Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH31- Kehidupan dewasa


__ADS_3

Bandung 2019


Blus berwarna navy yang dipadukan dengan rok 7/8


dan high heels berwarna senada membuat penampilan Indira terlihat sangat


menawan. Tumpukan berkas yang ada didepannya tidak bisa menghalangi aura


kecantikan Indira yang alami. Riasannya yang tipis menjadikan Indira terlihat


semakin berwibawa.


Bukan karena kedekatannya dengan Pak Adi, tapi karena


kecerdasan dan keuletannya lah yang membuat Indira berhasil menduduki posisi


Manajer pemasaran di perusahaan roti ternama yang saat ini dipimpin oleh Akbar.


Perusahaan semakin maju ketika Indira menjabat. Dalam kurun waktu 4 tahun, tidak hanya Jawa Barat, Indira berhasil melebarkan sayap perusahaan ke seluruh penjuru


negeri.  Bahkan perusahaan ini memiliki 5


pabrik cabang yang


tersebar di pulau Jawa.


Indira yang dulu terkenal manja akan berubah


menjadi tegas dan disiplin jika sedang berada di perusahaan. Dia tidak segan-segan memberi sanksi


kepada karyawan yang menyalahi aturan. Begitu juga sebaliknya, reward akan


dibagikan kepada siapapun yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Hampir semua ide-ide yang dia berikan bisa membawa perusahaan menjadi lebih


baik. Karena ketegasannya itulah yang membuat Indira begitu dihormati dan


disayangi oleh bawahannya.


Meskipun bukan HRD, tapi Indira terjun langsung


untuk melihat siapa sajakah yang akan bekerja di divisinya. Terkadang dia juga


ikut menyeleksi beberapa karyawan yang akan ditempatkan di ruangan pusat. Atau


lebih tepatnya ruangan CEO Akbar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indira, Akbar dan Malik adalah sahabat


yang tak terpisahkan. Jika tidak ada janji temu dengan pihak lain, Indira akan


lebih memilih untuk makan di ruangan CEO bersama dengan Akbar. Malik yang


menjadi penasihat hukum perusahaanpun sesekali akan datang untuk sekedar makan


siang bersama. Pekerjaan utama Malik sebagai pengacara kondang memang membuat


Indira lebih sering bersama dengan Akbar.


Tidak banyak orang yang bisa masuk kedalam ruangan Indira. Indira lebih memilih untuk


menemui orang di ruang meeting daripada harus mengundang mereka untuk masuk ke


ruangannya. Ruang kerja Indira sangat rapi, bersih dan didominasi oleh warna


ungu. Ada dua pigura berukuran sedang yang tergantung di sisi kanan dindingnya.


Satu pigura berisi potret dirinya saat menghadiri peresmian pabrik cabang


bersama dengan Malik dan Akbar, pigura yang lain berisi sketsa wedding dress


miliknya.Dia


sengaja memajang dua foto itu sebagai penyemangat hidupnya.


Siang itu, Indira sedang disibukkan dengan


persiapan event amal yang dia ajukan. Event ini diwujudkan sebagai rasa syukur perusahaan atas kesuksesan yang


didapat selama ini. Beberapa berkas terlihat


berserakan diatas mejanya. Rambut panjangnya tersimpul sedikit kurang rapi. Kacamata bulat yang bertengger di

__ADS_1


hidung mancungnya membuat wajahnya semakin cantik.Matanya berkonsentrasi penuh terhadap lembar demi lembar yang sedang ia


periksa hingga tidak menyadari ada seorang wanita muda yang sedari tadi berdiri


dihadapannya.


“eh


Siska. Udah tadi?? Sorry aku ga liat. Ada apa??”


“Bu, saya bacakan jadwal tambahan hari ini ya. pukul 15.00-16.30  ada pertemuan


dengan tim grafis untuk mendiskusikan tema iklan yang akan ditayangkan di


televisi. Dilanjutkan dengan laporan mingguan dari keseluruhan tim marketing. Dijadwalkan meeting akan selesai


pukul 18.00 bu”


“ahhhh. Kenapa banyak banget jadwalnya. Tolong disiapin ruangan meetingnya


ya. Kalau hari ini ada yang cari saya selain yang udah dijadwalkan, bilang aja


saya ga ada. makan siang aku free kan hari ini??” Tanya Indira


sembari merebahkan tubuhnya di punggung kursi kerjanya. Dia menarik tusuk konde


yang sedari tadi bersarang di rambutnya. Membuat rambut panjangnya terurai


dengan indah.


“Iya bu. Mau saya pesankan makanan??”


“enggak. Saya makan di ruangan Pak Akbar aja.


Yaudah, kamu istirahat aja dulu.”


“Baik bu.” Sekretaris cantik itu meninggalkan Indira


sendiri di dalam ruangan.


Matanya mencoba untuk terpejam. Beberapa hari ini


Jangankan untuk tidur, makan saja mungkin dia lupa. Ingin sekali rasanya dia segera pergi ke tempat Akbar.


Tapi posisi saat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan, membuatnya ingin


berlama-lama berada di kursi kerjanya.


Kesibukannya di perusahaan membuatnya lupa untuk


mencari pendamping hidup. Jangankan kekasih, untuk dirinya sendiri saja dia


tidak punya waktu. Hari-harinya hanya diisi dengan bekerja. Untung saja ada


Malik dan Akbar yang selalu mengajak Indira untuk berlibur satu kali dalam satu


bulan. Kalau tidak, mungkin dia hanya akan menjadi manusia gua yang hidup di ruangannya tanpa mengenal dunia luar.


Indira memain-mainkan ponselnya. Melihat cuitan


netizen di feed instagramnya. Indira memang tergolong aktif di sosial media. Bahkan


jumlah pengikutnya sudah mencapai 450ribu. Sosial medianya dipenuhi dengan


foto-foto ootd, makanan, liburan dan juga kebersamaannya bersama dengan Malik


dan Akbar. Banyak yang iri melihat keberuntungan Indira. Bukan karena


kesuksesannya. Tapi lebih ke si objek pendukungnya. Dua lelaki tampan yang


selalu ada untuknya.


Seringkali Indira mendapat komen yang sedikit


menyakitkan karena foto romantisnya bersama dengan Malik dan Akbar. Tapi karena


sudah terbiasa, dia hanya mengabaikan komentar-komentar receh seperti itu.


Setelah


cukup lama bergelut dengan ponselnya, Indira mengumpulkan nyawanya untuk bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya. Memeriksa sekitar, dan

__ADS_1


meneruskan langkahnya ke arah lift. Dia menekan tombol 9, lantai teratas dari


gedung itu.


Melihat Indira yang keluar dari lift, beberapa


staf langsung berdiri dan menundukkan pandangannya. Salah seorang wanita


berjalan mendekat dan tersenyum ramah.


“Silahkan bu, bapak ada didalam. Mau saya


pesankan makan juga??”


“juga?? Pak Akbar lagi makan??”


“iya bu. Ada Pak Malik juga didalam” Ucap wanita itu. mendengar


nama Malik disebut, Indira berlari ke arah ruang utama. Sebelum membuka pintu,


dia berhenti dan berbicara dengan suara yang sedikit keras.


“Jessica, pesankan saya makanan yang sama dengan


mereka, saya sangattttt kelaparan. Jangan lupa, minuman saya es nya sedikit.


Terimakasih”


Tanpa mendengarkan jawaban dari si sekretaris,


Indira berlalu dan membuka handle pintu dengan kasar. Benar saja, ada Malik


didalam ruangan itu. Tega sekali mereka berdua makan siang bersama, sedangkan


dia harus kelaparan karena tidak sempat makan.


Indira menekuk mukanya, memasang wajah masam. Dia


memarahi Malik dan Akbar melalui matanya. Dengan cepat dia duduk di kursi kerja


Akbar. Menyilangkan tangannya di depan dada. Membuat kedua sahabatnya tertawa


geli.


Malik melambaikan tangannya agar Indira mendekat.


Senyumnya yang tampan membuat Indira tidak betah untuk marah lebih lama lagi.


Dia berlari dan menghambur memeluk Malik dengan erat. Malik pun membalas


pelukan itu dengan hangat. Menepuk nepuk punggung Indira.


“Kamu kok ga bilang kalo udah pulang. Kan aku


kangen” Indira mulai bergelayutan di lengan Malik. membuat pria itu menghentikan


makan siangnya.


“Aku baru aja nyampe, terus langsung kesini.


Tadinya mau ke tempat kamu, tapi Akbar telepon duluan. Yaudah aku kesini dulu”


Jawab Malik santai


“Lagian kamu sih. Ngapain juga nerima kasus yang


diluar pulau gitu. Kan kamu juga bisa nyuruh bawahan kamu buat berangkat.”


“Kliennya minta aku yang tanganin ndi. Ya aku


harus profesional dong. Lagian ini juga kasus besar, jadi lumayan lah buat aku”


“Ya ya saya mengerti pak pengacara. Aaaaaaa” Indira membuka lebar mulutnya, memberikan


isyarat meminta untuk disuapi. Dengan segera Malik mengambilkan sesendok penuh


nasi goreng yang ada didepannya. Suapan pertama dengan cepat dilahap oleh


wanita kelaparan itu. Kini giliran Akbar yang menyuapinya.


Tok Tok Tok

__ADS_1


__ADS_2