
Tok Tok Tok
Jessica, sekretaris Akbar masuk dan membawa satu piring nasi goreng dan jus jeruk untuk Indira.
Jessica tersenyum tipis ketika melihat bosnya sedang menyuapi Indira dengan kasih sayang. Bahkan
bosnya juga tidak ragu untuk mengusap bibir Indira yang kotor menggunakan
tangannya.
Dia bergumam dalam hati. Sungguh beruntung Indira karena memiliki sahabat seperti
Akbar dan Malik. Akbar, bosnya yang terkenal galak dengan bawahannya bisa
berubah begitu romantis dan hangat jika bersama dengan Indira. Ahh seandainya
saja yang sedang duduk disana adalah dirinya. Pasti hidupnya akan sangat
bahagia.
Sudah 1.5 tahun dia bekerja menjadi sekretaris Akbar. Selama itulah cintanya bertepuk
sebelah tangan. Dia hanya bisa mencintai Akbar dalam diam. Meskipun hampir
setiap hari Akbar memarahinya, tetapi perasaan itu malah semakin tumbuh.
Mungkin takdir hidupnya adalah menjadi penggemar rahasia Akbar.
Jessica tidak memiliki harapan lebih terhadap
Akbar. Dia sadar diri, bahwa dirinya jauh dari standart Akbar. Dia hanyalah
seorang gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah kontrakan kumuh. Wajahnya
memang cantik, tetapi jika dibandingkan dengan Indira, dia bukanlah apa-apa.
Indira yang cerdas, cantik, berwibawa, dan kaya tidak akan mungkin bisa ia
kalahkan.
Bahkan Indira lah yang memilih Jessica untuk
menjadi sekretaris pribadi Akbar. Semakin membuat harapan Jessica untuk dekat
dengan bosnya pupus begitu saja. Melihat Akbar dari kejauhan saja sudah cukup
baginya. Kebahagiaan dan kenyamanan Akbar ketika di kantor menjadi point utama
bagi Jessica.
“Mau sampai kapan berdiri disitu?? Bawa sini
makanannya”
“Ah. Emm. Iya pak, maaf.”
Suara dingin Akbar membuat lamunannya buyar.
Dengan sigap Jessica meletakkan nampan berisi makan siang Indira diatas meja.
Dia melihat Akbar yang mengambil makanan itu dan kembali menyuapi Indira dengan
telaten. Matanya kembali kosong, dan pikirannya kembali pada khayalan yang
sedari tadi ada dalam kepalanya.
“Jessica, kamu duduk di kursi saya. Tolong kamu
periksa berkas yang ada di meja. Itu beberapa resep baru kiriman dari pabrik
cabang. Saya tidak mau kalau ada bahan kimia di dalamnya. Pengembang, pelembut,
penguat rasa atau apapun itu. Kamu periksa dengan teliti.”
“Ba.. baik pak..”
Jessica segera duduk di kursi yang dimaksud.
Sudah lama dia bekerja di perusahaan ini, tapi inilah kali pertama dia duduk di
__ADS_1
kursi CEO. Begitu nyaman tempat ini, membuat otaknya kembali tidak bekerja. Dia
melihat keseluruhan benda yang ada di meja. Ahh, komputer ini yang selalu
dipandang. Keyboard ini yang selalu disentuh. Pena ini yang selalu digunakan
untuk menyetujui semua proyek. Benda-benda ini beruntung sekali bisa merasakan
kehangatan tangan Akbar. Seumur hidupnya, hanya sekali dia berjabat tangan
Akbar. Yaitu saat pertama kali dia masuk ke perusahaan. Selain itu mana pernah
tangannya menyentuh Akbar. Yang ada, hari-harinya hanya dipenuhi dengan omelan
Akbar padanya.
Fokusnya kembali terburai. Kini dia memperhatikan
dua foto yang tersimpan rapi didalam pigura yang bertengger di meja.
Foto Akbar, Indira dan Malik ketika menggunakan hoodie couple berwarna navy.
Dan satu lagi, foto Akbar kecil yang sedang duduk diatas pangkuan seorang
wanita paruh baya di tengah hamparan kebun teh.
Begitu hangat tatapan wanita yang ada di dalam
foto. Terlihat sekali wanita itu begitu menyayangi Akbar. Senyumnya yang tulus
menggambarkan kebaikan hatinya. Oh, mungkin saja itu ibunya. Seandainya, dia
bisa memiliki ibu mertua seperti wanita yang ada didalam foto, pasti dia akan
menjadi menantu paling bahagia di dunia. Sayang sekali Ibu bosnya itu sudah meninggal.
Gosip yang beredar di kalangan karyawan memang
menyebutkan bahwa Akbar hanya tinggal bersama bos besar dan Malik. Bahkan
ketika pidato perayaan ulang tahun perusahaan yang ke 23 pun Akbar berkata
Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba
untuk membuang semua pikiran selain pekerjaan. Dia mulai membolak-balik
beberapa berkas yang ada didepannya. Memeriksa dengan teliti setiap bahan yang
tertera. Menandai beberapa bahan yang sekiranya tidak disukai oleh bosnya.
Namun perhatiannya kembali teralih oleh suara
teriakan dari sofa yang berada di depannya. Dia melihat Indira sedang mengusap
keningnya yang memerah. Tapi kenapa dua pria itu malah tertawa bahagia melihat
Indira kesakitan. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan. Apa mereka sedang
bertengkar??
“Aaahhhh”
Suara berat Akbar menggema di ruangan itu.
Jessica semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa Malik, si
pengacara tampan itu menyentil kening bosnya. Ingin sekali rasanya Jessica
berlari dan meniup kening yang memerah itu.
“hahaha. Kamu kenapa Je ngeliatinnya kaya gitu
banget??” tanya Indira
“ha? Emm.. saya kaget bu. Kalau ada hal penting yang
ingin dibicarakan, saya bisa pergi keluar dulu bu”
Karena Jessica takut kehadirannya mengganggu, dia
__ADS_1
bersiap untuk pergi. Dan merapikan beberapa berkas yang sedari tadi
mengganggunya.
“Tidak perlu. Kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu.
Ini kebiasaan kami dari kecil, main tebak-tebakan. Jadi diabaikan saja.” Akbar
menjelaskan dengan tatapan santai. Untuk yang pertama kalinya Akbar menatapnya
dengan hangat seperti itu..
Bermain? Ternyata bosnya yang galak itu bisa
bermain dan tertawa. Sungguh, sifatnya 180o berbeda ketika sedang
berada bersama dengan Indira dan Malik. Bahkan Malik yang pendiam dan serius
bisa tertawa seperti itu. Benar-benar kesempatan langka.Jessica kembali memusatkan pikirannya pada
tumpukan kertas di hadapannya. Dia tidak boleh lengah. Sampai saat ini dia bisa
bertahan di perusahaan karena ketelitiannya. Dia tidak ingin merusak
reputasinya sendiri.
Matanya kembali fokus pada resep yang ada di
tangannya. Memutar otaknya dengan cepat dan mengganti bahan kimia dengan bahan
alternatif lain yang lebih aman untuk dikonsumsi. Menuliskan ulang resep
kiriman dengan resep baru yang sudah direvisi.
Karena terlalu larut dalam keseriusan, dia tidak
menyadari bahwa bos yang sangat dia sukai sudah berdiri dengan tegap di
hadapannya. Berbicara dengan nada datar dan tegas.
“Mau sampai kapan kamu duduk di kursi saya??”
“Ah?? Iya pak. Maaf” Jessica segera bangkit dan
merapikan meja Akbar. Dia melihat sekeliling yang ternyata sudah sepi.
Kemanakah Indira dan Malik?? Apa sudah pergi?? Seserius itukah dirinya hingga
tidak menyadari kondisi disekitarnya.
“Kamu cari siapa?? Indira sama Malik sudah pergi
dari tadi. Mereka pamit, tapi kamu tidak mendengar” Jelas Akbar sembari duduk di
singgasananya.
“Oh iya, maaf pak. Tadi saya terlalu fokus. Saya
mulai ya pak, Ada dua resep yang menggunakan bread improver kimia, sudah saya
revisi dan tulis ulang menggunakan S500 beserta grammaturnya yang baru pak.
Untuk 1 resep lain ada indikasi plagiarisme pak. Saya sudah pernah melihat roti
yang dimaksud pada salah satu bakery di Jakarta. Yang 3 resep lain saya rasa
aman pak.” Jessica mulai menjelaskan hasil kerjanya selama duduk di kursi milik
Akbar.
“Good job. Akan saya periksa ulang. Apa dia tidak
tau saya?? Kenapa masih juga mencantumkan bahan-bahan yang saya benci. Tolong
minta head chefnya untuk temui saya besok ya. Untuk revisi resep. Saya tidak
mau ada kesalahan resep seperti 4 bulan yang lalu.”
“Baik Pak.”
__ADS_1