Her Wedding Dress

Her Wedding Dress
CH36- Ulang Tahun Indira


__ADS_3

Indira berdiri di depan pintu rumahnya dengan


wajahnya yang sedikit kusut. Tidak biasanya dia bangun kesiangan. Semenjak


lulus SMA, Indira berubah menjadi gadis yang tepat waktu. Bahkan dia selalu


datang ke kantor 10 menit sebelum waktu yang seharusnya.


Tapi kali ini, maraton drama korea semalaman


membuatnya terbangun 50 menit lebih lambat dari biasanya. Begitu membuka mata,


dirumahnya sudah sepi. Papanya pasti sudah berangkat ke kantor. sedangkan mamanya,


yang biasanya akan pergi ke supermarket setelah Indira pergi, kali ini


berangkat lebih awal. Bahkan Indirapun tidak sempat sarapan, meskipun hanya


sesuap roti.


Dia mandi dan berdandan secepat kilat. Memakai


kemeja hitam polos dan rok abu-abu sepanjang lututnya. Rambutnya dibiarkan


terurai sedikit berantakan. Dia sengaja memakai kacamatanya untuk menutupi


matanya yang sedikit bengkak.


Saat ini mobilnya sedang ada di bengkel karena


ada masalah dengan mesinnya. Karena tidak terbiasa menggunakan kendaraan umum,


biasanya dia akan menghubungi Akbar untuk pergi ke kantor bersama. Karena Akbar


sedang berada di luar kota, Indira membujuk Malik agar mau mengantarnya ke


kantor.


Sudah 20 menit sejak dia mengubungi Malik. Tapi


yang ditunggu tidak kunjung datang, membuat moodnya semakin berantakan.


Berulang kali dia menatap jam yang ada di tangannya. Waktu menunjukkan pukul


08.24. itu tandanya, Indira sudah terlambat hampir 1.5 jam lamanya. Untuk yang


pertama kalinya Indira merasa menjadi contoh yang buruk bagi karyawannya.


Wajahnya semakin tertekuk setelah melihat


kedatangan Malik. Pria itu datang dengan motor sportnya. Bagaimana mungkin dia


menaiki motor dengan pakaiannya saat ini.


“Malik kok bawa motor siiiiihhhhhhh” Indira mulai


berteriak kesal.


“Aku pikir kamu bakalan telat kalo pake mobil.


Makanya aku bawa motor. Udah kamu ganti celana dulu gih, cepetan. Keburu telat”


jawab Malik tanpa merubah posisi duduk diatas motornya.


“Udah telat dari tadi!!!” Indira melangkahkan


kakinya dengan kasar. Dengan segera dia mengganti pakaiannya dengan jumpsuit


berwarna crem dan cardigan putih.


Dia menyahut helm yang disodorkan Malik dan


segera memakainya. Memeluk pinggang Malik dengan erat dan bibirnya tidak henti


mengerucut.


Begitu sampai di kantor, Indira berjalan ke arah


lift. Hanya tersenyum kecut pada beberapa pegawai yang menyapanya. Moodnya


benar-benar hancur pagi ini.


“Kamu ngapain ngikutin aku??” tanya Indira ketus


“Aku janjian sama klien setelah makan siang.


Terus aku mau nungguin dimana kalau bukan disini?? Apa mau aku pergi aja??”

__ADS_1


Jawab Malik tidak kalah menyebalkan.


Indira menggeleng dan meraih lengan Malik


kemudian menggandengnya. Sedikit merasa bersalah karena sudah beberapa kali


membentak Malik.


Mereka berjalan sedikit cepat dari biasanya.


Begitu masuk ke ruang pemasaran, Indira segera menghampiri sekretarisnya untuk


menanyakan jadwalnya hari ini. Wajahnya pucat pasi ketika mendengar rentetan


kegiatan yang harus dia lakukan hari ini. Bahkan makan siang dan makan malam


pun harus dia lakukan bersama dengan klien.


“Aaaahhhh. Kenapa jadwal saya banyak sekali.


Siska, kamu kan tau kalau saya ga suka makan malam sambil kerja. Terus kenapa


hari ini jadwal saya diluar semua? Bukannya kemarin kamu bilang kalau jadwal


saya minggu ini agak longgar? Sekarang kok mendadak ga karu-karuan gini..”


Indira berniat mengadukan ke Akbar mengenai pekerjaannya yang sudah diluar


batas. Ia mulai merogoh tas yang tergantung dilengannya. Amarahnya semakin


memuncak ketika dia menyadari bahwa ponselnya tidak ada didalam tasnya.


“Ini hari apa sih?? Kenapa saya sial sekali hari


ini!!” Indira mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Malik tersenyum tipis dan memberikan benda


berwarna ungu yang ada didalam kantong jasnya.


“hmm. Tadi kamu tinggal di meja taman. Makanya


jangan teledor”


Indira menghembuskan nafasnya dengan panjang.


Setidaknya masih ada Malik dan ponsel yang bisa menghibur hatinya hari ini. Dia


tidak hadir di ruangan itu.


Dia kembali menggenggam lengan Malik dan bersiap


menuju ruangannya.


DOOORRRRRRR


Begitu pintu dibuka ada suara terompet dan balon


yang sengaja diledakkan. Didalam balon itu ada potongan kertas berwarna-warni,


sehingga ketika balon itu meletus, kertas-kertas itu akan berhamburan di udara.


3 orang karyawan yang ternyata sedari tadi berada


di dalam ruangan mulai menyalakan lilin yang ada di atas cake dan bernyanyi


bersama. Malik dan beberapa karyawan di meja depanpun ikut bergabung dan


memeriahkan acara.


Sementara Indira hanya ikut bernyanyi dengan


wajah datar yang sedikit kebingungan. Dia menunggu siapakah sebenarnya yang


akan meniup lilin itu. Kenapa mereka semua membuat perayaan di dalam


ruangannya. Apa jangan-jangan Malik yang ulang tahun?? Tapi cake itu untuk


perempuan. Kalau ulang tahun Siska, berani sekali dia mengotori ruangannya


hanya untuk mengadakan pesta seperti ini. Indira terus bergumam dalam hati.


“Sebenarnya siapa yang ulang tahun?? Kok kalian


bikin pesta di ruangan saya?? Silahkan kalian berpesta, tapi kalau sudah


selesai, tolong dibersihkan semua. Saya ga suka ruangan yang berantakan” Tanya

__ADS_1


Indira kepada manusia yang sedang mengelilinginya.


“Bu, Ibu kan hari ini ulang tahun.” Jawab Siska


“Saya?? Saya ulang tahun?? Sekarang tanggal


berapa??” Indira menunjuk nunjuk mukanya sendiri.


“23 November bu.. Ibu lupa ya??”


Indira segera menutup mulutnya menggunakan kedua


tangan. Bagaimana bisa dia lupa hari kelahirannya. Bahkan dia sempat mengomel


karena ruangannya saat ini dipenuhi dengan pernak-pernik.


“Jadi saya yang ulang tahun?? Ya ampun, makasih


banget yaa. Maafin saya tadi sempet marah-marah. Aduh gimana ya?? Sebenernya


saya pengen traktir kalian jalan. Tapi jadwal saya hari ini padat. Ditunda dulu


boleh yaa??” Ucap Indira memelas. Matanya beredar memperhatikan setiap detail


yang ada di ruangan itu. Cake untuk wanita, banyak bunga dan balon, dekorasi


serba ungu, bahkan di photoboot tertera namanya. Seniat itukah mereka membuat


kejutan untuknya. Ia menatap Malik dengan pekat, meyakini 1000% bahwa ini semua


adalah ide Malik. tersenyum tipis sebagai tanda ucapan terimakasihnya.


Lamunan Indira buyar ketika Siska menjelaskan


bahwa jadwal yang tadi disebutkan adalah fake. Bahkan Siska membatalkan


beberapa janji temu agar jadwal Indira benar-benar kosong hari ini. Indira


memutuskan akan meliburkan semua karyawan di divisinya hari ini dan


menggantinya dengan nonton bioskop setelah makan siang. Dia segera mengambil


ponselnya dan memesan tiket secara online.


Sementara itu, para karyawan di divisinya


berkumpul di dalam ruangan untuk makan bersama. Termasuk Malik. Untuk yang


pertama kalinya tidak ada batasan antara atasan dan karyawan. Semua berbaur


dengan bahagia.


Indira kembali memperhatikan cake yang ada


dihadapannya. Dia sengaja tidak ingin memotong kue itu karena ingin


memamerkannya pada Bu Mega. Cake itu bernuansa ungu muda. Terdapat tulisan


“Happy Birthday Neng”. Ada figurine seorang wanita berdiri menggunakan wedding


dress berwarna putih. Disekitarnya ada beberapa kado-kado kecil, bunga, dan


kotak kecil berisi cincin didalamnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan


memahami bahwa di dalam cake itu tersirat si pengirim cake sedang melamarnya.


Tapi apalah daya, Indira yang terlalu bahagia dengan kejutan ulang tahunnya


sama sekali tidak memperhatikannya.


“Malik kok kamu diem aja?? Kado buat aku mana?


Apa jangan-jangan kado aku Cuma cake itu aja??”


Tanya Indira sembari memicingkan matanya. Dia


sudah mengambil kuda-kuda untuk memukul Malik jika benar dia tidak mendapat


kado.


Seketika Malik merogoh sakunya dan mengeluarkan


amplop berwarna putih. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Indira sedikit


kebingungan. Dia segera memeriksa apa isi dari amplop itu.


Matanya terbelalak melihat selembar kertas yang

__ADS_1


ada didalam amplop itu.


“Serius buat aku???”


__ADS_2