Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH28- Putus


__ADS_3

Tok Tok Tok


Akbar berjalan perlahan ke arah pintu untuk


melihat siapa yang datang. Dengan malas dia memegang gagang pintu dan


membukanya.


“Sayang ponsel kamu kenapa mati. Kan aku


khawatir. Malik mana??”


Melihat yang datang adalah Anggi, Akbar


mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Karena terlalu sibuk dengan kondisi Malik,


Akbar lupa untuk mengabari kekasihnya. Bahkan dia juga lupa dimana meletakkan


ponselnya. Semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu, mereka memang masih


menjadi pasangan kekasih. Tetapi hubungan itu tidak seperti dahulu. Entah apa


yang dirasakan oleh Akbar hingga menciptakan pagar pembatas dengan Anggi.


Akbar mulai menanyakan keberadaan Anggi saat ini.


Bagaimana Anggi bisa tau tempat Malik dirawat saat ini. Padahal tidak ada yang


tau kecuali anggota keluarga mereka.


“Tadi pagi disekolah heboh. Katanya Malik kecelakaan


didepan sekolah. Pas aku hubungin kalian, nomornya ga ada yang aktif. Jadi aku


ke rumah kamu. Akhirnya dikasih tau sama Mbok Lastri kalau kalian ada disini.”


“Oh..” Jawab Akbar singkat.


Akbar memperhatikan gerak-gerik Anggi. Entah


mengapa, rasa sayangnya pada Anggi sudah mulai berkurang. Bahkan dia akan lebih


mudah emosi bila berdekatan dengan gadis itu. Terlihat Anggi yang memberikan


perhatian berlebih kepada Malik membuat Akbar sedikit muak. Akbar melihat


seperti tidak ada ketulusan dalam mata Anggi.


Malik masih membutuhkan istirahat yang cukup.


Karena itu Akbar memanggil Anggi agar duduk disofa bersamanya. Dia tidak ingin kehadirannya akan membuat Malik merasa tidak nyaman.


Gadis itu tidak segera menuruti apa kata Akbar.


Dia malah mendekat ke arah Indira dan mengajaknya berbincang. Membuat suasana


semakin tidak nyaman.


 “Ah iya..


Indi kamu udah makan?? Kalau belum yuk cari makan sama aku”


Dengan singkat dan padat Indira menolak ajakan


Anggi untuk makan bersama.


Setelah mendapat penolakan dari Indira, Anggi


berjalan dan duduk disamping Akbar. Gadis itu menggelungkan tangannya di lengan


Akbar. Menyandarkan kepalanya dengan santai di bahu bidang Akbar. Sungguh ingin


rasanya Akbar untuk menghindar dari gadis itu. Tetapi apa daya, dia terlalu


malas untuk kembali berdebat.


Meskipun Akbar tidak berada di lokasi kejadian


tetapi dia berusaha menjawab semua pertanyaan Anggi seputar kecelakaan yang

__ADS_1


dialami oleh Malik.


Akbar merasa ada sedikit kejanggalan dengan


respon yang diberikan oleh Anggi. Sepanjang dia bercerita, Wajah gadis itu


benar-benar tidak tampak bersimpati, matanya melirik kesana kemari seperti ada


hal lain yang ada dalam pikirannya. Bahkan belum selesai bercerita, Anggi ijin


untuk pergi keluar dengan alasan ke kamar mandi. Hal ini semakin membuat Akbar


curiga, karena di dalam kamar pasien pun ada kamar mandi. Kenapa harus pergi


keluar??


Tidak berselang lama, Akbar segera membuntuti


kekasihnya. Benar saja, Anggi tidak pergi ke kamar mandi. Akbar melihat Anggi


duduk di taman dan mengeluarkan ponselnya. Meletakkan ponsel itu di telinganya,


dan berbicara sedikit berbisik. Karena rasa penasaran dalam dirinya mula


bergejolak, Akbar duduk di bangku yang membelakangi Anggi. Membuatnya mendengar


jelas apa saja yang dia katakan dengan si penerima telepon.


Mendengar apa yang Anggi bicarakan, mata Akbar


terbelalak, wajahnya pucat pasi, tangannya mengepal. Darah seperti mendidih dan


sudah berada di puncak tubuhnya.


Inikah yang sebenarnya terjadi?? Inikah wajah


asli Anggi?? 2 tahun bersama memang tidak menjamin bisa mengenal keseluruhan


sifat orang itu. Berbagai macam pikiran berputar dalam kepalanya. Membuat Akbar


benar-benar kehilangan kesabarannya. Rasanya ingin sekali Akbar menjambak


rambut gadis itu.


“Oh, jadi itu kamu??”


Anggi merasa ada yang janggal dengan cerita Akbar.


Kenapa dia seperti tidak asing dengan mobil hitam yang mencelakai Malik.


Jantungnya mulai berdebar. Perasaannya campur aduk. Benarkah itu yang terjadi??


Apakah benar orang yang ada dalam pikirannya sekarang adalah si pelaku?


Setelah berpikir sejenak, Anggi pamit untuk pergi dengan alasan


ke kamar mandi yang ada diluar kamar pasien. Dia ingin memastikan apakah benar


yang ada di pikirannya saat ini.


Dia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku


taman. Bangku ini memiliki dua sisi, dan dia memilih duduk di bangku yang


menghadap ke arah taman depan. Dengan cepat tangannya mengeluarkan ponsel dan


menekan nama yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya.


“Halo. Itu kamu?”


“Apa?”


“Malik kemarin kecelakaan. Katanya yang nabrak


pake mobil warna item, ada stiker ijo di kaca depannya, terus nopol belakangnya


huruf AB. Bukannya itu mobil ayah kamu??”


“Haha, kamu telat banget taunya”

__ADS_1


“Fajar serius itu kamu yang nabrak Malik?? Kok


bisa? Ada apa?? Aku ga pernah minta kamu nyelakain dia. Aku Cuma minta kamu


bikin Indira takut. Kalo kaya gini kamu bisa masuk penjara jar”


“Cowok itu mukulin aku”


“Siapa Malik? Kenapa? Apa yang kamu lakuin sampe


kamu dipukulin Malik?? Apanya yang dipukul? Sakit?? Kok kamu gabilang sama


aku??”


“aku ngejalanin perintah kamu. Tapi ketahuan,


terus aku dihajar. Yah, itung-itung balas dendam lah. Masih hidup apa udah mati


dia?? Biar tau rasa, ini akibatnya kalau berurusan sama Fajar. Haha”


“Haha. Jadi kamu ngikutin saran aku buat perkosa


Indira? Terus kamu ketahuan?? **** banget. Tapi harusnya kamu jangan nyelakain


Malik kaya gitu. Aku gamau sahabat terbaik aku masuk penjara. Yaudah deh, nanti


aja dibahas. Aku tunggu di basecamp ya, sekalian beliin aku rokok, sama minuman


ya. Udah lama kita ga minum bareng. Hehe”


“Oh, jadi itu kamu??”


Suara khas yang begitu Anggi kenal terdengar


berat dan menyeramkan, membuat dia harus segera menutup sambungan teleponnya.


Bagaimana bisa suara yang selama ini terdengar hangat dan penuh kasih sayang


berubah menjadi menakutkan.


Dadanya benar-benar berdegub dengan kencang.


Mungkin saat ini orang lain bisa mendengar suara jantungnya. Entah apa yang


akan terjadi setelah ini. Anggi belum siap menghadapi apa yang ada


dibelakangnya.


Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk


melihat ke arah sumber suara. Dengan perlahan, ia menolehkan kepalanya dan


sedikit mengintip benarkah suara yang baru saja dia dengar.


Langitnya seakan runtuh. Benar dugaannya. Akbar


ada tepat dibelakangnya. Ekspresinya benar-benar tidak bisa ditebak. Tatapan


matanya dingin. Baru kali ini Anggi melihat Akbar semenyeramkan ini. Menatap


matanya pun Anggi tidak berani.


“emmh, ee. Akbar.. emm. Maksud kamu apa??” Anggi


memasang wajah polosnya berharap Akbar tidak mendengar perkataannya.


“gausah pura-pura bodoh. Kita putus. Jangan


ngehubungin aku lagi.”


Putus?? Sebuah kata yang paling ditakuti oleh


Anggi terngiang saat ini. Apa yang akan dia lakukan setelah ini?? Apakah


impiannya menjadi menantu keluarga kaya akan berakhir disini. Tidak seperti ini


yang dia harapkan. Kenapa rencananya menjauhkan Indira malah menjadi bumerang


untuk dirinya sendiri. Apa dia benar-benar harus kehilangan Akbar?? Ahh

__ADS_1


bagaimana dengan Fajar. Jika Akbar melaporkan kejadian ini pada polisi, pasti


namanya akan ikut terseret. Masa depannya pasti akan hancur.


__ADS_2