
Semenjak menjadi kekasih Fajar, jam istirahat lebih banyak dihabiskan Indira
untuk bertelepon. Tidak butuh waktu lama bagi Fajar untuk menjadikan Indira
sebagai kekasihnya. Hanya beberapa kali kencan saja Indira sudah mau diajak
berpacaran. Sebenarnya Malik dan Akbar sedikit kurang setuju jika Indira
menjalin hubungan dengan Fajar. Tapi mau bagaimana lagi, gadis cerewet itu
merengek setiap hari agar mendapat restu mereka.
Hari demi hari dilewati Indira dengan bertelepon.
Membuat Malik sedikit kesepian ketika di sekolah. Bagaimana tidak, Akbar sudah
sibuk dengan Anggi. Dan sekarang, Indira juga tidak berhenti menempel dengan
telepon genggamnya yang teruhubung pada Fajar. Memang Malik memiliki banyak
teman, tapi rasanya kurang kalau harus bermain tanpa Indira dan Akbar.
Siang itu, Malik makan beberapa potong roti dan
susu bersama Indira yang masih berkutat dengan handphone nya. Ada beberapa
siswa yang ingin ikut bergabung dengan makan siang itu. Tapi melihat raut wajah
Malik yang sedikit kesal membuat para siswa itu mengurungkan niatnya.
Malik melakukan berbagai macam cara untuk menarik
perhatian Indira. Tapi sekalipun gadis itu tidak mendengar apa yang diucapkan
oleh Malik. Seperti mendapat kiriman energi dari surga, otak Malik bersinar
mengeluarkan ide yang pasti akan membuat Indira memperhatikan dirinya.
“Nanti aku mau ke tempat Ibuk” Sengaja Malik
mengatakan hal itu dengan wajah muram dan nada datar.
Benar saja, Indira langsung berpamitan kepada
Fajar untuk menutup teleponnya, sekaligus meminta ijin bahwa hari ini dia akan
pergi ke suatu tempat bersama Malik. setelah mendapatkan ijin, dia langsung
menutup teleponnya dan menatap ke arah Malik dengan tajam.
“Aku ikut”
“Apa??”
“ke tempat Ibuk. Aku kangen banget sama Ibuk.
Udah lama kita ga kesana” Malik tersenyum seperti sedang memperoleh kemenangan.
Ternyata cara yang dia gunakan berhasil. Tidak dipungkiri, dia juga sangat
merindukan Ibunya. Terlebih ketika melihat sketsa gaun pengantin buatan Ibunya.
Mereka berdua berencana untuk mengunjungi makam
Bu Sri sepulang sekolah. Sebelum berangkat ke makam, Malik dan Indira pergi ke
kantin untuk menjemput Akbar.
Sudah terlihat Akbar ada di bagian tengah kantin,
bersama dengan Anggi dan beberapa anggota geng mereka. Sebenarnya Malik dan
Indira sedikit enggan untuk bertemu dengan teman-teman Akbar, tapi akan lebih
beresiko apabila pergi tanpa mengajak Akbar.
Dengan malas Indira berjalan mendekati meja itu.
Dari kejauhan saja sudah terlihat tatapan tajam beberapa anggota kerumunan itu.
__ADS_1
“Hai ndi, ngapain ke sini??” tanya Anggi
berpura-pura tersenyum.
“aku mau ngomong bentar sama Akbar teh” Jawab
Indira yang hanya berdiri dihadapan Akbar.
“ngomong apa? Kamu pulang aja dulu
bonceng Malik. Hari ini aku mau keluar sama
Anggi sama temen-temen. Aku tadi udah hubungin papi kok kalau mau pulang telat.
Jadi kalian duluan aja” Akbar memberikan penjelasan kepada Indira tanpa mau
mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Indira.
Mendengar perkataan Akbar, Indira dan Malik
berjalan perlahan meninggalkan mereka. Indira melangkah sambil berbicara lirih,
berharap perkataannya tidak didengar oleh Akbar.
“yaudah, kita mau ke tempat Ibuk dulu. Selamat
bersenang-senang”
“Apa???” Ternyata Akbar mendengar suara pelan
yang keluar dari bibir Indira. Dia langsung berdiri dan melangkah ke Indira
yang sudah bersiap pergi dari tempat itu, menahan lengan gadis yang wajahnya
berubah menjadi muram itu.
“Aku sama Malik mau pergi dulu ke tempat Ibuk.
Kita mau naik angkot, soalnya tadi pagi kita kan berangkatnya bareng sama mobil
kamu. Udah sana, kamu dilanjut lagi aja mainnya. Keburu sore, kita mau
berangkat dulu” Jawab Indira tegas dengan penekanan di setiap kata-katanya. Malik
Terang saja Indira kesal. Perlakuan Akbar
sedikit membuat Indira malu. Belum mulai bicara tapi sudah mendapat penolakan.
“okay aku ikut. Tunggu” Akbar langsung bergegas
mengambil ransel, dan berpamitan kepada teman-temannya. Anggi menahan lengan
Akbar, berharap lelaki itu lebih memilih untuk pergi dengannya dibanding dengan
gadis yang menurutnya menyebalkan itu.
“hehe, next time ya. Aku ada acara penting sama
Malik dan Indira hari ini. Nanti aku telepon yaa” Akbar mengusap pelan kepala
Anggi kemudian memisahkan diri dengan anggota geng dan merangkul bahu Indira.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan kerumunan itu.
Di dalam mobil, Akbar mulai membuka pembicaraan
mengenai kemajuan hubungan Indira dengan Fajar. Indira langsung menceritakan
kisahnya dengan antusias, seakan lupa bahwa dia sedang merajuk. Tidak hanya
itu, dia juga bercerita tentang sketsa wedding dress yang khusus dibuat Bu Sri
untuk dirinya.
Butuh waktu 45 menit bagi mobil itu untuk sampai
di lokasi pemakaman. Kesalahan mereka adalah pergi disaat lalu lintas Bandung
sedang dalam kemacetan. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk
__ADS_1
mengunjungi tempat ibunya.
Di gerbang pemakaman ada beberapa penjaja bunga
tabur. Malik mendekat dan membeli 3 kantong bunga yang akan mereka gunakan
untuk mempercantik rumah terakhir Bu Sri. Ia juga membeli beberapa botol air
mineral.
Lokasi pekuburan Bu Sri tidak terlalu jauh dari
gerbang utama. Setelah sampai, Malik dan Akbar bergegas untuk membersihkan
rerumputan liar yang tumbuh tinggi di area makam.
Selepas membersihkan, mereka mulai menyirami
tanah Bu Sri dan menaburkan berbagai jenis bunga yang sudah mereka beli
sebelumnya.
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berbicara.
Sepertinya mereka sedang berdoa untuk kebahagiaan Ibunya. Sekaligus bercerita
tentang kehidupan masing-masing selama ini.
“Buk.. Ibuk gimana kabarnya? Tahun depan,
Akbar masuk universitas bu. Pengennya
sih Akbar ga mau kuliah, mau jadi anak band aja. Tapi kata papi, Akbar harus
kuliah biar bisa nerusin perusahaan papi. Menurut Ibu gimana? Akbar jadi anak
band aja atau nerusin perusahaan?? Oh ya buk, Ibu jangan khawatir ya. Malik
sama Indi baik-baik aja kok. Tentu saja Akbar yang jagain. Hehe. Buk, Akbar
kangen nih, pengen makan risol buatan Ibu. Baik-baik disana ya buk.. “ Akbar
“Hai Ibuku sayaaaaanggg. Neng cantik dateng.
Buk, ibu tau ga.. sekarang neng udah punya pacar loh.. namanya Fajar. Dia
saudara pacarnya Akbar buk. Orangnya maniiis banget. Udah gitu romantis,
perhatian lagi. akhir-akhir ini neng lagi sering liatin sketsa wedding dress
buatan Ibu. Pokonya neng gamau tau, nanti kalau nikah neng mau pakai gaun yang
digambar sama Ibu yaa. Doain neng cepet nikah sama aa Fajar yah buk. Hehe. Ehh
jangan dulu deh. Kan aku baru kelas 1 SMA buk, ntar aja deh didoainnya. Oh iya,
Buk.. Malik sama Akbar itu awalnya sempet ngelarang hubungan aku loh . Tapi
untung aja, neng berhasil bikin mereka setuju. Malah waktu itu Malik bilang
kalau mau nikahin Indira. Kan ga lucu. Malik emang suka gitu ya , kalau
ngomong ga disaring. Buk, ntar kapan-kapan neng ajak pacar neng kesini yaa.
Neng sayang Ibu” Indira
“Apa kabar buk?? Maaf ya bu, kita bertiga jarang
dateng kesini. Tapi nama Ibu selalu ada kok dalam doa kita. Malik sekarang udah
SMA bu. Papi ngajakin Malik tinggal disana buk.. Tapi kalau hari libur Malik
tinggal di rumah Papa sama Mama. Malik ga ngerepotin mereka kok. Malik juga
selalu inget pesan Ibu buat sayang ke Indi sama Akbar. Malik bakal jadi anak
yang baik bu. Buk, Ibu tau kan kalau aku suka sama Indi?? Sekarang Indi udah
punya pacar bu. Yah sebenernya Malik cemburu sih, tapi mau gimana lagi.. aku
__ADS_1
belum siap bu, hehe. Kita bakal lebih sering dateng kesini ya. Buk, datang ya
ke mimpi Malik.. Malik kangen sama Ibu..” Malik