
Bandung 2019
Blus berwarna navy yang dipadukan dengan rok 7/8
dan high heels berwarna senada membuat penampilan Indira terlihat sangat
menawan. Tumpukan berkas yang ada didepannya tidak bisa menghalangi aura
kecantikan Indira yang alami. Riasannya yang tipis menjadikan Indira terlihat
semakin berwibawa.
Bukan karena kedekatannya dengan Pak Adi, tapi karena
kecerdasan dan keuletannya lah yang membuat Indira berhasil menduduki posisi
Manajer pemasaran di perusahaan roti ternama yang saat ini dipimpin oleh Akbar.
Perusahaan semakin maju ketika Indira menjabat. Dalam kurun waktu 4 tahun, tidak hanya Jawa Barat, Indira berhasil melebarkan sayap perusahaan ke seluruh penjuru
negeri. Bahkan perusahaan ini memiliki 5
pabrik cabang yang
tersebar di pulau Jawa.
Indira yang dulu terkenal manja akan berubah
menjadi tegas dan disiplin jika sedang berada di perusahaan. Dia tidak segan-segan memberi sanksi
kepada karyawan yang menyalahi aturan. Begitu juga sebaliknya, reward akan
dibagikan kepada siapapun yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Hampir semua ide-ide yang dia berikan bisa membawa perusahaan menjadi lebih
baik. Karena ketegasannya itulah yang membuat Indira begitu dihormati dan
disayangi oleh bawahannya.
Meskipun bukan HRD, tapi Indira terjun langsung
untuk melihat siapa sajakah yang akan bekerja di divisinya. Terkadang dia juga
ikut menyeleksi beberapa karyawan yang akan ditempatkan di ruangan pusat. Atau
lebih tepatnya ruangan CEO Akbar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indira, Akbar dan Malik adalah sahabat
yang tak terpisahkan. Jika tidak ada janji temu dengan pihak lain, Indira akan
lebih memilih untuk makan di ruangan CEO bersama dengan Akbar. Malik yang
menjadi penasihat hukum perusahaanpun sesekali akan datang untuk sekedar makan
siang bersama. Pekerjaan utama Malik sebagai pengacara kondang memang membuat
Indira lebih sering bersama dengan Akbar.
Tidak banyak orang yang bisa masuk kedalam ruangan Indira. Indira lebih memilih untuk
menemui orang di ruang meeting daripada harus mengundang mereka untuk masuk ke
ruangannya. Ruang kerja Indira sangat rapi, bersih dan didominasi oleh warna
ungu. Ada dua pigura berukuran sedang yang tergantung di sisi kanan dindingnya.
Satu pigura berisi potret dirinya saat menghadiri peresmian pabrik cabang
bersama dengan Malik dan Akbar, pigura yang lain berisi sketsa wedding dress
miliknya.Dia
sengaja memajang dua foto itu sebagai penyemangat hidupnya.
Siang itu, Indira sedang disibukkan dengan
persiapan event amal yang dia ajukan. Event ini diwujudkan sebagai rasa syukur perusahaan atas kesuksesan yang
didapat selama ini. Beberapa berkas terlihat
berserakan diatas mejanya. Rambut panjangnya tersimpul sedikit kurang rapi. Kacamata bulat yang bertengger di
__ADS_1
hidung mancungnya membuat wajahnya semakin cantik.Matanya berkonsentrasi penuh terhadap lembar demi lembar yang sedang ia
periksa hingga tidak menyadari ada seorang wanita muda yang sedari tadi berdiri
dihadapannya.
“eh
Siska. Udah tadi?? Sorry aku ga liat. Ada apa??”
“Bu, saya bacakan jadwal tambahan hari ini ya. pukul 15.00-16.30 ada pertemuan
dengan tim grafis untuk mendiskusikan tema iklan yang akan ditayangkan di
televisi. Dilanjutkan dengan laporan mingguan dari keseluruhan tim marketing. Dijadwalkan meeting akan selesai
pukul 18.00 bu”
“ahhhh. Kenapa banyak banget jadwalnya. Tolong disiapin ruangan meetingnya
ya. Kalau hari ini ada yang cari saya selain yang udah dijadwalkan, bilang aja
saya ga ada. makan siang aku free kan hari ini??” Tanya Indira
sembari merebahkan tubuhnya di punggung kursi kerjanya. Dia menarik tusuk konde
yang sedari tadi bersarang di rambutnya. Membuat rambut panjangnya terurai
dengan indah.
“Iya bu. Mau saya pesankan makanan??”
“enggak. Saya makan di ruangan Pak Akbar aja.
Yaudah, kamu istirahat aja dulu.”
“Baik bu.” Sekretaris cantik itu meninggalkan Indira
sendiri di dalam ruangan.
Matanya mencoba untuk terpejam. Beberapa hari ini
Jangankan untuk tidur, makan saja mungkin dia lupa. Ingin sekali rasanya dia segera pergi ke tempat Akbar.
Tapi posisi saat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan, membuatnya ingin
berlama-lama berada di kursi kerjanya.
Kesibukannya di perusahaan membuatnya lupa untuk
mencari pendamping hidup. Jangankan kekasih, untuk dirinya sendiri saja dia
tidak punya waktu. Hari-harinya hanya diisi dengan bekerja. Untung saja ada
Malik dan Akbar yang selalu mengajak Indira untuk berlibur satu kali dalam satu
bulan. Kalau tidak, mungkin dia hanya akan menjadi manusia gua yang hidup di ruangannya tanpa mengenal dunia luar.
Indira memain-mainkan ponselnya. Melihat cuitan
netizen di feed instagramnya. Indira memang tergolong aktif di sosial media. Bahkan
jumlah pengikutnya sudah mencapai 450ribu. Sosial medianya dipenuhi dengan
foto-foto ootd, makanan, liburan dan juga kebersamaannya bersama dengan Malik
dan Akbar. Banyak yang iri melihat keberuntungan Indira. Bukan karena
kesuksesannya. Tapi lebih ke si objek pendukungnya. Dua lelaki tampan yang
selalu ada untuknya.
Seringkali Indira mendapat komen yang sedikit
menyakitkan karena foto romantisnya bersama dengan Malik dan Akbar. Tapi karena
sudah terbiasa, dia hanya mengabaikan komentar-komentar receh seperti itu.
Setelah
cukup lama bergelut dengan ponselnya, Indira mengumpulkan nyawanya untuk bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya. Memeriksa sekitar, dan
__ADS_1
meneruskan langkahnya ke arah lift. Dia menekan tombol 9, lantai teratas dari
gedung itu.
Melihat Indira yang keluar dari lift, beberapa
staf langsung berdiri dan menundukkan pandangannya. Salah seorang wanita
berjalan mendekat dan tersenyum ramah.
“Silahkan bu, bapak ada didalam. Mau saya
pesankan makan juga??”
“juga?? Pak Akbar lagi makan??”
“iya bu. Ada Pak Malik juga didalam” Ucap wanita itu. mendengar
nama Malik disebut, Indira berlari ke arah ruang utama. Sebelum membuka pintu,
dia berhenti dan berbicara dengan suara yang sedikit keras.
“Jessica, pesankan saya makanan yang sama dengan
mereka, saya sangattttt kelaparan. Jangan lupa, minuman saya es nya sedikit.
Terimakasih”
Tanpa mendengarkan jawaban dari si sekretaris,
Indira berlalu dan membuka handle pintu dengan kasar. Benar saja, ada Malik
didalam ruangan itu. Tega sekali mereka berdua makan siang bersama, sedangkan
dia harus kelaparan karena tidak sempat makan.
Indira menekuk mukanya, memasang wajah masam. Dia
memarahi Malik dan Akbar melalui matanya. Dengan cepat dia duduk di kursi kerja
Akbar. Menyilangkan tangannya di depan dada. Membuat kedua sahabatnya tertawa
geli.
Malik melambaikan tangannya agar Indira mendekat.
Senyumnya yang tampan membuat Indira tidak betah untuk marah lebih lama lagi.
Dia berlari dan menghambur memeluk Malik dengan erat. Malik pun membalas
pelukan itu dengan hangat. Menepuk nepuk punggung Indira.
“Kamu kok ga bilang kalo udah pulang. Kan aku
kangen” Indira mulai bergelayutan di lengan Malik. membuat pria itu menghentikan
makan siangnya.
“Aku baru aja nyampe, terus langsung kesini.
Tadinya mau ke tempat kamu, tapi Akbar telepon duluan. Yaudah aku kesini dulu”
Jawab Malik santai
“Lagian kamu sih. Ngapain juga nerima kasus yang
diluar pulau gitu. Kan kamu juga bisa nyuruh bawahan kamu buat berangkat.”
“Kliennya minta aku yang tanganin ndi. Ya aku
harus profesional dong. Lagian ini juga kasus besar, jadi lumayan lah buat aku”
“Ya ya saya mengerti pak pengacara. Aaaaaaa” Indira membuka lebar mulutnya, memberikan
isyarat meminta untuk disuapi. Dengan segera Malik mengambilkan sesendok penuh
nasi goreng yang ada didepannya. Suapan pertama dengan cepat dilahap oleh
wanita kelaparan itu. Kini giliran Akbar yang menyuapinya.
Tok Tok Tok
__ADS_1