyata kepergian Bu Sri semakin


membuat hubungan ketiganya menjadi semakin erat. Saling menguatkan satu sama


lain.


Air mata Bu Mega mulai menggenang di sudut


matanya. Didikan Bu Sri selama ini telah berhasil membuat anak-anak ini saling


menyayangi. Apa jadinya Indira dan Akbar jika tidak ada Bu Sri yang selalu


membantu merawat mereka.


Melihat istrinya yang mematung di samping


dinding, Pak Adrian menghampiri dan merangkulnya.


“Kenapa ma? Mama nangis??”


“Mama Cuma terharu aja pa lihat mereka. Dua hari


yang lalu mereka semua nangis, diem, ga mau makan. Tapi sekarang mereka udah


balik kaya dulu lagi. Malah sekarang jadi makin lengket kaya gitu. Mama


berharap sampai mereka dewasa nanti, tetap seperti ini pa.” Bu Mega mengusap


air matanya yang mulai menetes.


Tidak berselang lama, Pak Adi datang menghampiri


sepasang suami istri yang sedang melihat pemandangan indah di ruang keluarga.


“ini kenapa kok pada diem disini. Ayo sarapan


dulu. Biar saya yang bangunin anak-anak” Pak Adi tersenyum dan berlalu


meninggalkan Bu Mega dan Pak Adrian.


Sambil sedikit mengomel karena tidak tidur


dikamar yang sudah disiapkan, Pak Adi menarik dua selimut yang menutupi tubuh


para remaja itu.


Bukannya bangun, Indira malah menggulungkan


tubuhnya didalam selimut. Sedangkan Malik dan Akbar langsung duduk bersandar


mengumpulkan nyawa mereka.


“bentar piiiii. Neng masih ngantuk. 5 menit


lagiiii” rengek Indira tetap dengan matanya yang terpejam.


Mendengar rengekan Indira, Pak Adi mulai berbicara


yang sengaja ditujukan untuk Malik dan Akbar. Pak Adi meminta agar Malik dan Akbar


segera mandi dan makan pagi. Karena pagi ini Pak Adi akan mengajak mereka untuk


jalan-jalan berkeliling perkebunan, kemudian mampir sebentar ke makam oma dan


opa Akbar. Dan tujuan terakhirnya adalah air terjun yang letaknya tidak jauh dari

__ADS_1


area perkebunan. Pak Adi sengaja mengencangkan suaranya agar Indira yang ada


didalam selimut mendengarkan perkataannya.


Indira langsung membelalakan mata dan membuka


selimut yang melilit tubuhnya. Mengedipkan matanya berkali-kali seperti ingin


memaksa matanya agar tetap terbuka. Setelah cukup sadar,tanpa banyak kata  ia langsung berdiri dan bersiap untuk lari ke kamar mandi.


Baru mau melangkahkan kaki, baju Indira ditarik


oleh Akbar hingga membuatnya terduduk kembali di kasur.


“Aku dulu yang mandi” Dengan segera Akbar berlari


menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Merasa tidak terima Indira menyusul


Akbar yang lebih dulu berlari.


Lain halnya dengan Malik. dia masih bersandar dan


mengucek matanya.


“kamu ga ikut rebutan kamar mandi juga nak??”


tanya pak Adi keheranan.


“enggak pi, ngapain. Kan di kamar Malik sama


Akbar juga ada kamar mandi” Pak Adi tersenyum melihat Malik. Tujuan Pak Adi


membawa mereka datang kesini memang ingin menyenangkan hati anak-anak itu.


Terutama Malik.


Setelah Indira, Malik dan Akbar bersiap, mereka


bertiga langsung pergi ke meja makan untuk sarapan. Berbeda dengan biasanya,


kali ini Akbar dan Indira tidak bicara sepatah kata pun dan hanya fokus


menyantap makanannya. Mereka berdua ingin segera pergi menikmati pemandangan


kebun teh dan air terjun.


sepatu dan berpamitan kepada Bu Mega dan Pak Adrian. Hari ini hanya Pak Adi,


Malik, Indira dan Akbar yang pergi. Karena Pak Adrian dan Bu Mega berencana


mengunjungi salah satu kerabat yang tidak jauh dari villa.


“Mobilnya mana pi??” Tanya Indira kebingungan.


Biasanya kalau mau pergi, mobil pasti sudah terparkir rapi di halaman villa.


Tapi kali ini dimana mobil itu??


“Kita jalan kaki dong. “ Indira langsung membuka


mulutnya mendengar jawaban dari Pak Adi. Seketika semangatnya langsung hilang begitu ia membayangkan betapa melelahkannya berjalan mengelilingi kebun teh dan air terjun. Kebun teh saja


luasnya tidak bisa Indira hitung, apalagi kalau harus pergi ke air terjun juga.


Membayangkannya saja sudah membuat kakinya terasa lemas.


“Kalo kamu ga mau jalan, dirumah aja ndi” Sahut


Malik.


“enggak. Indi tetep ikut. Enak aja kalian berdua


mau seneng-seneng tanpa aku. Pokoknya kalau nanti Indi capek, kalian berdua


harus gantian gendong loh ya. Ga mau tau”


Malik hanya berdecih kemudian menyusul Pak Adi


yang berjalan lebih dulu. Sedangkan Akbar merangkul pundak Indira.


Begitu sampai di bibir kebun, mereka semua


berhenti sejenak. Menikmati keindahan yang telah disajikan oleh Yang Maha


Kuasa. Semangat Indira, Malik dan Akbar kembali memuncak melihat hamparan warna


hijau didepan mata mereka.

__ADS_1


“gimana kalian suka??” Tanya Pak Adi yang


langsung dijawab anggukan kepala anak-anak itu


Dengan semangatnya Indira berteriak bahwa dia


sangat menyukai tempat ini. Seperti lupa dengan perkataannya tadi tentang


betapa menyedihkannya liburan tanpa mobil.


Pak Adi meminta ketiga anak itu untuk berdiri


diantara kebun teh, dia mengambil sebuah kamera yang sudah disimpan rapi dalam


ranselnya.


Tanpa berlama-lama, ketiga remaja itu langsung


berdiri di tempat yang ditunjuk papinya.


Berulang kali mereka mengabadikan momen ini


dengan pose yang berbeda-beda.


Sesuai janji Pak Adi, setelah puas berkeliling


kebun, mereka pergi ke pekuburan Oma dan Opa Akbar yang letaknya tidak jauh


dari perbatasan kebun teh.


Terlihat mereka sedang menundukkan kepala berdoa


di samping makam.


Tidak membutuhkan waktu lama, setelah berdoa dan


membersihkan rerumputan yang tumbuh tinggi disekitar makam, mereka bersiap


untuk melanjutkan perjalanan.


Tempat yang sangat ditunggu-tunggu oleh Indira.


Air Terjun


Perjalanan ke air terjun memang tidak terlalu


jauh, tapi jalan yang curam dan terjal membuat Indira sedikit kelelahan.


Tapi, letih yang di rasakan terganti oleh


kebahagiaan setelah melihat air yang berebut untuk turun dari atas bukit.


Sejuk, tenang, dan damai. Itulah yang mereka rasakan ketika berada di dekat air


terjun ini.


Sebelum mereka turun untuk bermain air, para


remaja itu mengambil beberapa foto yang bisa digunakan untuk pajangan di kamar


mereka.


Setelah puas berfoto-foto Malik dan Akbar


langsung melepas kaos mereka dan menuntun Indira untuk masuk kedalam aliran air


terjun.


Ketiga remaja ini terlihat bahagia. Siratan air


yang mereka lempar membuat tawa keluar dari bibir mereka. Sudah tidak ada air


mata. Hanya pancaran kebahagiaan yang muncul dari dalam dirinya.


Puas bermain dengan air, anak-anak itu kembali


naik keatas. Memakai handuk untuk membalut tubuh mereka yang basah. Duduk diatas


pondok. Menikmati sedikit hidangan yang mereka bawa. Menerawang melihat


keindahan yang sudah disuguhkan oleh Tuhan. Begitu Agung Kuasa-Nya


Dengan ajaib pemandangan ini membuat hati mereka


yang sedang hancur kembali merekat seperti semula. Meskipun masih ada


sayatan-sayatan kecil yang tersisa.

__ADS_1


__ADS_2