Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH50- Kami Akan Menikahkan Kalian


__ADS_3

Indira segera berlari ke arah Renata yang sedang merentangkan tangannya lebar. Tanpa


menunggu perintah, Indira segera memeluk sahabatnya dengan posesif.


Setelah sekian lama berpisah, akhirnya Indira bisa bertemu dengan satu-satunya sahabat


wanita yang Ia miliki. Selepas kepergian Renata, Indira hanya bisa


berkomunikasi melalui media sosial. Itupun hanya sekedar bertanya kabar, karena


mereka sudah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.


Indira menggoyang-goyangkan tubuh Renata yang ada dalam pelukannya. Melepaskan semua


kerinduan yang selama ini Ia rasakan.


“Kok ga bilang kalau di Bandung. Emmmhh.. Aku kangeeeen bangeeet.”


Indira semakin mengencangkan pelukannya, seakan tidak ingin kehilangan Renata lagi.


Sementara Renata tersenyum kecut sembari berulang kali menepuk pundak Indira.


“Ndi.. Emhh. Ad.. duh.. Lep.. Pasin.. Ga.. bisa.. napas..” Ucap Renata dengan napasnya


yang tersengal.


Menyadari perkataan Renata, Indira segera melepas pelukannya dan beralih ke wajah


sahabatnya itu. Memeriksa setiap inci dari tubuh Renata.


“Kamu kapan dateng? Kenapa akhir-akhir ini jarang baca chat Aku??”


“Seminggu yang lalu. Maaf ya, soalnya aku lagi sibuk banget Ndi. Sekarang aku tinggal di


Bandung lagi kok. Dan..”


“Dan apa??”


“Aku kerja di tempat Malik” Ucap Renata antusias.


Sebelum Indira merespon perkataan Renata, Pak Adrian sudah menghentikan mereka. Dan


meminta agar makan malam dilaksanakan terlebih dahulu.


Selama makan malam pun Indira hanya terfokus pada Renata. Tanpa menghiraukan anggota


keluarga yang lain. Termasuk Akbar. Indira benar-benar melupakan kehadiran


tunangannya yang sedari tadi ada disampingnya. Jangankan berbicara , melihat


wajahnya pun tidak. Bahkan Indira tidak memberikan waktu bagi Renata untuk


sekedar menyapa Akbar. Indira terlalu bahagia dengan kehadiran sahabat lamanya.


Usai makan malam, Indira merengek meminta Renata agar menginap di rumahnya malam


ini. Karena sama-sama merasa banyak yang ingin diceritakan, Renata pun


menyetujui permintaan Indira.


Begitu memasuki kamar Indira, Renata membuka


matanya lebar ketika melihat gaun yang terpajang di dalam kamarnya. Sejurus


kemudian, Indira menggoyangkan tubuh Renata dan memintanya untuk mulai


bercerita.


Indira mendengarkan dengan seksama semua cerita Renata. Mulai dari kisahnya yang


terpaksa pindah keluar kota, pendidikan hukumnya yang memakan waktu sedikit


lebih lama, beberapa mantan kekasihnya, hingga proses Ia kembali ke Kota

__ADS_1


Bandung tercinta dan bertemu dengan Malik.


Setelah puas mendengar curahan hati Renata, kini giliran Indira yang berceloteh. Indira


terbahak-bahak melihat reaksi Renata yang terkejut ketika mendengar bahwa saat


ini Ia adalah tunangan Akbar, si Ketua OSIS.


Indira dan Renata kembali tertawa ketika mengingat bahwa Renata adalah salah satu


penggemar berat Akbar sejak awal masuk SMA. Indira semakin terbahak ketika


mendengar pengakuan Renata bahwa alasan utama Renata berteman dengan Indira


hanya sekedar ingin mendapatkan informasi tentang Akbar.


“Aku pikir kamu nikahnya sama Malik, ternyata eh ternyata.. Ndi, seriusan. Kalau kamu nikah sama Aa Akbar, itu


bakalan jadi hari patah hati sedunia tau ga. Hahahaha”


“Wkw lebay ah. Emm.. Eh Ren, Kamu kan jomblo. Gimana kalau Aku jodohin sama Malik??”


Mulut Renata kembali ternganga mendengar ucapan Indira. Dengan segera Renata


menggelengkan kepalanya dan menolak ide gila yang diberikan oleh Indira.


Menurut Indira, bukanlah ide yang buruk untuk menjodohkan Renata dengan Malik. Renata


adalah wanita yang cantik, baik, penyayang dan pekerja keras. Meskipun dulu


seorang “playgirl”, tapi Indira yakin Renata bisa menjadi istri yang


baik untuk Malik kelak.


Indira merasa bahwa ini adalah cara yang tepat agar Ia dan Malik bisa saling


melupakan. Mencari cinta baru untuk melupakan cinta lama, memang sedikit klasik.


Tapi cara ini masih efektif bagi banyak orang. Dan Indira ingin mencobanya.


sembunyikan adalah perasaannya kepada Malik. Ia tidak ingin jika hal itu


nantinya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


***


Mereka yang “ditinggalkan” oleh Indira sedang berkumpul di ruang keluarga. Sekedar


minum teh dan makan cemilan bersama.


“Akbar, Papa mau bicara sama Kamu.” Akbar yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya


terkejut mendengar suara Pak Adrian yang cukup serius. Tidak hanya Akbar, Malik


dan Bu Mega pun ikut mendengarkan.


“Papa dan Mama sudah berunding dengan Papi Kamu. Kamu dan Indira sudah cukup dewasa


dan matang. Kami para orang tua, tidak ingin mendengar omongan buruk dari orang


lain mengenai hubungan kalian. Jadi Kami sudah memutuskan, 6 bulan dari


sekarang Kami akan menikahkan kalian.”


“Apa Pa?? 6 bulan??” Tanya Akbar terkejut.


 “Iya. Kenapa? Apa Kamu belum siap??”


“Bu.. Bukan begitu Pa. Akbar Cuma kaget. Akbar siap kok. Menikah besok juga siap.


Hehe.”


Setelah memberikan persetujuan untuk tanggal

__ADS_1


pernikahannya, Akbar mulai memainkan ponselnya. Dibantu oleh Malik, Ia mulai


mencatat keperluan untuk pernikahan. Sebenarnya Akbar ingin melaksanakan acara


pertunangan lebih dulu. Tetapi hal itu segera ditolak oleh Bu Mega dengan


alasan keluarga masing-masing sudah saling mengenal dan terlalu menghamburkan uang.


Ingin sekali rasanya Akbar berlari kedalam kamar


Indira dan menyampaikan berita bahagia ini. Tapi sayangnya ada Renata yang


sedang menginap disana.


Akbarpun memutuskan untuk mengakhiri hari ini dan


segera pulang ke rumahnya. Ia berniat untuk memberikan daftar rincian hal-hal


yang diperlukan saat pernikahan kepada Indira esok hari.


***


Indira mengenakan kulot berwarna crem dan atasan


berwarna merah muda. Wajahnya hanya dipoles menggunakan bedak dan lipstik.


Sementara mata polosnya, Ia sembunyikan dibalik kacamata bulatnya. Rambutnya


yang biasanya terurai rapi, kini hanya diikat sembarangan.


Karena terlalu asik berbincang dengan Renata


semalam, hari ini Ia bangun sedikit terlambat. Bahkan Ia hanya sempat memakan


sepotong roti karena Akbar sudah menjemputnya.


Bergantian mencium punggung tangan orang tuanya,


kemudian mencium pipi Renata sebagai salam perpisahan hari ini. Sedikit berlari


sembari membenarkan high heelsnya. Saat sudah diambang pintu, Indira menoleh


dan kembali ke ruang tamu. Ia mengacak rambut Malik yang sudah tersisir dengan


rapi.


“Lupa belum pamitan sama kamu. Hehe. Semuanya,


Neng sama Akbar berangkat dulu ya.. Bye..”


Indira melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.


Didalam mobil, Ia mengeluarkan beberapa lembar


kertas dari dalam map. Membacanya dengan sangat teliti. Lagi-lagi karena


perbincangannya dengan Renata semalam, membuat Indira melupakan beberapa hal


yang harus Ia pelajari sebelum rapat pagi ini.


Ia harus menghadiri rapat bersama dengan direktur


sebuah perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Dilema dengan apa yang


harus Ia lakukan. Antara membaca materi atau memoles wajahnya yang polos. Jika


tidak mempelajari materinya, bisa-bisa Indira mengambil keputusan yang


salah dalam rapat kali ini. Tetapi Dia juga tidak mungkin menghadiri rapat


penting hanya dengan menggunakan lipstik saja diwajahnya.


Berulang kali Ia memindahkan pandangannya dari

__ADS_1


kertas-kertas itu ke wajahnya. Hingga Ia tidak menyadari bahwa mobil sudah


berhenti sedari tadi.


__ADS_2