
Indira berdiri di depan pintu rumahnya dengan
wajahnya yang sedikit kusut. Tidak biasanya dia bangun kesiangan. Semenjak
lulus SMA, Indira berubah menjadi gadis yang tepat waktu. Bahkan dia selalu
datang ke kantor 10 menit sebelum waktu yang seharusnya.
Tapi kali ini, maraton drama korea semalaman
membuatnya terbangun 50 menit lebih lambat dari biasanya. Begitu membuka mata,
dirumahnya sudah sepi. Papanya pasti sudah berangkat ke kantor. sedangkan mamanya,
yang biasanya akan pergi ke supermarket setelah Indira pergi, kali ini
berangkat lebih awal. Bahkan Indirapun tidak sempat sarapan, meskipun hanya
sesuap roti.
Dia mandi dan berdandan secepat kilat. Memakai
kemeja hitam polos dan rok abu-abu sepanjang lututnya. Rambutnya dibiarkan
terurai sedikit berantakan. Dia sengaja memakai kacamatanya untuk menutupi
matanya yang sedikit bengkak.
Saat ini mobilnya sedang ada di bengkel karena
ada masalah dengan mesinnya. Karena tidak terbiasa menggunakan kendaraan umum,
biasanya dia akan menghubungi Akbar untuk pergi ke kantor bersama. Karena Akbar
sedang berada di luar kota, Indira membujuk Malik agar mau mengantarnya ke
kantor.
Sudah 20 menit sejak dia mengubungi Malik. Tapi
yang ditunggu tidak kunjung datang, membuat moodnya semakin berantakan.
Berulang kali dia menatap jam yang ada di tangannya. Waktu menunjukkan pukul
08.24. itu tandanya, Indira sudah terlambat hampir 1.5 jam lamanya. Untuk yang
pertama kalinya Indira merasa menjadi contoh yang buruk bagi karyawannya.
Wajahnya semakin tertekuk setelah melihat
kedatangan Malik. Pria itu datang dengan motor sportnya. Bagaimana mungkin dia
menaiki motor dengan pakaiannya saat ini.
“Malik kok bawa motor siiiiihhhhhhh” Indira mulai
berteriak kesal.
“Aku pikir kamu bakalan telat kalo pake mobil.
Makanya aku bawa motor. Udah kamu ganti celana dulu gih, cepetan. Keburu telat”
jawab Malik tanpa merubah posisi duduk diatas motornya.
“Udah telat dari tadi!!!” Indira melangkahkan
kakinya dengan kasar. Dengan segera dia mengganti pakaiannya dengan jumpsuit
berwarna crem dan cardigan putih.
Dia menyahut helm yang disodorkan Malik dan
segera memakainya. Memeluk pinggang Malik dengan erat dan bibirnya tidak henti
mengerucut.
Begitu sampai di kantor, Indira berjalan ke arah
lift. Hanya tersenyum kecut pada beberapa pegawai yang menyapanya. Moodnya
benar-benar hancur pagi ini.
“Kamu ngapain ngikutin aku??” tanya Indira ketus
“Aku janjian sama klien setelah makan siang.
Terus aku mau nungguin dimana kalau bukan disini?? Apa mau aku pergi aja??”
__ADS_1
Jawab Malik tidak kalah menyebalkan.
Indira menggeleng dan meraih lengan Malik
kemudian menggandengnya. Sedikit merasa bersalah karena sudah beberapa kali
membentak Malik.
Mereka berjalan sedikit cepat dari biasanya.
Begitu masuk ke ruang pemasaran, Indira segera menghampiri sekretarisnya untuk
menanyakan jadwalnya hari ini. Wajahnya pucat pasi ketika mendengar rentetan
kegiatan yang harus dia lakukan hari ini. Bahkan makan siang dan makan malam
pun harus dia lakukan bersama dengan klien.
“Aaaahhhh. Kenapa jadwal saya banyak sekali.
Siska, kamu kan tau kalau saya ga suka makan malam sambil kerja. Terus kenapa
hari ini jadwal saya diluar semua? Bukannya kemarin kamu bilang kalau jadwal
saya minggu ini agak longgar? Sekarang kok mendadak ga karu-karuan gini..”
Indira berniat mengadukan ke Akbar mengenai pekerjaannya yang sudah diluar
batas. Ia mulai merogoh tas yang tergantung dilengannya. Amarahnya semakin
memuncak ketika dia menyadari bahwa ponselnya tidak ada didalam tasnya.
“Ini hari apa sih?? Kenapa saya sial sekali hari
ini!!” Indira mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
Malik tersenyum tipis dan memberikan benda
berwarna ungu yang ada didalam kantong jasnya.
“hmm. Tadi kamu tinggal di meja taman. Makanya
jangan teledor”
Indira menghembuskan nafasnya dengan panjang.
Setidaknya masih ada Malik dan ponsel yang bisa menghibur hatinya hari ini. Dia
tidak hadir di ruangan itu.
Dia kembali menggenggam lengan Malik dan bersiap
menuju ruangannya.
DOOORRRRRRR
Begitu pintu dibuka ada suara terompet dan balon
yang sengaja diledakkan. Didalam balon itu ada potongan kertas berwarna-warni,
sehingga ketika balon itu meletus, kertas-kertas itu akan berhamburan di udara.
3 orang karyawan yang ternyata sedari tadi berada
di dalam ruangan mulai menyalakan lilin yang ada di atas cake dan bernyanyi
bersama. Malik dan beberapa karyawan di meja depanpun ikut bergabung dan
memeriahkan acara.
Sementara Indira hanya ikut bernyanyi dengan
wajah datar yang sedikit kebingungan. Dia menunggu siapakah sebenarnya yang
akan meniup lilin itu. Kenapa mereka semua membuat perayaan di dalam
ruangannya. Apa jangan-jangan Malik yang ulang tahun?? Tapi cake itu untuk
perempuan. Kalau ulang tahun Siska, berani sekali dia mengotori ruangannya
hanya untuk mengadakan pesta seperti ini. Indira terus bergumam dalam hati.
“Sebenarnya siapa yang ulang tahun?? Kok kalian
bikin pesta di ruangan saya?? Silahkan kalian berpesta, tapi kalau sudah
selesai, tolong dibersihkan semua. Saya ga suka ruangan yang berantakan” Tanya
__ADS_1
Indira kepada manusia yang sedang mengelilinginya.
“Bu, Ibu kan hari ini ulang tahun.” Jawab Siska
“Saya?? Saya ulang tahun?? Sekarang tanggal
berapa??” Indira menunjuk nunjuk mukanya sendiri.
“23 November bu.. Ibu lupa ya??”
Indira segera menutup mulutnya menggunakan kedua
tangan. Bagaimana bisa dia lupa hari kelahirannya. Bahkan dia sempat mengomel
karena ruangannya saat ini dipenuhi dengan pernak-pernik.
“Jadi saya yang ulang tahun?? Ya ampun, makasih
banget yaa. Maafin saya tadi sempet marah-marah. Aduh gimana ya?? Sebenernya
saya pengen traktir kalian jalan. Tapi jadwal saya hari ini padat. Ditunda dulu
boleh yaa??” Ucap Indira memelas. Matanya beredar memperhatikan setiap detail
yang ada di ruangan itu. Cake untuk wanita, banyak bunga dan balon, dekorasi
serba ungu, bahkan di photoboot tertera namanya. Seniat itukah mereka membuat
kejutan untuknya. Ia menatap Malik dengan pekat, meyakini 1000% bahwa ini semua
adalah ide Malik. tersenyum tipis sebagai tanda ucapan terimakasihnya.
Lamunan Indira buyar ketika Siska menjelaskan
bahwa jadwal yang tadi disebutkan adalah fake. Bahkan Siska membatalkan
beberapa janji temu agar jadwal Indira benar-benar kosong hari ini. Indira
memutuskan akan meliburkan semua karyawan di divisinya hari ini dan
menggantinya dengan nonton bioskop setelah makan siang. Dia segera mengambil
ponselnya dan memesan tiket secara online.
Sementara itu, para karyawan di divisinya
berkumpul di dalam ruangan untuk makan bersama. Termasuk Malik. Untuk yang
pertama kalinya tidak ada batasan antara atasan dan karyawan. Semua berbaur
dengan bahagia.
Indira kembali memperhatikan cake yang ada
dihadapannya. Dia sengaja tidak ingin memotong kue itu karena ingin
memamerkannya pada Bu Mega. Cake itu bernuansa ungu muda. Terdapat tulisan
“Happy Birthday Neng”. Ada figurine seorang wanita berdiri menggunakan wedding
dress berwarna putih. Disekitarnya ada beberapa kado-kado kecil, bunga, dan
kotak kecil berisi cincin didalamnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan
memahami bahwa di dalam cake itu tersirat si pengirim cake sedang melamarnya.
Tapi apalah daya, Indira yang terlalu bahagia dengan kejutan ulang tahunnya
sama sekali tidak memperhatikannya.
“Malik kok kamu diem aja?? Kado buat aku mana?
Apa jangan-jangan kado aku Cuma cake itu aja??”
Tanya Indira sembari memicingkan matanya. Dia
sudah mengambil kuda-kuda untuk memukul Malik jika benar dia tidak mendapat
kado.
Seketika Malik merogoh sakunya dan mengeluarkan
amplop berwarna putih. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Indira sedikit
kebingungan. Dia segera memeriksa apa isi dari amplop itu.
Matanya terbelalak melihat selembar kertas yang
__ADS_1
ada didalam amplop itu.
“Serius buat aku???”