Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH22- Apa Kabar Bu??


__ADS_3

Semenjak menjadi kekasih Fajar,  jam istirahat lebih banyak dihabiskan Indira


untuk bertelepon. Tidak butuh waktu lama bagi Fajar untuk menjadikan Indira


sebagai kekasihnya. Hanya beberapa kali kencan saja Indira sudah mau diajak


berpacaran. Sebenarnya Malik dan Akbar sedikit kurang setuju jika Indira


menjalin hubungan dengan Fajar. Tapi mau bagaimana lagi, gadis cerewet itu


merengek setiap hari agar mendapat restu mereka.


Hari demi hari dilewati Indira dengan bertelepon.


Membuat Malik sedikit kesepian ketika di sekolah. Bagaimana tidak, Akbar sudah


sibuk dengan Anggi. Dan sekarang, Indira juga tidak berhenti menempel dengan


telepon genggamnya yang teruhubung pada Fajar. Memang Malik memiliki banyak


teman, tapi rasanya kurang kalau harus bermain tanpa Indira dan Akbar.


Siang itu, Malik makan beberapa potong roti dan


susu bersama Indira yang masih berkutat dengan handphone nya. Ada beberapa


siswa yang ingin ikut bergabung dengan makan siang itu. Tapi melihat raut wajah


Malik yang sedikit kesal membuat para siswa itu mengurungkan niatnya.


Malik melakukan berbagai macam cara untuk menarik


perhatian Indira. Tapi sekalipun gadis itu tidak mendengar apa yang diucapkan


oleh Malik. Seperti mendapat kiriman energi dari surga, otak Malik bersinar


mengeluarkan ide yang pasti akan membuat Indira memperhatikan dirinya.


“Nanti aku mau ke tempat Ibuk” Sengaja Malik


mengatakan hal itu dengan wajah muram dan nada datar.


Benar saja, Indira langsung berpamitan kepada


Fajar untuk menutup teleponnya, sekaligus meminta ijin bahwa hari ini dia akan


pergi ke suatu tempat bersama Malik. setelah mendapatkan ijin, dia langsung


menutup teleponnya dan menatap ke arah Malik dengan tajam.


“Aku ikut”


“Apa??”


“ke tempat Ibuk. Aku kangen banget sama Ibuk.


Udah lama kita ga kesana” Malik tersenyum seperti sedang memperoleh kemenangan.


Ternyata cara yang dia gunakan berhasil. Tidak dipungkiri, dia juga sangat


merindukan Ibunya. Terlebih ketika melihat sketsa gaun pengantin buatan Ibunya.


Mereka berdua berencana untuk mengunjungi makam


Bu Sri sepulang sekolah. Sebelum berangkat ke makam, Malik dan Indira pergi ke


kantin untuk menjemput Akbar.


Sudah terlihat Akbar ada di bagian tengah kantin,


bersama dengan Anggi dan beberapa anggota geng mereka. Sebenarnya Malik dan


Indira sedikit enggan untuk bertemu dengan teman-teman Akbar, tapi akan lebih


beresiko apabila pergi tanpa mengajak Akbar.


Dengan malas Indira berjalan mendekati meja itu.


Dari kejauhan saja sudah terlihat tatapan tajam beberapa anggota kerumunan itu.

__ADS_1


“Hai ndi, ngapain ke sini??” tanya Anggi


berpura-pura tersenyum.


“aku mau ngomong bentar sama Akbar teh” Jawab


Indira yang hanya berdiri dihadapan Akbar.


“ngomong apa? Kamu pulang aja dulu


bonceng  Malik. Hari ini aku mau keluar sama


Anggi sama temen-temen. Aku tadi udah hubungin papi kok kalau mau pulang telat.


Jadi kalian duluan aja” Akbar memberikan penjelasan kepada Indira tanpa mau


mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Indira.


Mendengar perkataan Akbar, Indira dan Malik


berjalan perlahan meninggalkan mereka. Indira melangkah sambil berbicara lirih,


berharap perkataannya tidak didengar oleh Akbar.


“yaudah, kita mau ke tempat Ibuk dulu. Selamat


bersenang-senang”


“Apa???” Ternyata Akbar mendengar suara pelan


yang keluar dari bibir Indira. Dia langsung berdiri dan melangkah ke Indira


yang sudah bersiap pergi dari tempat itu, menahan lengan gadis yang wajahnya


berubah menjadi muram itu.


“Aku sama Malik mau pergi dulu ke tempat Ibuk.


Kita mau naik angkot, soalnya tadi pagi kita kan berangkatnya bareng sama mobil


kamu. Udah sana, kamu dilanjut lagi aja mainnya. Keburu sore, kita mau


berangkat dulu” Jawab Indira tegas dengan penekanan di setiap kata-katanya. Malik


Terang saja Indira kesal. Perlakuan Akbar


sedikit membuat Indira malu. Belum mulai bicara tapi sudah mendapat penolakan.


“okay aku ikut. Tunggu” Akbar langsung bergegas


mengambil ransel, dan berpamitan kepada teman-temannya. Anggi menahan lengan


Akbar, berharap lelaki itu lebih memilih untuk pergi dengannya dibanding dengan


gadis yang menurutnya menyebalkan itu.


“hehe, next time ya. Aku ada acara penting sama


Malik dan Indira hari ini. Nanti aku telepon yaa” Akbar mengusap pelan kepala


Anggi kemudian memisahkan diri dengan anggota geng dan merangkul bahu Indira.


Mereka bertiga berjalan meninggalkan kerumunan itu.


Di dalam mobil, Akbar mulai membuka pembicaraan


mengenai kemajuan hubungan Indira dengan Fajar. Indira langsung menceritakan


kisahnya dengan antusias, seakan lupa bahwa dia sedang merajuk. Tidak hanya


itu, dia juga bercerita tentang sketsa wedding dress yang khusus dibuat Bu Sri


untuk dirinya.


Butuh waktu 45 menit bagi mobil itu untuk sampai


di lokasi pemakaman. Kesalahan mereka adalah pergi disaat lalu lintas Bandung


sedang dalam kemacetan. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk

__ADS_1


mengunjungi tempat ibunya.


Di gerbang pemakaman ada beberapa penjaja bunga


tabur. Malik mendekat dan membeli 3 kantong bunga yang akan mereka gunakan


untuk mempercantik rumah terakhir Bu Sri. Ia juga membeli beberapa botol air


mineral.


Lokasi pekuburan Bu Sri tidak terlalu jauh dari


gerbang utama. Setelah sampai, Malik dan Akbar bergegas untuk membersihkan


rerumputan liar yang tumbuh tinggi di area makam.


Selepas membersihkan, mereka mulai menyirami


tanah Bu Sri dan menaburkan berbagai jenis bunga yang sudah mereka beli


sebelumnya.


Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berbicara.


Sepertinya mereka sedang berdoa untuk kebahagiaan Ibunya. Sekaligus bercerita


tentang kehidupan masing-masing selama ini.


“Buk.. Ibuk gimana kabarnya? Tahun depan,


Akbar masuk  universitas bu. Pengennya


sih Akbar ga mau kuliah, mau jadi anak band aja. Tapi kata papi, Akbar harus


kuliah biar bisa nerusin perusahaan papi. Menurut Ibu gimana? Akbar jadi anak


band aja atau nerusin perusahaan?? Oh ya buk, Ibu jangan khawatir ya. Malik


sama Indi baik-baik aja kok. Tentu saja Akbar yang jagain. Hehe. Buk, Akbar


kangen nih, pengen makan risol buatan Ibu. Baik-baik disana ya buk.. “ Akbar


“Hai Ibuku sayaaaaanggg. Neng cantik dateng.


Buk, ibu tau ga.. sekarang neng udah punya pacar loh.. namanya Fajar. Dia


saudara pacarnya Akbar buk. Orangnya maniiis banget. Udah gitu romantis,


perhatian lagi. akhir-akhir ini neng lagi sering liatin sketsa wedding dress


buatan Ibu. Pokonya neng gamau tau, nanti kalau nikah neng mau pakai gaun yang


digambar sama Ibu yaa. Doain neng cepet nikah sama aa Fajar yah buk. Hehe. Ehh


jangan dulu deh. Kan aku baru kelas 1 SMA buk, ntar aja deh didoainnya. Oh iya,


Buk.. Malik sama Akbar itu awalnya sempet ngelarang hubungan aku loh . Tapi


untung aja, neng berhasil bikin mereka setuju. Malah waktu itu Malik bilang


kalau mau nikahin Indira. Kan ga lucu. Malik emang suka gitu ya , kalau


ngomong ga disaring. Buk, ntar kapan-kapan neng ajak pacar neng kesini yaa.


Neng sayang Ibu” Indira


“Apa kabar buk?? Maaf ya bu, kita bertiga jarang


dateng kesini. Tapi nama Ibu selalu ada kok dalam doa kita. Malik sekarang udah


SMA bu. Papi ngajakin Malik tinggal disana buk.. Tapi kalau hari libur Malik


tinggal di rumah Papa sama Mama. Malik ga ngerepotin mereka kok. Malik juga


selalu inget pesan Ibu buat sayang ke Indi sama Akbar. Malik bakal jadi anak


yang baik bu. Buk, Ibu tau kan kalau aku suka sama Indi?? Sekarang Indi udah


punya pacar bu. Yah sebenernya Malik cemburu sih, tapi mau gimana lagi.. aku

__ADS_1


belum siap bu, hehe. Kita bakal lebih sering dateng kesini ya. Buk, datang ya


ke mimpi Malik.. Malik kangen sama Ibu..” Malik


__ADS_2