Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH53- Korea


__ADS_3

Hampir 10 jam didalam pesawat membuat Malik


merasa sedikit kelelahan. Yang Ia inginkan saat ini adalah segera bertemu


dengan penjual makanan. Karena perutnya sudah bergejolak minta diberi asupan.


Ia melambaikan tangan ketika melihat seorang pria


yang membawa secarik kertas bertuliskan “Welcome Mr. Malik”. Perjalanan kali


ini Malik memilih salah satu tour agent rekomendasi dari salah satu pengacara


kenalannya.


Sebelum menghubungi kontak yang tertera di kartu


nama, Ia mencari tau mengenai profil perusahaan tersebut. Ia hanya menginginkan


liburan kali ini menjadi berkesan untuknya juga Indira dan Akbar.


Malik mendorong barang bawaannya yang ternyata


cukup banyak, diikuti oleh Indira dan Akbar dibelakangnya. Ia mendatangi


seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna gelap dan dilapisi oleh


jaket parka yang cukup tebal.


“Selamat datang di Korea Selatan Mr.Malik,


perkenalkan saya adalah Kim Yoon Jae”


“Terima kasih Mr. Kim, perkenalkan mereka adalah


sahabat saya. Indira dan Akbar”


Malik segera menyambut uluran tangan pria itu dan


mulai memperkenalkan dirinya. Sekaligus memberi waktu bagi  Indira dan Akbar untuk berkenalan secara


singkat. Karena sebelumnya sudah pernah berhubungan dengan Mr. Kim melalui


telepon, Malik tidak terlalu terkejut dengan kefasihan Mr. Kim dalam berbahasa


Indonesia.


“Dan perkenalkan, beliau adalah Song Ji Seok.


Driver yang akan membantu selama perjalanan kali ini. Mungkin namanya lebih


susah untuk disebut, jadi beliau lebih suka kalau dipanggil “Gisanim”. (Pak


Supir). Mari Tuan dan Nona”


Usai memperkenalkan diri masing-masing, Malik


mengikuti langkah Mr. Kim menuju van yang akan menjadi kendaraannya selama di


Korea. Malik sangat bersyukur mendapatkan pemandu wisata yang fasih berbahasa


Indonesia. Setidaknya, Ia tidak perlu repot-repot untuk berbahasa Inggris.


Karena rasa penasaran yang cukup mengganggu,


Malik memutuskan untuk menanyakan hal tersebut.


“Mr. Kim.. Mohon maaf sebelumnya kalau saya


bertanya seperti ini.”


“Ya, silahkan Tuan.”


“Apa benar Anda pemilik dari perusahaan tour agent


ini??”


“Ya benar. Tapi Anda terlalu berlebihan Tuan. Ini


bukan perusahaan, hanya sekedar usaha yang sedang berkembang” Jawab Kim Yoon


Jae merendah


“Tapi apa memang Anda selalu menjadi pemandu


seperti ini??”


“Hanya sesekali Tuan. Saya jarang bahkan hampir


tidak pernah memberikan kartu nama Saya. Jika ada yang menghubungi Saya melalui


kartu nama, itu tandanya Saya harus melayani tamu Saya secara langsung”


(Mungkin yang dimaksud adalah hanya orang penting yang bisa memiliki kartu

__ADS_1


namanya)


Setelah berbicara beberapa saat, Malik mendengar


arahan dari Kim Yoon Jae mengenai jadwalnya hari ini.


Malik sedikit lega karena ternyata hari ini


mereka akan bermalam di kota Incheon. Setidaknya, Ia bisa segera


mengistirahatkan tulang-tulangnya yang mulai memberontak. Wajahnya kembali


berbinar ketika mendengar bahwa mereka akan berhenti di salah satu restoran


terlebih dahulu.


Perutnya semakin bergejolak ketika mencium aroma


ayam goreng di rumah makan itu. Memang bukan restoran besar, tapi suasana yang


diberikan oleh restoran itu sangatlah otentik. Dindingnya dipenuhi


coretan-coretan tangan para pengunjung yang pernah menikmati makanan di tempat


itu.


Malik mengajak Kim Yoon Jae dan driver untuk ikut


makan siang bersama. Memang awalnya mendapat penolakan. Tetapi karena Malik


yang terus mendesak, merekapun mengalah dan mengikuti kemauannya.


**


Air liurnya seperti akan segera menetes saat


memandang piring yang berisi penuh dengan ayam goreng berbumbu merah itu. Tanpa


menunggu perintah dari yang lain, Indira segera menikmati hidangan


dihadapannya.


Empat potong ayam goreng beserta acarnya cukup


membuat kesadarannya kembali. Ia yang sedari tadi diam dan terlihat kurang


antusias dengan perjalannya, kini kembali menjadi Indira yang sesungguhnya.


Terlalu lama duduk di dalam pesawat membuat


potong ayam goreng itu, Indira mulai melancarkan aksinya.


“Oppa... (Sebutan Kakak dari wanita untuk pria


dalam bahasa Korea)” Ucap Indira sembari menatap Kim Yoon Jae yang sedang


berbincang dengan Malik dan Akbar


“Ya Nona??”


“Boleh Saya panggil Oppa?? Saya kurang nyaman


kalau harus memanggil Mr. Kim”


Malik dan Akbar tertawa melihat Indira yang sudah


kembali dari “pingsan”nya.


“Tentu saja. Senyaman Nona Indira saja”


“Oppa, kenapa lancar sekali pakai Bahasa


Indonesia??”


“Tentu saja lancar, Ibu saya adalah orang


Indonesia. Bandung lebih tepatnya”


“Serius??” Tanya Indira keheranan. Tidak hanya


Indira, Malik dan Akbar pun sedikit terkejut dengan fakta baru ini.


Perbincangan kembali dihebohkan dengan


keingintahuan Indira yang semakin tinggi. Ia mulai menanyakan tempat wisata apa


saja yang harus dikunjungi selama di kota Incheon, makanan khas apa saja yang


harus Ia coba dan banyak hal yang lain.


Indira juga meminta agar Ia bisa diantar ke


tempat-tempat yang sering digunakan sebagai lokasi shooting K-Drama.

__ADS_1


Kenyang benar-benar membuat Indira semangat untuk


berbicara. Tidak hentinya Ia bertanya kepada Kim Yoon Jae, hingga sang pemandu


tidak bisa menjelaskan tentang pesona kota Incheon lebih lanjut. Kim Yoon Jae


cukup kerepotan dengan menjawab semua pertanyaan dan permintaan Indira.


Indira kembali terpesona saat melihat penginapan


yang akan mereka tinggali malam ini. Ekspektasi Indira untuk menginap di hotel


mewah hilang seketika. Penginapan dihadapannya saat ini jauh melebihi apa yang


ada di bayangan Indira.


Ia tidak menyangka bisa menginap di Modern Hanok


House (Rumah semi tradisional Korea yang bangunannya didominasi oleh


kayu-kayuan).


Setelah bertanya pada Kim Yoon Jae, Indira


mendapat informasi baru. Bahwa ternyata ini bukanlah penginapan untuk banyak


orang, tapi lebih ke semacam villa yang disewakan untuk satu keluarga. Pantas


saja Ia tidak melihat ada pengunjung lain yang datang.


Indira diantar oleh seorang pegawai wanita yang


berusia sedikit lebih tua darinya. Ia mendapat kamar tidak jauh dari tempat


masuk.


Ia memandang kamarnya dengan perasaan bahagia.


Memang tidak terlalu luas, tapi kehangatan akan segera terasa ketika memasuki


ruangan ini. Dengan ranjang yang tidak terlalu tinggi, dan lantainya yang


hangat membuat Indira benar-benar seperti sedang berada di kamarnya sendiri.


Pemandangan yang terlihat di balik jendelanya


juga cukup menyejukkan. Sebuah taman kecil yang dihiasi oleh berbagai tanaman


khas musim dingin. Baru saja ingin merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi


ponselnya sudah berbunyi.


Ia membaca pesan singkat dari Malik.


“Ganti baju kamu. Aku tunggu di lobby. Kita


berendam”


Indira mengernyitkan dahinya. Bagaimana mungkin


di suhu yang sedingin ini Malik mengajaknya untuk berendam. Ia segera mengganti


bajunya dengan pakaian yang lebih santai, dan melapisinya menggunakan jaket


tebal miliknya.


Benar saja, Malik, Akbar dan Kim Yoon Jae sudah


menunggunya di depan lobby. Apa otak ketiga pria itu sudah tidak waras. Kenapa


harus berendam?? Bukankah lebih baik waktunya digunakan untuk beristirahat di


kamar??


Indira mendekati gerombolan pria itu dan mulai


bertanya.


“Kalian ga dingin?? Suhu disini 2o loh. Bisa-bisanya ngajak berendam” Gerutu Indira sembari mengaitkan tangannya


ke lengan Akbar.“Mari ikut Saya terlebih dahulu” Ujar Kim Yoon


Jae.


Indira kembali dikejutkan dengan pemandangan


dihadapannya. Begitu memasuki ruangan, Ia sudah disambut oleh kepulan asap


hangat. Ia melihat ada sebuah kolam kecil yang berisi air panas. Aroma di


ruangan itupun sangat menenangkan.


Perlahan Indira memasukkan kakinya ke dalam

__ADS_1


kolam. Menikmati kehangatan yang perlahan membuatnya merasa begitu nyaman.


__ADS_2