
Tok Tok Tok
Akbar berjalan perlahan ke arah pintu untuk
melihat siapa yang datang. Dengan malas dia memegang gagang pintu dan
membukanya.
“Sayang ponsel kamu kenapa mati. Kan aku
khawatir. Malik mana??”
Melihat yang datang adalah Anggi, Akbar
mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Karena terlalu sibuk dengan kondisi Malik,
Akbar lupa untuk mengabari kekasihnya. Bahkan dia juga lupa dimana meletakkan
ponselnya. Semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu, mereka memang masih
menjadi pasangan kekasih. Tetapi hubungan itu tidak seperti dahulu. Entah apa
yang dirasakan oleh Akbar hingga menciptakan pagar pembatas dengan Anggi.
Akbar mulai menanyakan keberadaan Anggi saat ini.
Bagaimana Anggi bisa tau tempat Malik dirawat saat ini. Padahal tidak ada yang
tau kecuali anggota keluarga mereka.
“Tadi pagi disekolah heboh. Katanya Malik kecelakaan
didepan sekolah. Pas aku hubungin kalian, nomornya ga ada yang aktif. Jadi aku
ke rumah kamu. Akhirnya dikasih tau sama Mbok Lastri kalau kalian ada disini.”
“Oh..” Jawab Akbar singkat.
Akbar memperhatikan gerak-gerik Anggi. Entah
mengapa, rasa sayangnya pada Anggi sudah mulai berkurang. Bahkan dia akan lebih
mudah emosi bila berdekatan dengan gadis itu. Terlihat Anggi yang memberikan
perhatian berlebih kepada Malik membuat Akbar sedikit muak. Akbar melihat
seperti tidak ada ketulusan dalam mata Anggi.
Malik masih membutuhkan istirahat yang cukup.
Karena itu Akbar memanggil Anggi agar duduk disofa bersamanya. Dia tidak ingin kehadirannya akan membuat Malik merasa tidak nyaman.
Gadis itu tidak segera menuruti apa kata Akbar.
Dia malah mendekat ke arah Indira dan mengajaknya berbincang. Membuat suasana
semakin tidak nyaman.
“Ah iya..
Indi kamu udah makan?? Kalau belum yuk cari makan sama aku”
Dengan singkat dan padat Indira menolak ajakan
Anggi untuk makan bersama.
Setelah mendapat penolakan dari Indira, Anggi
berjalan dan duduk disamping Akbar. Gadis itu menggelungkan tangannya di lengan
Akbar. Menyandarkan kepalanya dengan santai di bahu bidang Akbar. Sungguh ingin
rasanya Akbar untuk menghindar dari gadis itu. Tetapi apa daya, dia terlalu
malas untuk kembali berdebat.
Meskipun Akbar tidak berada di lokasi kejadian
tetapi dia berusaha menjawab semua pertanyaan Anggi seputar kecelakaan yang
__ADS_1
dialami oleh Malik.
Akbar merasa ada sedikit kejanggalan dengan
respon yang diberikan oleh Anggi. Sepanjang dia bercerita, Wajah gadis itu
benar-benar tidak tampak bersimpati, matanya melirik kesana kemari seperti ada
hal lain yang ada dalam pikirannya. Bahkan belum selesai bercerita, Anggi ijin
untuk pergi keluar dengan alasan ke kamar mandi. Hal ini semakin membuat Akbar
curiga, karena di dalam kamar pasien pun ada kamar mandi. Kenapa harus pergi
keluar??
Tidak berselang lama, Akbar segera membuntuti
kekasihnya. Benar saja, Anggi tidak pergi ke kamar mandi. Akbar melihat Anggi
duduk di taman dan mengeluarkan ponselnya. Meletakkan ponsel itu di telinganya,
dan berbicara sedikit berbisik. Karena rasa penasaran dalam dirinya mula
bergejolak, Akbar duduk di bangku yang membelakangi Anggi. Membuatnya mendengar
jelas apa saja yang dia katakan dengan si penerima telepon.
Mendengar apa yang Anggi bicarakan, mata Akbar
terbelalak, wajahnya pucat pasi, tangannya mengepal. Darah seperti mendidih dan
sudah berada di puncak tubuhnya.
Inikah yang sebenarnya terjadi?? Inikah wajah
asli Anggi?? 2 tahun bersama memang tidak menjamin bisa mengenal keseluruhan
sifat orang itu. Berbagai macam pikiran berputar dalam kepalanya. Membuat Akbar
benar-benar kehilangan kesabarannya. Rasanya ingin sekali Akbar menjambak
rambut gadis itu.
“Oh, jadi itu kamu??”
Anggi merasa ada yang janggal dengan cerita Akbar.
Kenapa dia seperti tidak asing dengan mobil hitam yang mencelakai Malik.
Jantungnya mulai berdebar. Perasaannya campur aduk. Benarkah itu yang terjadi??
Apakah benar orang yang ada dalam pikirannya sekarang adalah si pelaku?
Setelah berpikir sejenak, Anggi pamit untuk pergi dengan alasan
ke kamar mandi yang ada diluar kamar pasien. Dia ingin memastikan apakah benar
yang ada di pikirannya saat ini.
Dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku
taman. Bangku ini memiliki dua sisi, dan dia memilih duduk di bangku yang
menghadap ke arah taman depan. Dengan cepat tangannya mengeluarkan ponsel dan
menekan nama yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya.
“Halo. Itu kamu?”
“Apa?”
“Malik kemarin kecelakaan. Katanya yang nabrak
pake mobil warna item, ada stiker ijo di kaca depannya, terus nopol belakangnya
huruf AB. Bukannya itu mobil ayah kamu??”
“Haha, kamu telat banget taunya”
__ADS_1
“Fajar serius itu kamu yang nabrak Malik?? Kok
bisa? Ada apa?? Aku ga pernah minta kamu nyelakain dia. Aku Cuma minta kamu
bikin Indira takut. Kalo kaya gini kamu bisa masuk penjara jar”
“Cowok itu mukulin aku”
“Siapa Malik? Kenapa? Apa yang kamu lakuin sampe
kamu dipukulin Malik?? Apanya yang dipukul? Sakit?? Kok kamu gabilang sama
aku??”
“aku ngejalanin perintah kamu. Tapi ketahuan,
terus aku dihajar. Yah, itung-itung balas dendam lah. Masih hidup apa udah mati
dia?? Biar tau rasa, ini akibatnya kalau berurusan sama Fajar. Haha”
“Haha. Jadi kamu ngikutin saran aku buat perkosa
Indira? Terus kamu ketahuan?? **** banget. Tapi harusnya kamu jangan nyelakain
Malik kaya gitu. Aku gamau sahabat terbaik aku masuk penjara. Yaudah deh, nanti
aja dibahas. Aku tunggu di basecamp ya, sekalian beliin aku rokok, sama minuman
ya. Udah lama kita ga minum bareng. Hehe”
“Oh, jadi itu kamu??”
Suara khas yang begitu Anggi kenal terdengar
berat dan menyeramkan, membuat dia harus segera menutup sambungan teleponnya.
Bagaimana bisa suara yang selama ini terdengar hangat dan penuh kasih sayang
berubah menjadi menakutkan.
Dadanya benar-benar berdegub dengan kencang.
Mungkin saat ini orang lain bisa mendengar suara jantungnya. Entah apa yang
akan terjadi setelah ini. Anggi belum siap menghadapi apa yang ada
dibelakangnya.
Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk
melihat ke arah sumber suara. Dengan perlahan, ia menolehkan kepalanya dan
sedikit mengintip benarkah suara yang baru saja dia dengar.
Langitnya seakan runtuh. Benar dugaannya. Akbar
ada tepat dibelakangnya. Ekspresinya benar-benar tidak bisa ditebak. Tatapan
matanya dingin. Baru kali ini Anggi melihat Akbar semenyeramkan ini. Menatap
matanya pun Anggi tidak berani.
“emmh, ee. Akbar.. emm. Maksud kamu apa??” Anggi
memasang wajah polosnya berharap Akbar tidak mendengar perkataannya.
“gausah pura-pura bodoh. Kita putus. Jangan
ngehubungin aku lagi.”
Putus?? Sebuah kata yang paling ditakuti oleh
Anggi terngiang saat ini. Apa yang akan dia lakukan setelah ini?? Apakah
impiannya menjadi menantu keluarga kaya akan berakhir disini. Tidak seperti ini
yang dia harapkan. Kenapa rencananya menjauhkan Indira malah menjadi bumerang
untuk dirinya sendiri. Apa dia benar-benar harus kehilangan Akbar?? Ahh
__ADS_1
bagaimana dengan Fajar. Jika Akbar melaporkan kejadian ini pada polisi, pasti
namanya akan ikut terseret. Masa depannya pasti akan hancur.