
Malik dan Akbar ikut tertidur di samping Indira. Kepala Akbar ada dibawah,
dan kaki Indira bertengger diatas dada Akbar. Sedangkan kepala Malik ada di
samping tangan Indira dan kakinya sudah keluar dari area kasur.
Bu Mega yang baru saja keluar dari kamar
tersenyum melihat pemandangan ini. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding.
Memperhatikan ketiga anak yang ia sayang sedang tertidur pulas dengan posisi
yang tak beraturan.
Betapa bersyukurnya Bu Mega melihat kebersamaan
para remaja ini. Memang bukan saudara kandung, tapi kasih sayang antara mereka
begitu kuat hingga mengalahkan yang hubungan yang memang sedarah.
Melihat kemarin malam anak-anak itu tertawa
bahagia membuat Bu Mega merasa sedikit lega. Ternyata kepergian Bu Sri semakin
membuat hubungan ketiganya menjadi semakin erat. Saling menguatkan satu sama
lain.
Air mata Bu Mega mulai menggenang di sudut
matanya. Didikan Bu Sri selama ini telah berhasil membuat anak-anak ini saling
menyayangi. Apa jadinya Indira dan Akbar jika tidak ada Bu Sri yang selalu
membantu merawat mereka.
Melihat istrinya yang mematung di samping
dinding, Pak Adrian menghampiri dan merangkulnya.
“Kenapa ma? Mama nangis??”
“Mama Cuma terharu aja pa lihat mereka. Dua hari
yang lalu mereka semua nangis, diem, ga mau makan. Tapi sekarang mereka udah
balik kaya dulu lagi. Malah sekarang jadi makin lengket kaya gitu. Mama
berharap sampai mereka dewasa nanti, tetap seperti ini pa.” Bu Mega mengusap
air matanya yang mulai menetes.
Tidak berselang lama, Pak Adi datang menghampiri
sepasang suami istri yang sedang melihat pemandangan indah di ruang keluarga.
“ini kenapa kok pada diem disini. Ayo sarapan
dulu. Biar saya yang bangunin anak-anak” Pak Adi tersenyum dan berlalu
meninggalkan Bu Mega dan Pak Adrian.
Sambil sedikit mengomel karena tidak tidur
dikamar yang sudah disiapkan, Pak Adi menarik dua selimut yang menutupi tubuh
para remaja itu.
Bukannya bangun, Indira malah menggulungkan
tubuhnya didalam selimut. Sedangkan Malik dan Akbar langsung duduk bersandar
mengumpulkan nyawa mereka.
“bentar piiiii. Neng masih ngantuk. 5 menit
lagiiii” rengek Indira tetap dengan matanya yang terpejam.
Mendengar rengekan Indira, Pak Adi mulai berbicara
yang sengaja ditujukan untuk Malik dan Akbar. Pak Adi meminta agar Malik dan Akbar
segera mandi dan makan pagi. Karena pagi ini Pak Adi akan mengajak mereka untuk
jalan-jalan berkeliling perkebunan, kemudian mampir sebentar ke makam oma dan
opa Akbar. Dan tujuan terakhirnya adalah air terjun yang letaknya tidak jauh dari
__ADS_1
area perkebunan. Pak Adi sengaja mengencangkan suaranya agar Indira yang ada
didalam selimut mendengarkan perkataannya.
Indira langsung membelalakan mata dan membuka
selimut yang melilit tubuhnya. Mengedipkan matanya berkali-kali seperti ingin
memaksa matanya agar tetap terbuka. Setelah cukup sadar,tanpa banyak kata ia langsung berdiri dan bersiap untuk lari ke kamar mandi.
Baru mau melangkahkan kaki, baju Indira ditarik
oleh Akbar hingga membuatnya terduduk kembali di kasur.
“Aku dulu yang mandi” Dengan segera Akbar berlari
menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Merasa tidak terima Indira menyusul
Akbar yang lebih dulu berlari.
Lain halnya dengan Malik. dia masih bersandar dan
mengucek matanya.
“kamu ga ikut rebutan kamar mandi juga nak??”
tanya pak Adi keheranan.
“enggak pi, ngapain. Kan di kamar Malik sama
Akbar juga ada kamar mandi” Pak Adi tersenyum melihat Malik. Tujuan Pak Adi
membawa mereka datang kesini memang ingin menyenangkan hati anak-anak itu.
Terutama Malik.
Setelah Indira, Malik dan Akbar bersiap, mereka
bertiga langsung pergi ke meja makan untuk sarapan. Berbeda dengan biasanya,
kali ini Akbar dan Indira tidak bicara sepatah kata pun dan hanya fokus
menyantap makanannya. Mereka berdua ingin segera pergi menikmati pemandangan
kebun teh dan air terjun.
sepatu dan berpamitan kepada Bu Mega dan Pak Adrian. Hari ini hanya Pak Adi,
Malik, Indira dan Akbar yang pergi. Karena Pak Adrian dan Bu Mega berencana
mengunjungi salah satu kerabat yang tidak jauh dari villa.
“Mobilnya mana pi??” Tanya Indira kebingungan.
Biasanya kalau mau pergi, mobil pasti sudah terparkir rapi di halaman villa.
Tapi kali ini dimana mobil itu??
“Kita jalan kaki dong. “ Indira langsung membuka
mulutnya mendengar jawaban dari Pak Adi. Seketika semangatnya langsung hilang begitu ia membayangkan betapa melelahkannya berjalan mengelilingi kebun teh dan air terjun. Kebun teh saja
luasnya tidak bisa Indira hitung, apalagi kalau harus pergi ke air terjun juga.
Membayangkannya saja sudah membuat kakinya terasa lemas.
“Kalo kamu ga mau jalan, dirumah aja ndi” Sahut
Malik.
“enggak. Indi tetep ikut. Enak aja kalian berdua
mau seneng-seneng tanpa aku. Pokoknya kalau nanti Indi capek, kalian berdua
harus gantian gendong loh ya. Ga mau tau”
Malik hanya berdecih kemudian menyusul Pak Adi
yang berjalan lebih dulu. Sedangkan Akbar merangkul pundak Indira.
Begitu sampai di bibir kebun, mereka semua
berhenti sejenak. Menikmati keindahan yang telah disajikan oleh Yang Maha
Kuasa. Semangat Indira, Malik dan Akbar kembali memuncak melihat hamparan warna
hijau didepan mata mereka.
__ADS_1
“gimana kalian suka??” Tanya Pak Adi yang
langsung dijawab anggukan kepala anak-anak itu
Dengan semangatnya Indira berteriak bahwa dia
sangat menyukai tempat ini. Seperti lupa dengan perkataannya tadi tentang
betapa menyedihkannya liburan tanpa mobil.
Pak Adi meminta ketiga anak itu untuk berdiri
diantara kebun teh, dia mengambil sebuah kamera yang sudah disimpan rapi dalam
ranselnya.
Tanpa berlama-lama, ketiga remaja itu langsung
berdiri di tempat yang ditunjuk papinya.
Berulang kali mereka mengabadikan momen ini
dengan pose yang berbeda-beda.
Sesuai janji Pak Adi, setelah puas berkeliling
kebun, mereka pergi ke pekuburan Oma dan Opa Akbar yang letaknya tidak jauh
dari perbatasan kebun teh.
Terlihat mereka sedang menundukkan kepala berdoa
di samping makam.
Tidak membutuhkan waktu lama, setelah berdoa dan
membersihkan rerumputan yang tumbuh tinggi disekitar makam, mereka bersiap
untuk melanjutkan perjalanan.
Tempat yang sangat ditunggu-tunggu oleh Indira.
Air Terjun
Perjalanan ke air terjun memang tidak terlalu
jauh, tapi jalan yang curam dan terjal membuat Indira sedikit kelelahan.
Tapi, letih yang di rasakan terganti oleh
kebahagiaan setelah melihat air yang berebut untuk turun dari atas bukit.
Sejuk, tenang, dan damai. Itulah yang mereka rasakan ketika berada di dekat air
terjun ini.
Sebelum mereka turun untuk bermain air, para
remaja itu mengambil beberapa foto yang bisa digunakan untuk pajangan di kamar
mereka.
Setelah puas berfoto-foto Malik dan Akbar
langsung melepas kaos mereka dan menuntun Indira untuk masuk kedalam aliran air
terjun.
Ketiga remaja ini terlihat bahagia. Siratan air
yang mereka lempar membuat tawa keluar dari bibir mereka. Sudah tidak ada air
mata. Hanya pancaran kebahagiaan yang muncul dari dalam dirinya.
Puas bermain dengan air, anak-anak itu kembali
naik keatas. Memakai handuk untuk membalut tubuh mereka yang basah. Duduk diatas
pondok. Menikmati sedikit hidangan yang mereka bawa. Menerawang melihat
keindahan yang sudah disuguhkan oleh Tuhan. Begitu Agung Kuasa-Nya
Dengan ajaib pemandangan ini membuat hati mereka
yang sedang hancur kembali merekat seperti semula. Meskipun masih ada
sayatan-sayatan kecil yang tersisa.
__ADS_1