
Indira segera berlari ke arah Renata yang sedang merentangkan tangannya lebar. Tanpa
menunggu perintah, Indira segera memeluk sahabatnya dengan posesif.
Setelah sekian lama berpisah, akhirnya Indira bisa bertemu dengan satu-satunya sahabat
wanita yang Ia miliki. Selepas kepergian Renata, Indira hanya bisa
berkomunikasi melalui media sosial. Itupun hanya sekedar bertanya kabar, karena
mereka sudah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Indira menggoyang-goyangkan tubuh Renata yang ada dalam pelukannya. Melepaskan semua
kerinduan yang selama ini Ia rasakan.
“Kok ga bilang kalau di Bandung. Emmmhh.. Aku kangeeeen bangeeet.”
Indira semakin mengencangkan pelukannya, seakan tidak ingin kehilangan Renata lagi.
Sementara Renata tersenyum kecut sembari berulang kali menepuk pundak Indira.
“Ndi.. Emhh. Ad.. duh.. Lep.. Pasin.. Ga.. bisa.. napas..” Ucap Renata dengan napasnya
yang tersengal.
Menyadari perkataan Renata, Indira segera melepas pelukannya dan beralih ke wajah
sahabatnya itu. Memeriksa setiap inci dari tubuh Renata.
“Kamu kapan dateng? Kenapa akhir-akhir ini jarang baca chat Aku??”
“Seminggu yang lalu. Maaf ya, soalnya aku lagi sibuk banget Ndi. Sekarang aku tinggal di
Bandung lagi kok. Dan..”
“Dan apa??”
“Aku kerja di tempat Malik” Ucap Renata antusias.
Sebelum Indira merespon perkataan Renata, Pak Adrian sudah menghentikan mereka. Dan
meminta agar makan malam dilaksanakan terlebih dahulu.
Selama makan malam pun Indira hanya terfokus pada Renata. Tanpa menghiraukan anggota
keluarga yang lain. Termasuk Akbar. Indira benar-benar melupakan kehadiran
tunangannya yang sedari tadi ada disampingnya. Jangankan berbicara , melihat
wajahnya pun tidak. Bahkan Indira tidak memberikan waktu bagi Renata untuk
sekedar menyapa Akbar. Indira terlalu bahagia dengan kehadiran sahabat lamanya.
Usai makan malam, Indira merengek meminta Renata agar menginap di rumahnya malam
ini. Karena sama-sama merasa banyak yang ingin diceritakan, Renata pun
menyetujui permintaan Indira.
Begitu memasuki kamar Indira, Renata membuka
matanya lebar ketika melihat gaun yang terpajang di dalam kamarnya. Sejurus
kemudian, Indira menggoyangkan tubuh Renata dan memintanya untuk mulai
bercerita.
Indira mendengarkan dengan seksama semua cerita Renata. Mulai dari kisahnya yang
terpaksa pindah keluar kota, pendidikan hukumnya yang memakan waktu sedikit
lebih lama, beberapa mantan kekasihnya, hingga proses Ia kembali ke Kota
__ADS_1
Bandung tercinta dan bertemu dengan Malik.
Setelah puas mendengar curahan hati Renata, kini giliran Indira yang berceloteh. Indira
terbahak-bahak melihat reaksi Renata yang terkejut ketika mendengar bahwa saat
ini Ia adalah tunangan Akbar, si Ketua OSIS.
Indira dan Renata kembali tertawa ketika mengingat bahwa Renata adalah salah satu
penggemar berat Akbar sejak awal masuk SMA. Indira semakin terbahak ketika
mendengar pengakuan Renata bahwa alasan utama Renata berteman dengan Indira
hanya sekedar ingin mendapatkan informasi tentang Akbar.
“Aku pikir kamu nikahnya sama Malik, ternyata eh ternyata.. Ndi, seriusan. Kalau kamu nikah sama Aa Akbar, itu
bakalan jadi hari patah hati sedunia tau ga. Hahahaha”
“Wkw lebay ah. Emm.. Eh Ren, Kamu kan jomblo. Gimana kalau Aku jodohin sama Malik??”
Mulut Renata kembali ternganga mendengar ucapan Indira. Dengan segera Renata
menggelengkan kepalanya dan menolak ide gila yang diberikan oleh Indira.
Menurut Indira, bukanlah ide yang buruk untuk menjodohkan Renata dengan Malik. Renata
adalah wanita yang cantik, baik, penyayang dan pekerja keras. Meskipun dulu
seorang “playgirl”, tapi Indira yakin Renata bisa menjadi istri yang
baik untuk Malik kelak.
Indira merasa bahwa ini adalah cara yang tepat agar Ia dan Malik bisa saling
melupakan. Mencari cinta baru untuk melupakan cinta lama, memang sedikit klasik.
Tapi cara ini masih efektif bagi banyak orang. Dan Indira ingin mencobanya.
sembunyikan adalah perasaannya kepada Malik. Ia tidak ingin jika hal itu
nantinya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
***
Mereka yang “ditinggalkan” oleh Indira sedang berkumpul di ruang keluarga. Sekedar
minum teh dan makan cemilan bersama.
“Akbar, Papa mau bicara sama Kamu.” Akbar yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya
terkejut mendengar suara Pak Adrian yang cukup serius. Tidak hanya Akbar, Malik
dan Bu Mega pun ikut mendengarkan.
“Papa dan Mama sudah berunding dengan Papi Kamu. Kamu dan Indira sudah cukup dewasa
dan matang. Kami para orang tua, tidak ingin mendengar omongan buruk dari orang
lain mengenai hubungan kalian. Jadi Kami sudah memutuskan, 6 bulan dari
sekarang Kami akan menikahkan kalian.”
“Apa Pa?? 6 bulan??” Tanya Akbar terkejut.
“Iya. Kenapa? Apa Kamu belum siap??”
“Bu.. Bukan begitu Pa. Akbar Cuma kaget. Akbar siap kok. Menikah besok juga siap.
Hehe.”
Setelah memberikan persetujuan untuk tanggal
__ADS_1
pernikahannya, Akbar mulai memainkan ponselnya. Dibantu oleh Malik, Ia mulai
mencatat keperluan untuk pernikahan. Sebenarnya Akbar ingin melaksanakan acara
pertunangan lebih dulu. Tetapi hal itu segera ditolak oleh Bu Mega dengan
alasan keluarga masing-masing sudah saling mengenal dan terlalu menghamburkan uang.
Ingin sekali rasanya Akbar berlari kedalam kamar
Indira dan menyampaikan berita bahagia ini. Tapi sayangnya ada Renata yang
sedang menginap disana.
Akbarpun memutuskan untuk mengakhiri hari ini dan
segera pulang ke rumahnya. Ia berniat untuk memberikan daftar rincian hal-hal
yang diperlukan saat pernikahan kepada Indira esok hari.
***
Indira mengenakan kulot berwarna crem dan atasan
berwarna merah muda. Wajahnya hanya dipoles menggunakan bedak dan lipstik.
Sementara mata polosnya, Ia sembunyikan dibalik kacamata bulatnya. Rambutnya
yang biasanya terurai rapi, kini hanya diikat sembarangan.
Karena terlalu asik berbincang dengan Renata
semalam, hari ini Ia bangun sedikit terlambat. Bahkan Ia hanya sempat memakan
sepotong roti karena Akbar sudah menjemputnya.
Bergantian mencium punggung tangan orang tuanya,
kemudian mencium pipi Renata sebagai salam perpisahan hari ini. Sedikit berlari
sembari membenarkan high heelsnya. Saat sudah diambang pintu, Indira menoleh
dan kembali ke ruang tamu. Ia mengacak rambut Malik yang sudah tersisir dengan
rapi.
“Lupa belum pamitan sama kamu. Hehe. Semuanya,
Neng sama Akbar berangkat dulu ya.. Bye..”
Indira melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.
Didalam mobil, Ia mengeluarkan beberapa lembar
kertas dari dalam map. Membacanya dengan sangat teliti. Lagi-lagi karena
perbincangannya dengan Renata semalam, membuat Indira melupakan beberapa hal
yang harus Ia pelajari sebelum rapat pagi ini.
Ia harus menghadiri rapat bersama dengan direktur
sebuah perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Dilema dengan apa yang
harus Ia lakukan. Antara membaca materi atau memoles wajahnya yang polos. Jika
tidak mempelajari materinya, bisa-bisa Indira mengambil keputusan yang
salah dalam rapat kali ini. Tetapi Dia juga tidak mungkin menghadiri rapat
penting hanya dengan menggunakan lipstik saja diwajahnya.
Berulang kali Ia memindahkan pandangannya dari
__ADS_1
kertas-kertas itu ke wajahnya. Hingga Ia tidak menyadari bahwa mobil sudah
berhenti sedari tadi.