Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH32- Jessica


__ADS_3

Tok Tok Tok


Jessica, sekretaris Akbar masuk dan membawa satu piring nasi goreng dan jus jeruk untuk Indira.


Jessica tersenyum tipis ketika melihat bosnya sedang menyuapi Indira dengan kasih sayang. Bahkan


bosnya juga tidak ragu untuk mengusap bibir Indira yang kotor menggunakan


tangannya.


Dia bergumam dalam hati. Sungguh beruntung Indira karena memiliki sahabat seperti


Akbar dan Malik. Akbar, bosnya yang terkenal galak dengan bawahannya bisa


berubah begitu romantis dan hangat jika bersama dengan Indira. Ahh seandainya


saja yang sedang duduk disana adalah dirinya. Pasti hidupnya akan sangat


bahagia.


Sudah 1.5 tahun dia bekerja menjadi sekretaris Akbar. Selama itulah cintanya bertepuk


sebelah tangan. Dia hanya bisa mencintai Akbar dalam diam. Meskipun hampir


setiap hari Akbar memarahinya, tetapi perasaan itu malah semakin tumbuh.


Mungkin takdir hidupnya adalah menjadi penggemar rahasia Akbar.


Jessica tidak memiliki harapan lebih terhadap


Akbar. Dia sadar diri, bahwa dirinya jauh dari standart Akbar. Dia hanyalah


seorang gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah kontrakan kumuh. Wajahnya


memang cantik, tetapi jika dibandingkan dengan Indira, dia bukanlah apa-apa.


Indira yang cerdas, cantik, berwibawa, dan kaya tidak akan mungkin bisa ia


kalahkan.


Bahkan Indira lah yang memilih Jessica untuk


menjadi sekretaris pribadi Akbar. Semakin membuat harapan Jessica untuk dekat


dengan bosnya pupus begitu saja. Melihat Akbar dari kejauhan saja sudah cukup


baginya. Kebahagiaan dan kenyamanan Akbar ketika di kantor menjadi point utama


bagi Jessica.


“Mau sampai kapan berdiri disitu?? Bawa sini


makanannya”


“Ah. Emm. Iya pak, maaf.”


Suara dingin Akbar membuat lamunannya buyar.


Dengan sigap Jessica meletakkan nampan berisi makan siang Indira diatas meja.


Dia melihat Akbar yang mengambil makanan itu dan kembali menyuapi Indira dengan


telaten. Matanya kembali kosong, dan pikirannya kembali pada khayalan yang


sedari tadi ada dalam kepalanya.


“Jessica, kamu duduk di kursi saya. Tolong kamu


periksa berkas yang ada di meja. Itu beberapa resep baru kiriman dari pabrik


cabang. Saya tidak mau kalau ada bahan kimia di dalamnya. Pengembang, pelembut,


penguat rasa atau apapun itu. Kamu periksa dengan teliti.”


“Ba.. baik pak..”


Jessica segera duduk di kursi yang dimaksud.


Sudah lama dia bekerja di perusahaan ini, tapi inilah kali pertama dia duduk di

__ADS_1


kursi CEO. Begitu nyaman tempat ini, membuat otaknya kembali tidak bekerja. Dia


melihat keseluruhan benda yang ada di meja. Ahh, komputer ini yang selalu


dipandang. Keyboard ini yang selalu disentuh. Pena ini yang selalu digunakan


untuk menyetujui semua proyek. Benda-benda ini beruntung sekali bisa merasakan


kehangatan tangan Akbar. Seumur hidupnya, hanya sekali dia berjabat tangan


Akbar. Yaitu saat pertama kali dia masuk ke perusahaan. Selain itu mana pernah


tangannya menyentuh Akbar. Yang ada, hari-harinya hanya dipenuhi dengan omelan


Akbar padanya.


Fokusnya kembali terburai. Kini dia memperhatikan


dua foto yang tersimpan rapi didalam pigura yang bertengger di meja.


Foto Akbar, Indira dan Malik ketika menggunakan hoodie couple berwarna navy.


Dan satu lagi, foto Akbar kecil yang sedang duduk diatas pangkuan seorang


wanita paruh baya di tengah hamparan kebun teh.


Begitu hangat tatapan wanita yang ada di dalam


foto. Terlihat sekali wanita itu begitu menyayangi Akbar. Senyumnya yang tulus


menggambarkan kebaikan hatinya. Oh, mungkin saja itu ibunya. Seandainya, dia


bisa memiliki ibu mertua seperti wanita yang ada didalam foto, pasti dia akan


menjadi menantu paling bahagia di dunia. Sayang sekali Ibu bosnya itu sudah meninggal.


Gosip yang beredar di kalangan karyawan memang


menyebutkan bahwa Akbar hanya tinggal bersama bos besar dan Malik. Bahkan


ketika pidato perayaan ulang tahun perusahaan yang ke 23 pun Akbar berkata


Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba


untuk membuang semua pikiran selain pekerjaan. Dia mulai membolak-balik


beberapa berkas yang ada didepannya. Memeriksa dengan teliti setiap bahan yang


tertera. Menandai beberapa bahan yang sekiranya tidak disukai oleh bosnya.


Namun perhatiannya kembali teralih oleh suara


teriakan dari sofa yang berada di depannya. Dia melihat Indira sedang mengusap


keningnya yang memerah. Tapi kenapa dua pria itu malah tertawa bahagia melihat


Indira kesakitan. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan. Apa mereka sedang


bertengkar??


“Aaahhhh”


Suara berat Akbar menggema di ruangan itu.


Jessica semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Malik, si


pengacara tampan itu menyentil kening bosnya. Ingin sekali rasanya Jessica


berlari dan meniup kening yang memerah itu.


“hahaha. Kamu kenapa Je ngeliatinnya kaya gitu


banget??” tanya Indira


“ha? Emm.. saya kaget bu. Kalau ada hal penting yang


ingin dibicarakan, saya bisa pergi keluar dulu bu”


Karena Jessica takut kehadirannya mengganggu, dia

__ADS_1


bersiap untuk pergi. Dan merapikan beberapa berkas yang sedari tadi


mengganggunya.


“Tidak perlu. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu.


Ini kebiasaan kami dari kecil, main tebak-tebakan. Jadi diabaikan saja.” Akbar


menjelaskan dengan tatapan santai. Untuk yang pertama kalinya Akbar menatapnya


dengan hangat seperti itu..


Bermain? Ternyata bosnya yang galak itu bisa


bermain dan tertawa. Sungguh, sifatnya 180o berbeda ketika sedang


berada bersama dengan Indira dan Malik. Bahkan Malik yang pendiam dan serius


bisa tertawa seperti itu. Benar-benar kesempatan langka.Jessica kembali memusatkan pikirannya pada


tumpukan kertas di hadapannya. Dia tidak boleh lengah. Sampai saat ini dia bisa


bertahan di perusahaan karena ketelitiannya. Dia tidak ingin merusak


reputasinya sendiri.


Matanya kembali fokus pada resep yang ada di


tangannya. Memutar otaknya dengan cepat dan mengganti bahan kimia dengan bahan


alternatif lain yang lebih aman untuk dikonsumsi. Menuliskan ulang resep


kiriman dengan resep baru yang sudah direvisi.


Karena terlalu larut dalam keseriusan, dia tidak


menyadari bahwa bos yang sangat dia sukai sudah berdiri dengan tegap di


hadapannya. Berbicara dengan nada datar dan tegas.


“Mau sampai kapan kamu duduk di kursi saya??”


“Ah?? Iya pak. Maaf” Jessica segera bangkit dan


merapikan meja Akbar. Dia melihat sekeliling yang ternyata sudah sepi.


Kemanakah Indira dan Malik?? Apa sudah pergi?? Seserius itukah dirinya hingga


tidak menyadari kondisi disekitarnya.


“Kamu cari siapa?? Indira sama Malik sudah pergi


dari tadi. Mereka pamit, tapi kamu tidak mendengar” Jelas Akbar sembari duduk di


singgasananya.


“Oh iya, maaf pak. Tadi saya terlalu fokus. Saya


mulai ya pak, Ada dua resep yang menggunakan bread improver kimia, sudah saya


revisi dan tulis ulang menggunakan S500 beserta grammaturnya yang baru pak.


Untuk 1 resep lain ada indikasi plagiarisme pak. Saya sudah pernah melihat roti


yang dimaksud pada salah satu bakery di Jakarta. Yang 3 resep lain saya rasa


aman pak.” Jessica mulai menjelaskan hasil kerjanya selama duduk di kursi milik


Akbar.


“Good job. Akan saya periksa ulang. Apa dia tidak


tau saya?? Kenapa masih juga mencantumkan bahan-bahan yang saya benci. Tolong


minta head chefnya untuk temui saya besok ya. Untuk revisi resep. Saya tidak


mau ada kesalahan resep seperti 4 bulan yang lalu.”


“Baik Pak.”

__ADS_1


__ADS_2