Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH7- Berlibur


__ADS_3

“Malik, ini bekalnya cepet masukin ke tas ya” Bu


Sri menyerahkan beberapa kotak makan berisi bekal untuk mereka bawa berlibur ke


Lembang.


“Ibuuuuukk, Indi cantik dataaaangggg” Teriakan


khas terdengar dari pintu depan kediaman Malik.


“Indi, kamu masuk rumah bukannya salam malah


teriak-teriak”


Sebenarnya Pak Adrian sedikit malu dengan tingkah


putrinya, tapi untung saja ini adalah rumah orang yang sudah mereka anggap sebagai


keluarga


“Ndi, kamu pikir suara kamu merdu teriak kaya


gitu” Malik keluar dari dapur sembari membawa tas berisi perbekalan diikuti


oleh Bu Sri


“Bodo amat lik. Meskipun suara aku cempreng gini,


tapi kamu sayang khaaan sama akuuuu” Indira mulai bergelayutan di lengan Malik


sambil mengerjapkan matanya


“hemm” kejutekan Malik mulai terdengar dan


disambut tawa oleh yang lain.


Bu Sri bertugas membawa beberapa lauk dan kue seperti


balado terong, tempe dan tahu goreng, sambal goreng kentang, kue pisang coklat


dan risoles. Sedangkan Bu Mega membawa nasi, ayam bakar, ayam goreng, lalapan


dan buah-buahan.


Sebenarnya Pak Adi sudah melarang mereka untuk


membawa bekal, karena di villa sudah ada asisten rumah tangga yang akan


melayani mereka. Tetapi Bu Sri dan Bu Mega merasa bekal yang dibawa dari rumah


ketika berlibur akan lebih nikmat.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah


minibus berkapasitas 13 orang berhenti didepan kediaman Bu Sri. Dengan cekatan


Malik dan Indira memindahkan perbekalan mereka ke bagasi mobil dibantu oleh


Akbar yang baru turun dari mobil.


Kursi depan diisi oleh supir dan Pak Adi, di


barisan kursi kedua diisi oleh Bu Sri, Bu Mega dan Pak Adrian. Sedangkan Malik,


Indira dan Akbar duduk di deretan kursi ketiga.


Suasana ceria kembali dihadirkan oleh Indira,


Akbar dan Malik


“Yeeaaaahhh, akhirnyaa kita jalan-jalaaannn.


Papi, nanti Indi mau jalan-jalan naik kuda ya pii. Terus kita ke teropong


bintang.  Terus Indira mau foto-foto


pakai kameranya Akbar deh.” Teriak Indi sambil menyunggingkan senyuman manis di


bibir mungilnya


“Kamu kampungan banget ih” sahut Malik.


“tenang ndi, Aa Akbar ganteng ini sudah

__ADS_1


menyiapkan kamera buat kita foto-foto. Terus fotonya dicetak, dipajang pakai


pigura deh” Akbar mulai memberi sebuah ide cemerlang. Mereka bertiga memang


hobi mencetak foto dan memajangnya di kamar masing-masing.


“Aa Aa apaan. Udah kebiasaan manggil kamu Akbar,


lagian umur kita Cuma beda dua tahun. Eh Bar, sebenernya nih ya kalau dilihat


lihat, kamu sama Malik itu lebih ganteng Malik tau. Cuman Malik kan gatau


caranya senyum, jadi gantengnya ilang. Hahahahahaha” ejek indi yang disahuti


oleh tawa renyah Akbar.


Sepanjang perjalanan Malik, Indira dan Akbar


bermain tebak tebakan receh seperti biasanya. Yang tidak bisa menjawab akan


mendapat sentilan di kening dari si pemberi pertanyaan. Meskipun Indira


menjuluki dirinya dengan ‘Ratu Tebakan’ tapi Indira lah yang cukup banyak menerima


sentilan di keningnya.


Setelah sampai di villa milik Pak Adi, semuanya


langsung memindahkan barang bawaan ke kamar masing-masing, dan segera kembali


untuk makan siang dengan perbekalan yang mereka bawa. Villa ini terletak di


pinggir kebun teh yang cukup luas. Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh


terlihat sangat menenangkan. Tidak heran Pak Adi ingin membawa Bu Sri ke tempat


ini untuk sekedar berlibur menenangkan pikiran agar kesehatannya segera


membaik.


Mereka makan siang di pondok yang terletak di


kebun belakang villa ini.


pisang coklat kesukaan kita lik. Terus ini ada sambal goreng kentang sama risol


kesukaan Akbar. I love you full buk. Tau banget sama kesukaan kita.” Tanpa


basa-basi Indira langsung menyantap hidangan favorite nya itu. Makan siang


sederhana kali ini membuat hubungan tiga keluarga itu menjadi semakin erat.


Setelah makan siang selesai, para orang tua masuk


ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan Malik, Indira dan Akbar


memilih untuk berjalan-jalan disekitar kebun teh dan sesekali berfoto untuk


mengabadikan momen liburan mereka. Ketika langit sudah mulai berwarna senja,


Malik dan Akbar masuk ke kamar mereka untuk mandi dan beristirahat. Sedangkan Indira


masuk kedalam kamar Bu Sri.


“ibuukkku sayaaanggg.” Indi langsung berlari naik


keatas ranjang dan memeluk pinggang Bu Sri yang sedang berbaring


“neng, kalau kaya gini nanti dikira orang kamu


itu anak ibu. Bukan anaknya Mega” ucap Bu Sri sambil mengusap kepala Indira


dengan lembut.


“Kan emang anaknya Ibuk. Hehe. Indira itu anaknya


Mama, Papa, Ibuk, sama Papi. Jadi kalau ada orang bilang Indi orang tuanya


kebanyakan, ya diiyain aja. Hehe”


“aya aya wae neng mah (ada-ada aja neng)”


senyuman tipis Bu Sri memang memberi kehangatan untuk setiap orang yang

__ADS_1


melihatnya. Bu Sri memiringkan badannya dan membalas pelukan gadis cantik itu.


“Buk, ibuk tau gak??” Tanya Indira


“apa?”


“Indi teh sayaaaangggg banget sama Ibuk. Pokoknya


nanti kalau udah kerja, Indi mau beli rumah yang besaaar buat Ibuk sama Malik.


Terus Ibuk jangan kerja lagi ya, biar Malik sama Indi yang kerja. Ibuk dirumah


aja santai-santai kaya dipantai biar ga sakit” ucap Indira sambil mengencangkan


pelukannya .


Mendengar ucapan dari Indira membuat air mata Bu


Sri mulai mengalir karena bahagia. Indira memang bukan anak kandungnya, tapi dengan


adanya Indira memberikan warna lain di kehidupan Bu Sri. Bu Sri menganggap


kehadiran Indira adalah sebagai pengganti adik Malik yang harus meregang nyawa


2 jam setelah proses kelahirannya.


“Ibuk juga sayang


sama neng.” Jawab bu Sri lirih


*********************************


Setelah makan malam selesai dan sedikit


berbincang, Bu Mega, Pak Adrian dan Pak Adi lebih memilih untuk beristirahat di


kamarnya. Sedangkan Bu Sri pergi ke kebun belakang untuk menikmati udara malam.


“Ibuk kenapa disini sendirian?” Malik tiba-tiba


datang dan memeluk Ibunya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu


ibunya. Untuk ukuran remaja kelas 2 SMP tubuh Malik memang tergolong jangkung.


“gapapa lik. Ibu Cuma pengen ngadem aja. Emm Malik…”


“Iya buk.” Malik menjawab tanpa melepas tangannya


dari perut Bu Sri


“Kamu jangan nyusahin mama, papa sama papi kamu


ya. Kamu harus nurut sama kata-kata mereka, jangan ngelawan. Sama Indi juga


jangan berantem terus, kamu sama Akbar bisa akur tapi kalau sama Indi udah kaya


mau perang. Jangan ya nak, yang sayang, yang akur sama Indi dan Akbar. Ibuk itu


bersyukur banget kamu dikelilingi orang-orang baik yang sayang sama kamu.” Lagi-lagi


air mata Bu Sri mulai menetes dan dengan segera ia menghapusnya


“Iya buk, jangan kuatir. Gini-gini Malik sayang


kok sama Indi dan Akbar”


“Hubungan kalian jangan sampai putus ya nak,


kalau bisa kamu nikah aja sama Indira.”


“hehe, ya kalau jodoh gapapa buk.” Jawab Malik sambil tersenyum karena berjodoh dengan Indira menjadi salah satu impian malik ketika dewasa nanti.


Cukup lama Malik dan Bu Sri berbincang di halaman


belakang. Sedangkan Indira dan Akbar hanya mengintip kemesraan ibu dan anak itu


dari jendela ruang tamu, sengaja tidak ingin mengganggu.


“buk, seandainya ibuk adalah maminya Akbar. Pasti


Akbar bahagia banget buk” batin Akbar


“Ibuk sehat terus ya. tunggu Indi sukses bu, Indi

__ADS_1


bakal bahagiain Ibuk. Indi sayang sama Ibuk” Indira


__ADS_2