
Bandung
2007
Terlihat Akbar dan Malik sedang berdiri didepan mobil yang terparkir di teras rumah
Indira. Akbar masih tetap tampan dengan balutan seragam SMA nya. Sedangkan
Malik menggunakan celana batik dan kaos oblong putih. Meskipun menggunakan
pakaian yang terbilang santai, aura ketampanan Malik masih tetap bersinar
terang.
Hari ini adalah MOS atau masa orientasi siswa di sekolah Akbar. Malik dan Indira
memang sengaja memilih masuk ke sekolah yang sama dengan Akbar, agar mereka
bisa tetap bersama. Hari ini juga menjadi hari pertama Akbar membawa mobil ke
sekolahnya.
Indira terlihat keluar dengan pakaian yang hampir sama dengan Malik, rambutnya
dikuncir dua menggunakan pita berwarna biru. Mulutnya dipenuhi oleh roti tawar
yang sedang berusaha untuk dia kunyah. Sambil berlari, tangannya sibuk
merapikan rok batik yang sedikit kebesaran.
Melihat Indira yang hampir tersedak, Malik memasukan kepalanya kedalam kaca mobil dan
mengambilkan air mineral untuk Indira. Tanpa basa-basi gadis itu langsung
meminum setengah botol air dalam kemasan itu.
“Hahhhhh. Seret banget rotinya. Makasih ya lik. Yuk berangkat” Indira langsung berjalan
membuka pintu mobil belakang. Sementara kedua sahabatnya hanya diam melihat
tingkah Indira, seakan menunggu sebuah penjelasan.
“Udah, ayo berangkat. Mama sama papa kemarin malem pergi ke rumah nenek di Karawang gausah nungguin.
Makanya aku tadi bangun kesiangan. Ayo ah, nanti telat”.
Setelah mendapat penjelasan dari Indira, Malik dan Akbar langsung masuk ke dalam mobil
dan memposisikan dirinya masing-masing. Indira terlihat gugup, karena ini
adalah hari pertamanya sebagai siswi SMA. Berkali-kali dia menatap wajahnya di
cermin. Memastikan sudah sempurnakahpenampilannya.
Berbeda dengan Indira. Malik sedikit tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada
saat MOS nanti. Toh ketua OSIS di SMA itu adalah Akbar. Dia yakin apapun yang
terjadi, Akbar akan membelanya. Selain itu wajah tampannya membuat Malik merasa
akan aman selama MOS.
Mobil memasuki area parkir. Disana sudah banyak siswa dan siswi yang berbaris untuk
menjalani MOS. Sedangkan para kakak kelas bergerombol di ujung-ujung lapangan.
Banyak mata yang sedang memperhatikan mobil Akbar, selain karena
disekolah ini hanya 2 siswa yang membawa mobil ke sekolah. termasuk Akbar. Mereka datang 10menit lebih lambat dari yang seharusnya sudah dijadwalkan.
Ketika sudah selesai parkir, Akbar memberi sedikit peringatan kepada Malik dan Indira.
“Kalian turun dulu, 5 menit lagi aku baru nyusul. Jangan bilang kalau kalian kenal sama
aku ya” Hal inipun langsung ditolak oleh Indira.
“Ga mau. Aku gamau turun kalo ga barengan sama kamu. Bar kita ini telat. Aku sama
Malik bisa dihukum kalau kesana sendirian”
“Yang kesiangan siapa? Udah gapapa, tenang aja. Waktu rapat OSIS aku sudah
diingatkan oleh para guru kalau tahun ini tidak ada perploncoan. Nah aku pengen
__ADS_1
tau, kalau ga ada aku, temen-temen yang lain apa mau ngikutin peraturan itu.
Nanti kalau kalian berdua dihukum, aku bakalan langsung dateng. Oh ya, satu
lagi. Kalian lihat cewek cantik, yang rambutnya sebahu itu? Yang lagi berdiri
dibawah ring basket. Namanya Anggi. Dia pacar aku. Yang akur ya, Hehe. Udah sana kalian turun
dulu”
Setelah diyakinkan oleh Akbar, Indira yang semula takut menjadi sedikit lega. Malik dan
Indira berjalan ke arah barisan rapi para siswa baru. Mereka menjadi sorotan
karena datang terlambat dan tampilan wajah mereka yang luar biasa
Benar saja dugaan Akbar. Baru saja Malik dan Indira masuk kedalam barisan, langsung
ada suara lantang yang memanggil mereka berdua.
“Hei!! Itu kalian berdua yang baru datang maju kesini!!! Baru hari pertama masuk udah
bikin ulah. Kalian pikir bawa mobil ke sekolah bikin kalian terlihat keren??
Cihhh. Ayo cepat maju!!!”
Malik
dengan wajah tampannya maju dengan santai, dia semakin tenang karena melihat ternyata
yang berteriak adalah Anggi, pacarnya Akbar. Sedangkan Indira, dadanya berdegub
kencang. Pikirannya kemana-mana. Ia takut kalau sampai dihukum oleh para
seniornya.Ah apa jadinya jika seorang Indira yang selalu
menjadi gadis nomor satu dihukum didepan banyak orang.
Setelah sampai didepan barisan Anggi dan 2 orang seniornya datang menghampiri mereka.
“Kalian tau ini jam berapa?? Kalian sudah telat 15 menit!! Tau??” Suara lantang Anggi
kembali menggema di lapangan itu. Untuk MOS kali ini, para guru memang
junior.Tapi ternyata kesempatan ini malah digunakan
oleh beberapa senior untuk pamer kekuasaan.
“Saya Cuma telat 10 menit kak” Indira langsung menutup mulutnya sendiri. Seakan baru sadar
kalau perkataanya pasti membuat Anggi dan senior yang lain semakin tidak
menyukainya.Betapa bodohnya Indira. Kenapa kebiasaan sompral
nya harus keluar di saat-saat seperti ini. Indira mengutuki dirinya sendiri.
“Haha!! Kamu kalau diajak ngomong jangan ngejawab
aja. Jangan sok kecakepan kamu jadi anak!!!” Anggi mendorong bahu Indira sedikit kasar. Membuat tubuh
mungilnya terhuyung kebelakang. Dengan sigap lengan Malik berusaha menahan
pinggang Indira agar tidak terjatuh. Meskipun tatapan Malik tetap fokus ke arah
depan, tapi ternyata tangannya berhasil menahan Indira.
“Kalian saudara? Atau pacaran??” Tanya seorang senior lain yang langsung
dijawab dengan gelengan kepala Indira.
“Ayo sekarang kamu yang perempuan push up 15x!!! Kamu pikir sekolah ini cuman buat
cantik-cantikan aja apa!!” Anggi mulai berkoar kembali. Tatapan Anggi sedikit mengintimidasi sehingga membuat Indira Tanpa basa-basi langsung jongkok dan
menghadapkan tubuhnya ke tanah.
Ia sedikit menggerutu, kenapa hanya dirinya yang dihukum, sedangkan Malik masih tetap
berdiri tegak. Ahhh, mungkin karena mereka menyukai wajah tampan Malik. Tidak
heran.
Melihat Indira yang dihukum membuat Malik sedikit kesal dengan ketidak adilan para
__ADS_1
seniornya. Dia sudah mencoba untuk ikut melakukan hukuman itu, tapi tangan
seorang senior menahan lengannya.
Ketika masuk hitungan ke-empat belas, seorang pahlawan kesiangan turun dari mobil. Dengan gagahnya Akbar berjalan melewati barisan para
siswa baru.
Akbar berdiri di barisan paling depan berhadapan dengan Indira dan Malik. Menyilangkan
tangan didepan dadanya. Memberikan tatapan yang sedikit menyeramkan kepada
Indira. Seketika Indira mendongak dan menatap mata Akbar berharap segera
mendapat pertolongan.
Tanpa diduga, Akbar jongkok dan bertanya dengan sinis kepada Indira.
“Kamu kenapa dihukum? Telat?? Makanya bangun jangan kesiangan. Jadinya telat kan,
sekarang dihukum deh” Akbar mengangkat satu sisi bibirnya, tersenyum tipis.
Indira langsung menatap tajam ke arah Akbar.
Dalam hati Indira bergumam. Tunggu pembalasan
darinya. Awas saja, Indira akan membuat Akbar kesusahan hari ini.
“Buat yang lain, jangan dicontoh ya!!! Ini masih hari pertama!!! Hukuman kaya gini masih belum seberapa
dibandingkan besok!!” Anggi kembali berteriak yang disambut oleh senyuman
senior lainnya.Setelah merasa mendapat pembelaan dari Akbar,
Anggi berjalan mendekati Indira dengan sombongnya.
“Dan buat kalian para senior, ini adalah hari pertama dan terakhir kalian menghukum anak baru.” Ucap Akbar dengan nada datar membuat Anggi sedikit terkejut. Apa yang dimaksud
Akbar?? Bukankah tadi Akbar terlihat menyetujui perbuatannya. Kenapa sekarang
jadi dirinya yang kena marah?
Akbar memegang bahu Indira dan membantunya berdiri. Setelah berdiri
tegak, Langsung saja Indira melayangkan tinju dengan sisa tenaganya yang kecil ke perut Akbar. Indira
menyibirkan bibirnya kesal. Kenapa baru hitungan ke-empat belas Akbar membantu Indira. Sedangkan si korban pemukulan hanya tertawa geli melihat tingkah Indira.
“Hei kamu sudah gila ya!! Ga ada otak ya kamu!!!” Teriak Anggi marah karena melihat ketua
OSIS yang sekaligus pacarnya dipukul oleh siswi baru. Merasa tidak terima Gadis ini menarik kasar lengan Indira. Indira tidak bergeming, matanya tetap terpaku tajam pada Akbar. Tubuhnya tetap berdiri tegak
disamping sahabatnya.
Akbar langsung tersenyum manis kepada Indira. Merangkul pinggang gadis itu menggunakan
tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mengacak-acak rambut Indira yang
terkuncir rapi.
Semua mata tertuju pada Akbar dan Indira. Tak terkecuali Anggi. Banyak pertanyaan
dihati para siswa yang saat ini sedang terpapar kehangatan mentari. Siapakah
gadis itu?? Berani sekali dia memukul ketua OSIS. Ketua OSIS adalah anak
tunggal jadi tidak mungkin dia adiknya.
Melihat banyak yang sedang memperhatikan sahabatnya, Malik langsung menendang pelan
kaki Akbar. Berharap Akbar menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat
perhatian.
Akbar mulai tersenyum jahil kepada Malik, sedangkan Malik masih tetap berusaha
menyadarkan Akbar dengan menunjuk nunjuk siswa lain menggunakan kepalanya.
Anggi merasa semakin kebingungan melihat situasi ini. Siapakah anak
baru yang ada dihadapannya? Kenapa mereka berdua terlihat sudah mengenal Akbar.
Dan gadis itu?? Berani sekali dia memukul pacarnya.
__ADS_1