Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH16- Masa Orientasi Siswa


__ADS_3

Bandung


2007


Terlihat Akbar dan Malik sedang berdiri didepan mobil yang terparkir di teras rumah


Indira. Akbar masih tetap tampan dengan balutan seragam SMA nya. Sedangkan


Malik menggunakan celana batik dan kaos oblong putih. Meskipun menggunakan


pakaian yang terbilang santai, aura ketampanan Malik masih tetap bersinar


terang.


Hari ini adalah MOS atau masa orientasi siswa di sekolah Akbar. Malik dan Indira


memang sengaja memilih masuk ke sekolah yang sama dengan Akbar, agar mereka


bisa tetap bersama. Hari ini juga menjadi hari pertama Akbar membawa mobil ke


sekolahnya.


Indira terlihat keluar dengan pakaian yang hampir sama dengan Malik, rambutnya


dikuncir dua menggunakan pita berwarna biru. Mulutnya dipenuhi oleh roti tawar


yang sedang berusaha untuk dia kunyah. Sambil berlari, tangannya sibuk


merapikan rok batik yang sedikit kebesaran.


Melihat Indira yang hampir tersedak, Malik memasukan kepalanya kedalam kaca mobil dan


mengambilkan air mineral untuk Indira. Tanpa basa-basi gadis itu langsung


meminum setengah botol air dalam kemasan itu.


“Hahhhhh. Seret banget rotinya. Makasih ya lik. Yuk berangkat” Indira langsung berjalan


membuka pintu mobil belakang. Sementara kedua sahabatnya hanya diam melihat


tingkah Indira, seakan menunggu sebuah penjelasan.


“Udah, ayo berangkat. Mama sama papa kemarin malem pergi ke rumah nenek di Karawang gausah nungguin.


Makanya aku tadi bangun kesiangan. Ayo ah, nanti telat”.


Setelah mendapat penjelasan dari Indira, Malik dan Akbar langsung masuk ke dalam mobil


dan memposisikan dirinya masing-masing. Indira terlihat gugup, karena ini


adalah hari pertamanya sebagai siswi SMA. Berkali-kali dia menatap wajahnya di


cermin. Memastikan sudah sempurnakahpenampilannya.


Berbeda dengan Indira. Malik sedikit tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada


saat MOS nanti. Toh ketua OSIS di SMA itu adalah Akbar. Dia yakin apapun yang


terjadi, Akbar akan membelanya. Selain itu wajah tampannya membuat Malik merasa


akan aman selama MOS.


Mobil memasuki area parkir. Disana sudah banyak siswa dan siswi yang berbaris untuk


menjalani MOS. Sedangkan para kakak kelas bergerombol di ujung-ujung lapangan.


Banyak mata yang sedang memperhatikan mobil Akbar, selain karena


disekolah ini hanya 2 siswa yang membawa mobil ke sekolah. termasuk Akbar. Mereka datang 10menit lebih lambat dari yang seharusnya sudah dijadwalkan.


Ketika sudah selesai parkir, Akbar memberi sedikit peringatan kepada Malik dan Indira.


“Kalian turun dulu, 5 menit lagi aku baru nyusul. Jangan bilang kalau kalian kenal sama


aku ya” Hal inipun langsung ditolak oleh Indira.


“Ga mau. Aku gamau turun kalo ga barengan sama kamu. Bar kita ini telat. Aku sama


Malik bisa dihukum kalau kesana sendirian”


“Yang kesiangan siapa? Udah gapapa, tenang aja. Waktu rapat OSIS aku sudah


diingatkan oleh para guru kalau tahun ini tidak ada perploncoan. Nah aku pengen

__ADS_1


tau, kalau ga ada aku, temen-temen yang lain apa mau ngikutin peraturan itu.


Nanti kalau kalian berdua dihukum, aku bakalan langsung dateng. Oh ya, satu


lagi. Kalian lihat cewek cantik, yang rambutnya sebahu itu? Yang lagi berdiri


dibawah ring basket. Namanya Anggi. Dia pacar aku. Yang akur ya, Hehe. Udah sana kalian turun


dulu”


Setelah diyakinkan oleh Akbar, Indira yang semula takut menjadi sedikit lega. Malik dan


Indira berjalan ke arah barisan rapi para siswa baru. Mereka menjadi sorotan


karena datang terlambat dan tampilan wajah mereka yang luar biasa


Benar saja dugaan Akbar. Baru saja Malik dan Indira masuk kedalam barisan, langsung


ada suara lantang yang memanggil mereka berdua.


“Hei!! Itu kalian berdua yang baru datang maju kesini!!! Baru hari pertama masuk udah


bikin ulah. Kalian pikir bawa mobil ke sekolah bikin kalian terlihat keren??


Cihhh. Ayo cepat maju!!!”


Malik


dengan wajah tampannya maju dengan santai, dia semakin tenang karena melihat ternyata


yang berteriak adalah Anggi, pacarnya Akbar. Sedangkan Indira, dadanya berdegub


kencang. Pikirannya kemana-mana. Ia takut kalau sampai dihukum oleh para


seniornya.Ah apa jadinya jika seorang Indira yang selalu


menjadi gadis nomor satu dihukum didepan banyak orang.


Setelah sampai didepan barisan Anggi dan 2 orang seniornya datang menghampiri mereka.


“Kalian tau ini jam berapa?? Kalian sudah telat 15 menit!! Tau??” Suara lantang Anggi


kembali menggema di lapangan itu. Untuk MOS kali ini, para guru memang


junior.Tapi ternyata kesempatan ini malah digunakan


oleh beberapa senior untuk pamer kekuasaan.


“Saya Cuma telat 10 menit kak” Indira langsung menutup mulutnya sendiri. Seakan baru sadar


kalau perkataanya pasti membuat Anggi dan senior yang lain semakin tidak


menyukainya.Betapa bodohnya Indira. Kenapa kebiasaan sompral


nya harus keluar di saat-saat seperti ini. Indira mengutuki dirinya sendiri.


“Haha!! Kamu kalau diajak ngomong jangan ngejawab


aja. Jangan sok kecakepan kamu jadi anak!!!” Anggi mendorong bahu Indira sedikit kasar. Membuat tubuh


mungilnya terhuyung kebelakang. Dengan sigap lengan Malik berusaha menahan


pinggang Indira agar tidak terjatuh. Meskipun tatapan Malik tetap fokus ke arah


depan, tapi ternyata tangannya berhasil menahan Indira.


“Kalian saudara? Atau pacaran??” Tanya seorang senior lain yang langsung


dijawab dengan gelengan kepala Indira.


“Ayo sekarang kamu yang perempuan push up 15x!!! Kamu pikir sekolah ini cuman buat


cantik-cantikan aja apa!!” Anggi mulai berkoar kembali. Tatapan Anggi sedikit mengintimidasi sehingga membuat Indira Tanpa basa-basi langsung jongkok dan


menghadapkan tubuhnya ke tanah.


Ia sedikit menggerutu, kenapa hanya dirinya yang dihukum, sedangkan Malik masih tetap


berdiri tegak. Ahhh, mungkin karena mereka menyukai wajah tampan Malik. Tidak


heran.


Melihat Indira yang dihukum membuat Malik sedikit kesal dengan ketidak adilan para

__ADS_1


seniornya. Dia sudah mencoba untuk ikut melakukan hukuman itu, tapi tangan


seorang senior menahan lengannya.


Ketika masuk hitungan ke-empat belas, seorang pahlawan kesiangan turun dari mobil. Dengan gagahnya Akbar berjalan melewati barisan para


siswa baru.


Akbar berdiri di barisan paling depan berhadapan dengan Indira dan Malik. Menyilangkan


tangan didepan dadanya. Memberikan tatapan yang sedikit menyeramkan kepada


Indira. Seketika Indira mendongak dan menatap mata Akbar berharap segera


mendapat pertolongan.


Tanpa diduga, Akbar jongkok dan bertanya dengan sinis kepada Indira.


“Kamu kenapa dihukum? Telat?? Makanya bangun jangan kesiangan. Jadinya telat kan,


sekarang dihukum deh” Akbar mengangkat satu sisi bibirnya, tersenyum tipis.


Indira langsung menatap tajam ke arah Akbar.


Dalam hati Indira bergumam. Tunggu pembalasan


darinya. Awas saja, Indira akan membuat Akbar kesusahan hari ini.


“Buat yang lain, jangan dicontoh ya!!! Ini masih hari pertama!!!  Hukuman kaya gini masih belum seberapa


dibandingkan besok!!” Anggi kembali berteriak yang disambut oleh senyuman


senior lainnya.Setelah merasa mendapat pembelaan dari Akbar,


Anggi berjalan mendekati Indira dengan sombongnya.


“Dan buat kalian para senior, ini adalah hari pertama dan terakhir kalian menghukum anak baru.” Ucap Akbar dengan nada datar membuat Anggi sedikit terkejut. Apa yang dimaksud


Akbar?? Bukankah tadi Akbar terlihat menyetujui perbuatannya. Kenapa sekarang


jadi dirinya yang kena marah?


Akbar memegang bahu Indira dan membantunya berdiri. Setelah berdiri


tegak, Langsung saja Indira melayangkan tinju dengan sisa tenaganya yang kecil ke perut Akbar. Indira


menyibirkan bibirnya kesal. Kenapa baru hitungan ke-empat belas Akbar membantu Indira. Sedangkan si korban pemukulan hanya tertawa geli melihat tingkah Indira.


“Hei kamu sudah gila ya!! Ga ada otak ya kamu!!!” Teriak Anggi marah karena melihat ketua


OSIS yang sekaligus pacarnya dipukul oleh siswi baru. Merasa tidak terima Gadis ini menarik kasar lengan Indira. Indira tidak bergeming, matanya tetap terpaku tajam pada Akbar. Tubuhnya tetap berdiri tegak


disamping sahabatnya.


Akbar langsung tersenyum manis kepada Indira. Merangkul pinggang gadis itu menggunakan


tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mengacak-acak rambut Indira yang


terkuncir rapi.


Semua mata tertuju pada Akbar dan Indira. Tak terkecuali Anggi. Banyak pertanyaan


dihati para siswa yang saat ini sedang terpapar kehangatan mentari. Siapakah


gadis itu?? Berani sekali dia memukul ketua OSIS. Ketua OSIS adalah anak


tunggal jadi tidak mungkin dia adiknya.


Melihat banyak yang sedang memperhatikan sahabatnya, Malik langsung menendang pelan


kaki Akbar. Berharap Akbar menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat


perhatian.


Akbar mulai tersenyum jahil kepada Malik, sedangkan Malik masih tetap berusaha


menyadarkan Akbar dengan menunjuk nunjuk siswa lain menggunakan kepalanya.


Anggi merasa semakin kebingungan melihat situasi ini. Siapakah anak


baru yang ada dihadapannya? Kenapa mereka berdua terlihat sudah mengenal Akbar.


Dan gadis itu?? Berani sekali dia memukul pacarnya.

__ADS_1


__ADS_2