
Hampir 10 jam didalam pesawat membuat Malik
merasa sedikit kelelahan. Yang Ia inginkan saat ini adalah segera bertemu
dengan penjual makanan. Karena perutnya sudah bergejolak minta diberi asupan.
Ia melambaikan tangan ketika melihat seorang pria
yang membawa secarik kertas bertuliskan “Welcome Mr. Malik”. Perjalanan kali
ini Malik memilih salah satu tour agent rekomendasi dari salah satu pengacara
kenalannya.
Sebelum menghubungi kontak yang tertera di kartu
nama, Ia mencari tau mengenai profil perusahaan tersebut. Ia hanya menginginkan
liburan kali ini menjadi berkesan untuknya juga Indira dan Akbar.
Malik mendorong barang bawaannya yang ternyata
cukup banyak, diikuti oleh Indira dan Akbar dibelakangnya. Ia mendatangi
seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna gelap dan dilapisi oleh
jaket parka yang cukup tebal.
“Selamat datang di Korea Selatan Mr.Malik,
perkenalkan saya adalah Kim Yoon Jae”
“Terima kasih Mr. Kim, perkenalkan mereka adalah
sahabat saya. Indira dan Akbar”
Malik segera menyambut uluran tangan pria itu dan
mulai memperkenalkan dirinya. Sekaligus memberi waktu bagi Indira dan Akbar untuk berkenalan secara
singkat. Karena sebelumnya sudah pernah berhubungan dengan Mr. Kim melalui
telepon, Malik tidak terlalu terkejut dengan kefasihan Mr. Kim dalam berbahasa
Indonesia.
“Dan perkenalkan, beliau adalah Song Ji Seok.
Driver yang akan membantu selama perjalanan kali ini. Mungkin namanya lebih
susah untuk disebut, jadi beliau lebih suka kalau dipanggil “Gisanim”. (Pak
Supir). Mari Tuan dan Nona”
Usai memperkenalkan diri masing-masing, Malik
mengikuti langkah Mr. Kim menuju van yang akan menjadi kendaraannya selama di
Korea. Malik sangat bersyukur mendapatkan pemandu wisata yang fasih berbahasa
Indonesia. Setidaknya, Ia tidak perlu repot-repot untuk berbahasa Inggris.
Karena rasa penasaran yang cukup mengganggu,
Malik memutuskan untuk menanyakan hal tersebut.
“Mr. Kim.. Mohon maaf sebelumnya kalau saya
bertanya seperti ini.”
“Ya, silahkan Tuan.”
“Apa benar Anda pemilik dari perusahaan tour agent
ini??”
“Ya benar. Tapi Anda terlalu berlebihan Tuan. Ini
bukan perusahaan, hanya sekedar usaha yang sedang berkembang” Jawab Kim Yoon
Jae merendah
“Tapi apa memang Anda selalu menjadi pemandu
seperti ini??”
“Hanya sesekali Tuan. Saya jarang bahkan hampir
tidak pernah memberikan kartu nama Saya. Jika ada yang menghubungi Saya melalui
kartu nama, itu tandanya Saya harus melayani tamu Saya secara langsung”
(Mungkin yang dimaksud adalah hanya orang penting yang bisa memiliki kartu
__ADS_1
namanya)
Setelah berbicara beberapa saat, Malik mendengar
arahan dari Kim Yoon Jae mengenai jadwalnya hari ini.
Malik sedikit lega karena ternyata hari ini
mereka akan bermalam di kota Incheon. Setidaknya, Ia bisa segera
mengistirahatkan tulang-tulangnya yang mulai memberontak. Wajahnya kembali
berbinar ketika mendengar bahwa mereka akan berhenti di salah satu restoran
terlebih dahulu.
Perutnya semakin bergejolak ketika mencium aroma
ayam goreng di rumah makan itu. Memang bukan restoran besar, tapi suasana yang
diberikan oleh restoran itu sangatlah otentik. Dindingnya dipenuhi
coretan-coretan tangan para pengunjung yang pernah menikmati makanan di tempat
itu.
Malik mengajak Kim Yoon Jae dan driver untuk ikut
makan siang bersama. Memang awalnya mendapat penolakan. Tetapi karena Malik
yang terus mendesak, merekapun mengalah dan mengikuti kemauannya.
**
Air liurnya seperti akan segera menetes saat
memandang piring yang berisi penuh dengan ayam goreng berbumbu merah itu. Tanpa
menunggu perintah dari yang lain, Indira segera menikmati hidangan
dihadapannya.
Empat potong ayam goreng beserta acarnya cukup
membuat kesadarannya kembali. Ia yang sedari tadi diam dan terlihat kurang
antusias dengan perjalannya, kini kembali menjadi Indira yang sesungguhnya.
Terlalu lama duduk di dalam pesawat membuat
potong ayam goreng itu, Indira mulai melancarkan aksinya.
“Oppa... (Sebutan Kakak dari wanita untuk pria
dalam bahasa Korea)” Ucap Indira sembari menatap Kim Yoon Jae yang sedang
berbincang dengan Malik dan Akbar
“Ya Nona??”
“Boleh Saya panggil Oppa?? Saya kurang nyaman
kalau harus memanggil Mr. Kim”
Malik dan Akbar tertawa melihat Indira yang sudah
kembali dari “pingsan”nya.
“Tentu saja. Senyaman Nona Indira saja”
“Oppa, kenapa lancar sekali pakai Bahasa
Indonesia??”
“Tentu saja lancar, Ibu saya adalah orang
Indonesia. Bandung lebih tepatnya”
“Serius??” Tanya Indira keheranan. Tidak hanya
Indira, Malik dan Akbar pun sedikit terkejut dengan fakta baru ini.
Perbincangan kembali dihebohkan dengan
keingintahuan Indira yang semakin tinggi. Ia mulai menanyakan tempat wisata apa
saja yang harus dikunjungi selama di kota Incheon, makanan khas apa saja yang
harus Ia coba dan banyak hal yang lain.
Indira juga meminta agar Ia bisa diantar ke
tempat-tempat yang sering digunakan sebagai lokasi shooting K-Drama.
__ADS_1
Kenyang benar-benar membuat Indira semangat untuk
berbicara. Tidak hentinya Ia bertanya kepada Kim Yoon Jae, hingga sang pemandu
tidak bisa menjelaskan tentang pesona kota Incheon lebih lanjut. Kim Yoon Jae
cukup kerepotan dengan menjawab semua pertanyaan dan permintaan Indira.
Indira kembali terpesona saat melihat penginapan
yang akan mereka tinggali malam ini. Ekspektasi Indira untuk menginap di hotel
mewah hilang seketika. Penginapan dihadapannya saat ini jauh melebihi apa yang
ada di bayangan Indira.
Ia tidak menyangka bisa menginap di Modern Hanok
House (Rumah semi tradisional Korea yang bangunannya didominasi oleh
kayu-kayuan).
Setelah bertanya pada Kim Yoon Jae, Indira
mendapat informasi baru. Bahwa ternyata ini bukanlah penginapan untuk banyak
orang, tapi lebih ke semacam villa yang disewakan untuk satu keluarga. Pantas
saja Ia tidak melihat ada pengunjung lain yang datang.
Indira diantar oleh seorang pegawai wanita yang
berusia sedikit lebih tua darinya. Ia mendapat kamar tidak jauh dari tempat
masuk.
Ia memandang kamarnya dengan perasaan bahagia.
Memang tidak terlalu luas, tapi kehangatan akan segera terasa ketika memasuki
ruangan ini. Dengan ranjang yang tidak terlalu tinggi, dan lantainya yang
hangat membuat Indira benar-benar seperti sedang berada di kamarnya sendiri.
Pemandangan yang terlihat di balik jendelanya
juga cukup menyejukkan. Sebuah taman kecil yang dihiasi oleh berbagai tanaman
khas musim dingin. Baru saja ingin merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi
ponselnya sudah berbunyi.
Ia membaca pesan singkat dari Malik.
“Ganti baju kamu. Aku tunggu di lobby. Kita
berendam”
Indira mengernyitkan dahinya. Bagaimana mungkin
di suhu yang sedingin ini Malik mengajaknya untuk berendam. Ia segera mengganti
bajunya dengan pakaian yang lebih santai, dan melapisinya menggunakan jaket
tebal miliknya.
Benar saja, Malik, Akbar dan Kim Yoon Jae sudah
menunggunya di depan lobby. Apa otak ketiga pria itu sudah tidak waras. Kenapa
harus berendam?? Bukankah lebih baik waktunya digunakan untuk beristirahat di
kamar??
Indira mendekati gerombolan pria itu dan mulai
bertanya.
“Kalian ga dingin?? Suhu disini 2o loh. Bisa-bisanya ngajak berendam” Gerutu Indira sembari mengaitkan tangannya
ke lengan Akbar.“Mari ikut Saya terlebih dahulu” Ujar Kim Yoon
Jae.
Indira kembali dikejutkan dengan pemandangan
dihadapannya. Begitu memasuki ruangan, Ia sudah disambut oleh kepulan asap
hangat. Ia melihat ada sebuah kolam kecil yang berisi air panas. Aroma di
ruangan itupun sangat menenangkan.
Perlahan Indira memasukkan kakinya ke dalam
__ADS_1
kolam. Menikmati kehangatan yang perlahan membuatnya merasa begitu nyaman.