
“Malik, ini bekalnya cepet masukin ke tas ya” Bu
Sri menyerahkan beberapa kotak makan berisi bekal untuk mereka bawa berlibur ke
Lembang.
“Ibuuuuukk, Indi cantik dataaaangggg” Teriakan
khas terdengar dari pintu depan kediaman Malik.
“Indi, kamu masuk rumah bukannya salam malah
teriak-teriak”
Sebenarnya Pak Adrian sedikit malu dengan tingkah
putrinya, tapi untung saja ini adalah rumah orang yang sudah mereka anggap sebagai
keluarga
“Ndi, kamu pikir suara kamu merdu teriak kaya
gitu” Malik keluar dari dapur sembari membawa tas berisi perbekalan diikuti
oleh Bu Sri
“Bodo amat lik. Meskipun suara aku cempreng gini,
tapi kamu sayang khaaan sama akuuuu” Indira mulai bergelayutan di lengan Malik
sambil mengerjapkan matanya
“hemm” kejutekan Malik mulai terdengar dan
disambut tawa oleh yang lain.
Bu Sri bertugas membawa beberapa lauk dan kue seperti
balado terong, tempe dan tahu goreng, sambal goreng kentang, kue pisang coklat
dan risoles. Sedangkan Bu Mega membawa nasi, ayam bakar, ayam goreng, lalapan
dan buah-buahan.
Sebenarnya Pak Adi sudah melarang mereka untuk
membawa bekal, karena di villa sudah ada asisten rumah tangga yang akan
melayani mereka. Tetapi Bu Sri dan Bu Mega merasa bekal yang dibawa dari rumah
ketika berlibur akan lebih nikmat.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya sebuah
minibus berkapasitas 13 orang berhenti didepan kediaman Bu Sri. Dengan cekatan
Malik dan Indira memindahkan perbekalan mereka ke bagasi mobil dibantu oleh
Akbar yang baru turun dari mobil.
Kursi depan diisi oleh supir dan Pak Adi, di
barisan kursi kedua diisi oleh Bu Sri, Bu Mega dan Pak Adrian. Sedangkan Malik,
Indira dan Akbar duduk di deretan kursi ketiga.
Suasana ceria kembali dihadirkan oleh Indira,
Akbar dan Malik
“Yeeaaaahhh, akhirnyaa kita jalan-jalaaannn.
Papi, nanti Indi mau jalan-jalan naik kuda ya pii. Terus kita ke teropong
bintang. Terus Indira mau foto-foto
pakai kameranya Akbar deh.” Teriak Indi sambil menyunggingkan senyuman manis di
bibir mungilnya
“Kamu kampungan banget ih” sahut Malik.
“tenang ndi, Aa Akbar ganteng ini sudah
__ADS_1
menyiapkan kamera buat kita foto-foto. Terus fotonya dicetak, dipajang pakai
pigura deh” Akbar mulai memberi sebuah ide cemerlang. Mereka bertiga memang
hobi mencetak foto dan memajangnya di kamar masing-masing.
“Aa Aa apaan. Udah kebiasaan manggil kamu Akbar,
lagian umur kita Cuma beda dua tahun. Eh Bar, sebenernya nih ya kalau dilihat
lihat, kamu sama Malik itu lebih ganteng Malik tau. Cuman Malik kan gatau
caranya senyum, jadi gantengnya ilang. Hahahahahaha” ejek indi yang disahuti
oleh tawa renyah Akbar.
Sepanjang perjalanan Malik, Indira dan Akbar
bermain tebak tebakan receh seperti biasanya. Yang tidak bisa menjawab akan
mendapat sentilan di kening dari si pemberi pertanyaan. Meskipun Indira
menjuluki dirinya dengan ‘Ratu Tebakan’ tapi Indira lah yang cukup banyak menerima
sentilan di keningnya.
Setelah sampai di villa milik Pak Adi, semuanya
langsung memindahkan barang bawaan ke kamar masing-masing, dan segera kembali
untuk makan siang dengan perbekalan yang mereka bawa. Villa ini terletak di
pinggir kebun teh yang cukup luas. Sejauh mata memandang, hamparan kebun teh
terlihat sangat menenangkan. Tidak heran Pak Adi ingin membawa Bu Sri ke tempat
ini untuk sekedar berlibur menenangkan pikiran agar kesehatannya segera
membaik.
Mereka makan siang di pondok yang terletak di
kebun belakang villa ini.
pisang coklat kesukaan kita lik. Terus ini ada sambal goreng kentang sama risol
kesukaan Akbar. I love you full buk. Tau banget sama kesukaan kita.” Tanpa
basa-basi Indira langsung menyantap hidangan favorite nya itu. Makan siang
sederhana kali ini membuat hubungan tiga keluarga itu menjadi semakin erat.
Setelah makan siang selesai, para orang tua masuk
ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sedangkan Malik, Indira dan Akbar
memilih untuk berjalan-jalan disekitar kebun teh dan sesekali berfoto untuk
mengabadikan momen liburan mereka. Ketika langit sudah mulai berwarna senja,
Malik dan Akbar masuk ke kamar mereka untuk mandi dan beristirahat. Sedangkan Indira
masuk kedalam kamar Bu Sri.
“ibuukkku sayaaanggg.” Indi langsung berlari naik
keatas ranjang dan memeluk pinggang Bu Sri yang sedang berbaring
“neng, kalau kaya gini nanti dikira orang kamu
itu anak ibu. Bukan anaknya Mega” ucap Bu Sri sambil mengusap kepala Indira
dengan lembut.
“Kan emang anaknya Ibuk. Hehe. Indira itu anaknya
Mama, Papa, Ibuk, sama Papi. Jadi kalau ada orang bilang Indi orang tuanya
kebanyakan, ya diiyain aja. Hehe”
“aya aya wae neng mah (ada-ada aja neng)”
senyuman tipis Bu Sri memang memberi kehangatan untuk setiap orang yang
__ADS_1
melihatnya. Bu Sri memiringkan badannya dan membalas pelukan gadis cantik itu.
“Buk, ibuk tau gak??” Tanya Indira
“apa?”
“Indi teh sayaaaangggg banget sama Ibuk. Pokoknya
nanti kalau udah kerja, Indi mau beli rumah yang besaaar buat Ibuk sama Malik.
Terus Ibuk jangan kerja lagi ya, biar Malik sama Indi yang kerja. Ibuk dirumah
aja santai-santai kaya dipantai biar ga sakit” ucap Indira sambil mengencangkan
pelukannya .
Mendengar ucapan dari Indira membuat air mata Bu
Sri mulai mengalir karena bahagia. Indira memang bukan anak kandungnya, tapi dengan
adanya Indira memberikan warna lain di kehidupan Bu Sri. Bu Sri menganggap
kehadiran Indira adalah sebagai pengganti adik Malik yang harus meregang nyawa
2 jam setelah proses kelahirannya.
“Ibuk juga sayang
sama neng.” Jawab bu Sri lirih
*********************************
Setelah makan malam selesai dan sedikit
berbincang, Bu Mega, Pak Adrian dan Pak Adi lebih memilih untuk beristirahat di
kamarnya. Sedangkan Bu Sri pergi ke kebun belakang untuk menikmati udara malam.
“Ibuk kenapa disini sendirian?” Malik tiba-tiba
datang dan memeluk Ibunya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu
ibunya. Untuk ukuran remaja kelas 2 SMP tubuh Malik memang tergolong jangkung.
“gapapa lik. Ibu Cuma pengen ngadem aja. Emm Malik…”
“Iya buk.” Malik menjawab tanpa melepas tangannya
dari perut Bu Sri
“Kamu jangan nyusahin mama, papa sama papi kamu
ya. Kamu harus nurut sama kata-kata mereka, jangan ngelawan. Sama Indi juga
jangan berantem terus, kamu sama Akbar bisa akur tapi kalau sama Indi udah kaya
mau perang. Jangan ya nak, yang sayang, yang akur sama Indi dan Akbar. Ibuk itu
bersyukur banget kamu dikelilingi orang-orang baik yang sayang sama kamu.” Lagi-lagi
air mata Bu Sri mulai menetes dan dengan segera ia menghapusnya
“Iya buk, jangan kuatir. Gini-gini Malik sayang
kok sama Indi dan Akbar”
“Hubungan kalian jangan sampai putus ya nak,
kalau bisa kamu nikah aja sama Indira.”
“hehe, ya kalau jodoh gapapa buk.” Jawab Malik sambil tersenyum karena berjodoh dengan Indira menjadi salah satu impian malik ketika dewasa nanti.
Cukup lama Malik dan Bu Sri berbincang di halaman
belakang. Sedangkan Indira dan Akbar hanya mengintip kemesraan ibu dan anak itu
dari jendela ruang tamu, sengaja tidak ingin mengganggu.
“buk, seandainya ibuk adalah maminya Akbar. Pasti
Akbar bahagia banget buk” batin Akbar
“Ibuk sehat terus ya. tunggu Indi sukses bu, Indi
__ADS_1
bakal bahagiain Ibuk. Indi sayang sama Ibuk” Indira